Chef Tampan Pilihanku

Chef Tampan Pilihanku
Hormon


__ADS_3

Di sebuah jalanan sepi, kelompok Alegra di serang oleh orang orang yang semuanya berpakaian hitam. Meskipun mereka berempat tidak melawan tetap saja mereka harus berjaga-jaga, semua bawahan Alegra maupun Ricko dan Arjun, mereka sangat gesit melawan musuh.


"Ada apa? seperti nya kau tidak fokus?" Tanya Arjun pada Alegra.


"Chareen sakit, dia merindukan ku..." Jujur Alegra membuat Arjun terkejut.


"Sakit? apakah Chareen baik-baik saja? dokter yang memeriksanya apa memiliki kemampuan yang luar biasa? bagaimana dengan ob...." Arjun terdiam dengan menatap Alegra, Arjun tak menyangka jika dirinya tidak bisa mengontrol diri seperti ini.


Pakk pakk!


Ricko menepuk pundak Arjun setelah Alegra pergi untuk memeriksa Bara, Arjun tersenyum kecil dan merasa sangat bersalah.


"Bagaimana?" Tanya Alegra pada salah satu bawahan nya.


"Tuan, mereka berhasil melarikan diri. Mereka sengaja menyerang kita disini agar kepergian mereka berjalan sempurna, mereka tidak tahu jika kita sudah menempatkan banyak penjaga di setiap penjuru kota. Tapi.... Mereka sudah pergi dan anggota yang lainnya tidak bisa menahan." Jelas nya.


"Pergi?" Geram Alegra.


"Ya tuan, sepertinya mereka sengaja mencari perlindungan. Mungkin mereka tidak menyangka jika kekuatan yang tuan keluarkan akan seperti ini.."


"Huh kabur kah? hanya 65% saja sudah lari ketakutan, benar-benar payah!" Santai Alegra dengan melepaskan kemeja nya di hadapan mereka semua, Alegra melihat perutnya yang nampak noda darah bekas Bara tadi.


"Kita kembali ke tempat semula, bawahan ku akan melacak keberadaan mereka. Aku ingin segera menyelesaikan masalah ini.." Jelas Alegra yang langsung di angguki oleh Arjun dan Ricko.


"Ukhukk..... Ale, apa kau sudah menemukan keberadaan Victor? apa dia baik-baik saja?" Tanya Bara dengan khawatir.


"Tak perlu khawatir, Chareen sudah mengatakan padaku siapa dalang di balik semua ini." Santai Alegra.

__ADS_1


"Siapa? katakan padaku!" Geram Bara namun langsung di tahan oleh Ricko karena Bara tidak di perbolehkan banyak gerak, beberapa bagian tubuhnya harus melakukan penjahitan sehingga jika terlalu banyak gerak akan membuat luka nya kembali terbuka dan itu akan sangat susah untuk sembuh.


"Paman mu sendiri.." Balas Alegra yang membuat Bara terdiam.


"Paman?" Ucap Bara sekali lagi.


"Ya, Chareen sudah menyelediki nya setelah mengetahui bahwa orang itu memiliki tato di telapak tangannya. Chareen mengetahui tato itu dari Raisa, Raisa tak sengaja melihat nya saat dirinya di siksa oleh mer...." Alegra langsung diam, dia melirik Bara.


"Apa maksudmu? ada apa dengan Raisa?" Cemas Bara.


"Hhh... Kemarin siang, Raisa di pukuli oleh orang-orang asing yang menyamar. Jangan salahkan para bawahan karena memang mereka tidak bisa masuk kedalam ruangan pasien sehingga mereka hanya menunggu nya di depan, ternyata mereka semua adalah komplotan orang-orang itu." Jelas Alegra.


"Apa? bagaimana mungkin? apa dia baik-baik saja?"


"Luka nya sudah di obati karena Chareen langsung memanggil dokter terkenal yang ada di Korea untuk menyembuhkan semua luka di tubuh dan wajah Raisa, kau jangan cemas... Sekarang Raisa tinggal dengan Chareen di kediaman ku."


"Aku tidak bisa tenang jika tidak bisa melihat nya..." Lirih Bara dengan mengambil ponselnya, tapi nomor yang Raisa tidak bisa di hubungi hingga akhirnya Bara memilih untuk menghubungi Chareen. Mengingat bahwa saat ini Raisa sedang bersama Chareen.


"Om Bara? ada apa?" Tanya Garel dengan menguap, Garel sepertinya tertidur dengan posisi duduk karena Chareen tidak mau pergi dari paha nya dan juga tangan Garel sedikit kebas karena harus mengelus rambut Chareen. Jika tidak, Chareen akan terus merasa tak nyaman dalam tidur nya.


"Di mana Chareen?" Tanya Bara, Alegra yang mendengar nama istrinya di sebut langsung ikut melihat ke layar ponsel.


"Chareen dia... Astaga, apa yang terjadi dengan mu om?" Tanya Garel heran.


Teriakan Garel membuat Chareen terganggu, di geplak nya wajah Garel hingga membuat Garel langsung bungkam seketika.


"Berisik!" Geram Chareen dengan mata yang terpejam.

__ADS_1


"Kenapa kau bisa bersama Chareen?" Heran Bara.


"Ahh ini, kak Ale? oh syukurlah kau muncul.... Cepatlah pulang kak, kau lihat? tanganku kebas dan pantat ku sakit, begitu pun dengan pinggang dan kepala ku ohh.... Sakit sekali, aku ada jadwal pemotretan padat sekali...." Rengek Garel pada Alegra yang hanya diam dengan terus memperhatikan wajah Chareen yang masih tertidur di paha Garel.


"Aku akan segera pulang, terimakasih karena sudah ada di sana dan maaf... Telah merepotkan mu." Ucap Alegra dengan tulus pada Garel yang saat itu langsung terdiam.


"Maafkan aku kakak, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya merasa kasihan pada Chareen, dokter bilang... Seharusnya di usia kandungan nya yang seperti ini kau harus selalu ada disisinya karena Chareen pasti akan menjadi manja dan gampang sekali sedih."


"Aku tahu."


Garel melihat tatapan sedih dalam sorot mata Alegra yang di tunjukkan saat melihat Chareen, Garel merasa tak tega melihatnya.


"Kakak tenang saja, aku akan menjaga dan merawat Chareen disini. Selesaikan segera pekerjaan mu dan pulanglah, ada orang yang sangat menantikan kedatangan mu." Senyum Garel yang di balas anggukan oleh Alegra.


"Garel, apa kau bisa menunjukkan keberadaan Raisa?" Tanya Bara yang jengah karena dia baru terpikir, bukankah seharusnya dia yang bermanja-manja? kenapa jadi Alegra?


"Raisa? haishh.... Aku bingung, kenapa kalian sering kali terluka? Raisa juga, aku dengar dia hampir di lecehkan oleh sesama dokter nya yang sudah kabur itu."


"Di lecehkan? apa maksudmu?" Penasaran Alegra, bukankah Chareen mengatakan hal yang berbeda?


"Dari informasi dan berita yang beredar, ada beberapa dokter asing yang sengaja melakukan hal itu pada Raisa karena kecantikannya yang membuat mereka tergila-gila, hingga akhirnya mereka bersekongkol untuk melecehkannya... Tapi Raisa terus melawan hingga akhirnya bala bantuan datang."


Bara melirik Alegra yang hanya mengangguk, akhirnya Bara pun mengangguk saja.


"Baiklah, terimakasih atas informasinya. Lalu, bisakah kau tunjukkan sosok nya?"


"Apa om tidak lihat? aku tidak bisa kemana-mana, sudah hampir 5 jam aku seperti ini. Atau om telfon saja Claire, jika tidak kekasihku Chaty... Sepertinya mereka sedang menemani Raisa untuk berjemur di taman belakang."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menghubungi mereka nanti."


"Hmm..." Angguk Garel dengan mematikan sambungan teleponnya, Garel merasa aneh dengan situasi yang sekarang. Di mulai dari para penjaga dan pengawal yang sangat banyak dan ketat, selalu di kawal saat sedang berada di luar. Tidak di perbolehkan ke tempat yang sepi, sebenarnya Garel sangat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi Chareen selalu mengatakan bahwa dirinya masih belum cukup umur untuk mengetahui nya padahal Garel lebih tua beberapa bulan dengannya.


__ADS_2