Chef Tampan Pilihanku

Chef Tampan Pilihanku
Rencana dadakan


__ADS_3

"Haishh...." Chareen merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang ada di bawah pohon besar, tempat itu memang tempat istirahat Chareen saat dirinya sudah selesai berlatih.


Tubuh Chareen terasa lelah, biasanya dia tidak akan seperti ini. Chareen sendiri bahkan sering lupa bahwa dirinya tengah mengandung, bukankah itu sangat bodoh?


"Maafkan mama sayang, mama sering melupakan keberadaan mu...." Ucap Chareen dengan mengelus perutnya.


"Nona?" Panggil seseorang dengan beberapa anggota lainnya di belakang yang membawa banyak sekali makanan.


"Hmm.." Angguk Chareen dengan puas setelah melihat banyak nya makanan yang tersaji di depannya.


"Nona, biarkan saya memeriksa kondisi tubuh nona lebih dulu.." Ucap seorang laki-laki yang merupakan dokter khusus mereka di markas.


"Ya."


Dokter tersebut segera memeriksa kondisi tubuh Chareen, sedikit berbeda dari sebelumnya karena dia bukan dokter kandungan. Terlebih, ini pertama kalinya dia memeriksa seorang ibu hamil. Biasanya dia hanya mengobati orang yang terluka karena tembak atau pun kehilangan salah satu anggota tubuhnya.


"Nona, meskipun saya tidak mahir dalam hal kandungan tapi sepertinya kondisi janin nona sedikit lemah. Mohon nona lebih banyak istirahat...." Ucap nya yang membuat makanan di tangan Chareen terjatuh.


"Apa kau serius? benih yang di tanam Alegra lemah sekali!! ck... Sepertinya dia memang tidak sekuat yang aku kira!" Kesal Chareen dengan memakan habis-habisan makanannya.


"Ahh itu nona... Bukan seperti itu maksud saya, benih yang ada dalam perut nona sebelumnya sangat kuat tapi sepertinya sekarang, sedikit lemah karena mungkin nona terlalu lelah dan stres." Ucap nya dengan cepat, kedua telinganya memerah karena perkataan Chareen yang sedikit ambigu dan itu pertama kalinya dia dengar setelah bertahun-tahun bekerja untuk Chareen.


"Hmm, akhir akhir ini aku memang sedikit sibuk dan banyak pikiran. Aku juga sudah mengkonsumsi obat dari dokter kandungan ku." Jelas Chareen dengan menyimpan sumpit yang sebelumnya ia pegang.


"Meskipun begitu, nona harus tetap istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran. Kandungan nona saat ini sangat rentan dengan keguguran, bag..."


"Haish! apa yang kau katakan? apa kau pikir aku tidak sekuat dulu lagi? kau jangan mengada-ada ya, apa kau ingin bertarung dengan ku untuk membuktikan bahwa aku masih kuat?" Marah Chareen membuat dokter itu langsung terduduk di tanah.


"Nona, saya tidak bermaksud seperti itu. Maksud saya itu, anu..... Ahh bukankah nona akan ikut liburan dengan orang kantor? sebaiknya nona jangan terlalu lelah agar di sana nona bisa berjalan-jalan sepuasnya, saya dengar di sana banyak sekali makanan unik yang sangat enak." Ucap dokter itu dengan terburu-buru.


"Enak? benarkah? apa ada makanan yang terasa asam? sepertinya kau benar, aku memang harus istirahat agar bisa menemukan semua jenis makanan di sana. Pergilah, aku ingin tidur." Usir Chareen dengan membaringkan tubuhnya dengan santai.


"Baik nona...... Huh syukurlah." Gumam nya dengan pergi, dia mengusap keringat nya yang keluar. Para rekannya yang lain hanya tersenyum kecil sebagai ucapan bahwa dirinya telah berhasil meredam amarah Chareen.

__ADS_1


"Mungkin karena efek mengandung emosi nona menjadi tidak stabil, tapi dengan sikap nona yang seperti ini membuat nya terlihat lebih lembut meskipun saat dirinya menginginkan sesuatu kita harus segera memenuhi nya." Bisik salah satu anggota yang berjaga di sana.


"Kau benar. Jika tidak segera di turuti maka, nona akan menyuruh kita untuk menari di depannya. Bukankah itu sangat memalukan? bagaimana jika lawan kita tahu jika kita sering memakai pakaian wanita? habis sudah..."


Mereka sibuk mengutarakan kesedihan dan duka mereka masing-masing tentang apa yang mereka rasakan selama Chareen mengandung, biasanya mereka akan senang jika Chareen datang ke markas tapi semenjak Chareen mengandung..... Mereka justru menginginkan Chareen agar tidak pernah datang kesana.


•••


Ruangan yang Alegra tuju berada di lantai paling atas, di sana hanya ada satu ruangan saja dan itu pun terletak di loteng.


BRAKKKKKKK!


Di tendang nya pintu oleh Ricko, terlihat sosok Bara yang terduduk di atas kursi depan tubuh yang diikat dan luka di mana-mana. Melihat itu, Alegra menjadi marah. Bagaimana pun, Chareen memintanya untuk menjaga Bara.


"Bara? apa kau masih sadar?" Tanya Alegra dengan mengguncangkan tubuh nya pelan.


"Emghhh...." Bara meringis kesakitan dengan menatap mereka, wajah yang penuh dengan lebam dan pakaian yang sudah terkoyak akibat pukulan dan cambukan.


Kemeja putih yang sebelumnya bersih kini sudah berubah menjadi merah dengan bentuk yang sudah compang camping, saat Arjun ingin membuka tali yang mengikat Bara dia di kejutkan dengan sesuatu yang baru saja ia rasakan.


"Shh.... P-pergi.... Di s-sini banyak sekali jebakan... Pergilah.. Jangan khawatirkan aku...." Ucap Bara dengan terbatuk-batuk, darah yang keluar dari mulutnya mengenai jas yang Alegra kenakan.


"Apa yang kau katakan? Chareen meminta ku untuk membawa mu pulang." Ucap Alegra dengan marah.


"Dia... Ukhukk.... T-tidak apa... Aku jadi tenang karena aku sudah mengetahui... Siapa pembunuh ayah ku.." Ucap Bara dengan tersenyum kecil.


"Jadi, setelah kau tahu kau ingin melepaskan nya begitu saja? apa kau memang seorang pengecut?" Maki Arjun.


"Arjun, sepertinya di bawah kaki mu..." Tunjuk Ricko.


"Aku tahu, jika aku melangkah pergi bom ini akan meledak." Angguk Arjun yang masih nampak santai, Bara tidak percaya akan hal itu.


"Tuan?" Panggil seseorang dengan terburu-buru, mereka segera melihat ke arah sumber suara. Di sana terlihat sosok laki-laki yang nampak aneh, tapi sepertinya mereka sangat menghormati Alegra.

__ADS_1


"Bagaimana?" Tanya Alegra.


"Maaf tuan, seperti nya mereka semua sudah menutup akses nya dan melarikan diri. Casino yang ada di ruangan utama sudah kosong akibat perkelahian tadi, mungkin di sana tuan bisa memeriksa nya." Jelas nya.


"Baik, tapi sebelum itu... Kau gantikan Arjun disini." Ucap nya dengan santai.


"Baik tuan." Patuh nya tanpa melawan.


"Apa yang terjadi? kau merubah rencana tanpa sepengetahuan kami?" Tanya Arjun kesal.


"Tenanglah, aku tidak mungkin membahayakan kalian semua. Sebaiknya kita pergi, kau bawa Bara. Sepertinya dia pingsan,"


"Baik."


Mereka segera pergi dari sana, untuk Alegra dia segera ke ruangan utama sedangkan yang lain memilih untuk pergi dan membawa Bara untuk segera di obati.


"Bagaimana Alegra bisa merubah rencana secepat ini? dan dari mana orang-orang itu berasal?" Heran Ricko.


"Jangan heran, dia Alegra. Apa yang tidak bisa ia lakukan?" Santai Arjun.


"Tapi, tetap saja.... Ini benar-benar, gila."


"Hhh... Sepertinya Alegra sudah memanipulasi semua pegawai yang ada di sana dengan robot buatannya, mereka semua hanya memakai topeng palsu. Alegra sengaja mengulur waktu untuk membuat mereka beraksi tanpa sepengetahuan cctv." Ucap Arjun dengan menguap.


"Kapan Alegra melakukan nya?"


"Saat kita berada di ruangan pribadi, di aula dan di...m gudang. Jika kau bersama Alegra, maka jangan takut mati...."


Ricko hanya diam, pantas saja tadi Arjun masih santai setelah dirinya menginjak sesuatu yang memungkinkan akan membuat mereka meledak bersama-sama.


"Lalu bagaimana dengan orang yang menggantikan mu?"


"Tentu saja meledak, apa lagi?"

__ADS_1


Ricko lupa, bahwa mereka robot dan lagi... Mereka juga iblis berdarah dingin.


__ADS_2