
Kebersamaan itu mahal dan tak ternilai harganya. Maka, beruntunglah bagi orang-orang yang mampu membelinya. Yaitu orang-orang yang peduli pada kebersamaan dengan keluarga dan juga orang terdekatnya.
Sebuah mutiara arti kebersamaan Pada dasarnya, kebersamaan dalam keluarga tidak berarti harus selalu berkumpul. Namun, hal yang paling penting adalah adanya keterikatan batin dan rasa saling sayang antara sesama sepasang suami istri.
Contoh nya Eva, kalau di pikir-pikir kembali. Sang suami Arsen jarang sekali memiliki waktu berkumpul dengan keluarga, dari pagi hingga menjelang malam bisa di hitung dengan jari tangan sepuluh nya.
Setelah lelah berolahraga malam, di pagi hari nya mas Arsen sedikit kesiangan. Hanya ada beberapa waktu sampai sarapan pagi sebagai batasan bersama. Makan siang di kantor, malam nya ada di rumah dan hanya ada beberapa waktu sebelum menjelang tidur malam.
Tidak terlalu jauh dari kamar mandi, ada sebuah ruangan yang di khususkan segala keperluan untuk baby El. Celotehan dan canda tawa ibu dan anak tak sedikit pun menganggu tidur pulas nya sang suami sekaligus Papa dari putra nya itu. Terbukti si empu nya masih betah bergulung selimut di atas ranjang tanpa terusik.
''Uuuh, ganteng nya anak Mama.'' Puji Eva dengan gemes mengucel-ngucel rambut sang putra hingga suara merengek dari bibir mungil baby El.
''Ih, ih baby El mau nangis.'' Cubit gemas di pipi gembul nya, seketika pecah tangisan nya.
Gedubrak
Aawuuu shsst, ''Sakit.'' Lirih nya yang habis jatuh dari tempat tidur.
''Ada apa dengan nya sayang.?'' Panik Arsen seraya menampilkan wajah Panik bercampur khas bangun tidur.
__ADS_1
Menatap sang suami nya mengalami gelagapan bangun tidur bahkan masih telanjang dada dengan celana pendek di atas lutut membuat Eva menyengir kuda. Sedangkan Arsen yang melihat reaksi istri nya seketika membuat dia menghela nafas panjang.
''Ku kira anak kita jatuh.'' Ungkap Arsen pelan, sambil bergerak lamban balik badan dan kembali lagi menuju ranjang meraih mimpi nya yang belum selesai gara-gara mendengar tangisan baby El.
''Mas, jangan tidur lagi. ! Apa kamu tidak mencium aroma baby El yang udah wangi begini.?'' Cegah Eva, melihat sang suami kembali terpejam. Dengan tubuh tengkurap di atas kasur tanpa arah yang benar.
''Hmmm, aku masih ngantuk sayang, kasih aku waktu lagi ya buat tidur.'' Lirih Arsen, dengan suara tak jelas. Mungkin sudah tenggelam di alam mimpi.
''Hampir jam tujuh Mas, tinggal lima belas menit lagi. Apa gak takut telat nanti pergi ke kantor nya. ?''
Hmmm
Cup, ''Mas bangun, ini sudah siang loh.''
''Assalamualaikum, Eva, kamu ada di mana. ? Ini tadi Mama bikin sayur lodeh sama lontong kesukaan mu.'' Ucap Mama Rosa dari depan pintu.
Setelah nyapu tadi, Eva memang sengaja tidak menutup pintu paling depan dan hanya menutup pintu jeruji besi nya saja.
''Coba di ingat-ingat, kira-kira suara siapa tuh El. ?'' Eva mencoba mengajak bicara si buah hati nya di masa dini.
__ADS_1
''Yuk, kita ke depan. !'' Angkat Baby El dari atas punggung sang suami yang sama sekali tak terusik sedikit pun.
Menggeleng pelan, lalu berjalan keluar menuju depan rumah nya.
''Oma.'' Sapa Eva, melambaikan tangan baby El.
''Ya ampun cucu oma ganteng nya.'' Puji oma Rosa, di sambut ceria si baby El.
''Ikut Oma pulang ya, biar Mama kamu menyiapkan keperluan Papa kamu.'' Meraih Baby El di dalam gendongan putri nya Eva.
Melihat kepergian sang Mama membawa putra tercinta, membuat hati Eva sangat bahagia. Eva sangat bersyukur, yang telah lahir dari keluarga yang penuh dengan kasih sayang.
...****************...
Cerita Eva ama Arsen sudah menjadi keluarga berbahagia.
Cerita Nadin dan juga Juan pun menjelang berbahagia.
Kini fokus dengan kehidupan Vio, ya.
__ADS_1
Jika nanti ada Bab-bab yang berisi tentang Vio,, ya harus maklum. Sebab kini giliran kisah cinta Vio yang belum mendapatkan jodoh.