
🍁🍁🍁
Tes tes tes! Suara rintik hujan di pagi hari membasuh embun yang begitu tegar, setegar Lukas menahan hasratnya melihat Salwa di sampingnya. Dengan cepat Lukas menjulurkan kedua kakinya turun dari ranjang.
Satu jam kemudian,
"Pagi." Sapa Lukas duduk di samping Rose yang sedang meneguk susu di gelasnya. "Madam bisa buatin mie kuah tanpa kerang." Pintanya melihat ke Madam yang membalasnya dengan anggukan pelan dan raut bingung di wajah Madam,Rose dan David. "Sayang." Menoleh pada Salwa. "Kamu mau mie kuah juga gak?" Tawar Lukas. "Kamu tahu hujan-hujan begini enaknya makan mie kuah---" Ucapnya terjeda melihat Madam yang masih berdiri disana. "---Madam?" Sambungnya.
"Ya,Tuan." Sahut Madam.
"Mienya bukan untuk besok loh." Tegurnya pada Madam membuat Rose melipat bibirnya menahan tawa.
"Ma-maaf Tuan." Ucap Madam yang kemudian berbalik badan mengambil pesanan Lukas.
"Berhenti mengacau." Desis Salwa. "Jika tidak mereka akan menyadari kalau kamu itu bukan Lu---"
"---Apa yang sedang kalian berdua bisikan?" Potong David membuat Salwa menyendokkan nasi goreng ke atas piringnya.
"Itu Pah, Salwa bilang kalau nasi goreng juga sangat nikmat untuk di santap saat hujan." Jawab Salwa yang kemudian menyuap makanan kemulutnya sambil memberikan senyum pada Lukas dan semuanya.
"Bagaimana menurut Mama?" Tanya Lukas berbalik kembali menoleh pada Rose.
"Mama setuju dengan kamu." Jawabnya menatap dua bola mata di depannya yang sama persis dengan yang ia miliki.
"Aku tahu Mama akan setuju denganku." Melihat ke hidangan yang lain. "Kita memiliki selera yang sama, bukan?" Sambungnya tanpa sadar apa yang barusan ia katakan. "Mama juga tidak suka ke---" Ucapnya terjeda sesaat mengkilas balik perkataan sebelumnya dan yang terkahir ia katakan.
"---Tidak suka apa sayang?" Sambung Rose menangkup pundak Lukas.
Apa yang barusan aku lihat? Aktingnya benar-benar natural. Aku hampir mengira mereka adalah ibu dan anak kandung. Batin Salwa yang berhenti sesaat lalu kembali menyantap sarapannya. Di waktu bersamaan Rose dan David saling melihat satu sama lain.
__ADS_1
"Madam!" Panggil Lukas berusaha mengalihkan apa yang barusan spontan keluar dari mulutnya.
"Iya Tuan." Sahut Madam yang datang bersama pelayan lain dari arah dapur. Pelayan itu membawa pesanan Lukas dalam mangkok besar diatas nampan.
Tak! Meletakkan mie kuah di hadapan Lukas. Tanpa ada aba-aba Lukas langsung menyantapnya tanpa peduli dengan apa yang barusan saja terjadi. Ia sengaja melakukannya agar Rose dan David teralihkan oleh kejadian yang membuat dirinya juga kaget. Perkataan itu spontan keluar seolah dirinya sudah terbiasa mengatakannya pada Rose.
Uhukk! Suara Lukas selang beberapa menit kemudian ditengah-tengah menyantap mienya.
"Pelan-pelan sayang makannya." Tegur Rose mengambil air mineral dan memberikannya pada Lukas. Ia kemudian mengusap lembut punggung Lukas yang sedang meneguk air mineral dari dalam gelas. "Madam mulai besok tidak usah membuat menu makanan yang ada kerangnya." Pinta Rose yang kemudian menggeser udang chrispy ke depan Lukas. "Coba ini sayang." Menggapit satu udang dengan sumpit di depannya. "Aaaaaa." Meminta Lukas membuka mulutnya menerima suapan Rose.
"Ehmmm!" Sahut Lukas menikmati udang yang telah mendarat dalam mulutnya.
"Sayang, makan nasinya sedikit ya?" Menyendokkan nasi atas piring lalu menyuapkannya pada Lukas. "Kamu mau mama suapin yang itu gak?" Menunjuk lauk yang lain.
"Luhan aja mah." Tolak Lukas dengan mengambil sendok di tangan Rose yang akan memberikannya suapan. "Luhan udah gede, udah bisa makan sendiri." Sambungnya yang kemudian menyuapkan sendiri ke dalam mulutnya lalu menoleh ke Salwa yang terpaku menatapnya. Dengan kedua pipi yang menggembul oleh suapan Rose dan dirinya, Lukas menangkup dagu Salwa. "Apa suamimu sangat tampan hari ini?" Tegurnya membuat Salwa terjaga. "Sampai-sampai membuat istriku membatu." Sambungnya membuat David dan Rose tertawa mendengarnya.
Kerang! Kenapa Tuan muda tidak suka dengan kerang lagi? Malam itu juga ia terlihat tidak baik-baik saja saat non Salma membawakan makanan kesukaannya itu. Batin Madam yang kini telah berada di dapur membereskan sisa sarapan dari depan bersama pelayan lainnya.
"Madam,apa yang akan kita lakukan dengan kerang yang sudah di beli sebelumnya?" Tanya koki pada Madam Vero yang mengeluarkan satu persatu box berisi beragam jenis kerang dari dalam freezer.
"Di masak aja chef." Sahut Rose yang membuat Madam dan Koki menoleh. "Buat semua pekerja di rumah ini." Tambahnya berbalik badan. "Oh iya!" Sambung lagi berbalik ke belakang. "Yang abalon jangan!" Tolaknya. "Itu buat suami saya,Okey?" Pinta Rose yang dibalas anggukan oleh keduanya. "Bagus." Ucap Rose berbalik melangkah ke arah Lukas yang sedang berdiri memandang hujan yang turun membasahi lapangan golf di luar.
"Valen,Valen,Valen." Ucapnya berulang-ulang memikirkan foto Valen Grey yang sekarang ada di tangan Raden.
"Kami hanya menemukan foto ini di dalam brankas, Bos." Ucap pengawal yang sebelumnya menyusup ke ruangan Luhan.
Darimana bocah sialan ini mendapatkannya? Seberapa banyak dia sudah mengetahui tentang semuanya. Batin Raden membelakangi pengawalnya meremuk foto di tangannya lalu melakukan panggilan pada seorang yang baru saja membuka matanya.
Kringgg Kringg! Suara ponsel berdering dari atas meja membuat sebuah tangan menjulurkan keluar dari bawah selimut.
__ADS_1
"Halo." Sambut Ronal dari bawah selimut pada Raden.
"Segera lakukan pemindahan pada Lukas ke gedung milik saya yang ada di---."
"---Tidak bisa!" Potong Ronal menolak perintah Raden yang di luar wewenangnya terhadap tersangka. "Bos sendiri tahu bahwa saat ini Lukas telah ditetapkan menjadi tersangka dan dengan kondisinya sekarang pihak kepolisian bertanggung jawab penuh akan kesadarannya untuk menangkap Bos kartel." Ucap Ronal.
"Baiklah!" Sahut Raden. "Kalau begitu persiapkan dirimu untuk tinggal seumur hidup di balik sel." Ancam Raden pada Ronal yang menghela nafasnya.
"Oke." Ucap Ronal. "Beri saya waktu untuk memikirkan caranya." Sambung Ronal menuruti permintaan Raden yang selang beberapa detik kemudian mematikan panggilan padanya.
"Aku harus segera menemukan kartu hitam Pria ini. Kalau tidak,Aku akan terus menyalahgunakan posisiku sebagai detektif." Geramnya menjulurkan kedua kakinya ke lantai. Ia mengambil kunci loker dari dalam laci meja rias istrinya.
Ceklek! Membuka loker berisi tumpukan dokumen tentang penyelidikan kasus kematian Alex. Kematian kepala gangster pengedar obat-obat terlarang 12 tahun lalu berhasil menyeret Bams dan seluruh anggota gangster lainnya berakhir di balik jeruji, kecuali Lukas.
"Apa yang membuatmu sampai terpaku begitu?" Tegur istri Ronal yang melihat suaminya menatap lama foto Alex,Bams dan satu orang anak laki-laki lain yang tak memiliki satu pun tato di tubuhnya.
"Anak ini." Jawab Ronal menunjuk wajah Lukas pada istrinya.
"Apa dua pria itu pengawalnya?" Tanya Wanita itu membuat Ronal mengernyit.
"Kenapa kamu beranggapan seperti itu?" Tanya Ronal.
"Dari wajah dan pembawaannya dia terlihat seperti bukan orang dari kalangan biasa." Jawab Istrinya yang kemudian mengumpulkan pakaian kotor di sekitarnya.
Aku juga pernah mendengar kalimat seperti itu sebelumnya dari mulut Alex. Batin Ronal melihat istrinya.
🍁🍁🍁
Berikan komentar kamu mengenai karya diatas hingga memasuki episode ini, Author tunggu loh😆
__ADS_1