
Dalam perjalanan Juan tak henti-henti nya memikirkan apa yang di ucapakan oleh Papa tadi pagi.? Membuat dia tak fokus menyetir dalam perjalanan nya menuju rumah Nadin.
Sejak awal mereka berdua sudah sepakat, memberikan undangan ke pada Vio matan istri nya itu, dengan datang berdua. Lebih tepat nya, Nadin yang lebih bersemangat untuk datang ke kantor polisi memberikan undangan pernikahan tersebut.
Sedangkan Juan yang tak keberatan sama sekali, mengiyakan kemauan calon istri nya itu. Mungkin saja, Nadin calon istri nya itu masih cemburu jika dia bertemu dengan Vio, pikir Juan.
Sesampai di rumah Nadin, Juan mengambil kotak bekal yang sudah di siapkan oleh Mama nya tadi pagi. Kotak bekal itu khusus untuk diri nya makan siang di kantor. Namun, dia yang baru mengingat kalau hari ini dia tidak datang ke kantor melainkan ke kantor polisi. Lebih baik kotak bekal milik nya, dia kasih ke calon mertua nya yang kini sedang sakit-sakitan.
Ting..tong
Ting.. ting.
''Iya sebentar.'' Sahut Nadin yang baru selesai make up.
Ceklek
''Good morning my future wife.'' Ucap Juan setelah pintu di buka dari dalam.
''Good morning to my future husband.'' Jawab Nadin tersipu malu.
Ekhem. ''Merah tuh pipi nya. ''
Nadin menyentuh ke dua pipi nya. ''Masa sih, aku tak percaya. Hmm kamu bawa apa. ?''
''Ini. '' Tunjuk Juan, pada kotak bekal yang dia pegang sekaligus satu kantong plastik sedikit besar. ''Oh ini, makan siang ku sih sebenar nya. Tetapi, hari ini aku tidak pergi ke kantor jadi aku berikan saja ke calon mertua ku.''
''Sekalian juga tadi aku beliin bubur Ayam sekaligus buah-buahan untuk calon mertua ku, dan juga untuk Vio nanti.'' Menyodorkan satu kantong plastik di depan Nadin. Dengan segera Nadin meraih kantong tersebut lalu menaruh nya di atas meja.
Sebelum itu, Nadin sudah lebih dulu mempersilahkan calon suami nya itu untuk masuk ke dalam. !''Makasih loh, udah mau repot-repot beliin Mama bubur.''
''Iya, sama-sama sayang, dia juga kan calon Mama mertua ku dan hal itu sudah seharusnya terjadi.'' Melangkah ikut masuk.
__ADS_1
''Ya udah, kamu tunggu di sini sebentar, aku pergi ke kamar ku mengambil tas.'' Pamit Nadin.
Baru tiga langkah, Nadin baru mengingat sesuatu, dia segera berbalik badan kembali. ''Oh iya Mas Juan, Mas Juan mau aku bikinin minuman apa. ?'' Tawar Nadin.
''Gak perlu, lagian kita berdua akan segera pergi.'' Sahut Juan cepat.
''Serius, gak mau ku bikinin kopi gitu.'' Membuat Juan menggeleng cepat.
''Baiklah.'' Berlalu pergi menuju kamar nya.
''Eh, ada Nak Juan. Apa kabar nak. ?'' Melangkah pelan menuju sofa.
''Baik Ma, kalau kabar Mama bagaimana. ?'' Jawab Juan, sekaligus bertanya balik.
Mama Nadin tersenyum, seraya duduk di sofa tunggal ruang tamu. ''Ya, begini lah keadaan Mama.''
''Aku sudah selesai, yuk kita pergi. !'' Ajak Nadin yang baru keluar dari kamar yang sedikit terburu-buru.
''Mama jenuh Din, di dalam kamar terus.'' Keluh nya.
''Tapi Ma______''
''Biarin saja sayang, mungkin benar, di dalam kamar hanya akan membuat Mama kamu jenuh. Bukan sehat, malahan nanti bertambah sakit.'' Bela Juan, terhadap calon Mama mertua nya itu.
Nadin menghela nafas panjang beberapa waktu, ''Ya udah, tetapi jangan lama-lama ya Ma.'' Putus Nadin mengalah.
Mama Nadin mengangguk cepat.''Iya Din, ya udah, sana cepat pergi nanti keburu siang loh.''
''Baiklah, kalau begitu kita berdua pamit pergi dulu Ma. '' Pamit mereka berdua, mencium punggung tangan sang Mama.
''Hati-hati. ''
__ADS_1
''Iya Ma, '' Jawab Nadin dan Juan nyaris bersamaan.
...****************...
''Saudari Vio.''
''Iya Pak.'' Jawab Vio beranjak dari duduk nya.
''Silakan keluar, Ada yang ingin bertemu dengan kamu. !'' Perintah bapak polisi sambil membuka kan pintu untuk Vio.
''Terima kasih, pak.''
Hanya menempuh lima menit, Vio sudah tiba di ruang khusus untuk para pengunjung yang ingin mengunjungi para tahanan.
Vio yang memakai gamis polos yang berwarna hitam yang sederhana, dikombinasikan dengan hijab polos berwarna cokelat susu berbentuk segitiga. Dengan cukup buat bentuk segitiga pada kain hijab segi empat, lalu pasang dengan menggunakan jarum.
Sesimpel itu, membuat Vio terlihat cantik dan anggun.
Siapa aja yang melihat perubahan pada diri Vio, ? Pasti nya akan sangat bersyukur.
''Assalamualaikum. '' Sapa Vio.
Sapaan dari Vio, membuat dua orang yang sejak tadi asyik mengobrol. Seketika menoleh ke arah sumber suara yang masih setia berdiri di tempat nya.
''Vio.'' Gumam Nadin dan juga Juan bersamaan.
Juan berdiri dari tempat duduk nya, menatap lekat wajah wanita yang berada di depan nya saat ini. ''Ini, ini benaran kamu Vio, aku tak salah melihat nya bukan.'' Ucap Juan yang masih tak percaya.
Jujur, Jika ini Vio yang berubah penampilan nya dengan berhijab. Dia harus memuji perubahan pada diri Vio, pikir Juan yang masih setia menatap lekat manik mata Vio.
Kini mampu membuat Juan tak berkedip menatap kecantikan dari Vio. Apa lagi Juan yang sangat hafal lekuk tubuh Vio membuat dia mengingat perselingkuhan nya di masa lalu.?
__ADS_1