Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
23. Latar belakang


__ADS_3

🍁🍁🍁


Sudah satu jam berlalu Salwa mengurung diri di kamar. Ia meninggalkan Lukas sendiri di teras samping setelah mengatakan dirinya bukan saudara kandung Salma.


Tak! Suara Lukas memukul bola putih dengan stik golf di tangannya. Bola itu melambung tinggi menghilang dari pandangan. Samar-samar sebuah memori kembali keluar dari kepala Lukas. Ia melihat dua orang pria berdiri di tengah lapangan golf. Pria yang memiliki paras lebih muda berusaha melayangkan stik golf pada pria yang terlihat tiga tahun lebih tua. Stik golf yang melayang hampir mengenai kepala terhenti diudara oleh suara anak yang memanggil salah satu dari mereka papa. Selang beberapa detik kemudian terdengar suara wanita memanggil dari belakang.


"Luhan!" Panggil suara membuat Lukas membuka matanya dan menoleh ke belakang. "Apa yang sedang kau lakukan disana?" Tanya suara yang berasal dari David.


"Main golf pah." Sahut Lukas mengayunkan stik golf begitu lihai membuat David mengerutkan keningnya. Luhan yang hidup puluhan tahun dengannya sama sekali tidak tertarik dengan golf. Ia terlihat berada di lapangan golf dengan stik ditangan hanya untuk menyenangkan partner bisnis yang kebetulan mengundangnya untuk bermain. Di luar itu Luhan lebih memilih berada di depan piano.


"Sejak kapan kamu belajar golf?" Tanya David yang kini berdiri di samping Lukas nyang baru saja memukul bola sampai masuk.


"Aku tak pernah belajar." Jawab Lukas yang merasa setiap kali ia melayangkan stik memang selalu berhasil menghantarkan bola pada lobangnya. "Papa mau coba?" Tawar Lukas pada David yang menyambutnya dengan semangat.


Tak! Pukulan pertama bola terlempar jauh melewati lobang.


Takk! Pukul berikutnya bola menggelinding ke arah lain. Lukas memberi semangat untuk David melakukannya lagi.


Takkk! Pukulan terakhir.


Plung! Suara bola jatuh ke dalam lobang membuat David berteriak bahkan pria itu melakukan selebrasi.


"Kau lihat itu?" Tanyanya beranjak dari rumput melihat Lukas. "Papah berhasil memasukkannya." Memeluk Lukas sambil tertawa lepas membuat Lukas kembali melihat sebuah memori yang mirip dengan apa yang terjadi saat ini. Namun dalam memori itu tampak Pria yang sebelumnya hendak mendapat pukulan stik berlutut bersama seorang anak laki. Keduanya melakukan selebrasi lalu diteruskan dengan memeluk satu sama lain sambil tertawa lepas.


"Luhan!" Panggil Rosa yang sejak tadi diam-diam memperhatikan Lukas. "Kamu kenapa sayang?" Tanya Rosa melihat Lukas menangkup kepalanya menahan rasa sakit saat memori-memori itu mencoba keluar untuk memperlihatkan padanya.


"Hanya pusing biasa." Sahut Lukas menarik dirinya dari pelukan. "Aku tinggal ke kamar dulu Mah, Pah!" Pamit Lukas berbalik badan meninggalkan keduanya.


"Sayang." Panggil Rose pada David.


"Ya."


"Akhir-akhir ini dia terlihat sangat berbeda Pah." Ucap Rose. "Sejak pulang dari honeymoon dia tidak seperti Luhan yang tinggal dengan kita selama ini." Sambungnya.


"Mama benar." Sahut David.


"Papa juga merasakan yang sama kalau Luhan seper---"


"---Itu hal yang wajar Mah." Potong David sambil memukul bolanya kembali. "Dulu dia masih seorang anak sementara sekarang dia sudah menjadi suami untuk anak perempuan dari keluarga lain." Jelasnya membuat Rose terdiam beberapa saat.

__ADS_1


Aku juga berharap perubahan ini hanyalah faktor karna dia telah menikah bukan karna hal lain. Batin Rose pada Lukas yang kini merebahkan dirinya di samping Salwa yang memunggunginya.


Ada apa sebenarnya?Kenapa semakin kesini semakin banyak memori tentang rumah ini muncul di kepalaku. Terlebih lagi kediaman Kardinata ini seolah menarik memori yang tertanam di kepala ini untuk keluar. Batin Lukas sambil memiringkan tubuhnya ke arah Salwa.


"Apa kau malu padaku karna status anak pungut itu?" Tanya Lukas yang membuat Salwa berbalik badan. Ia menemukan Lukas menatap padanya. "Untuk apa sampai menangis karna hal itu?" Menyikap air mata di pipi Salwa. "Aku dan kamu tak jauh berbeda." Sambungnya.


"Apa kau juga berasal dari panti asuhan?" Tanya Salwa.


"Wah, ternyata kau jauh lebih berkelas dariku." Jawab Lukas menarik tangannya dari wajah Salwa.


"Benarkah?" Tanya Salwa.


"Ya." Sahut Lukas. "Kau bahkan memiliki keluarga yang membesarkan dan menyekolahkanmu menjadi seorang intel." Melipat kedua tangannya ke belakang menatap langit-langit kamar.


"Apa orang tua yang mengadopsimu tak melakukan yang sama?"


"Aku bukan anak panti asuhan yang suatu hari mendapatkan kesempatan memiliki orang tua disisinya." Jawab Lukas.


"Lalu apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Salwa bangkit tengkurap diranjang mendekat pada Lukas.


"Aku tak tahu." Jawab Lukas.


"Saat membuka mata, Aku menemukan diriku diatas kapal di kelilingi oleh orang-orang bertato." Memiringkan tubuhnya ke arah Salwa dengan salah satu tangan menopang kepala. "Aku tak mengingat apapun." Melihat Salwa yang sangat serius mendengarkan ceritanya. "Demi keselamatan Aku mencoba menipu mereka dengan mengakrabkan diri." Lanjutnya. "Tak disangka pemimpin kelompok itu menyukaiku dan mengajakku bergabung dengan mereka yang ternyata adalah Gangster."


"Wah! Itu keren." Puji Salwa.


"Keren apanya?" Protes Lukas. "Aku hidup menjadi pengedar obat-obat ilegal mulai hari itu." Sambungnya.


"Ah, Jadi itu latarbelakang kamu menjadi seorang bo---"


---Tok tok tok! Suara ketukan pintu memotong perkataan Salwa.


"Seseorang datang." Sambung Salwa sambil melihat ke Lukas. "Kau tak melakukan hal aneh yang membuat orang curigakan?" Tanya Salwa.


"Aku hanya bermain golf dan kemudian David Kardinata ikut bergabung denganku."


"Apa?!!" Tanya Salwa dengan mata terbelalak. "Kau bermain golf!" Beranjak dara tempat tidur. "Aduh!" Memegang keningnya sambil berjalan mondar-mandir. "Ini gawat Lukas."


"Kenapa gawat?"

__ADS_1


"Luhan tak tahu bermain golf." Jawab Salwa berhenti mondar-mandir menatap Lukas.


"Pantesan David bertanya sejak kapan aku belajar bermain." Sahut Lukas santai sementara Salwa semakin panik.


"Lalu kamu jawab apa?"


"Aku tak pernah belajar." Jawabnya santai dan selang beberapa detik kemudian ia menoleh pada Salwa hingga kedua mata mereka saling bertemu.


"Mampus!" Ucap keduanya kompak bersamaan dengan suara ketukan pintu yang berhenti.


Sementara di balik pintu kamar Madam Vero berbalik badan pergi menemui David dan Rose yang tengah duduk di ruang tengah. Keduanya membuka album besar yang berada di pangkuan.


"Bagaimana Madam?" Tanya David pada Madam yang datang ke arah mereka.


"Tuan dan Nona masih istirahat di kamar,Tuan." Jawab Madam Vero. "Saya tidak bisa meminta Nona untuk keluar." Sambungnya.


"Kalau begitu tolong kamu ceritakan kronologi mengapa Salma sampai di seret keluar dari rumah oleh para penjaga." Ucap Rose bersamaan menutup album foto di pangkuannya diteruskan menyimak informasi dari Madam Vero yang menceritakan keseluruhan yang terjadi pada Salma.


"Awalnya saya bingung Nya melihat Non Salwa meminta penjaga berdiri dibalik teras." Lanjut Madam.


"Pah lihat menantu kamu itu!" Protes Rose pada David yang menyetujui permintaan Luhan menikahi Salwa. "Mama kan udah bilang dari awal kalau memang Salma gak mau. Kita bisa cari putri dari rekan papah yang lain. Bila perlu kita minta papa mencarikan wanita di Paris untuk putra kita." Gerutu Rose melempar album ditangannya ke atas meja.


"Mah ngomongnya jangan keras-keras kalau anak-anak dengar gimana?"


"Mama gak peduli pah!" Jawab Rose membuat langkah Salwa terhenti mendengar perkataan Rose.


"Harusnya kita tetap di kamar aja." Ucap Lukas meraih tangan Salwa dan pergi membawanya kembali ke kamar.


Brakk!


"Sejak awal Tante Rose---"


"---Ssst!" Desis Lukas memotong ucapan Salwa. "Kamu tak perlu memberitahu hal yang menurutmu memalukan dan menyakitkan untuk di bagikan." Pinta Lukas.


"Aku hanya---"


"---Selama disini kamu yang harus bertanggung jawab padaku!" Potong Lukas. "Aku tidak mau melihat kamu yang seperti sebelumnya meninggalkanku begitu saja." Sambung Lukas. "Aku tidak peduli dengan latar belakangmu." Tegas Lukas.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2