Chef Tampan Pilihanku

Chef Tampan Pilihanku
Rumah sakit


__ADS_3

Note: Tidak ada yang abadi di dunia ini, hidup tak selamanya sesuai dengan apa yang kita harapkan. Terkadang, tuhan sudah menyiapkan skenario yang lebih indah untuk kita kedepannya ♥️


Chaty duduk di samping makam Garel dengan Ricko yang setia berada di belakang nya. Chaty mengeluarkan alat lukis nya, sudah lama dia tidak pernah melukis lagi.


"Terakhir kali aku mengatakan pada mu bahwa aku akan melukis saat hari pernikahan kita nanti, kau malah tersenyum dan tak mengatakan apapun. Apa ini alasan nya?" Tanya Chaty dengan mata dan tangan yang terus fokus pada lukisan nya.


"Hargailah orang yang mencintaimu, dia berkorban bukan untuk melihat mu bersedih, tapi dia ingin menunjukkan betapa berharganya kamu di hatinya." Ucap Ricko tiba-tiba, membuat Chaty mendongakkan kepalanya dan menatap Ricko.


"Tanyalah pada angin, apakah ia bisa patah hati? Sejauh ini ia tak pernah menjawabnya. Tanyalah aku, bisakah aku patah hati? Sejauh ini dia membuatku seperti angin." Balas Chaty dengan tersenyum getir hingga membuat Ricko terdiam, apa yang Chaty katakan sedikit tak membuat nya paham.


"Nona, tuhan menempatkan seseorang dihidupmu karena sebuah alasan. Dan jika nona kehilangannya maka itu karena sebuah alasan yang lebih baik." Ucap Ricko dengan jongkok di samping Chaty yang sedang duduk di salah satu kursi yang di sediakan Ricko sebelumnya.


"Aku mencoba ikhlas pada sebuah kehilangan, dan tersenyum dari sebuah kesakitan. Apapun alasan dan penjelasannya, kehilangan akan selalu terasa menyakitkan." Gumam Chaty dengan memejamkan matanya, semilir angin menerpa wajahnya hingga membuat rambutnya berkibar lembut, Chaty tersenyum karena dia merasakan sentuhan lembut di kepalanya.


Sentuhan yang amat sangat ia rindukan, tanpa sadar air mata nya mengalir dengan sendirinya.


Ricko yang melihat itu tak lagi mengeluarkan suara nya, dia membiarkan Chaty seperti itu agar perasaan nya kembali membaik. Yang di lakukan Ricko sekarang adalah berdiri di samping Chaty agar tidak membuat Chaty kepanasan.


••••


Di dalam mobil, Chareen terdiam dan termenung. Jika waktu boleh di putar Chareen mungkin akan bisa menyelamatkan mereka, hanya saja.... Keadaan nya saat itu sangat lah lemah.


"Sayang....." Panggil Alegra dengan menggenggam tangan Chareen yang sedang mengelus perutnya.


"Aku sedang tidak baik-baik saja...." Balas Chareen tanpa melihat ke arah Alegra yang hanya bisa menghela nafas berat.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? aku tidak ingin melihat kalian terus seperti ini, jika boleh memilih... Aku rela menggantikan nyawa mereka yang hilang karena kebodohan diriku...." Alegra mengusap wajahnya kasar, mobil yang ia kendarai berhenti di tepi jalan.


"Maaf, aku...... Aku hanya belum bisa menerima semua ini, kehilangan mereka secara bersamaan membuat ku sedikit sulit untuk kembali seperti biasa.." Ucap Chareen dengan menatap Alegra yang nampak lelah.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanya Alegra dengan air mata yang mengalir, hal itu membuat Chareen terdiam.


Chareen terlalu egois, dia ingin Alegra terus mengerti dirinya tanpa sadar bahwa Alegra pun ingin Chareen perhatian. Di peluknya tubuh Alegra dengan lembut, secara berulang kali Chareen terus mengucapkan kata maaf pada Alegra yang terlihat rapuh.


"Maafkan aku, aku terlalu egois. Aku hanya belum bisa kehilangan nya.... Aku rasa, aku masih belum pantas menjadi seorang ibu karena tidak bisa menyelamatkan salah satu dari nya..." Ucap Chareen dengan terisak, bagaimana pun akhir-akhir ini Chareen terus bermimpi seorang anak kecil yang sangat cantik dan terus meminta nya untuk ikut bermain.


Chareen selalu berpikir, apakah itu anaknya yang tak bisa di selamatkan? mengingat itu Chareen kembali hancur, ia tak sadar bahwa Alegra pun sama hancurnya seperti dia.


••••


Chareen dan Alegra mulai memasuki sebuah ruangan, di sana terlihat dua orang laki-laki yang berbeda usia tengah terbaring di ranjang rumah sakit. Mereka menatap Chareen dengan tatapan yang..... Entahlah.


"Aku tidak tahu jika kejadiannya akan seperti ini, aku...... Tolong maafkan aku, aku mewakili kakek dan keluarga ku ingin meminta maaf pada mu." Ucap Chareen dengan menundukkan kepalanya.


Hal itu membuat tuan Shen dan Victor terkejut bukan main, mereka ingin lihat apakah Chareen sedang bercanda tapi melihat tatapan nya yang penuh ketulusan dan kesedihan membuat mereka yakin bahwa itu adalah nyata.


"Jika saja kalian mengatakan hal ini sejak dulu mungkin..... Mungkin aku akan mempersiapkan nya agar tidak terlalu sedih seperti sekarang, aku tidak akan menuntut kalian lagi. Setelah keluar dari sini kalian bisa kembali ke Korea..." Ucap Chareen dengan kembali menundukkan tubuhnya sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan mereka.


Alegra menatap mereka bergantian, Alegra tak banyak bicara dia ikut menundukkan tubuhnya seperti Chareen dan pergi menyusul nya.


Terlihat air mata yang keluar dari kedua sudut mata tuan Shen, apakah dia menyakiti orang yang salah?

__ADS_1


"Bukankah tadi tuan dan nyonya Vitton? mereka terlihat sangat sedih..." Ucap salah satu suster yang merawat mereka.


"Bagaimana tidak? nyonya Vitton sudah kehilangan kedua orang tua nya dan juga calon anak nya, begitu pun dengan tuan Vitton yang kehilangan adik laki-laki dan juga sekertaris yang sudah mereka anggap seperti saudara sendiri. Bagaimana jika kau berada di posisi nya? kehilangan lima orang sekaligus?" Tanya sang suster.


"Aku tidak ingin membayangkan nya, bukankah itu sangat buruk? mereka sangat kuat.."


Tuan Shen dan Victor hanya bisa memejamkan matanya agar tidak terlihat oleh mereka bahwa kedua matanya memerah, awalnya mereka hanya ingin menyingkirkan Chareen dan Yuna karena mereka anak perempuan dalam keturunan keluarga nya.


Tapi, mereka terlalu gegabah dan membunuh orang yang tidak bersalah. Terlebih, mereka juga sempat menganiaya Chareen dan menginjak perut nya. Melihat tatapan tulus Chareen tadi membuat mereka berdua tak percaya, apakah sesabar itu Chareen?


Victor juga teringat dengan kekasih Bara, dulu Victor ingin sekali membunuh nya karena dia ingin Bara merasakan seperti yang ia rasakan dulu. Kehilangan kekasih yang amat sangat dia sayangi namun wanita itu beruntung, dia pikir seperti itu tapi ternyata salah.....


Bukan wanita itu yang beruntung tetapi wanita itu belum saat nya mati, dan nyawa nya tergantikan oleh wanita lain yang ternyata sahabat sekaligus sekertaris baik Alegra, Raini.


••••


"Ale, apa semua ini sudah berakhir?" Tanya Chareen yang menyandarkan tubuhnya di pundak Alegra, saat ini mereka berada di taman rumah sakit.


"Salah, ini bukan berakhir tapi baru saja di mulai." Senyum Alegra dengan mengelus pipi Chareen.


"Di mulai?" Tanya Chareen memastikan.


"Ya, kita baru saja memulai nya. Aku pastikan, mulai sekarang kita tidak akan lagi kehilangan orang-orang terdekat, apa kau bisa menerima janji ku?"


"Tentu saja, tanpa kau berjanji pun aku sangat percaya pada mu." Senyum Chareen dengan memeluk Alegra lembut.

__ADS_1


Alegra tersenyum, dia sangat beruntung memiliki istri seperti nya. Chareen terlalu sempurna untuk nya, memiliki hati yang lapang seperti Chareen sangatlah sulit.


__ADS_2