Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
21. Kaget


__ADS_3

🍁🍁🍁


"Dor!" Ucap Lukas mengagetkan Salwa yang membatu karna sikap dinginnya. "Gimana aktingku bagus gak?" Tanyanya Lukas menarik dirinya dari hadapan Salwa yang baru saja ia permainkan. "Apa aku udah mirip dengan Luhanmu?" Tanyanya disambut oleh bantal kursi yang dilayangkan Salwa padanya.


Puk puk puk! Salwa bangkit dari tempat ia duduk memukul Lukas dengan bantal lagi dan lagi.


Tap! Spontan Lukas menangkap kedua tangan Salwa membuatnya berhenti memukul. Namun ia terus memberontak dan berusah meraih Lukas yang masih mencengkram pergelangan tangannya.


"Sorry! Aku hanya latihan agar tidak mengecewakanmu." Ucap Lukas menenangkan Salwa.


"Lepaskan!" Pinta Salwa. "Aku akan mengha---"


---Kringgg Kringgg! Potong suara dering ponsel berhasil mengalihkan kekesalan Salwa pada Lukas. Lukas melepas cengkraman dan mempersilahkan Salwa mengangkat panggilan yang berasal dari ponselnya.


"CK!" Decak Salwa melihat panggilan itu berasal dari Salma. "Halo." Sambut Salwa dari ujung telpon sambil beranjak dari lantai.


"Apa masih belum sampai rumah?" Tanya Salma yang keluar dari mobil sambil menilik kediaman Kardinata lewat gerbang.


"Belum." Jawab Salwa berbohong melirik Lukas yang mengeryitkan alisnya menatap laptop di depannya.


Aku tinggal bentar anak nakal ini gak akan buat masalahkan ya. Batin Salwa yang berbalik badan dengan langkah perlahan keluar dari kamar meninggalkan Lukas yang melirik kecil padanya.


"Akhirnya." Ucap Lukas beranjak dari lantai pergi mengunci pintu dari dalam. "Fyuhhh!" Suara Lukas sambil menghela nafas bersandar di balik pintu. Ia kemudian membuka satu persatu lemari yang ada di kamar mencari kartu akses yang dimiliki Salwa saat masih menjadi bagian dari anggota BIN. "Disimpan dimana ya?" Tanya Lukas yang sudah memeriksa keseluruhan lemari hingga laci-laci kecil yang berada di samping ranjang mereka. Ia menarik satu persatu pakaian berlipat yang tersusun dalam lemari.


Brakk! Sebuah buku Agenda berwarna biru jatuh bersama dengan salah satu pakaian yang ditarik Lukas keluar. Ia kemudian mengembalikan pakaian-pakaian ke dalam lemari dan menutupnya. Lukas meraih buku Agenda dan beranjak dari lantai. Ia membuka halaman per halaman dalam Agenda dan menemukan sebuah foto dengan tulisan Yohan yang terselip di sampul belakang.


"Kenapa ada barang Yohan di kamar Luhan?" Mengeluarkan foto dan melihat Foto pria bermain piano. Pria dengan kacamata pada wajah yang mirip dengan Lukas. Ia mengenakan setelan jas kotak-kotak keemasan yang dipadukan dengan blus dalam berwarna maroon dan dasi kupu-kupu hitam. "Mungkinkah dia mengirimkan buku dan foto ini untuk saudara kembarnya?" Mengembalikan foto ke semula lalu memeriksa halaman per halaman dan menemukan sebuah nama tak asing di salah satu halaman.


"Raden Prakas?" Mengernyitkan alisnya sambil membaca nama yang tertulis disana. "Kenapa ada nama Pria itu disini?" Menengadah wajahnya keatas melihat ke dalam lemari. "Apa Luhan mengenalnya?" Melihat pakaian terlipat yang tersusun di dalam lemari. "Sebentar ini bukankah---" Ucapnya terjeda menarik salah satu pakaian yang berada dibawah pakaian lain. "---Celana yang di---"

__ADS_1


Brakk! Sebuah blus maroon dan dasi kupu-kupu hitam terjatuh dari dalam lipatan yang di tarik Lukas keluar.


"Kenapa pakaian yang ada di foto sebelumnya ada di lemari ini?" Membuka daun pintu lemari gantung yang ada disana dan menemukan jas dengan motif yang sama di antara jas yang lain. "Bukankah kamar ini milik Luhan?" Beranjak dari lantai sambil mengembalikan pakaian ketempat semula. Ia kemudian mengecek kembali satu persatu laci yang masih terbuka olehnya. "Kartu nama siapa?" Meraih kartu nama yang tergeletak di dalam laci. "Hotel Secret." Bacanya yang kemudian membalikan kartu dan melihat nama Raden Prakas di belakang. "Apa mereka ada hubungan kerja sama?" Tanya Lukas berjalan ke tepi kolam meraih map file dokumen para rekan bisnis Emperal grup.


Sementara itu Salwa berdiri di balik pilar rumah menilik Salma yang celingak-celinguk dari balik gerbang.


"Pak sini!" Panggil Salwa pelan pada pengawal yang berjaga di depan rumah.


"Ada yang bisa saya bantu Non?" Tawar Pengawal pada Salwa.


"Wanita yang ada disana." Tunjuk Salwa pada Salma. "Kayaknya ada niat jahat deh!" Ucap Salwa. "Tolong diusir ya Pak." Pinta Salwa.


"Baik Non." Sahut Pengawal yang kemudian pergi menghampiri Salma dan menyuruh wanita itu pergi. Namun selang beberapa detik pengawal malah balik membukakan gerbang dan mempersilahkan Salma masuk.


Sial! Umpat Salwa kembali masuk ke dalam rumah sambil menatap jam di ruang tamu menunjukkan 12.40. Ia meneruskan langkahnya ke dapur meraih nampan dari dalam rak.


Taktaktak! Suara Salwa menyendokkan nasi serta lauk diatas dua piring yang berada di dalam nampan. Sesekali ia melirik kearah pintu utama sambil menuangkan air putih ke dalam dua gelas.


"Luhan pengen makan di dalam." Jawabnya. "Oh iya Madam kalau ada yang mencari kita berdua---" Ucapnya terjeda melihat ke belakang. "---Siapapun!" Tegas melihat bayangan seorang mendekat. "Katakan kami gak ada di rumah." Pintanya yang kemudian meneruskan langkah menuju kamar disambut oleh Lukas membukakan pintu dari dalam.


"Ini pegang!" Pinta Salwa memberikan makan siang mereka pada Lukas. "Cepat Masuk." Memutar tubuh Lukas untuk berbalik masuk ke dalam kamar.


Brakkk! Suara Salwa menutup pintu dengan tubuh bersandar kebelakang. Ia menghela nafas panjang membuat Lukas mengernyit padanya.


"Kau kenapa?" Tanya Lukas yang kemudian berbalik membawa makan siang mereka ke arah kolam. Sementara Salwa segera mengunci pintunya. Setelah itu ia menyusul Lukas yang duduk di kursi panjang menikmati makan siangnya. "Ada apa?" Tanya Lukas yang sebelumnya ingin menyelinap diam-diam keluar dari kamar. Ia berencana mencari dokumen kerja sama Luhan dengan Raden Prakas yang belum ditemukan sejak tadi.


"Gak ada apa-apa." Jawabnya duduk bergabung menikmati makan siangnya.


"Apa ada yang datang?" Tanya Lukas melirik kegelisahan yang tersirat jelas di wajah wanita itu.

__ADS_1


"Bukan siapa-si---!"


---Tok tok tok! Potong suara ketukan dari balik pintu membuat Lukas dan Salwa saling melihat satu sama lain.


"Apaan sih Madam?" Tegur Salma pada Madam yang menghalangi Salma mengetuk kembali pintu kamar Salwa dan Lukas. "Aku cuma mau tahu keadaan mereka aja kok!" Ucapnya yang kembali mengetuk pintu disertai suara memanggil Salwa membuat Lukas menyeringai.


"Sekarang Aku tahu kenapa kamu segelisah ini." Tegur Lukas. "Apa kamu takut Luhan menyelinap ke salah satu kamar di rumah besar ini bersama wanita itu?" Tanya Lukas menyudahi makan siangnya.


"E-Eng-Enggak!" Sangkal Salwa meneruskan menyuapi makanan ke mulutnya.


"Oh iya!" Sahut Lukas beranjak dari kursinya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Salwa melihat Lukas kini melangkah masuk ke kamar meninggalkannya. "Luhan!" Teriaknya beranjak dari kursi menyusul Lukas yang menoleh sebentar pada Salwa sambil menyeringai.


Menarik! Batin Lukas berbalik menoleh lurus kembali menuju pintu kamar. Namun Salwa segera melewati keberadaanya dan berdiri di depan pintu menghalanginya.


"Kamu gak boleh menemuinya." Ucap Salwa dengan merentangkan kedua tangannya.


"Hei." Meraih kedua lengan Salwa. "Apa kau lupa?" Tegurnya merapatkan kedua lengan itu pada tubuh Salwa. "Aku ini Lukas bukan Luhan suamimu." Ucapnya.


"Tapi---"


"---Ssst!" Menempatkan telunjuknya di bibir Salwa. "Dia sangat ingin menemui kita." Ucapnya. "Mari kita sambut tanpa perasaan curiga." Menarik Salwa berdiri disampingnya. "Begini cukup bukan?" Melihat sambil merangkul Salwa.


"Eh?!"


"Apa perlu aku menciummu didepannya?" Tawar Lukas bersamaan dengan pintu ditarik kedalam memperlihatkan Salma yang sedang berdebat dengan Madam Vero di depan.


"Non Salwa maaf." Sambut Madam Vero. "Non Salmanya maksa buat ketemu sama Nona dan Tuan Muda." Sambungnya membuat Salma menoleh pada Lukas yang memberikan kecupan di pipi Salwa.

__ADS_1


"Ada urusan apa kakak mencari kami?" Tanya Salwa menikmati kecupan Lukas yang berhasil membuat Salma kaget dengan mata terbelalak.


🍁🍁🍁


__ADS_2