Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
Bonus 106


__ADS_3

Tiga hari kemudian.


Hari demi hari pun telah terlewati, begitu pula dengan kondisi Nadin yang semakin hari semakin membaik.


Meskipun mual di dalam perut Nadin sudah berkurang, tetapi dia masih menghindari bau-bau yang menyengat yang tercium di indra penciuman nya.


Lebih sering nya saat bangun tidur di pagi hari Nadin selalu mual-mual di jam pagi tersebut. Berbeda lagi kalau agak kesiangan, mual yang dia rasakan sudah menghilang entah kemana.


Mual atau nausea, pada bulan-bulan pertama kehamilan disebabkan meningkatnya produksi hormon estrogen yang memancing peningkatan keasaman lambung. Jika frekuensi mual muntah lebih sering di pagi hari, itu karena jarak antara waktu makan malam dengan makan pagi cukup panjang.


Hoek


Hoek


Memuntahkan cairan berwarna kuning membuat tubuh Nadin lemas dan juga pucat.


''Aku bantu berdiri.''


Memapah sang istri keluar dari dalam kamar mandi. ''Hati-hati, kamu mau aku buatkan teh hangat atau jae, apa lemon.?'' Tawar Juan sambil membantu sang istri duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


''Jae hangat aja, Mas.''


''Baik lah, kamu tunggu di sini sebentar biar aku buatkan.''


Nadin mengangguk lemah. ''Iya.''


Morning sickness adalah gejala mual dan muntah yang umum terjadi pada masa awal kehamilan. Ketika frekuensi muntah yang dialami ibu hamil semakin sering, isi lambung menjadi berkurang sehingga yang dikeluarkan adalah muntahan yang mengandung cairan empedu. Hal inilah yang menyebabkan muntah berwarna kuning.


Tak selang lama, Juan kembali dengan membawa nampan berisi dua cangkir beserta satu mangkuk yang Nadin tidak tau apa isi di dalam nya.


''Lama ya, sorry tadi Mas nungguin mama pulang membeli bubur ayam di seberang jalan.'' Meletakan nampan di dekat Nadin duduk bersandar di kelapa ranjang.


'' Terima kasih, Mas.'' Membuat Juan tersenyum dan juga mengangguk.


''Mas.'' Panggil Nadin.


''Iya, apa wedang jaé nya kurang enak ya.?'' Tanya Juan, yang ingin meraih cangkir yang di pegang oleh istri nya itu.


''Bu-bukan wedang jae nya Mas.''

__ADS_1


''Lalu.''


''Kamu juga harus minum kopi nya, nanti keburu dingin jadi gak enak.''


''Oh iya Mas lupa, baiklah kita minum bersama.'' Dan di angguki Nadin cepat.


''Mas.'' Panggil Nadin kembali, membuat Juan menaikan ujung alis nya ke atas.


''Ada apa lagi, Nadin sayang.?'' Gemas Juan saat melihat ekspresi wajah sang istri yang sangat menggemaskan.


''Siang ini aku ingin main ke rumah Eva, boleh gak.''


''Apa kamu sudah siap bertemu dengan Vio. ?'' Tanya Juan lebih memastikan kembali kalau di rumah Eva pasti nya ada Vio juga. Mengingat rumah adik nya itu dengan rumah mertua nya bersebelahan. Tidak kemungkinan, kalau Vio tidak bermain ke rumah Eva.


Ngomong-ngomong soal Vio, iya Vio. Vio sudah resmi bebas dari dalam penjara sehari dari ke salah pahaman saat di rumah sakit kala itu. Besok siang nya, Mama Bunga benar-benar mencabut laporan nya di kantor polisi.


''Kan aku belum mencoba nya Mas, siap atau gak siap nya. Lagian ya, aku sama Vio tidak pernah menyinggung satu sama lain kan. Ngapain juga aku tidak siap bertemu dengan nya gitu.?''


''Kalau begitu terserah kamu saja, sayang. Tetapi kamu harus ingat, jika kondisi tubuh mu kurang sehat jangan kamu paksakan untuk pergi kesana.'' Juan mewanti-wanti perihal kesehatan bumil itu.

__ADS_1


''Iya, aku ngerti. Mas bisa kan anterin aku pergi kesana.'' Menggenggam lembut jemari sang suami. Kemudian Juan tak ingin kalah, dia segera membalas genggaman jemari sang istri nya itu. ''Pasti nya dong, kan aku ini suami siaga.'' Bangga Juan.


__ADS_2