
Tidak ingin berdebat di depan seorang anak kecil, Vio lebih mengalah terlebih dahulu dan berusaha mati-matian menahan amarah di dalam hati nya yang sudah siap berkobar, dengan menyebut istighfar berulang kali.
Dari kemarin, susana hati Vio benar-benar di uji kesabaran oleh seseorang. Bahkan, seseorang itu dia tidak mengenal nya sama sekali. Bertindak sesuka hati nya tanpa mendengar pendapat dari lawan main nya.
Astaghfirullah.
Astaghfirullah.
Huh.
Hampir menempuh sekitar empat puluh menit, akhir nya mobil yang di kendari oleh Galen mulai menepi di depan gerbang sekolah TK Nusantara yang cukup elit di kawasan tersebut.
''Sudah sampai, sekarang Shakila turun dan belajar dengan baik. Ingat pesan Papa, Kila tidak boleh bertengkar dengan teman sekelas Kila.'' Pesan Galen sebelum keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk sang putri nya tercinta.
__ADS_1
''Siap Papa, Kila selalu ingat pesan Papa.'' Sahut nya penuh ceria dan semangat sambil bergerak turun dari mobil.
''Salim dulu dong dengan tante.'' Membuat Vio yang mendengar nya mendengus dengan kesal.
Vio yang duduk di kursi depan, otomatis Kila mengitari mobil tersebut menuju Vio berada. Mungkin atas kesalahan Papa nya yang salah membukakan pintu untuk Kila, yang di mana Kila harus berputar mengelilingi mobil.
Meskipun sedikit kesal, Vio tetap menyambut Gadis kecil itu dengan senyuman terpaksa. Kemudian membiarkan gadis kecil itu berlari menjauh dari dari nya tanpa mendengar satu kata dari bibir nya.
Sebelum berlari kecil Dan segera berkumpul dengan teman-teman nya. Kila sempat membalikan kepala nya ke arah belakang lanjut satu tangan terangkat ke atas bergerak melambai-lambaikan tangan nya sebagai tanda salam perpisahan. Salam perpisahan bukan berarti Tidak akan bertemu kembali, melainkan berpisah hanya sesaat.
Meraih daun pintu, setelah menekan tombol membuka kunci, Vio bergegas turun tak memperdulikan sorot mata yang sedang memperhatikan nya sejak tadi.
''Gak salim dulu sama suami, apa lupa dengan pesan pak Ustadz. ?" Menaikan satu alis nya ke atas.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Vio hanya bisa mendesah pelan. Dengan terpaksa tangan sebelah kanan mengadah dengan tangan kiri memegang pintu yang belum sempat dia tutup dengan sempurna.
Galen yang sudah mengerti dia segera menggeser punggung nya ke arah samping. Kemudian menyodorkan punggung tangan kanannya. Dan sebelah tangan kiri nya, dia gunakan untuk mengusap lembut pucuk kepala sang istri.
"Nanti siang aku jemput." Ucap nya, "Jangan menatap ku seperti itu, aku hanya mengajak istri ku makan siang bersama. !" Seru nya, mendapati tatapan tajam dari manik mata hitam yang cukup menghanyutkan, pikir Galen.
"Ajak saja, istri bapak yang berada di rumah. Lagian, aku masih banyak pekerjaan yang belum kelar gara-gara kemarin." Ketus Vio.
"Syukurlah, sudah ada kemajuan." Membuat Vio menautkan kedua alis nya dalam arti belum paham maksud kata bersyukur.
"Iya, harus bersyukur karena kamu sudah menganggap diri mu sendiri seorang istri." Ungkap nya dengan di iringi seulas senyuman tulus di sudut bibir nya.
"Terserah." Males Vio, ingin segera menutup pintu mobil tersebut.
__ADS_1
Galen yang melihat kekesalan di raut wajah sang istri, ada kesenangan sendiri di dalam hati Galen.
"Jangan lupa, nanti siang aku jemput." Ulang Galen, sebelum sang istri membanting pintu mobil nya karena kesal.