Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
B, S, P, 97


__ADS_3

Juan keluar dari dalam kamar nya dengan wajah berseri-seri. Membayangkan apa yang telah terjadi di dalam kamar mandi barusan. Membuat dia terus terbayang-bayang dengan malam pertama dia bersama Nadin nanti malam.


Aah, dia sudah tak sabar menunggu nanti malam, pikir Juan tanpa melihat di sekitar dia berada.


Wajar bukan sih, mengingat Juan seorang laki-laki yang tidak bisa menahan nafsu dahulu bersama Vio. Dan semenjak menikah dengan Vio melakukan berhubungan suami istri hanya hitungan jari.


Hingga sampai empat bulan lebih lama nya, dia tidak pernah menyentuh atau mencari kenikmatan dunia surgawi di luaran sana. Kini dia yang baru melihat punggung putih mulus milik istri nya saja, sudah membuat di bawah sana sesak ingin di keluarkan dalam sarang nya.


Ekhem ekhem.


Langkah kaki Juan terpaksa terhenti, melirik ke arah sumber suara tersebut. ''Ada apa .?'' Tanya Juan, seraya menarik kursi untuk dia duduki.


''Kenapa sendirian, ? Di mana istri kamu. ?'' Tanya Mama Bunga sambil menyendok sayur asem untuk sang suami.


''Sebentar lagi dia akan menyusul, memang nya kenapa. ?'' Jawab santai Juan, menggigit apel yang barusan di ambil.


Semua orang yang menginap di rumah Papa Burhan kini sudah berkumpul di meja makan. Tidak kecuali dengan ibu nya Nadin yang ikut serta makan malam saat Ini, apa lagi kini sudah menjadi bagian keluarga dari Papa Burhan.?


''Di mana El.?'' Tanya Juan yang di tunjukan oleh adik nya, Arsen.


Arsen menoleh ke arah sang kakak. ''Dia lagi tidur, sejak selesai mandi sore tadi.'' Jawab Arsen, lalu menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulut nya.


''Sama siapa. ?'' Pertanyaan yang mungkin tidak berfaedah.


Membuat Arsen menghela nafas panjangnya sesaat, sebelum menjawab pertanyaan dari kakak nya yang termasuk aneh.


Yang sudah jelas-jelas di lingkaran meja makan tidak ada sang istri, Eva. Kenapa dia harus bertanya lagi dengan siapa baby El nya. ?


''Sama Mama nya, memang nya kenapa. ?''

__ADS_1


''Iya, gak kenapa-napa sih. Apa istri kamu sudah makan. ?''


Arsen menatap kakak nya dengan tatapan tak suka. Dia gak suka kalau kakak nya memberi perhatian kecil ke pada istri nya itu.


''Jangan salah sangka dulu, dia kan lagi menyusui, gak baik harus menunda waktu makan si Mama nya. Karena kebutuhan baby El masih bergantung dengan ASI ibu nya saja.'' Jelas Juan, bukan dia bermaksud ingin ikut campur rumah tangga sang adik nya itu.


''Tadi dia sudah makan, karena aku sendiri yang mengantar makan malam nya ke dalam kamar.''


Mendengar jawaban dari sang adik, Juan hanya o ria sebagai tanggapan nya.


''Maaf semua nya, aku telat.'' Ucap Nadin yang merasa tak enak hati.


''Tidak apa-apa sayang. '' Jawab Juan, seraya menarik kursi untuk sang istri.


''Duduk lah. !''


''Terima kasih.''


''Untuk. ''


''Perhatian nya.''


''Aku sudah selesai, kalau begitu aku pamit ke kamar duluan.'' Ucap Arsen menatap mereka semua secara bergantian.


''Nak Arsen, cucu Mama Tidak apa-apa kan.?'' Tanya Mama Rosa, dengan nada sedikit khawatir.


''Tidak Ma, mungkin baby El hanya tidak nyaman mendengar keramaian seharian ini, maka nya dia tidur lebih awal dari biasa nya.''


Mama Rosa mengangguk, menyetujui alasan yang di berikan oleh menantu nya itu. Mengingat baby El yang baru berusia beberapa minggu, itu hal wajar jika dia masih suka tidur. Apa lagi seharian ini, ada acara nya yang membuat dia tidak bisa tidur dengan nyaman.?

__ADS_1


''Ya udah Ma, dan semua nya, aku masuk ke dalam kamar dulu.'' Berlalu pergi menjauh, setelah mendapat anggukan dari mereka semua.


Di dalam kamar.


Sesampai di dalam kamar, Arsen segera ikut naik ke atas ranjang. Yang di mana kedua orang yang dia sayang masih setia di tempat saat dia pergi untuk makan malam.


''Udah selesai Mas, makan malam nya. ?'' Arsen menggeleng dengan cepat.


''Terus, kenapa kamu_______?''


''Tidak nikmat tiada kamu di sisi ku, sayang.'' Memeluk erat pinggang istri nya dari arah belakang.


Dari atas Arsen menatap Baby El yang masih menyusu dengan kuat.''Apa tidak sakit, ? Baby El menyusu sekuat itu.''


''Ya enggak lah Mas, nama nya juga bayi laki-laki. Yang dimana lebih kuat menyusu dari pada bayi perempuan.''


''Begitukah.?''


Hmm.


''Aku tidak percaya, jika aku yang begitu kamu selalu bilang. Pelan-pelan Mas, jangan keras-keras nanti sakit.'' Ucap Arsen menirukan gaya bicara sang istri, saat tak berdaya di bawah kungkungan nya.


''Ck, kamu apa-apaan sih Mas.?'' Protes Eva, mengingat hal itu kedua pipi nya merah merona.


''Ingat, belum empat puluh hari.'' Eva kembali mengingatkan, saat mengetahui Ada sebuah kode dari suami nya itu.


''Kepingin, lama banget sih empat puluh hari nya.'' Rajuk Arsen, mengusap lembut perut istri nya.


Eva menggeleng pelan. ''Sabar Mas, tidak akan lama lagi kok.''

__ADS_1


''Dari awal aku sudah bersabar, sayang, sampai saat ini.''


__ADS_2