Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
51. Pria bertato


__ADS_3

"Si-siapa Valen Grey?" Tanya Madam Vero gugup. "A-aku baru pertama kali mendengar nama itu,Tuan." Ucap Madam Vero. "Aku bahkan tidak mengenal siapa wanita yang baru Tuan muda katakan." Protesnya berusaha menyangkal akan kebenaran yang telah di dengar Lukas dari Wulan kemarin malam.


"Teruslah menyangkal Valen Grey." Desis Lukas mencondongkan tubuhnya ke Madam Vero merebut ponsel ditangan wanita itu.


"Tuan, apa yang kamu lakukan?" Tegurnya. "Kembalikan ponselku," pintanya meraih ponsel yang dijauhkan Lukas darinya. "Atau aku akan berteriak dan---"


"---Berteriaklah lebih keras!" Potong Lukas melirik Salwa yang masih berada di dalam kamar mengganti pakaiannya. "Supaya Salwa tahu siapa kamu dan Dafa sebenar---" ucapnya terjeda melihat panggilan keluar sebelumnya adalah Dafa Grey. "---Heh!" Cibir Lukas dengan salah satu alisnya naik keatas. "Pengawal!" Perintah Lukas pada dua orang pria yang telah berjaga sejak tadi menunggu aba-aba dari Lukas. "Bawa wanita tua ini ke lantai bawah."


"Siap Tuan!" Sahut Pengawal segera menangkap Madam Vero yang memberontak.


"Lepaskan!" Keluh Madam Vero. "Beraninya kalian melakukan ini padaku!" Memberontak dari para pengawal yang mengunci kedua tangannya kebelakang. "Apa kamu lupa kalau Saya adalah Kepala pelayan di rumah ini." Protesnya. "Sementara kamu hanya Luhan pal----"


"---Tutup mulutnya!" Potong Lukas membungkam mulut Madam dengan sapu tangan yang ia ambil dari sakunya. "Awasi dia," pinta Lukas dengan melipat jarinya dan melayangkannya ke tekuk leher Madam. "Jangan biarkan Salwa dan lainnya tahu mengenai ini!" Melihat Madam Vero pingsan dibawa oleh kedua pengawal. "Semua kembali melakukan tugas masing-masing seperti biasa." Perintah Lukas pada semua pelayan yang selama ini di perdaya oleh Madam untuk mendapatkan informasi tentang keluarga Kardinata.


Berdasarkan informasi yang diberikan Wulan, Valen Grey telah tinggal di keluarga Kardinata sejak dihari Wulan kehilangan Salwa dan Raden Prakas asli. Dafa membuat catatan kematian Valen Grey untuk membuat ibunya itu tinggal di kediaman Kardinata dengan penampilan yang berbeda. Dua tahun setelah tinggal disana keluarga Kardinata tertimpa musibah yang menggemparkan kota. Salah satu putra kembarnya menghilang saat mereka bertamasya ke pantai yang ramai pengunjung. Sebuah setelah itu keluarga Kardinata mengumumkan bahwa putranya ditemukan. Namun salah satu dari mereka dikirim ke Prancis untuk menghindari kejadian yang sama di masa depan.


"Lukas awas!" Seru Salwa yang duduk disamping Lukas.


Cekittt! Suara Lukas memberhentikan mobil dengan mendadak di depan rumah sakit mengagetkan orang yang hampir saja di tabrak.


Fyuhhh! Hela napas Salwa dengan menyandarkan tubuhnya ke belakang.


"Hampir saja." Ucap Salwa menoleh pada Lukas yang membatu dengan tatapan kosong ke depan. "Ada apa denganmu?" Tanya Salwa membuat Lukas terjaga dan menoleh pada Salwa.


"Gak apa-apa." Sahut Lukas. "Oh iya,Aku tak bisa menemanimu ke dalam." Lanjutnya. "Gak apa-apa kan?"


"Kenapa?" Tanya Salwa melepas seatbeltnya.


"Sakitnya akan tambah parah jika dia melihat kita bersama." Jawab Lukas mengalihkan pandangan dari Salwa.


"Oh." Sahut Salwa ketus. "Aku baru tahu kalau kamu begitu sangat peduli dengan perasaannya." Keluar dari mobil dengan merengut.

__ADS_1


Bam! Suara Salwa membanting pintu mobil dengan keras mengagetkan Lukas.


"Apa aku ada salah bicara?" Tanya Lukas melihat ke Salwa yang menghentak-hentakkan kakinya saat melangkah melampiaskan kekesalannya pada Lukas.


Menyebalkan! Umpat Salwa masuk ke rumah sakit menemui bagian administrasi. Di waktu bersamaan Lukas menghubungi Bobi. Ia menanyakan keadaan Wulan dan penelusurannya terkait latar belakang Valen Grey yang lain.


"Coba kamu cari tahu apakah Valen memiliki hubungan di masa lalu dengan keluarga Kardinata?"


"Eh?" Sahut Bobi bingung dengan permintaan Lukas.


"Apa ada yang salah?" Tanya Lukas.


"Gak ada Bos." Sahut Bobi yang menghiraukan kejanggalan mengenai Lukas.


"Kalau begitu kirimkan padaku jika sudah menemukannya." Pinta Lukas mengakhiri panggilannya dan melihat Jily turun dari sebuah mobil yang sebelumnya melewati keberadaanya. "Dafa mengirimnya lebih cepat dari yang aku perki---" ucapnya terjeda melihat seorang pria keluar dari sisi lain mobil. "---Bams?" Sambungnya menundukkan sedikit kepalanya saat Bams menoleh ke belakang seperti sedang memantau keberadaan seseorang. "Gawat!" Melihat Bams berjalan mengikuti Jily ke dalam rumah sakit. "Semoga aja Bams gak mengenali Salwa." Menyadarkan tubuhnya ke belakang sambil menggigit bibir bawahnya.


Fyuhhh! Menghela napas meraih ponsel dan membel Salwa yang sedang mendengar kondisi Salma dari dokter di kamar Salma di rawat.


Kringggg! Suara ponsel berdering mengejutkan Salwa dan dokter.


Tup! Suara Salwa mematikan panggilan Lukas.


"Kenapa gak di jawab?" Tanya Dokter.


"Hanya telpon iseng,Dok." Sahut Salwa yang masih kesal pada Lukas karna memperlihatkan kepeduliannya pada perasaan Salma.


"Oh begitu." Sahut Dokter yang kemudian mengajak Salwa keluar ruangan untuk melanjutkan pembicaraan mereka mengenai kondisi Salma yang masih tertidur.


"Kok malah di matiin." Keluh Lukas pada panggilan yang baru ditolak Salwa. "CK!" Decaknya keluar dari mobil menyusul Salwa ke dalam.


Sementara itu Jily mengecek satu persatu ruang inap tempat Salma di rawat bersamaan dengan Bams yang mengikutinya dari belakang. Dan dari arah berlawanan Salwa datang sambil mengobrol dengan dokter membuat Jily menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Kenapa istri Bos bisa ada disini?" Tanya Jily menutupi sebagian wajahnya dengan telapak tangannya saat melewati keberadaan Salwa yang membuat Bams mengeryitkan keningnya.


Wanita ini kenapa tampak begitu familiar?Tapi, dimana ya? Tanya Bams dalam hati dengan langkah terhenti mencoba mengingat-ingat kembali wajah Salwa dalam kepalanya.


"Ssttt!" Desis Jily yang menolah ke belakang mendapati Bams terus memandang punggung Salwa satu sisi wajahnya yang menoleh pada dokter di sampingnya.


Buk! Suara Jily menimpuk tekuk Bams membuat Pria itu menoleh dengan wajah kaget.


"Apa dokter itu sangat cantik?" Tegur Jily. "Sampai membuatmu tidak bisa menjauhkan kedua ma---" Ucapnya terjeda sesaat Bams menangkup jari Jily yang hendak mencolok bola matanya.


"---Hei!" Sambung Bams yang kemudian merangkul Jily. "Di mataku kamu adalah yang tercantik." Sambungnya meluluhkan amarah di kedua mata Jily.


"Kamu hampir saja membuat kita ketahuan oleh putri Bos yang lain." Sahut Jily dengan amarah yang mereda.


"Putri yang lain?"


"Ya." Menunjuk Salwa yang berbelok ke koridor lain berpisah dengan dokter sebelumnya membuat Bams akhirnya mengingat wajah itu.


Sial!Dia wanita yang menyelamatkan pria itu. Batin Bams menaikkan salah satu alisnya.


"Kamu yakin wanita itu putri Bos?" Tanya Bams yang dibalas anggukan Jily. "Bukankah Bos cuma punya satu anak?"


"Dia anak angkat Bos." Jawabnya.


"Kenapa aku tak pernah melihatnya bersama Bos?"


"Dia tumbuh dan besar di kamp pelatihan." Jawab Jily. "Setelah itu dia melanjutkan pendidikan di STIN." Jelas Jily yang kemudian menarik Bams untuk masuk ke ruangan Salma berada. "Dia seorang Intel jadi kamu harus waspada dengannya." Tambahnya.


"Heh!Pantesaan aja dia bisa menemukan keberadaan tempat itu dengan mu---" Ucapnya terjeda bersamaan dengan Jily yang melihat ke padanya.


---Tapi kenapa dia bisa ada disana? Dan sepertinya ia datang untuk menolong pria itu. Sambung Bams dalam hati berbalik keluar ruangan meninggalkan Jily. Ia berlari menyusul Salwa yang masih melangkah santai di koridor.

__ADS_1


Tap! Tangan Lukas menarik Salwa bersembunyi dibalik kolom koridor bersamaan dengan waktu Bams menghentikan langkahnya sambil mencari-cari keberadaan Salwa.


"Ssst." Desis Lukas pada Salwa yang berusaha melepas diri dari cengkramannya. "Pria bertato ada disini." Bisik Lukas. "Dia mengenalimu." Sambungnya membuat mata Salwa terbelalak.


__ADS_2