
Pintu tersebut hanya bisa di buka menggunakan sidik jari dan sandi saja, untung Ricko memiliki nya karena pernah di berikan oleh Chareen saat dirinya hendak mengambil pistol di dalam. Sampai sekarang kartu akses itu masih ada pada dirinya.
"Ini...." Kagum Bara saat mereka sudah masuk kedalam.
Terlihat foto keluarga di sana, ada juga foto Bara sewaktu kecil yang masih berada dalam gendongan mama dan papa nya itu, begitu pun dengan Yuna yang nampak tersenyum cantik di usianya yang masih belia.
Memang tidak banyak tapi tetap saja, Bara sampai tidak bisa menahan air matanya yang keluar secara tiba-tiba itu. Meskipun kebanyakan foto Chareen di sana namun dia memaklumi hal tersebut.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Alegra memastikan.
"Ya, mataku hanya sedikit perih." Balas Bara dengan mengusap air matanya.
Banyak tumpukan buku dan juga dokumen penting lainnya di atas meja kerja kakek Kim, aroma yang tercium oleh mereka sangat pekat.
"Meskipun terlihat biasa saja namun aku rasa disini ada sesuatu yang lain." Ucap Alegra dengan meneliti ruangan tersebut.
"Keu benar." Setuju Bara, jika hanya ruangan seperti ini kenapa mereka di larang masuk?
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya seseorang dengan datar.
Alegra dan Bara sontak memalingkan wajahnya untuk melihat ke arah sumber suara, di sana nampak sosok Chareen yang berdiri di depan pintu dengan dress yang sebelumnya ia pakai. Tatapan mata Chareen sangat tajam dan dingin, sehingga membuat keduanya merinding.
"Sayang, ini..."
"Lancang! apa ini semua ulah mu Ricko?" Tanya Chareen dengan dingin.
"Maafkan saya nona, saya bersalah..." Tunduk Ricko dengan tubuh yang sudah bergetar ketakutan.
"Jangan pernah kembali sebelum aku menyuruhmu untuk kembali, aku akan mengirimmu ke Antartika sekarang juga." Datar Chareen yang membuat Ricko melotot namun hanya bisa mengangguk saja.
Tidak hanya Ricko, Bara dan Alegra saja ikut terkejut dengan apa yang terjadi pada Ricko. Namun mereka tidak bisa menolongnya karena mereka pun tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka saat ini.
"Tunggu apa lagi, CEPAT KELUAR!!!" Marah Chareen pada mereka berdua yang langsung keluar dr terburu-buru.
__ADS_1
Di tutupnya kembali pintu itu oleh Chareen, setelah melakukan itu Chareen menatap kedua nya yang hanya diam.
"Apa begini sikap kalian jika aku sedang tidak ada? apa om Bara tidak bisa menghargai privasi kakek? dan kau juga Ale, kenapa kau sangat penasaran dengan ruangan kakek? ini tidak ada hubungan nya dengan kematian kakek ataupun musuh kakek!! bukankah Ricko sudah menjelaskan sebelumnya pada kalian?" Tanya Chareen.
"Maafkan kami Char, tapi om sangat penasaran dengan apa yang ada di dal....."
"Harusnya om tahu bahwa apa yang kakek sembunyikan itu demi kebaikan kalian juga, kakek tidak ingin luka lamanya kembali terbuka. Kenapa om tidak paham?" Kesal Chareen dengan mengacak-ngacak rambutnya.
"Sayang..." Panggil Alegra dengan berjalan mendekati Chareen, namun Chareen langsung mundur beberapa langkah dengan tangan yang ia angkat ke depan.
"Diam di tempat! bukankah aku sudah mengatakan kepada mu untuk selalu berkata jujur padaku Ale? kenapa kau mengingkari nya?" Marah Chareen.
"Aku... Aku hanya mencari bukti untuk menyelidiki kematian kakek." Jelas Alegra namun justru tak membuat Chareen terharu, justru Chareen malah terkekeh.
"Dengan masuk kedalam kalian pikir kalian menemukan siapa dalang nya? tidak ada!!! jika di dalam memang ada bukti nya maka sudah sejak dulu aku mengatakan nya pada mu!!"
"....."
"Aku kecewa pada kalian berdua, aku pikir kalian bisa menghargai privasi setiap orang...." Lirih Chareen dengan tersenyum kecut.
"Bara, sepertinya memang benar jika di dalam tidak ada hubungannya dengan kematian kakek." Ucap Alegra dengan terduduk di salah satu yang ada di sana.
"Aku tahu..... Apa salah jika aku juga ingin mengetahui apa yang selama ini kakek sembunyikan?" Tanya Bara depan menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
•••
Chareen menangis di dalam mobil, Arjun yang mendengar itu hanya bisa diam dengan perasaan yang tak menentu hingga akhirnya Arjun memberanikan diri untuk memberikan tisu pada Chareen.
"Sudahlah, jika kakek mu tahu kau menangis seperti ini maka beliau pasti akan ikut terluka." Ucap Arjun dengan menepuk pundak Chareen.
"Aku sendiri pun ingin mengatakan hal ini pada om Bara tapi...... Kakek terus melarang ku, terkadang aku takut... Takut om Bara akan salah paham denganku karena terus berada di dekat kakek, aku takut......" Tangis Chareen.
"Sejak kecil, aku memang sudah di perhatikan oleh kakek. Bahkan.... Aku sendiri awalnya bingung, kenapa tidak om Bara saja? ternyata setelah aku tahu alasan di balik ini semua..... Aku ingin marah, aku ingin mengatakan hal kasar pada kakek tapi aku tidak bisa..... Aku sendiri cape, aku lelah tapi aku yakin, jika aku menyerah.... Maka kakek akan semakin terluka!!"
__ADS_1
"Aku mengerti, tenangkan dirimu terlebih dahulu.... Aku yakin, lama kelamaan Bara pun pasti akan mengerti." Jelas Arjun dengan tersenyum.
Chareen menatap Arjun yang hanya beberapa jengkal dari wajahnya, Chareen mendekatkan wajahnya ke arah Arjun hingga membuat laki-laki itu memejamkan matanya. Namun apa yang ia rasakan?
"Ingusku terus keluar, entah kenapa aku ingin mengelap nya menggunakan dasi mu Arjun... Maafkan aku, aku akan membelikan nya yang baru. Cepat lepaskan..." Ucap Chareen dengan polos nya.
Arjun yang mendengar itu langsung malu sendiri, untung saja Chareen tidak melihat wajahnya yang sudah memerah itu.
•••
"Kau beneran tidak akan pulang?" Tanya Chaty pada Chareen.
"Ya, masih ada urusan yang belum aku selesaikan." Angguk Chareen.
"Kak Chareen, jangan lama-lama..... Bukankah kita akan memberikan pelajaran untuk wanita gila itu?" Tanya Claire dengan memegang tangan Chareen.
"Tentu saja aku ingat, jangan dulu bermain sebelum aku datang oke?"
"Tentu.."
"Apa tuan Alegra dan Bara juga masih akan tetap disini?" Tanya Raini penasaran.
"Sepertinya begitu, kenapa?" Heran Chareen.
"Tidak, kalau begitu kami permisi...."
Chareen melambaikan tangannya saat mereka mulai masuk kedalam helikopter, sebelumnya mereka sudah berpamitan pada keluarga Chareen. Karena Chareen pergi ke markas tadi sehingga dirinya langsung menyusul mereka kemari dengan di temani Arjun.
"Sudah?" Tanya Arjun yang melihat Chareen berjalan mendekati mobil, Arjun yang berdiri di depan mobil dengan kemeja putih yang berantakan dan rambut yang berkibar karena heli tersebut, jangan lupakan kaca mata hitamnya yang terpasang indah di wajahnya. Sangat tampan memang, namun jika ada Alegra di sampingnya mungkin ketampanan nya akan tertelan oleh Alegra.
"Sudah, antar aku ke suatu tempat. Aku ingin bertemu dengan seseorang..."
"Baik."
__ADS_1
Jangan lupa semangat nya dongg