
Raisa merasa heran dengan sikap Chareen yang menurut nya sangat aneh dan berbeda dari biasanya, semenjak keluar dari dalam tenda dia melihat Chareen yang nampak lemas dan tidak bergairah sedikit pun. Apa Chareen tidak bisa tidur semalam? mungkin benar karena dirinya tidak menemukan Chareen pagi tadi.
"Apa kau baik-baik saja? aku lihat kondisi mu kurang fit, apa karena kau tidak tidur semalam?" Tanya Raisa dengan memakai sepatu nya.
"Aku baik-baik saja, hanya masal....Akhhh sial!! pinggangku sakit sekali!" Kesal Chareen membuat Raisa tersentak oleh teriaknya itu.
"Apa perlu aku periksa?" Tanya Raisa dengan sedikit cemas.
"Tidak usah." Balas Chareen dengan menghela nafas panjang.
Harusnya dia dan Raisa sudah pergi 2 jam yang lalu, tapi gara-gara dia menyinggung suaminya hingga berakhir seperti sekarang. Bahkan untuk berjalan pun Chareen merasa ragu, tubuh nya terasa ngilu dan nyeri terlebih di bagian intimnya yang nampak aneh.
"Nona..." Sapa Arjun saat Chareen dan Raisa masuk kedalam mobil.
"Jangan mengatakan hal yang aneh-aneh, cepat jalan!" Ucap Chareen dengan memejamkan matanya.
"Baik." Patuh Arjun.
Raisa melihat dua orang itu bergantian, sepertinya ada hal penting yang ia lewatkan. Chareen sibuk dalam tidurnya, sedangkan Raisa? dia sibuk menuliskan data-data yang ia catat untuk di laporkan.
•••
"Tidak usah, kita tunggu kedatangan mereka dulu. Banyak sekali hal yang harus kita diskusikan dengan mereka." Ucap Alegra dengan tegas.
Bara melirik Alegra yang nampak sangat bersemangat, tapi berbeda dengan keponakan nya tadi yang sempat ia lihat. Bara bukanlah orang yang polos atau tidak mengerti hal yang seperti itu, namun dia tidak menyangka jika Alegra tidak bisa menahan nya dan bahkan sampai melakukan nya di tempat seperti ini yang ramai orang meskipun mereka tidak mendengar apapun.
"Ada apa?" Tanya Alegra pada Bara yang masih melihat nya.
"Jangan terlalu bersemangat, ingat kondisi Chareen untuk kedepannya. Raisa bilang jika kau terlalu kasar akan membuat rahimnya terluka, apa kau tidak ingin segera memiliki anak?" Tanya Bara depan tangan dan mata yang sibuk pada kertas di tangannya.
Deg!
Alegra terdiam, dia tidak sadar jika hal yang ia lakukan bisa membuat Chareen terluka. Terlebih dia ingin segera memiliki anak dengan Chareen, tapi jika sedang bersama Chareen dia tidak bisa mengontrol tubuh nya.
"Tuan, apa yang harus kita lakukan? sebagian dari penduduk tidak ada yang mendengarkan ucapan kami. Mereka terus berkeliaran di mana-mana hingga menambah banyak orang yang terkena virus nya." Lapor Nick pada Alegra dan Bara.
__ADS_1
"Kita harus mengunci wilayah wilayah yang terpengaruh untuk mencegah orang-orang yang tinggal di area sekitarnya yang terjangkit virus itu." Ucap Bara dengan tegas.
"Juga biarkan setiap wilayah membuat zona karantina untuk orang-orang sakit, dengan begitu lebih kecil kemungkinan orang-orang yang sehat akan terjangkit virus itu. Saat yang sakit di karantina, kita perlu dokter untuk mengobati penyakit nya, jika mereka terkena virus itu, rawat mereka. Jika tidak, biarkan itu di dalam sistem imunnya. dengan begitu virus bisa di hentikan." Lanjut Alegra.
"T-tapi..." Heran Nick.
"Obat yang kita bawa tidak sebanyak yang kau kira, jika masih ada orang yang melanggarnya maka bunuh saja mereka, karena kita tidak bisa membuat nya menjadi lebih buruk lagi!!! Akan sangat berdosa bagi orang orang yang taat namun malah terkena imbasnya." Ucap Alegra dengan suara datar nya.
"Benar, bunuh saja orang yang tidak menuruti perintah. Kasihan pada mereka yang berjuang untuk hidup." Sambung Bara.
"Baik, akan kami lakukan." Ucap Nick dengan berlalu pergi.
"Sampai sekarang aku masih belum tahu apa yang kakek maksud kan." Ucap Alegra tanpa sadar.
"Maksud mu dengan mengirimkan Chareen kesini?" Tanya Bara memastikan.
"Ya, kakek bilang ada hal menarik disini yang bisa Chareen dapatkan. Entah apa itu yang jelas sampai sekarang aku masih belum mengerti." Jelas nya.
"Kakek memang tidak bisa di tebak, dia sangat suka mempersulit masalah. Baginya membuat kami menderita sangatlah menyenangkan untuk nya." Keluh Bara yang ingat akan tingkah dan prilaku kakek nya yang kejam dan tidak berperasaan itu.
"Tuan, gawat!!! ternyata makanan tikus itu adalah mayat dari para penduduk, kami tak sengaja memasuki sebuah gua yang ada di dekat kaki gunung. Di sana banyak mayat yang sedang di grogoti oleh tikus tikus itu." Lapor salah seorang tentara.
"APA? Bagaimana bisa kalian masuk ke area yang sudah kami larang?" Marah Alegra.
Para tentara itu hanya bisa diam dengan menundukkan kepalanya, mereka pikir itu bukanlah masalah besar jadi mereka datang kesana untuk memastikan nya. Siapa yang tahu, mereka di suguhkan oleh pemandangan yang buruk!!
"Kalian pergilah ke tenda dokter, periksa diri kalian sendiri! Jangan sampai kalian sendiri yang menyebarkan virus tersebut pada orang lain." Dingin Bara.
"B-baik tuan..." Patuh mereka.
"Raisa bilang kita harus menjaga imun kita, jangan sampai tubuh kita lemah. Minum obat yang sudah Raisa berikan, cepat!" Perintah Bara yang langsung di angguki oleh Alegra.
"Sial! Bagaimana mungkin mereka begitu bodoh? bukannya meringankan pekerjaan mereka justru menambah beban kita." Kesal Alegra.
"Itulah mereka, selalu menggunakan pangkat untuk di pamerkan tanpa tahu akibat yang akan mereka terima." Bara hanya bisa mengusap wajahnya kasar, awalnya Bara sangat keberatan dengan kedatangan para tentara itu begitupun dengan Alegra namun mereka tetap berusaha untuk bisa ada di sana.
__ADS_1
•••
"Ehh, kenapa kau pake makser?" Heran Raisa pada Arjun dan Chareen.
"Kau lupa jika aku seorang model terkenal? bagaimana jika mereka mengenali ku disini? bukankah itu mengundang gosip hangat?" Jelas Chareen.
"Begitu pun dengan ku, mungkin saja sebagian dari mereka ada yang tahu mengenai posisi ku." Sambung Arjun.
"Ahh baiklah.." Angguk Raisa.
Mereka memasuki sebuah toko makanan, mereka memesan ruangan pribadi karena mereka tidak ingin terganggu oleh kebisingan yang ada.
Raisa segera melakukan sambungan telepon pada rekannya untuk menanyakan tentang penawar nya, begitu pun dengan Chareen yang meminta beberapa kebutuhan untuk mereka di sana. Untuk Arjun? laki-laki itu sibuk makan di pojokan dengan ekspresi yang sangat santai seperti tak ada masalah dalam hidupnya.
"Ya, aku tidak mau tahu! malam ini semua yang aku katakan sudah harus ada di sana, apa kalian mengerti?" Tanya Chareen dengan tegas.
"Mengerti nona, apa ada hal lain lagi yang nona butuhkan?"
"Sudah cukup."
Chareen menghela nafas panjang, untungnya ponsel yang ia bawa masih bisa ia gunakan sebelum akhirnya mati karena kehabisan baterai. Chareen segera mencharger nya, begitupun dengan ponsel milik Alegra yang ia bawa untuk di charger.
"Bagaimana? apa sudah keluar hasilnya?" Tanya Chareen pada Raisa yang baru saja menutup ponselnya.
"Ya, mereka akan mengirimkan nya sekarang. Kemungkinan besok pagi baru datang, tapi..... Jumlah nya tidak terlalu banyak karena waktu yang kita butuhkan sudah habis. Mereka bisa membuat nya lagi dan kita harus menunggu nya kurang lebih 2 Minggu." Jelas Raisa membuat Chareen mengangguk mengerti.
"Tidak masalah, kita akan melihat siapa saja yang harus di selamat kan lebih dulu."
"Baik."
Chareen dan Raisa saling lirik, mereka dengan kompak melihat ke arah Arjun yang nampak terlelap dengan kepala yang bersandar pada jendela dan mulut yang terbuka lebar, bahkan di mulutnya masih terisi makanan begitupun dengan tangannya yang masih memegang sendok garpu.
"Hmm, kau dari mana mendapatkan spesies seperti nya?" Tanya Raisa dengan menunjuk Arjun.
"Entah, suamiku yang menemukan nya. Mungkin dia tidak sengaja memungut nya di jalanan." Balas Chareen dengan santai.
__ADS_1