
Kondisi penduduk Malawi sudah mulai membaik setelah rutin di rawat selama 10 hari oleh mereka, jika di hitung mungkin Chareen dan Alegra sudah pergi hampir satu bulan. Namun mereka masih belum menemukan apapun di sana seperti yang kakek nya katakan.
"Mau kemana?" Tanya Alegra pada Chareen yang keluar dari tenda nya.
"Keluar, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada Raisa." Balas Chareen.
"Jangan mendekati kaki gunung, masih ada bau obat yang sangat menyengat. Jika kau menghirup nya maka itu akan menjadi racun pada tubuh mu." Jelas Alegra dengan memeluk Chareen dari belakang dan mengecup pipi nya singkat.
"Aku tahu." Angguk Chareen dengan suara lemas nya.
"Apa kau baik-baik saja? akhir-akhir ini kau terlihat tak bersemangat sekali, apa ada yang menggangu pikiran mu?" Heran Alegra yang tidak biasanya melihat Chareen seperti ini.
"Tidak apa-apa, hanya memikirkan perkataan kakek yang masih belum kita dapatkan sampai sekarang." Elak nya karena Chareen tidak ingin sampai Alegra tahu bahwa dirinya selalu merasa tak nyaman dengan kondisi tubuhnya yang mungkin sedang sakit.
"Tak usah di pikirkan, aku akan mencari nya besok."
"Hmm.." Angguk Chareen dengan melepaskan pelukan Alegra dan pamit untuk mencari Raisa.
Keadaan di luar terlihat sangat indah karena banyak lampu-lampu kecil yang terpasang, di sana Chareen bisa melihat para penduduk Malawi yang sudah terbiasa berbaur dengan yang lainnya. Mereka terlihat hidup setelah Chareen dan yang lainnya memberikan listrik meskipun dengan cara yang alami karena mereka jauh dari pusat kota.
Meskipun begitu, bukan berarti Alegra tidak membantu nya melainkan karena memberikan listrik pada mereka membutuhkan waktu yang lumayan lama karena harus ada pembangunan terlebih dahulu.
"Kenapa kau belum istirahat?" Tanya Raisa dengan menyimpan kotak obat nya di atas meja dan segera mengikuti Chareen yang duduk di kursi depan tenda.
"Tidak apa, hanya saja lusa kita sudah harus kembali. Bagaimana dengan mu? apa kau sudah persiapkan semuanya?" Tanya Chareen.
"Sud......."
"Nona gawat!!!!! beberapa pengawal yang masih berjaga di kaki gunung semuanya tewas karena adanya pergerakan di bawah tanah, tuan Alegra menyuruh saya untuk menyampaikan hal ini pada nona agar tidak meninggalkan tempat ini." Ucap seseorang dengan tegas nya.
"Apa? bagaimana bisa? bukankah para tikus itu...." Kaget Chareen dan Raisa.
__ADS_1
"Entahlah, kami curiga ada orang di balik layar. Apapun itu alasannya yang jelas mereka ingin semua penduduk Malawi ini tiada."
"Mungkin benar apa kata kakek bahwa disini ada sesuatu yang sangat berharga!!" Gumam Chareen dengan sorot mata yang tajam.
"Char, bagaimana ini? persediaan obat sudah mulai habis...." Panik Raisa.
"Masih ada di tendaku tapi itu tidak cukup untuk semuanya, pastikan para penduduk tidak meninggalkan area ini." Ucap Chareen dengan bangkit dari duduknya.
"Baik nona..."
"Kau mau kemana?" Tanya Raisa.
"Melihat suamiku, kau tunggu saja disini jangan kemana-mana." Perintah Chareen.
"Nona, jangan.. Tuan Alegra Sud...."
"Apa aku perlu persetujuan mu untuk pergi?" Sengit Chareen membuat nyali pengawal itu ciut, bagaimana bisa dia berhadapan dengan Chareen?
Dua buah pistol sudah berada di tangannya, ada beberapa antibiotik juga di saku nya beserta suntikan yang masih utuh dan baru, Chareen hanya berjaga-jaga.
Segera mungkin Chareen pergi menuju kaki gunung, terdengar bunyi pistol yang begitu memburu. Terlihat juga kobaran api di mana-mana dan beberapa tikus yang mati terbakar, namun ada hal penting yang Chareen lihat. Tanpa sengaja Chareen masuk kedalam gua yang sebelumnya di larang oleh mereka.
Chareen menggunakan masker dan segera menyalakan senter nya untuk melihat kedalam, terdengar suara riuh yang begitu ramai dan bunyi bising yang sangat menggangu nya.
Deg!!
Jantung Chareen berdetak kencang saat melihat kumpulan tikus yang membuat nya sedikit merinding karena saking banyaknya mereka yang kini tengah memakan mayat yang mereka tarik dari luar, apakah mereka menghindari cahaya?
Dengan cepat Chareen keluar untuk mengambil obor dan melemparkannya pada mereka yang mulai pergi kesana kemari, Chareen berusaha tenang untuk melihat situasi.
Bukan! Bukan itu yang membuat Chareen heran, melainkan Chareen melihat sebuah cairan yang keluar dari dinding gua tersebut. Di cium nya cairan itu yang sebelumnya sudah di kerumuni oleh ratusan tikus itu. Tercium bau yang sangat menyengat dan Chareen pastikan bahwa tikus tersebut menjadi ganas karena memang sudah di pelihara oleh seseorang untuk melenyapkan musuh.
__ADS_1
"Sial!!! Kenapa baru sekarang aku tahu hal ini!!" Geram Chareen dengan mengepalkan tangannya saat Chareen melihat sesuatu yang berkilau di ujung goa itu yang terhalang oleh bebatuan.
Setelah mengetahui itu, Chareen segera keluar dari sana untuk mencari yang lainnya. Mereka berada di daratan bawah ternyata karena bisa Chareen lihat dari atas tebing, dengan cepat Chareen mulai menyusuri jalanan yang memang sedikit curam namun tidak terlalu berbahaya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Chareen dengan cemas saat melihat Alegra yang terduduk di bawah pohon.
"Nona?" Kaget mereka dan juga Alegra yang tak menyangka jika Chareen datang, bukankah dia menyuruh Chareen untuk tetap diam dan menunggu nya pulang? ahh dia lupa bahwa istrinya itu tidak suka di kekang.
"Tidak apa-apa, hanya sedikit kelelahan." Jawab Alegra dengan tersenyum.
Chareen menatap tajam Alegra yang nampak tak berdaya itu, dengan cepat Chareen segera menyuntikkan sesuatu pada Alegra yang hanya diam menerima perawatan dari Chareen.
"Kenapa kau sangat ceroboh? apa otak mu sudah tidak berfungsi lagi?" Kesal Chareen.
"Bagaimana bisa? aku hanya...."
"Hanya apa? mengelak lah terus aku tidak peduli, cepat gunakan ini." Ucap Chareen dengan memakaikan jaketnya pada Alegra.
"Tidak perlu, kau pakai saja. Kesehatan mu jauh lebih penting..." Tolak Alegra.
"Benarkah? baiklah, jika kau tidak mau memakai nya maka aku pun sudah siap untuk menjadi janda. Kebetulan kemarin Abim mengajak ku untuk bertemu.." Santai Chareen dengan bangkit dari hadapan Alegra yang langsung menarik tangan Chareen.
"Baiklah aku pakai..." Pasrah Alegra yang tahu arah pembicaraan Chareen.
"Memang sudah seharusnya." Santai Chareen dengan memakai kan nya pada tubuh Alegra yang nampak kedinginan mungkin karena efek obat tadi.
"Bagaimana? apa sudah berhasil memusnahkan mereka?" Tanya Chareen pada Arjun yang baru muncul dengan nafas yang ngos-ngosan dan wajah yang penuh dengan noda hitam.
"Sudah nona, kami hanya perlu menyalakan api dan memancing mereka untuk mendekati kolam yang sudah kami campurkan dengan obat." Jelas Arjun.
"Mungkin itu tidak akan berlangsung lama, tikus ini bukan berasal dari pegunungan ini melainkan kiriman dari seseorang. Kumpulkan semua pengawal karena ada hal penting yang ingin aku sampaikan." Jelas Chareen yang langsung di angguki oleh Arjun.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen nya dongg:(