Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
B, S, P, 68


__ADS_3

Vio melangkah masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Bukan tak ingin


melainkan pintu tidak di kunci dari dalam.


Tanpa mengeluarkan suara langkah kaki, Vio sudah tiba di ruang keluarga. Berdiri tegak tanpa ingin menyapa mereka yang lagi asyik bercanda gurau di depan televisi tersebut.


Tiba-tiba lengan Vio di tarik keluar, dengan sedikit kasar.


''Arsen.''


''Rencana apa lagi. ? Membuat kamu datang kemari, hah.'' Ucap Arsen pelan, seraya memperhatikan pintu rumah tersebut.


''Seburuk itukah aku di mata mu Ars, aku datang kesini hanya ingin meminta maaf, tak lebih.'' Ucap Vio sendu.


''Iya aku memang sudah seburuk itu, sehingga kamu tidak melihat sisi baik ku dulu.''


Vio tersenyum getir, ''Aku datang kesini hanya ingin meminta maaf dengan tulus kepada mereka bertiga. " Berlalu masuk ke dalam rumah.


"Tunggu " Menarik pergelangan tangan Vio.


"Apa ucapan mu bisa ku percaya.? Setelah kamu sudah mencoba membunuh Istri ku beberapa bulan yang lalu." Geram Arsen.


"Lepas Ars."

__ADS_1


''Gak, aku gak akan melepaskan kamu. Jika kamu ingin mencelakai istri ku lagi.'' Kesal Arsen.


''Lebih baik kamu cepat pergi dari sini. !'' Tanpa sadar Arsen meninggikan suara nya.


"Kalian berdua sedang membahas apa.?"


Sontak membuat Arsen dan Vio terkejut. Menoleh bersamaan ke sumber suara tersebut.


Dress tunik tanpa lengan, pakaian yang di kenakan oleh Eva membuat Arsen sedikit cemas.


''Hai sayang.''


Cup


''Ma, Pa,'' Sapa Arsen mencium punggung tangan kedua orang tua nya bergantian.


''Baru pulang,? Kok malam banget.'' Tegur Mama Rosa.


''Udah jam tujuh tadi Ma, nih antri seblak pesanan istri ku yang lagi ngidam.'' Menaikan bungkusan plastik yang berisi seblak.


''Oooh.''


''Seperti nya Vio ingin berbicara dengan Mama sama Papa. Kalau begitu aku masuk duluan sama istri ku.'' Pamit Arsen berlalu masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Mama Rosa dan Papa Shidiq menatap Ponakannya dengan perasaan yang tak bisa di jabarkan, terutama dengan perasaan Papa Shidiq. Masih ada rasa kasih sayang sekaligus rasa kecewa di dalam hati hingga saat ini. Meskipun dengan ponakan satu-satu nya itu.


''Masuk lah dulu, kita bisa berbicara kan hal ini dengan baik-baik di dalam.!''Ajak Papa Shidiq, menurunkan rasa kecewa nya terhadap ke ponakan nya.


Toh, kehidupan Putri semata wayang nya semakin hari semakin membaik rumah tangga nya. Apa lagi saat ini sudah ada calon anak di antara mereka. ?


Papa Shidiq yang hendak berbalik badan menyusul Sang istri yang sudah lebih dulu masuk ke dalam. Gerakan langkah kaki nya terhenti ketika Vio bersimpuh di ke dua kaki nya.


''Vio meminta maaf Pa, Vio memang salah. Enggak seharusnya Vio merebut kebahagiaan putri Papa.'' Ucap Vio terisak menangis, menundukkan kepala nya ke bawah.


''Hukum Vio Pa, asalkan Vio di maafkan atas kesalahan Vio selama ini.'' Tangis Vio dengan tubuh bergetar.


''Jangan begini Nak, Papa sudah memaafkan kamu, sebelum kamu meminta maaf, meskipun sulit.'' Membantu ponakan nya untuk berdiri.


Mama Rosa yang melihat pemandangan di depan mata nya, Membuat hati seorang ibu kini bergetar.


''Bangun Vi, kita bicarakan hal ini di dalam rumah.'' Ajak Mama Rosa ikut membujuk ponakan nya untuk masuk kedalam.


''Gak enak di lihat sama tetangga.'' Lanjut Mama Rosa lagi, ketika Sang ponakan nya itu masih tak bergerak.


''Maaf, maafkan aku juga Ma.''


''Iya, ayo kita masuk dulu.''

__ADS_1


Di sini lah mereka bertiga, duduk di ruang tamu yang mendominasi warna putih tersebut. Setelah perdebatan yang cukup lama, pada akhir nya Vio masuk ke dalam rumah juga.


__ADS_2