Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
Bonus 136


__ADS_3

Pagi hari nya.


Kamu tidak bisa kembali dan mengubah awal saat kamu memulainya, tapi kamu bisa memulainya lagi dari di mana kamu berada sekarang dan ubah akhirnya.


Pagi hari adalah pagi yang sibuk bagi Lisa, dari memasak beres-beres rumah kontrakan, mencuci dan masih ada beberapa kegiatan rumah yang lain sebelum di tinggal pergi bekerja.


Mengingat pagi ini banyak pesanan buket bunga dalam rangka wisuda atau perpisahan dari SD sampai perguruan tinggi. Lisa bela-belain bangun fajar sholat subuh kemudian lanjut ke pekerjaan rumah.


''Selesai.'' Seru nya usai merias diri, meraih tas kecil yang berwarna abu-abu kemudian dia melangkah keluar dengan membawa sekotak bekal yang sudah dia siapkan di atas meja lipat.


Tidak butuh waktu yang lama, Lisa sudah sampai di Florist Ola Jaya, tempat dia bekerja.


Meletakan tas kecil nya kemudian dia meraih bahan-bahan yang akan di buat buket. Termasuk dengan bunga segar yang sudah di siapkan oleh sang pemilik Florist.


''Jangan lupa Lisa, lima belas buket bunga, sedangkan yang tujuh buket yang berisi uang.'' Ucap Mona meletakan berbagai macem bunga di samping Lisa duduk bersila.

__ADS_1


''Ada tiga buket uang minta nya di kasih bunga tulip pink. Sedangkan yang empat minta nya bunga mawar.'' Lanjut nya, memisahkan tulip pink Dan mawar merah.


''Siap, mbak Mona.'' Jawabnya semangat.


''Oh ya, hari ini Vio tidak masuk lagi ya.?'' Tanya nya.


''Masuk Mbak, tapi Vio datang nya agak telat. '' Jawab Lisa sedikit tak enak dengan bos nya itu.


''Ya udah gak apa-apa, tetapi nanti Vio nasehati ya, supaya tidak telat terus. ''


''Baik Mbak, biar nanti Lisa yang ngomong sama dia.''


Sedangkan di rumah megah Vio masih terlelap di atas sofa panjang. Saking nyenyak nya dia tak mendengar alarm ponsel nya berbunyi yang berulang kali.


Galen yang terganggu dengan alarm tersebut sudah terbangun dan bersandar di Headboard.

__ADS_1


Sorot mata nya tak lepas dari wajah polos Vio istri nya yang tak memakai make up apa pun, yang kebetulan menghadap kearah dia bersandar.


Percakapan semalam dengan istri ke dua nya itu masih terngiang jelas di dalam otak nya.


''Apa semalam dia berlebihan meminta Vio tinggal di rumah ini.?'' Pikir nya, sesekali memejamkan kedua mata nya. Menatap langit-langit dengan seribu pikiran di dalam otak nya. Nyatuin dua kepala dengan seribu pikiran yang berbeda itu gak gampang ternyata.


''Aku gak bisa tinggal di sini, maaf. Aku lebih nyaman tinggal di kontrakan dari pada rumah mewah.''


''Bagaiman dengan sifat Mama Aku. ? Yang tidak suka di bantah jika menurut nya benar.''


''Jangan memaksa Aku lagi. ! Menjadi istri kamu yang kedua saja Aku masih belum bisa menerima. Apa lagi harus satu atap bersama istri sah kamu. ? Kalian semua ingin membunuhku secara perlahan, dengan rasa bersalah nya Aku yang sudah masuk ke dalam rumah tangga kalian, hah. '' Seru Vio sedikit emosi.


''Aku tidak meminta mu untuk bersaing dengan Ciara dari segi fisik atau istri yang baik mengurus suami dan rumah tangga. Aku hanya meminta mu untuk tinggal di sini, bekerja dari sini. Anggap saja ini rumah kamu sendiri, jadi kamu bebas mau ngapain saja asalkan kamu tinggal di sini.'' Memijat pelipis nya yang berdenyut nyeri.


''Kamar kita bertiga berpisah, dalam arti, aku, kamu dan Ciara memiliki ranah pribadi masing-masing. '' Ungkap Galen jujur.

__ADS_1


''Dan satu lagi, jangan memanggil ku dengan sebutan apa pun itu selain nama, atau mas untuk ku.''


Vio sempat terkejut, dengan apa yang Galen ungkapkan. ''Jadi, selama ini mereka berdua menikah tidak pernah satu kamar gitu.'' Batin Vio yang masih tak percaya.


__ADS_2