
🍁🍁🍁
Hidangan restoran bintang lima menyambut kedatangan Raden,Wulan dan Salma di meja makan.
"Madam tolong bawakan anggur yang tersimpan di ruang bawah penyimpanan." Ucap Rose pada Madam yang berdiri memandu para pelayan menjamu tamu penting majikannya.
"Baik Nyonya." Sahut Madam menundukkan badan sedikit lalu berbalik badan menjemput permintaan Rose.
"Luhan dan Salwa kemana Om?" Tanya Salma duduk dengan sangat hati-hati memperlakukan gaun yang ia kenakan.
"Masih di kamar." Sahut David. "Sebentar lagi juga mereka menyusul kesini." Lanjutnya yang kemudian menawarkan Raden dan Wulan untuk menikmati hidangan yang sudah ada didepan mata. Selang beberapa menit kemudian Salwa dan Lukas tiba di meja makan bersamaan dengan Madam yang membawa botol anggur. Lukas melihat Wulan duduk bersebrangan dengan Rose. Salma bersebrangan dengan kursi miliknya yang ditari Lukas dan mempersilahkan Salwa duduk disana. Kemudian ia menarik kursi disamping Salwa yang posisinya bersebrangan dengan Raden yang menatap kearahnya.
"Malam Om!" Sapa Lukas pada Raden sambil menjatuhkan bokongnya pada atas kursi. Ia kemudian menyeringai tipis meraih pisau dan garpu untuk memotong steak yang telah dihidangkan oleh pelayan di atas piringnya.
"Apa semua berjalan dengan baik?" Sambut Raden pada sapaan Lukas. "Malam ini kamu tampak terlihat bahagia." Memotong steak di piringnya.
"Apa kita hanya bisa bahagia saat sesuatu berjalan dengan baik?" Balas Lukas yang kemudian meraup potongan steak dari ujung garpunya.
"Luhan." Tegur David.
"Ada apa pah?" Sahut Lukas. "Aku hanya bertanya pada Om Raden." Sambungnya. "Benarkan Om?" Melihat ke Raden yang mengoyang-goyangkan anggur dalam gelasnya.
"Terkadang sesuatu yang berjalan kurang baik bisa memberi dampak kebahagian juga." Jawab Raden.
"Misalnya?" Tanya Lukas sambil menikmati potongan-potongan staeknya dengan santai.
"Mencoba melenyapkan musuh namun gagal tetap di balik kegagalan itu dia mampu membuat musuh merasakan kesedihan yang berkepanjangan." Jawabnya yang kemudian meneguk anggur dari gelasnya.
"Apakah Om Raden pernah mengalaminya?" Tanya Lukas membuat Pria 47 tahun itu tersedak anggur membuatnya terbatuk-batuk. Lukas memperhatikan reaksi Wulan yang tak bergerak sedikitpun dari kursinya memberi bantuan.
"Ini pah." Ucap Salma memberikan tissue pada Raden yang meletakkan gelasnya. Ia menerima tissue dari tangan Salma sambil beranjak dari kursi. Di waktu bersamaan Lukas menyeringai miring mengejek Raden yang tertangkap oleh kedua mata Salwa yang melihat padanya.
__ADS_1
"Aku ke belakang bentar bantuin Ayah." Ucap Salwa beranjak dari kursinya.
"Luhan." Panggil Salma membuat Lukas terjaga dari pandangannya pada Salwa yang pergi menyusul Raden. "Apa kamu mau mencoba mie kuah kerang ini?" Tawar Salma mengangkat mangkok sambil beranjak dari kursi. "Ini resep yang aku bawa dari tempat biasa kita makan." Melangkah membawa mangkok ke tempat Lukas berada. "Aku sengaja meminta koki membuatkannya spesial untukmu." Berdiri diantara kursi Salwa dan Lukas dengan meletakkan mangkok diatas meja.
"Benarkah?" Sahut Lukas yang menyukai segala jenis seafood kecuali kerang dan sejenisnya. Namun siapa yang tahu mengenai itu selain dirinya sendiri di meja yang penuh dengan sajian makanan. "Aku tgak makan dua kali masakan yang sama dalam sehari." Mendorong mangkok berisi mie kuah itu menjauh darinya. Ia mulai merasa mual melihat cangkang yang terjun bebas membelit oleh lilitan mie.
"Luhan di makan dong sayang." Pinta Rose. "Salma udah bela-belain menyiapkan itu untuk ka----."
"---Uhmm!" Potong Lukas membungkam mulutnya yang merasa potongan steak sebelumnya memaksa untuk keluar karena kerang di depan matanya. "Perutku tiba-tiba gak enak,Mah!" Ucap Lukas beranjak dari kursi. "Luhan ke toilet dulu." Meninggalkan Salma yang menatap mie kuah kerang kesukaan Luhan di depannya.
Di waktu bersamaan Salwa diam-diam mengikuti Raden. Pria itu berjalan menelusuri koridor menuju halaman tempat pertama kali Salma menjebak Luhan dengan tipuannya.
"Ayah!" Seru Salwa menghampiri Raden yang berdiri di depan kolam mancur. "Salwa mau bicara sama Ayah." Ucapnya membuat Raden berbalik badan melihat putri angkatnya itu. Sementara itu Lukas sedang memuntahkan seluruh steak yang ia makan sebelumnya ke dalam lubang closet..
"Sialan Salma!" Umpatnya kemudian duduk dilantai dengan tubuh bersandar ke dinding toilet. "Bisa-bisanya ia memberikanku makanan menjijikkan seperti itu." Beranjak dari lantai melangkah ke depan cermin yang berada diatas wastafel. "Tunggu deh!" Gumam Lukas yang sedang mencuci tangannya. "Raden?" Menarik tangannya. "Dia ke toilet mana?" Menepiskan-nepiskan tangannya.
Lukas keluar dari toilet dan menilik kearah ruang makan yang terlihat dari pilar koridor di depannya. Ia tak melihat Raden dan Salwa di meja makan.
"Kebetulan Ayah juga mau membicarakan sesuatu denganmu." Ucap Raden pada Salwa yang berdir di hadapannya. "Ayah dengar sekarang kamu bekerja sebagai sekertaris Luhan." Sambungnya tepat di telinga Lukas yang melihat keduanya dari koridor yang gelap.
"Benar yah!" Sahut Salwa.
"Lalu bagaimana dengan Jily?" Tanya Raden. "Apa dia akan di pecat dari posisi yang sekarang kamu duduki?"
"Ayah kenal dengan Jily?" Balas Salwa balik bertanya membuat Lukas menyelinap ke balik pilar yang dekat dengan keberadaan keduanya.
"E-Eng-Enggak!" Jawab Raden gugup. "Oh iya, barusan kamu mau bicara apa sama Ayah." Sambungnya mengalihkan topik untuk menghindari kecurigaan Salwa pada Jily yang ia tempatkan untuk mencari berkas seluruh aset milik Emperal grup.
"Apa ayah kenal dengan orang yang bernama Ferozkan?" Tanya Salwa membuat Raden dan Lukas kompak Mengernyitkan alisnya.
Bukankah itu nama Bos Kartel yang mempekerjakan Lukas? Darimana anak ini mengenal pria itu. Batin Raden.
__ADS_1
"Yah!" Panggil Salwa.
"Ya." Sahutnya.
"Apa mungkin ayah pernah mendengar nama itu disuatu tempat?" Tanya Salwa menguji Raden.
"Ayah tak pernah mendengarnya." Jawab Raden. "Apa orang itu melakukan sesuatu padamu?" Tanya Raden. "Semacam teror atau ancaman lainnya." Sambungnya membuat Salwa menaikkan salah satu alisnya.
"Teror?" Tanya Salwa. "Kenapa Ayah langsung berpikir Pria bernama Ferozkan akan melakukan hal seperti itu padaku?" Melipat kedua tangan dibawah dada. "Apa ayah sungguh tidak mengenalnya?" Tanya Salwa melangkah maju mendekat pada Raden.
"Ayah dengar dia seorang Bos Kartel." Balas Raden. "Tapi belum ada yang tahu pasti kebenaran dan keberadaan Pria itu saat ini." Sambungnya.
"Apa Ayah pernah bertemu dengannya?" Tanya Salwa dengan mata berlinang.
"Belum." Menggelengkan kepalanya. "Ayah sama sekali tidak tahu bagaimana rupa wajahnya." Sambungnya membuat Salwa menekuk wajahnya. "Apa sebelumnya kalian menyelidiki kasusnya?" Tanya Raden.
"Ya." Jawab Salwa berbohong.
"Ayah dengar markasnya yang ada di Thailand diledakkan oleh sekelompok Gangster." Ucap Raden membuat Lukas menggertakkan giginya di balik pilar.
Thailand? Tunggu! Batin Salwa berbalik badan meninggalkan Raden. Ia melewatkan keberadaan seorang yang tahu betul dimana keberadaan Ferozkan sesungguhnya.
"Salwa!" Panggil Raden pada Salwa yang mengangkat gaunnya sedikit keatas menaiki anak tangga. Ia menyusuri koridor melewati keberadaan Lukas yang mengikutinya dari belakang. "Salwa tunggu!" Seru Raden.
"Sial!" Umpat Lukas mendengar langkah kaki Raden dari belakang. Ia kemudian dengan cepat meraih lengan Salwa dan menariknya sembunyi di salah satu pilar.
"Salwa,Ayah belum sele----" Ucapnya terputus melihat tak ada siapapun di koridor. "---kemana perginya anak itu?" Sambungnya melangkah dengan sangat hati-hati sambil melirik ke segala arah. "Kenapa bisa menghilang secepat itu?" Meneruskan langkahnya sementara itu Lukas berdiri dengan tangan yang membungkam bibir Salwa tepat dibalik pilar.
"Hah-hah-hah!" Suara nafas Salwa setelah Lukas menarik tangannya. "Lukasss." Desisnya dengan nafas terengah-engah. "Apa kamu mengenal Kak Fero?" Dengan kedua mata berlinang. "A-Apa kamu tahu Kak Fero sekarang ada dimana?" Tanya Salwa dengan bibir gemetar dan air mata yang kini jatuh membasahi pipinya.
Jadi, adik perempuan yang ia ceritakan itu kamu. Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan yang hanya akan menambah kesedihan untukmu. Batin Lukas.
__ADS_1
🍁🍁🍁