Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
Bonus 137


__ADS_3

''Assalamualaikum, maaf telat.'' Ucap Vio berlalu masuk dan bergegas membantu Lisa membuat buket.


Semalam Lisa sempat memberi pesan, jika hari ini ada banyak pesanan buket bunga di florist Ola jaya tempat nya bekerja.


Namun, lagi dan lagi diri nya datang selalu telat dari jadwal kerja nya. ''Apa mbak Mona nya ada di ruang kerja nya. ?'' Tanya Vio, dengan jemari nya lincah melipat tissue paper sebelum di hias bunga mawar merah.


''Ada apa. ? Tumben nanyain mbak Mona. Jangan bilang kamu mau Resign dari pekerjaan ini ya. !'' Tuduh Lisa yang sudah berburuk sangka.


Vio menggeleng cepat, ''Bukan itu, aku hanya takut di pecat setelah ke sekian kali nya aku datang nya telat.'' Jawab nya dengan raut wajah sendu.


''Kamu tau kan, mencari pekerjaan itu sangat sulit. Aku bisa berada di sini saja karena kamu.'' Imbuh nya.


Lisa menghela nafas panjang sejenak, sebelum memberi pengertian ke pada sahabat baik nya itu. ''Kalau gitu, hari ini kamu telat untuk yang terakhir kali nya, ya. Kan, kita jadi gak enak sama mbak Mona nya, pemilik florist ini jika kamu sering telat terus. Ingat Vi, dia orang nya sangat baik, sudah mau menerima kita bekerja di sini dengan pengalaman kosong tentang dekorasi bunga dengan berbagai acara.'' Nasihat Lisa yang lebih bisa berpikir secara dewasa.


Vio mengangguk lemah, apa yang di ucapan oleh Lisa benar ada nya. ? ''Iya, insya allah hari ini terakhir aku telat.''


''Semangat, pasti kamu bisa.'' Di balas Vio dengan senyuman.


''Lis. ''


''Hmm.''


''Cerita aja, jika ada yang mau di ceritakan.'' Ucap Lisa menggenggam jemari Vio. ''Aku siap menampung segala keluh kesah mu.'' Imbuh Lisa menyakinkan.


''Terima kasih.'' Memeluk Lisa seraya menitikkan air mata. ''Kamu selalu mengerti aku.'' Lanjut nya, dan di angguk i Lisa cepat.


''Kamu sudah aku anggap sebagai saudara ku Vi, segala sesuatu yang sudah terjadi dengan kamu. Kamu boleh cerita ke aku kapan pun itu, dan aku siap mendengarkan keluhan mu. '' Mengusap punggung Vio yang bergetar, Lisa mencoba menenangkan hati Vio yang gelisah dan bimbang.

__ADS_1


Pada akhir nya Vio mulai menceritakan apa yang semalam dia bahas dengan Galen si suami nya itu. Meskipun sedikit ragu, akhir nya Vio merasa lega usai mengeluarkan unek-unek nya yang sejak semalam dia pendam sendirian.


''Menurut mu. ?''


''Ck, kalau aku sudah tau buat apa aku bercerita dengan kamu Lisa.'' Decak Vio kesal.


''Kenapa kamu tidak mencoba nya dulu. ? Sesuatu yang kita lihat, belum tentu buruk untuk kita jalani.''


''Vi, tidak semua orang mendapatkan pilihan pertama dalam hidup ini. Tapi kita bisa hidup bahagia walau dengan pilihan kedua, ketiga, atau bahkan keseratus-satu.''


...****************...


Di ruang meja makan.


Sarapan pagi sudah tertata rapi di atas meja, biasa nya hanya ada beberapa menu dari bahan roti dan telur seperti di bikin Omelette Sandwich, Cheese Garlic Bread dan sebagai nya.


''Pagi Ma.'' Balas Ciara membuat sarapan pagi untuk Galen suami nya, menyiapkan susu, roti tawar yang sudah dipanggang, gula, dan bubuk kayu manis. Setelah selesai Ciara mengambil roti yang sudah di panggang kemudian dioleskan mentega dan taburan gula pasir serta kayu manis bubuk, dipotong-potong dan dimasukkan ke mangkuk. Kemudian di siram dengan susu hangat, jadi lah Milk Toast.


''Pagi juga Oma.'' Sahut Kila setelah menelan sepotong Omelette Sandwich ke dalam perut nya.


''Mereka belum turun. ?'' Tanya nya, menatap Ciara yang sedang membuat Milk Toast.


''Belum, biar nanti Ciara panggil seraya membawa sarapan pagi untuk mas Galen. ''


''Pagi.'' Suara Galen yang tiba-tiba terdengar dari arah lift.


''Pagi juga.'' Jawab mama Ayda dan Ciara nyaris bersamaan.

__ADS_1


''Cup, pagi putri papa yang cantik.'' Mengusap beberapa waktu pucuk kepala putri nya setelah mendaratkan sebuah kecupan singkat.


''Pagi juga pa.''


''Sarapan yang banyak biar bertumbuh sehat dan juga pintar.'' Seru nya sambil duduk di samping Kila.


''Siap pa.''


''Vio tidak ikut turun.?'' Tanya Mama Ayda.


''Dia sudah berangkat kerja Ma.'' Jawab nya, menerima satu mangkuk roti dari Ciara.


''Sepagi ini.''


''Iya Ma, hari ini dia bilang banyak pesanan buket bunga.'' Sebelum sarapan Galen meneguk dulu susu hangat di depan nya.


''Obat sebelum makan sudah kamu minum kan Mas. ?'' Ucap Ciara.


Galen tersenyum mengangguk, ''Sudah Ciara, Vio yang sudah menyiapkan tadi pagi sebelum pergi.''


''Kenapa tidak kamu suruh berhenti bekerja saja_______''


''Ma, Galen mohon, Mama jangan mengangkang nya. Biarkan dia bekerja sesuka hati nya.''


''Tap_____''


''Ma, urusan Vio biarkan aku yang ngurus. Dia istri ku, biarkan aku saja yang mencoba untuk meluluhkan hati nya.'' Mama Ayda mengangguk pasrah, saat mendengar suara putra nya itu yang terdengar serius di telinga.

__ADS_1


__ADS_2