Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
Bonus 152


__ADS_3

Kehidupan selalu memberikan kejutan setiap harinya. Baik itu hal yang menyenangkan atau sesuatu yang justru nggak kamu harapkan. Naik dan turunnya alur kehidupan mungkin sering membuatmu menjadi lelah. Belum lagi dengan banyaknya perubahan yang kamu terima secara mendadak.


Keadaan yang berubah begitu saja, mungkin membuatmu tidak siap untuk melanjutkan segala rencana yang sudah disiapkan. Tapi mau nggak mau, kamu tetap harus melanjutkan semuanya dengan baik. Meskipun perlahan, semuanya akan membaik seiring berjalannya waktu.


Vio menggigit bibir bawah nya, saat membaca pesan dari Lisa.


...Lisa: ( Maaf Vi, suami mu memaksa aku untuk memberi alamat rumah mu di kota J. )...


Melirik jam kecil di samping tempat tidur nya, yang menunjukan pukul empat sore. Dan ternyata Vio tertidur selama lebih dari dua jam. Kemudian Vio mengecek jam masuk chat tersebut. ''Hah, Dikirim empat jam yang lalu, berarti dalam perjalanan.'' Vio loncat dari kasur nya dengan perasaan cemas. Berjalan seperti gosokan, sambil meraup wajah nya beberapa kali.


''Apa yang harus kamu lakukan Vi, jika Galen sampai di rumah ini.? Ya Tuhan, kenapa semakin rumit. ? Aku belum siap, melihat keluarga ini kecewa lagi kepada ku.'' Keluhan nya dengan bibir sampai bergetar.


''Bukan nya aku memiliki jejak nomer nya Mas Galen. ?'' Pikir nya seraya mengotak-atik benda tipis di tangan nya.


''Ketemu.'' Seru nya begitu lega, mencari jejak di kotak masuk hingga sampai panggilan masuk dan juga tak terjawab. Dan ternyata, Vio masih mengingat pesan yang di kirim melalui nomer suami nya tersebut.


Menekan tombol hijau aja, jemari Vio sampai ber gemetar. Bagaimana jika sampai terhubung dan terdengar suara dari seberang.

__ADS_1


''Huuuh, kamu bisa, klik.'' Menekan tombol hijau.


''Ponsel nya berdering.'' Gumam nya, menggigit kecil bibir bawah nya.


''Eh.'' Pekik nya kala durasi mulai berjalan.


...****************...


WAKTU SIANG.


Lisa sedikit terpekik kala lengan nya di hempaskan begitu kasar. Menatap tajam si pelaku nya, yang tak merasa dosa sedikit pun. ''Seenggak nya kamu punya hati.'' Sungut nya.


Lisa menganga tidak percaya, mendengar kalimat berbanding balik dengan fakta nya. Pantas, sejak tadi mengoceh tidak di gubris sama sekali ternyata. ''Kamu tuli. ?'' Cibir nya. Membuat Fares melotot tajam, seakan memberi peringatan kalau punya mulut harus di jaga.


''Apa,?'' Tantang Lisa tak gentar. ''Memang benarkan, sejak tadi kamu sama sekali tidak mendengar suara indah ku.'' Sinis nya dengan tatapan tak suka.


''Bahkan kamu sudah bikin lengan tangan ku merah dan sakit juga.'' Lanjut nya

__ADS_1


Galen yang bersandar di badan mobil, kedua tangan nya berada di saku nya. Menatap Lisa dingin dengan tatapan begitu dingin. Sedangan yang di tatap tidak merasa sedikit pun.


''Membawamu ikut pergi bersama, atau memberikan alamat nya.'' Mendengar kalimat yang begitu dingin, Bulu kuduk Lisa merinding, seakan merasakan aura dingin yang mencengkram di sekitar nya.


Bingung harus menjawab seperti apa, membuat Lisa tak langsung segera menjawab nya. Hingga laki-laki yang berkemeja hitam mengulang kembali apa yang di ucapkan oleh tuan nya.


''Membawamu ikut pergi bersama, atau memberikan alamat nya.'' Menaikan ujung alis nya ke atas, dengan tersenyum miring.


''Jika kamu, mengaku bisa membuka mulut mu. Seharusnya nya pertanyaan seperti tadi sudah kamu jawab dengan begitu cepat.'' Sindir nya telak.


''Ck, cepat masuk, jawab ikut bersama aja kamu bikin sulit.'' Cemooh nya sambil mendekat ke arah mobil tuan nya.


Lisa menggeleng cepat. ''Ak-aku, a-aku_______''


''Halus atau pakai kekerasan.'' Sindir nya membuat Lisa menegang.


''Maaf Vi, aku terpaksa kasih alamat rumah kamu ke mereka berdua.'' Batin nya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2