
Victor terdampar di atas rerumputan yang segar setelah selesai berlatih dengan Alegra, tak ada sedikit pun waktu untuk nya istirahat. Bahkan, tangannya kini terlihat lecet dan ada noda darah yang sudah kering.
"Ini tidak ada apa-apa nya jika di bandingkan dengan kami, kau laki-laki! tidak pantas untuk terus mengeluh." Ucap Bara dengan memberikan sebotol minum pada Victor.
"Aku tidak mengeluh." Ucap Victor dengan sedikit kesal.
"Baguslah, di mana Alegra?" Heran Bara karena tidak melihat keberadaan nya.
"Aku disini, ada apa?" Tanya Alegra yang baru saja tiba dengan pakaian baru dan penampilan yang sempurna, Bara melirik Arjun dan Ricko secara bergantian. Mereka berdua yang di tatap seperti itu hanya menghela nafas.
"Penampilan selalu nomor satu." Isyarat Arjun membuat Bara mengangguk mengerti.
"Ayo kita berangkat." Ajak Bara yang di balas deheman oleh Alegra.
Mereka segera masuk kedalam mobil dengan Ricko yang membawa mobilnya, mereka sengaja hanya membawa satu mobil karena tidak ingin menarik perhatian orang-orang.
Drtttttt Drtttttttttttt Drtttttttttttt
Alegra tersenyum lebar saat nama Chareen tertera di sana, dengan cepat dia mengangkat nya.
"Halo sayang?"
"Ale, apa perusahaan mu selalu mengadakan acara tahunan?" Tanya Chareen.
"Ahh aku lupa dengan hal ini, itu memang benar... Biasanya setiap tahun papa mengadakan liburan musim panas di tempat yang sudah mereka sepakati." Jelas Alegra.
"Baik, aku mengerti."
"Kau akan ikut pergi?" Tanya Alegra dengan mengisyaratkan mereka agar tidak menimbulkan kecurigaan, kini mereka sudah sampai di tempat tujuan yang Victor arahkan.
__ADS_1
"Hmm, bukankah aku harus menggantikan mu?"
"Baiklah, jangan menyulitkan dirimu. Jika ingin bersantai maka bersantai lah, aku tidak ingin kau terluka."
"Jangan berdandan dan berpenampilan tampan! ingat, kau sudah punya aku disini..." Chareen mematikan ponselnya secara sepihak, Alegra yang melihat itu hanya menghela nafas berat.
"Ada apa?" Heran Bara yang melihat Alegra tak bersemangat lagi.
"Sepertinya Chareen sudah tidak menyukai ku lagi," Keluh Alegra yang membuat mereka berdecak kesal dan memilih untuk meninggalkan Alegra yang nampak konyol di dalam mobil.
Nampak sebuah bangunan yang nampak megah, itu adalah casino terbesar di Jepang. Victor langsung membawa mereka ke sebuah ruangan khusus yang biasa dia pesan, Victor sengaja membawa mereka ke tempat billiar agar mereka bisa lebih fokus pada tujuan.
"Tempat casino disini nampak sedikit berbeda." Jujur Ricko yang di balas anggukan oleh Alegra.
"Kau benar, kita tidak bisa mengelak dari pandangan mereka. Disini terdapat cctv tersembunyi jadi kita tidak bisa mengatakan hal sembarangan yang membuat mereka curiga." Jelas Alegra dengan mengetik di ponselnya dan di kirim kan nya ke ponsel mereka satu persatu.
Dengan kompak, mereka menatap Alegra yang memilih untuk bersantai di sana. Untung saja mereka sudah menyiapkan rencana yang matang sebelum datang kesana, sehingga mereka bisa memberikan kode saja maka semuanya akan mengerti.
Bara dan Alegra segera memalingkan wajahnya ke arah samping dengan jijik, untuk Ricko dan Arjun mereka langsung bangkit dari duduknya. Sedangkan Victor? dia hanya diam di tempatnya dengan heran, reaksi yang lainnya sangat keren.
Sepertinya, hanya dia yang suka bermain wanita. Padahal Victor ingin melihat, apakah Alegra tergoda oleh mereka? ternyata dugaannya salah, Alegra justru terlihat sangat jijik.
"Tuan, ini adalah coctail terbaru yang baru saja di kirim dari turki." Ucap salah satu wanita dengan memegang dada Alegra.
"Sorry, saya Alergi dengan wanita." Balas Alegra dengan dingin.
"Oh ayolah sayang, kau laki-laki kesekian yang bersikap mahal seperti ini tapi hal ini justru sangat cocok untuk laki-laki tampan seperti mu...." Goda nya dengan menggesekkan kedua dada nya di lengan Alegra.
BRUGHHH
__ADS_1
"Menjijikkan!" Gumam Alegra dengan mengelap lengannya menggunakan tisu dan segera pergi ke kamar mandi setelah mengisyaratkan sesuatu pada Arjun.
"Keluar! jika tidak, kalian akan sangat menyesal!" Ucap Victor dengan dingin, dia sedikit merinding saat melihat tatapan tajam dan dingin dari Alegra. Oleh karena itu Victor mengusir mereka karena tidak ingin di salahkan oleh nya.
"T-tapi tuan...."
"...." Victor hanya diam dengan menatap mereka datar, hingga mau tidak mau mereka pun pergi meskipun sangat enggan meninggalkan tempat itu. Bukankah itu sebuah keberuntungan bagi mereka? benar saja karena di dalam ruangan itu semuanya sangat tampan dan memiliki tubuh yang sempurna, siapa yang tidak ingin menemani mereka?
"Sial! aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Chareen jika dia tahu aku disini dan berurusan dengan mereka...." Geram Alegra dengan mengganti kemeja nya dengan kemeja hitam yang kini ia gulung hingga ke siku.
Otot tangannya terlihat sangat jelas karena Alegra sangat geram, Arjun yang melihat itu hanya diam karena dia sudah tahu akhirnya akan jadi seperti ini.
"Ale, apa disini ada cctv?" Tanya Arjun dengan berbisik.
"Ada, bukankah mereka sangat keterlaluan? melihat dan memantau privasi orang bukankah itu sama saja dengan kejahatan?" Balas Alegra dengan membasuh wajahnya.
"Hhh... Aku akan menyuruh anak buah kita untuk meretas dan mematikan cctv disini." Ucap Arjun dengan mengeluarkan ponselnya namun segera Alegra cegah.
"Jangan, justru jika cctv mati mereka akan sangat penasaran dan langsung menargetkan kita. Sebaiknya kita segera bergegas, berada di tempat ini akan membuat otak kita menurun." Ucap Alegra dengan keluar dari dalam kamar mandi.
Di sana sudah tidak ada lagi sekumpulan lalat yang terus mengerubungi nya tadi, di tatapnya Victor dengan tajam hingga membuat laki-laki itu menelan ludahnya bulat-bulat.
Arjun memberikan kode pada Bara dan Ricko agar segera bersiap, mereka berlima langsung bergegas untuk pergi ke aula. Di sana sangat ramai dan tercium bau alkohol yang begitu menyengat.
"Dari arah jam 12 ada yang terus memantau kita, bersikaplah seperti biasa..." Kode Alegra pada mereka berempat.
Mereka segera berpencar, Alegra memilih untuk duduk di salah satu sofa dengan tangan yang memegang wine. Sejak kedatangannya kesana, Alegra terus di perhatikan oleh salah satu wanita yang menatapnya penuh minat.
Wanita dengan dres mini berwarna merah, membuat nya terlihat seperti wanita nakal tapi semuanya tidak ada apa-apa nya jika di bandingkan dengan Chareen yang terus mengerang di bawah kekuasaannya. Mengingat itu, Alegra tersenyum tipis. Dia sangat merindukan Chareen dan ingin menjenguk anak nya, tapi dia tidak bisa kembali sebelum tugas nya selesai.
__ADS_1
"Tuan, suatu kehormatan bagi saya untuk bisa menemani anda." Ucap wanita itu dengan mendekati Alegra.