Chef Tampan Pilihanku

Chef Tampan Pilihanku
Piknik


__ADS_3

Hari ini Chareen berniat untuk mengajak teman-teman nya piknik di taman belakang mansion nya, di sana merupakan tempat yang sangat nyaman untuk bersantai. Terlebih, di sana juga pemandangan nya sangat indah karena banyak sekali bunga.



Ini adalah dress yang Chareen kenakan, terlihat cocok untuk dirinya.



Ini dress yang di kenakan oleh Chaty



Ini dress yang di kenakan oleh Raini



Sedangkan ini, di kenakan oleh Claire.


Mereka berempat sibuk menata makanan di atas kain yang baru saja di bentangkan oleh Chaty, mereka mulai bercerita satu sama lainnya. Untuk Claire sendiri, dia terus-menerus di ejek dan di goda oleh ketiga nya karena dekat dengan sepupu Chareen.


"Kau tahu? pagi tadi aku melihat William yang nampak kesal setelah melihat keberadaan mu dengan Michael, hahaa aku sangat puas sekali." Tawa Raini yang di balas senyuman kecil oleh Chareen.


"Sebenarnya... Dia tidak mau melepaskan aku kak, aku bingung harus bagaimana." Tunduk Claire.


"Sudahlah, semuanya sudah benar. Tidak baik laki-laki sepertinya mendapatkan dirimu yang begitu sempurna, aku pun akan melakukan hal yang sama untuk Garel jika dia memiliki wanita lain di sampingnya meskipun dia bilang itu adalah sahabat nya." Tegas Chaty.


"Chaty benar, bagaimana menurutmu Char?" Tanya Raini pada Chareen yang sibuk membaca novel.


"Jangan hanya berpacu pada satu laki-laki, kecuali jika laki-laki itu pantas kau perjuangkan." Ucap Chareen dengan tersenyum manis pada Claire.


"Baik kak." Angguk Claire.


"Aku mengenal William bukan satu atau dua tahun, tapi sudah belasan tahun. Dia memang baik dan bertanggung jawab tapi aku tidak tahu dalam urusan percintaan dia malah bodoh seperti ini.... Aku tidak ingin menyalahkan nya juga, karena aku tidak berhak untuk mengatur cinta nya. Aku hanya memberikannya nasihat dan dukungan agar dia tidak menyesal di kemudian hari." Tutur Chareen dengan menatap Claire yang hanya diam.


"Kau memang hebat Char, bagaimana bisa ada wanita seperti mu di dunia ini?" Keluh Raini membuat Chareen terkekeh.

__ADS_1


"Terimakasih kak, tapi aku sudah memutuskan..... Aku akan menyerah, aku tahu.... Aku tidak akan pernah menang jika harus melawan dengan masa lalu nya." Tulus Claire yang mendapat tepukan tangan dari Chaty dan Raini.


"Good girl!! ini baru kau..." Kompak keduanya.


"...." Claire hanya tersenyum dengan menundukkan kepalanya.


•••


Alegra terbangun dari tidurnya setelah sinar matahari yang menggangu pandangan nya, dia melihat ke arah samping namun dia tidak menemukan sosok Chareen di sampingnya. Di lihatnya jam yang menunjukkan pukul 11 siang, Alegra langsung terlonjak kaget dan terburu-buru untuk pergi mandi.


Setelah beberapa menit berlalu, Alegra keluar dengan pakaian santai nya. Dia melihat Yuna yang sedang bersantai di sana dengan saudara saudara nya yang lain.


"Ma, di mana Chareen?" Tanya Alegra dengan penasaran.


"Ahh Chareen, dia bilang ingin piknik di taman belakang dengan teman-temannya. Kau tak perlu khawatir..." Balas Yuna dengan tersenyum.


"Tapi, bagaimana dengan infus nya?" Cemas Alegra.


"Tidak apa-apa, dokter sudah melepaskan nya dan mengatakan bahwa Chareen sudah baik-baik saja." Jelas Yuna yang mengerti kekhawatiran Alegra.


"Baik.."


Setelah mengatakan hal tersebut, Alegra langsung menuju mobilnya. Namun sebelum itu, Alegra berpapasan dengan Victor yang menatapnya dalam. Alegra menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum kecil.


"Halo saudara sepupu, jangan terlalu tajam menatap ku. Ingat, di balik tajam nya pisau ada peluru yang lebih menyeramkan!" Bisik Alegra dengan menepuk pundak Victor yang nampak mencerna apa yang Alegra katakan.


Untuk Alegra sendiri, laki-laki itu hanya terkekeh. Jika Victor pintar, mungkin dia sudah mengerti apa yang dia katakan sebelumnya. Kecuali dia bodoh, dia tak akan mungkin mengerti arti di balik kata-katanya itu.


"Kakak? apa yang kau lakukan?" Heran Michael saat melihat sosok Victor yang menggenggam erat gelas nya.


"Kenapa Chareen bisa menikah dengan laki-laki tak sopan sepertinya?" Kesal Victor membuat Michael menaikkan sebelah alisnya heran.


"Siapa? kak Alegra maksud kakak?" Tanya nya untuk memastikan.


"Siapa lagi! dia benar-benar tak beretika!"

__ADS_1


"Ehh benarkah? tidak kok, dia nampak baik dan sopan kok..."


"Kau!! siapa kakak mu sebenarnya? kenapa kau terus membela nya?" Kesal Victor, Michael hanya menggaruk tengkuknya saja yang tidak gatal itu.


"Kak Alegra memang baik kak, bahkan dia mau bekerja sama dengan perusahaan ku tanpa syarat apapun." Jelas nya yang langsung membuat Victor bungkam.


Meskipun perusahaan keluarga mereka tidak sebesar milik Chareen, namun itu juga tidak bisa di sebut sebagai perusahaan kecil. Hanya saja, mereka memang sederhana.


•••


Alegra melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia segera menuju tempat yang baru saja di berikan oleh Bara. Tempat yang jalannya sangat sepi dan terdapat banyak sekali pohon besar di sekelilingnya, Alegra merasa kagum dengan keindahan tempat tersebut yang di mana banyak sekali tempat untuk berlatih anggota nya.


"Lama sekali!" Keluh Bara dengan menatap tajam Alegra yang hanya menunjukkan cengiran nya saja.


"Apa tidak apa-apa kita datang kemari tanpa persetujuan Chareen?" Tanya Alegra dengan cemas.


"Entah, ini pun pertama kalinya aku datang.... Tapi tenang saja, ada Ricko yang akan memandu kita." Balas Bara dengan tersenyum pongah, ingin sekali rasanya Alegra menjitak kepala Bara. Tapi apa daya, laki-laki itu merupakan adik dari mertua nya.


Interior dari tempat itu sangat unik dan terkesan sangat menyatu dengan alam yang berwarna hijau, di sana Alegra tak sengaja melihat foto Chareen yang baru saja selesai berlatih. Sosok Chareen yang nampak imut dan polos dengan keringat dan luka di wajah nya, namun tatapan yang di keluarkan nya sangat tidak cocok dengan usianya yang masih kecil itu.


"Ini foto Chareen saat dia berusia 8 tahun, hebat bukan? di saat anak seusianya bermain tapi Chareen justru sudah menjadi seorang pembunuh." Ucap Bara dengan tersenyum pada Alegra.


"Ya, dia sangat hebat!" Kagum Alegra.


"Ini adalah ruangan istirahat nona, jika malas pulang dia akan menginap disini." Tunjuk Ricko pada sebuah pintu bercat hitam.


Di buka nya pintu itu, terlihat ranjang dengan ukuran besar dengan selimut berwarna hitam juga yang nampak rapih dan bersih. Semua hiasan di dalam serba warna hitam.


"Apa dia penyuka warna hitam?" Gumam Bara.


"Sepertinya memang begitu, di dalam lemari pakaian pun kebanyakan pakaian nya berwarna hitam." Jelas Alegra yang mengingat jika setengah dari isi lemari Chareen di penuhi dengan warna hitam.


"Dan ini... Ini adalah ruangan tuan besar, tak ada yang berani untuk masuk kedalam selain nona Chareen sendiri yang sudah di perbolehkan untuk keluar masuk ruangan nya."


Mereka berdiri di depan pintu bercat hitam dengan hiasan tengkorak di atas pintu nya, di lihat dari luar pun mereka bisa merasakan aura yang besar meskipun itu hanya ruangan saja.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen nya dong, author perlu dukungan nihh


__ADS_2