
Di sebuah bangunan tua yang nampak usang dan terlihat seperti berhantu itu terdapat beberapa anggota Alegra yang baru saja menangkap seseorang yang sudah membuat kesedihan pada Chareen, terlihat sosok laki-laki dewasa yang sudah di penuhi dengan luka di tubuhnya.
"Tuan?" Sapa mereka dengan menundukkan kepalanya saat melihat kedatangan Alegra, bisa Alegra lihat sosok Arjun yang baru saja menancapkan pisau kecil di pundak laki-laki itu.
Isakan dan teriakan menyakitkan terdengar begitu jelas, bagi anggota Alegra hal tersebut sudah sering mereka dengar jadi bukan lagi masalah, justru mereka merasa senang saat melihat musuh dalam kondisi yang tak mengenakan ini.
Alegra duduk di salah satu kursi yang ada di sana, tatapan matanya sangat tajam dan dingin. Alegra baru saja mendapatkan informasi dari Arjun bahwa ada yang tidak beres dengan sosok nya yang tak biasa, terlihat aneh pada orang itu.
"Ale, laki-laki ini tak pernah mau bicara. Aku pikir dia bukan tipe orang yang berkhianat, dia memilih untuk mati tersiksa dari pada hidup." Jelas Arjun.
"Di mana pistol yang sudah ia gunakan untuk membunuh kakek Kim?" Tanya Alegra dengan mengangkat tangannya, dengan cepat Arjun memberikan pistol nya pada Alegra yang masih nampak santai itu.
"Dari kualitas nya saja ini sangat mengagumkan, sepertinya mereka memang bukan orang sembarangan. Telepon Bara, apakah dia bisa datang kemari? katakan saja, ada hal penting yang ingin aku tanyakan." Ucap Alegra dengan memasukkan pistol tersebut kedalam saku jas nya.
"Oke." Angguk Arjun yang langsung menghubungi Bara.
"Masalah kali ini jangan sampai melibatkan Chareen, dia sudah cukup lelah selama ini." Keluh Alegra dengan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut, awalnya Alegra tidak ingin meninggalkan Chareen yang masih terbaring sakit namun dia juga tidak bisa terus-terusan diam mengenai kematian kakek Kim.
Seperti sekarang ini lah, Alegra datang kesana saat Chareen sudah terlelap. Tidak hanya Chareen tapi orang-orang rumah juga sama, mereka sudah masuk kedalam mimpinya.
"Ada apa? apa ada hal penting?" Tanya Bara yang baru saja datang, bara ikut duduk di samping Alegra dan memilih untuk menyalakan rokoknya, sama seperti Alegra.
"Apa kakek memiliki musuh besar di luar sana?" Tanya Alegra dengan serius.
"Ayah? musuh pasti selalu ada, tapi... Sejauh ini, mereka tidak pernah terlibat apapun. Itu murni hanya rasa tak suka saja, mereka tak mungkin berpikiran untuk membunuh ayah dengan cara seperti ini." Jelas Bara dengan yakin.
"Apa kau yakin? apa kau sebenarnya tidak tahu?" Heran Alegra membuat Bara terdiam, sebelum akhirnya menghela nafas panjang dan menghembuskan asap rokok tersebut hingga mengepul di udara.
"Ya, aku tidak terlalu banyak tahu mengenai ayah. Chareen lah yang sangat mengetahui hal tersebut, karena ayah tidak pernah menceritakan hal penting seperti itu pada ku. Aku selalu tahu dari Chareen karena dia yang mengatakan nya..." Jelas Bara dengan tersenyum kecut.
__ADS_1
"Sudah ku duga, mungkin ada pihak musuh yang menginginkan kematian kakek. Aku ingin menanyakan hal ini pada Chareen tapi aku tidak ingin dia ikut terlibat, sudah cukup selama ini dia ikut." Keluh Alegra dengan meminum wine nya.
"Kau benar, sebisa mungkin Chareen jangan terlibat. Terlebih dia sedang mengandung anak pertama kalian, kau harus pandai-pandai menjaga nya." Angguk Bara dengan menepuk pundak Alegra.
"Ahh Ricko? bukankah dia selalu ikut dengan Chareen? kenapa kau tidak bertanya saja pada nya?" Tanya Bara depan kencang membuat Alegra tersentak.
"Aku tak terpikirkan hal itu, tapi Ricko sudah kembali ke markas."
"Bodoh! telfon saja sekarang!" Ketus Bara yang lagi-lagi membuat Alegra diam, kenapa dia jadi lemot begini?
Drtttttt Drtttttttttttt Drtttttttttttt
"Halo?"
"Halo Rick, ini aku."
"Ya, apa kau bisa mengatakan tentang kakek? Maksud ku, selama ini kan kau selalu ada di dekat Chareen jika sedang berlatih. Apa kau tahu, siapa saja musuh yang sangat berbahaya bagi kakek?" Tanya Alegra langsung.
"Ah itu, tuan besar memang memiliki musuh besar yang tidak pernah muncul selama ini. Mungkin sudah hampir 20 tahun mereka menghilang semenjak tuan besar membantai habis anggota nya, hanya mereka yang selalu menjadi pikiran untuk tuan besar." Jelas Ricko.
"Musuh besar? apa kau tahu siapa mereka?"
"Maaf tuan, saya tidak mengetahui nya. Bahkan nona Chareen sendiri pun tidak pernah tahu karena belum pernah melihatnya, kami hanya mendengar bahwa anggota tersebut sangatlah kejam. Mereka selalu menjual organ tubuh manusia dan selalu ada di tempat lelang besar, mereka pandai sekali menyamar."
"Lalu? apa kakek pernah menyebutkan ciri-ciri dari mereka?"
"Ya, tuan besar bilang, pemimpin anggota itu memiliki luka panjang di wajah nya yang hampir mengenai mata, itu karena sayatan pedang dari tuan besar dulu. Mata nya berwarna emas, yang selalu di tutup oleh kain, kalau tidak salah, pasukan itu bernama pasukan tanpa nama. Tugas mereka sebagai pembunuh bayaran."
"Oke, terimakasih atas informasinya."
__ADS_1
"Sama-sama tuan, dan saya cuma mau mengingatkan.... Tuan besar bilang, mereka bukan musuh yang sepadan bagi nona. Tapi, jika kita bersatu mungkin itu beda cerita...."
"Tentu, aku mengerti."
Klik
"Kau lihat? bahkan aku yang anaknya saja tidak tahu menahu!!" Kesal Bara yang tidak terima karena pengawal Chareen lebih tahu banyak tentang kakek Kim.
"Tenanglah, dari yang aku tangkap, organisasi tanpa nama ini selalu berada di dunia bawah. Mereka selalu menjual organ tubuh manusia dan bertugas sebagai pembunuh bayaran, anggota terkuat pembunuh bayaran itu ada di.......... Jepang!" Pikir Alegra yang di balas anggukan oleh yang lainnya.
"Kau benar, apakah mereka berasal dari Jepang?" Tanya Arjun memastikan.
"Sepertinya begitu, lihat saja ukiran yang ada pada pistol ini. Bukankah ini seperti sebuah nama?"
"Mereka memang pantas di sebut sebagai pembunuh bayaran, cara kerja mereka sangat memuaskan! bahkan mereka tidak terlihat sama sekali oleh para pengawal ayah yang jumlahnya sangat banyak."
"Mungkin inilah keahlian mereka, gesit dan tak takut mati."
Mereka melakukan pembicaraan itu sampai pagi menjelang, untuk anggota yang sudah berhasil mereka tangkap mulai di siksa oleh Arjun. Kenapa tidak Alegra? karena Chareen melarang Alegra untuk membunuh orang selagi dia mengandung kecuali dalam keadaan mendesak. Entahlah, Chareen hanya tidak suka.....
"Ale, besok siang kita bertemu lagi di suatu tempat. Ada yang ingin aku kenalkan pada mu, usahakan Chareen tidak mengetahui nya." Ucap Bara dengan bangkit dari duduknya dan memakai kembali jaket nya.
"Aku tidak janji.."
"Tapi ini sangat penting, kita akan masuk kedalam ruangan rahasia ayah ku. Jika Chareen mengetahui nya, maka dia akan membunuh kita saat itu juga!!"
"...." Alegra hanya diam, sepertinya Bara memang tidak di anggap anak oleh kakek Kim.
Jangan lupa baca karya aku yang udah tamat yaa, di jamin seru. Terimakasih...
__ADS_1