
Alegra merebahkan dirinya di atas ranjang, satu jam yang lalu dia baru saja kembali dari tempat tuan Shen. Di raih nya ponsel untuk menghubungi sang istri, terlihat jika mereka nampak bersenang-senang.
"Aku sudah dengar dari Ricko, kau mau mengambil alih posisi ku?" Tanya Chareen di sambungan telepon dengan santai, terlihat jika Chareen sedang bersantai di dalam kamar nya seorang diri.
"Hmm, bagaimana menurutmu? aku tidak ingin lagi melihat kau kelelahan." Senyum Alegra dengan terus memperhatikan Chareen.
"Tentu, bukankah semua bawahan ku juga sudah menurut pada mu? dan lagi..... Aku yakin jika kau mampu menjaga mereka, bagaimana pun mereka sudah seperti keluarga kedua untuk ku."
"Tentu saja, apa kau merasakan sesuatu yang aneh di sana? jika iya, segera hubungi aku."
"Sejauh ini tidak ada apapun tapi.... Aku sedikit cemas dengan orang tua kita, bukankah malam ini mereka akan kembali?"
"Ya, mereka akan pulang malam ini. Aku sudah menyiapkan pengawasan yang ketat untuk mereka, jangan terlalu khawatir."
"Baiklah, aku percaya pada mu. Lalu kapan kau kembali? apa masih lama?"
"Ya, aku ingin melihat siapa saja orang yang berada di belakang mereka. Aku ingin mematahkan semua sayap nya sebelum menjatuhkan dia ke dasar yang tak berujung." Senyum Alegra yang nampak menyeramkan, namun bagi Chareen itu adalah senyum yang sangat ia sukai.
"Bravo!!!! aku semakin menyukai mu sayang, kalau begitu aku tutup. Mungkin Raini sudah kembali...." Senyum Alegra dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Ya, tidurlah yang nyenyak.." Ucap Alegra dengan mematikan sambungan teleponnya.
Alegra menghela nafas berat, di pejamkan nya mata nya untuk segera istirahat namun.....
Drtttttt Drtttttttttttt Drtttttttttttt
"Tuan!! terjadi sesuatu pada tuan besar dan nyonya!!!"
Alegra menggenggam ponsel itu erat-erat, baru saja dia ingin istirahat sejenak namun sepertinya mereka tidak memberikan nya waktu untuk istirahat.
Dengan cepat Alegra segera bergegas, di hubungi nya nomor Arjun dan Ricko untuk segera pergi menyusul mereka lebih dulu namun.....
"Ale.... Mereka.... Mereka berdua tewas dalam ledakan mobil itu." Ucap Arjun yang baru tiba di lobi dengan nafas yang memburu.
••••
Chareen membuka pintu kamarnya, namun saat sudah terbuka Chareen sangat terkejut dengan sosok yang berdiri di depannya. Sosok asing yang kini sudah memberikannya obat bius sehingga membuat tubuhnya langsung lemah.
__ADS_1
Chareen di seret menuju tengah kapal, di sana mereka semua terbaring ketakutan saat orang-orang yang berpakaian hitam itu mengelilingi mereka. Chareen menatap Chaty yang menangis meraung-raung disamping Raini yang nampak bersimbah darah.
"I-ini...." Lirih Chareen dengan suara yang terbata-bata, Kenapa semuanya jadi seperti ini?
"Akhhhhhhhhhh....." Chareen mendongakkan kepalanya saat rambutnya yang terurai di tarik paksa oleh seseorang dari belakang, terlihat sosok laki-laki yang sangat amat ia kenali.
"K-kau!" Geram Chareen dengan sorot mata yang menyalang.
"Keponakan ku tersayang, salahkan suami mu yang terlalu kuat! dia sudah membuat ku rugi ratusan triliun....." Bisik tuan Shen dengan wajah dan tubuh yang nampak memerah dan mengelupas, seperti luka bakar.
Chareen memejamkan matanya untuk meredakan rasa sakit di kepalanya, terlebih tubuhnya dalam keadaan lemah sekarang akibat obat bius tadi. Chareen heran, dari mana pamannya itu tahu bahwa dia berada di sana?
"Heran? sepertinya aku harus berterimakasih pada Alegra karena dia......
DORRR!!!
Sudah mengajari ku caranya menembak dengan benar!" Ucap seseorang yang baru saja tiba dan langsung menembak salah satu pegawai Chareen.
"Victor? kau.....!!" Marah Chareen, ternyata mereka lengah?
"Kau tahu? kakek mu itu, dia sudah melenyapkan nenek ku demi kekuasaan sehingga dengan terpaksa ayah ku membalas dendam ini!! Hhh..... Sepertinya kau terlalu menganggap tinggi kakek mu yang sangat baik itu bukan?" Victor tersenyum pada Chareen.
"Kau tahu bagaimana rasanya? di usia 5 tahun kau melihat dengan mata kepala mu sendiri bahwa ibu mu di siksa dan di aniaya oleh kakak kandungnya sendiri hanya karena dia seorang perempuan?" Tanya Tuan Shen dengan menunduk di depan Chareen.
"Teriakan kesakitan dan tangisan yang begitu menyayat hati membuat ku menjadi seperti ini, aku masih ingat dengan jelas jika mama ku terus mengutuk keluarga mu!!"
"Jika kau pintar, harusnya kau tahu kenapa nenek mu mati bukan? yah.... Balas dendam! karena apa? tak ada istilah namanya keluarga dalam keluarga kita sejak dulu!!!" Ucap tuan Shen dengan mencekik leher Chareen.
"Ukhukk.... P-paman... A-aku tidak tahu apa yang kau maksud kan, aku han..." Chareen terbata-bata karena tuan Shen tak melepaskan leher nya.
"Hanya apa? hanya tahu jika nenek mu mati oleh kami? hahahaha.... Ternyata laki-laki tua itu bisa membalikkan keadaan dengan mudah, kau lihat?" Tunjuk tuan Shen pada sebuah layar yang di mana di sana memperlihatkan sebuah rekaman di mana ada sebuah mobil yang meledak dengan kedua orang tua nya yang masih berada di dalam.
Nafas Chareen menjadi lemah dengan air mata yang mengalir deras, terdengar jelas teriakan memilukan dari kedua orang tuanya.
"MAMA!!! PAPA!!!! APA YANG KAU LAKUKAN BRENG*SEK!!!!" Marah Chareen dengan mencengkeram leher tuan Shen yang hanya tertawa terbahak-bahak.
"Seperti itulah ekspresi dulu, ahh kurang.... Harusnya kau mendapatkan hadiah dari ku.." Ucap tuan Shen dengan menendang perut Chareen hingga membuat Chareen berteriak kesakitan.
__ADS_1
"Chareen!!!" Teriak Garel dengan menghampiri Chareen, tubuh Garel bergetar ketakutan saat melihat darah yang keluar dari balik kaki Chareen.
"Sialan!!! aku akan membunuhmu dasar manusia biadab!!" Marah Garel dengan mendekati tuan Shen, namun dengan mudah Victor menendang nya hingga Garel jatuh tersungkur di samping Chareen yang terus meringis kesakitan.
"Obat!! di mana obat ku!!" Marah Chareen dengan menatap Victor yang tersenyum manis.
"Kau mencari ini?" Tanya Victor dengan menunjukan sebotol obat yang selalu Chareen bawa kemana-mana.
"Victor!! aku mohon.... Berikan obat itu padaku.." Lirih Chareen dengan memegang kaki Victor yang hanya tersenyum.
"Kau mau ini? ambilah..." Ucap nya dengan melemparkan botol obat itu ke tengah laut, Chareen menjerit saat botol itu terlempar.
"Seharusnya aku memperlihatkan pada Alegra bahwa aku sudah mahir menembak.." Ucap Victor dengan menodongkan pistol nya pada Chaty yang masih menangis di pelukan Raini yang sudah tak sadarkan diri.
"Kau!! jangan macam-macam dengan ku sialan!" Maki Chareen dengan bangkit dari lantai, meskipun perutnya sakit dan tubuhnya terasa nyeri Chareen tidak ingin lagi kehilangan mereka.
"Kau pikir aku takut? ohh tidak sama sekali..." Ejek nya dengan melepaskan pelatuk itu hingga terdengar bunyi tembakan.
DORRRR!!!!
Chareen jatuh terduduk, air matanya mengalir deras saat melihat Garel yang memeluk tubuh Chaty. Garel tersenyum pada Chaty yang nampak bergetar ketakutan, Chaty menyentuh punggung Garel yang terus mengeluarkan darah.
"Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja..... " Ucap Garel dengan lembut pada Chaty sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri.
"Tidak... Aku mohon tidak lagi.... " Tangis Chaty dengan memeluk Garel.
"Hahaha bukankah ini menyenangkan?" Tawa Victor dan tuan Shen.
"Seharusnya kau sudah tahu bahwa di dalam keluarga kita tidak di perbolehkan ada seorang wanita!!! jika ada, mereka harus mati!!!!" Bisik tuan Shen.
"BREN*GSEK!!! KEPA*RAT SIALAN!!" Marah seseorang, Chareen melihat Anthony yang datang dengan pakaian basah kuyup dan luka memar di mana-mana.
Chareen tidak mengetahui kemana Anthony pergi sejak sore tadi, dia pikir Anthony ada pekerjaan mendadak sehingga pergi meninggalkan mereka. Ternyata, Anthony di tahan oleh semua bawahan Victor dan membuatnya tak sadarkan diri.
"Sudah sadar? sepertinya kau terlambat hahah..." Tawa tuan Shen.
Anthony menatap Chareen yang nampak mengenaskan, Anthony mengangguk pada Chareen sebagai isyarat bahwa mereka akan baik-baik saja.
__ADS_1