
Chareen memijat pelipisnya yang terasa pusing, badannya sedikit meriang. Sejak siang tadi Chareen tak berhenti menatap layar laptopnya, selain mengerjakan tugas kantor yang sangat menumpuk Chareen juga harus terus memberikan informasi untuk Alegra.
Untuk urusan kantor milik Alegra masih ada Raisa yang membantu tapi untuk kantornya sendiri, Chareen harus menyelesaikan semua masalah yang di timbulkan oleh Gea. Karena Gea sudah menyinggung salah seorang investor asing membuat nilai saham nya anjlok, karena itu lah Chareen berusaha untuk menstabilkan nya kembali.
Meskipun banyak penyokong di belakang tetap saja, kehilangan beberapa persen saham sangat mempengaruhi akreditasi perusahaan nya.
"Apa kau masih sibuk bekerja? bahkan sekarang sudah memasuki waktu pagi." Lirih Raisa yang tak sengaja terbangun.
Chareen memang sebagai tidur di kamar Raisa, selain untuk menjaganya Chareen juga takut jika di tengah malam Raisa membutuhkan sesuatu.
"Hmm, ada beberapa masalah yang harus aku urus. Ada apa? apa kau membutuhkan sesuatu?" Balas Chareen tanpa melihat ke arah ranjang.
"Tidak ada.."
"Apa kau merasa terganggu?" Tanya Chareen dengan menatap ke arah Raisa yang mencoba untuk duduk, melihat itu Chareen langsung membantu nya.
"Tidak, sebaiknya kau jangan terlalu lelah bergadang. Aku takut kesehatan mu akan mempengaruhi buah hati mu Char." Lembut Raisa.
"Aku tahu, aku hanya tidak ingin Alegra cemas. Sebenarnya, Alegra menempatkan mata-mata di sekitar ku untuk terus memastikan keadaan ku. Justru, jika aku berdiam diri terus, Alegra akan curiga..." Senyum Chareen.
"Benarkah?" Kaget Raisa.
"Ya, menurut bawahan ku, semua anggota yang selalu mengikuti ku itu bisa merekam suara dan video. Jadi, semua gerak gerik ku selalu di pantau oleh Alegra. Sebisa mungkin aku harus bersikap normal dan tidak memperlihatkan bahwa aku sebenarnya sedang tidak enak badan." Jujur Chareen dengan menyandarkan kepalanya di kepala ranjang.
"Aku tahu kau tidak ingin Alegra cemas, apa kau sering meminum vitamin yang sebelumnya aku berikan?"
"Sudah, aku selalu membawanya kemana-mana. Bagaimana pun, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada anak ku. Aku yang paling tahu bagaimana kondisi ku..." Senyum Chareen.
"Haha kau benar..." Raini tertawa kecil, terdengar suara perut Raini yang terus berbunyi.
"Apa kau belum makan?" Kaget Chareen.
"Aku melewatkan makam malam tadi karena tertidur heheh..."
"Astaga, aku akan membuatkan sesuatu untuk mu. Tunggu sebentar..."
"Ehh tidak usah, Char...." Panggil Raini namun Chareen tetap pergi dari sana, Raini menghela nafas panjang.
__ADS_1
Sebenarnya dia tahu kondisi Chareen sedang buruk, tapi Chareen tetap bisa mengerjakan tugas nya sebagai seorang Presdir, seorang istri, seorang atasan dan seorang ibu. Raisa merasa bahwa Chareen terlalu sempurna.
•••
Chareen ingin membuat sup ayam untuk Raisa dan juga dirinya, di liriknya jam yang menunjukkan pukul 3 pagi. Semua pelayan yang ada di sana masih ada setengah jam sebelum bangun, akhirnya Chareen di sibukan dengan masakannya sendiri.
Hingga tak terasa, semua pelayan mulai bermunculan. Mereka terkejut melihat Chareen yang sibuk dengan alat-alat dapur, dengan cepat mereka membantu nya.
"Nyonya? astaga, kenapa nyonya tidak membangunkan kami?" Cemas mereka.
"Tidak apa-apa, apa kalian bisa membantu ku membawakan ini ke kamar atas?" Tanya Chareen dengan tersenyum kecil.
"Baik nyonya..." Patuh nya.
Chareen menghela nafas lega, di langkahkan nya kaki Chareen untuk menaiki tangga. Tubuhnya terasa oleng, untung saja salah seorang pelayan dengan sigap merangkul nya.
"Nyonya?" Kaget nya.
"Aku baik-baik saja, tolong bawa aku ke kamar saja..." Ucap Chareen.
"Baik.." Patuh mereka.
"Chareen? apa yang terjadi?" Cemas nya yang langsung menggendong Chareen.
"Aku baik-baik saja, hanya pusing sedikit..." Balas Chareen yang mulai merasa nyaman saat Garel membaringkan nya di atas ranjang.
"Tunggu apa lagi? cepat panggil dokter!!" Kesal Garel pada salah satu pelayan.
Untung saja di sana ada dokter yang memang khusus untuk menangani Raisa, dokter itu seorang wanita yang memiliki gelar master di rumah sakit Korea. Di saat genting seperti ini Chareen tidak bisa membiarkan orang asing keluar masuk kediaman Vitton.
"Nyonya hanya kelelahan, untuk janin nya... Dia sehat dan kuat, apa mau di per.."
"Tidak usah, bisa panggilkan Garel kemari?" Tanya Chareen dengan memejamkan matanya.
"Baik nyonya."
Setelah beberapa saat, munculah Garel yang memang sudah rapih dan tampan dengan kemeja hitam nya. Melihat itu, Chareen teringat sosok suaminya.
__ADS_1
"Kemarilah...." Ucap Chareen menepuk samping ranjangnya.
Dengan cepat, Garel duduk di samping Chareen meskipun terlihat heran. Tiba-tiba saja Chareen merebahkan kepalanya di paha Garel, terasa sangat nyaman dan hangat.
"Char? are you oke?" Tanya Garel khawatir.
"Hmm, hanya merindukan Alegra saja...." Jujur Chareen dengan menarik tangan Garel agar mengelus rambutnya.
"Hal ini memang wajar bagi ibu hamil, hormon dalam tubuh semakin bertambah. Mungkin nyonya melihat anda sangat mirip dengan tuan sehingga membuat nya seperti ini." Jelas sang dokter.
"Aku mengerti, kau boleh keluar..." Ucap Garel.
Terdengar suara dengkuran halus dari Chareen, Garel merasa lega karena akhirnya Chareen tertidur. Bukannya tidak ingin membantu Chareen di perusahaan tapi Garel sama sekali tidak mengerti hal itu, sejak dulu Garel tidak ada minat untuk bekerja di perusahaan. Justru, Garel lebih tertarik dalam dunia akting.
Garel mengambil ponselnya yang ada di kantung celananya dengan perlahan karena takut mengganggu Chareen, di potret nya posisi Chareen dan mengirimkan nya pada Alegra.
Hingga beberapa detik kemudian ponselnya berbunyi, ternyata Alegra sangat cepat jika berurusan dengan Chareen.
"Halo?"
"Ada apa dengan Chareen? kenapa dia bisa bersama mu?" Terdengar nada khawatir dari Alegra.
"Entahlah, 1 jam yang lalu aku melihat Chareen yang di bawa oleh pelayan dengan keadaan lemah seperti ini. Dokter bilang kondisi tubuh Chareen sedikit buruk karena terlalu lelah, dan lagi.... Sepertinya Chareen sangat merindukan mu sehingga menyuruhku untuk menemani nya disini." Jelas Garel.
"....." Alegra terdiam beberapa saat hingga membuat Garel heran.
"Kak?" Panggil Garel.
"Aku akan pulang sedikit terlambat, apa kau bisa menemani nya dulu? aku masih ada hal penting yang harus aku urus disini."
"Penting? apakah lebih penting dari istrimu kak?" Ejek Garel.
"Aku sedang tidak bercanda, aku akan segera menyelesaikan masalah disini. Aku harap ka.....
DORRRR!!!!!
Sial!!!! jangan lupa, kau harus menjaga Chareen. Jika bisa, temani dia.. Aku akan menelfon mu lagi nanti." Dengan cepat Alegra mematikan sambungan teleponnya, Garel masih diam karena dia tadi mendengar dengan jelas suara tembakan itu.
__ADS_1
"Sebenarnya apa tugas yang kak Alegra kerjakan? sepertinya itu sangat berbahaya.... Atau jangan-jangan...... Kak Ale ikut syuting film action?" Gumam nya sendiri.