Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
47. Putri Sesungguhnya


__ADS_3

🍁🍁🍁


"Apa yang sedang kamu lakukan disini?" Tanya Bams yang selang beberapa menit kemudian menghampiri Ronal.


"Apa kamu tak bisa lihat?" Balas Ronal berbalik badan melihat pada Bams yang terlihat seperti waspada saat mendapati dirinya berada di gedung yang begitu familiar dengan peristiwa 12 tahun lalu.


"Orang kalau ditanya itu jawab bukan malah nanya balik," menaikkan alisnya. "Terus ngabaikan pertanyaan." Lanjutnya membuat Ronal menyeringai.


"Gak usah tegang gitulah." Cibir Ronal. "Aku kesini buat jemput kalian semua!" Sambungnya menunjuk satu persatu anak buah Bams yang berdiri dibelakangnya. "Ayo! Bos udah memiliki tugas baru buat kalian." Melangkah menjauh dari gedung menuju mobil yang terparkir.


"Tugas Apa?" Tanya Bams.


"Kamu bisa tanyakan langsung pada Bos." Jawab Ronal yang mendapat pesan dari istrinya yang akan segera berangkat menyusul putri mereka di Prancis. Setelah mendapat ancaman dari Raden beberapa jam sebelumnya, ia segera meminta istrinya untuk meninggalkan Indonesia sampai dirinya bisa meringkus Raden ditangannya.


"Apa itu pesan dari Bos?" Tanya Bams sesaat tiba di dalam mobil.


"Bukan." Jawab Ronal memutar kunci mobil dengan kepala dipenuhi oleh Lukas yang sedang menemani Salwa di salah satu ruang tunggu rumah sakit. Keduanya menunggu dokter yang sedang menangani luka ditubuh Wulan.


Klekk! Pintu terbuka membuat Salwa berdiri menghampiri dokter yang baru saja keluar.


"Bagaimana keadaan Bunda saya dok?" Tanya Salwa.


"Lukanya sudah ditangani dengan baik," jawab dokter. "Hanya ada beberapa luka yang perlu mendapat perhatian agar tidak meninggalkan bekas." Sambungnya. "Sebaiknya untuk saat ini pasien di rawat dirumah sakit agar lebih mendapat perawatan yang lebih intensif." Jelasnya.


"Baik dok." Sahut Salwa. "Kamu bisa masuk unt---"


"---Bisa-bisa." Potong dokter. "Silahkan saya permisi dulu." Pamit Dokter meninggalkan Salwa yang masuk ke dalam ruangan disusul oleh Lukas dari belakang. Salwa mendapat Wulan tertidur dengan tubuh miring untuk memberi ruang untuk luka yang baru saja diobati.


"Sebaiknya kita pindahkan Bunda kamu ke tempat yang lebih aman." Ucap Lukas. "Aku yakin Raden akan mencari keberadaannya di seluruh rumah sakit di kota ini." Sambungnya.


"Tapi dokter bilang bunda harus mendapatkan perawatan intensif di ru---"

__ADS_1


"---Kita hanya perlu seorang perawat untuk membantunya dalam satu ruangan." Potong Lukas.


"Dimana aku harus mencari orang yang bisa kita percaya untuk merawat bun---"


"---Indri!" Potong Lukas. "Kita bisa meminta pada Zack agar sementara waktu Indri merawat Bunda kamu." Jelasnya.


"Kalau gitu aku akan hubungi Indri sekarang." Sahut Salwa meraih ponselnya membuat panggilan pada Indri yang baru saja keluar dari ruangan Luhan. Ia berjalan sambil mendorong troli makanan sesaat pengawal yang ditugaskan Ronal dibuat tertidur oleh Zack.


Kringgg kringgg! Suara ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk dari Salwa terpampang di layar ponselnya.


"Halo Bu." Sambut Indri yang terus mendorong trolinya perlahan. "Ah begitu." Lanjut Indri mendengar permintaan Salwa. "Apa dokter Zack sudah tahu mengenai ini Bu?" Tanya Indri yang mengerutkan keningnya. "Saya akan coba bicarkan nanti dengan Dokter Zack." Sambungnya. "Oke Bu, Selamat malam." Tutup Indri yang kemudian menyusul keberadaan Zack di ruangan Luhan sambil melihat sekitar lalu mengunci pintu dengan cepat dari dalam.


Ceklek! Suara pintu terkunci bersamaan dengan Lukas yang membukakan pintu mobil untuk Wulan dan Salwa. Ketiganya meninggalkan rumah sakit dibantu oleh Bobi yang datang menjemput mereka.


"Bagaimana dengan tingga di Apartemen untuk sementara waktu Bos?" Tawar Bobi selang beberapa menit sambil menyetir di samping Lukas.


"Aku setuju." Sahut Salwa dari dibelakang bersama Wulan yang menyenderkan kepala di bahunya. "Kita bisa pakai Apartemen Lu---" Ucapnya terjeda melihat kode mata dari Lukas yang terlihat di spion tengah. "---Apartemen kamu yang ada di dekat perusahaan." Sambung Salwa yang hampir saja membuka penyamaran Lukas.


"Bos mana mungkin aku---"


"---Sebaliknya kamu pindah ke apartemen saya." Potong Lukas. "Itu jauh lebih aman buat Bunda dari incaran Raden untuk sementara waktu." Menoleh kebelakang. "Aku rasa Tante Wulan juga setuju dengan ini." Sambungnya yang dibalas anggukan kepala oleh Wulan. "Selama disana Tante Wulan akan tinggal dengan Indri." Jelasnya berbalik menoleh kembali ke depan.


Dan Aku akan memulai penyelidikan dari Wulan untuk menemukan siapa sebenarnya Valen Grey dan Dafa Grey ini. Batin Lukas sambil melihat Wulan yang terus memandang Salwa dengan mata sendu dari pantulan spion tengah.


Satu jam berlalu mobil yang membawa ketiganya tiba di depan rumah minimalis. Rumah dengan fasad dan tipe yang sama dengan rumah di sekitarnya.


"Aku rasa kita tak perlu mencari tempat lain." Ucap Lukas melihat komplek perumahan. "Kita hanya perlu membayarnya pada Bobi agar rumah ini jadi milik kita." Sambungnya.


"Terus nasib aku gimana bos?" Tanya Bobi.


"Kamu hanya perlu mencari rumah baru dengan uang yang kami kasih." Sahut Salwa menuntun Wulan masuk kedalam rumah disusul oleh Lukas dan Bobi yang pergi memarikrkan mobilnya.

__ADS_1


"Tante Wulan gak keberatan kan tinggal di tempat ini?" Tanya Lukas setiba mereka di ruang tamu mini rumah itu.


"Tante suka." Jawab Wulan mengusap tangan Salwa yang sejak tadi mengenggam tangannya. "Tapi kalian berdua---" ucapnya terjeda melihat Lukas dan Salwa bergantian. "---Apa sudah memberitahu David dan Rose kalau kalian sedang disini?" Sambungnya. "Ini sudah malam Tante takut mereka mengkhawatirkan kalian karna belum tiba di rumah."


"Tenang aja Nyonya Prakas," Sela Bobi yang baru masuk. "Saya sudah melapor pada Nyonya besar dan Tuan Besar kalau Bos Luhan dan Ibu Salwa ada meeting diluar kantor sampai malam." Jelas Bobi yang lanjut membereskan kamar untuk Wula gunakan dibantu oleh Lukas. Sedangkan Salwa mengangkut belanjaan dan bersiap menyiapkan makan malam untuk mereka.


Taktaktak! Suara Salwa memotong bahan mentah di atas talenan sambil memanaskan air di atas tungku kompor yang menyala. Di waktu bersamaan Bobi pergi ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan Wulan dan Indri selama tingga di rumahnya atas perintah Lukas yang kini membantu Wulan masuk ke kamar.


"Tante!" Panggil Lukas pelan saat mendudukkan Wulan di tepi ranjang sambil sesekali melirik keluar.


"Ya?" Sahut Wulan.


"Aku dengar dari Salwa," Menutup sedikit pintu menghalangi pembicaraan mereka terdengar oleh Salwa. "Tante pernah menyebut nama Dafa saat berbicara di telpon dengan seseorang." Melihat Wulan yang terlihat kaget saat nama Dafa di sebut. "Apa itu benar?" Tanya Lukas mengamati reaksi Wulan.


"Salwa seperti salah dengar," sahut Wulan mengalihkan pandangannya dari Lukas. "Tante gak pernah menyebut Dafa---"


"---Dafa Grey!" Potong Lukas membuat Wulan mengangkat wajahnya melihat Lukas dengan mate lebar. "Aku tahu Raden yang sekarang ini bersama kalian bukanlah Raden Prakas Putra tunggal dari James Prakas." Jelas Lukas melirik kecil ke arah pintu mengantisipasi Salwa yang sedang berada di luar kamar.


"Ba-bagaimana kamu mengetahui itu?" Tanya Wulan gugup.


"Aku hanya kebetulan tahu setelah menyadari Raden---" Ucapnya terjeda sambil menggelengkan kepala. "---Bukan," sambungnya melihat Wulan. "Dafa Grey berencana mencuri aset emperal grup untuk menguasainya." Jelasnya.


"Luhan," ucap Wulan dengan menangkup kedua tangan Lukas. "Dia pria berbahaya kamu harus melindungi Salwa darinya." Memohon pada Lukas dengan tangan yang kini gemetar.


"Hanya Salwa?" Tanya Lukas yang dibalas anggukan kecil dan mata berlinang dari Wulan. "Bagiamana dengan Salma?" Mengerutkan keningnya. "Bukankah putri kandungmu adalah Salma?"


"Ya." Jawab Wulan. "Salma adalah putriku bersama Dafa Grey." Ucapnya.


"Ya, Aku tahu itu." Balas Lukas. "Masalahnya kenapa anda hanya menginginkan keselamatan Salwa yang jelas-jelas bukan put---"


"---Dia putriku dengan Raden Prakas." Potong Wulan membuat mata Lukas melebar.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2