Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Kebingungan Semua Orang


__ADS_3

Kemal dan Alima berpamitan pulang karena malam semakin larut. Faza merengek ingin tetap tinggal dan menjaga Murad, tapi papa dan mamanya tidak memperbolehkan. Karena tidak pantas rasanya seorang anak gadis harus menemani pria tanpa sebuah ikatan. Walau si pria itu tidak sadar.


Setelah kepergian keluarga Kemal, Erhan meminta kepada kedua anaknya untuk menjaga kakaknya malam ini. Karena dia sudah sangat merindukan sang istri.


"Rayyan, Zoya. Bisakah malam ini kalian menjaga Murad. Daddy dan Mommy akan menginap di hotel sebelah rumah sakit ini. "


Nisa yang mendengar itu langsung melotot ke arah suaminya. Ia tidak menyangka suaminya akan berkata seperti itu kepada anak-anak nya.


"Apakah daddy sudah merindukan mommy? " sindir Rayyan dengan menaik turunkan alisnya menggoda daddy dan mommynya.


"Ya, bisa dibilang seperti itu. Titip kakakmu ya. " Setelah mengatakan itu, Erhan lalu menarik tangan Nisa agar segera mengikutinya keluar dari ruangan rawat Murad


Rayyan dan Zoya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah kedua orang tuanya itu. Mereka akhirnya pasrah bila harus berjaga malam ini, demi kebahagiaan mommy dan daddynya. Rayyan mengambil posisi tidur di sofa, sedangkan Zoya tidur di ranjang yang sudah tersedia.


"Ray, apa nanti setelah sadar kak Murad akan mau menerima Faza? " tanya Zoya kepada saudara kembarnya itu.


"Entahlah. Semoga saja. Tapi Faza sudah mengantongi restu mommy dan daddy. Tinggal kita lihat saja usahanya menarik perhatian kak Murad. "


"Benar juga. Berani sekali dia ya, mengungkapkan perasaannya pada semua orang. " Zoya tidak habis pikir dengan calon iparnya itu.


"Seseorang akan berani saat dia sudah merasa takut kehilangan. Kau tidak dengar tadi, katanya dia pernah merasa sakit hati cemburu dan kehilangan saat kak Murad pacaran bahkan tunangan sama Diandra. Aku kira, Faza takut kehilangan kak Murad lagi. Karena itu dia berani mengatakannya. "


"Kau benar. Wah, aku nggak pernah tau kalau adik kecil kita menyukai kakak kita. " seru Zoya dengan bahagia.


"Lalu bagaimana dengan Ezra. Aku kira dia juga menyukaimu. " kata Rayyan dengan santainya.


"Apaan sih, nggak mungkin dia suka sama aku. umur juga tuaan aku. Apalagi sikapnya yang dingin itu. " Zoya membayangkan sikap dingin Ezra sambil bergidik. "Mana ada wanita yang suka sama dia kalau sikapnya seperti itu, nggak ada hangat-hangatnya sama sekali. "


Mereka berdua cekikikan di malam yang tengah larut. membicarakan dua bersaudara yang memiliki sifat berbeda. Ezra yang dingin sedangkan Faza yang ceria. Benar-benar dua kepribadian yang berbeda.


Akhirnya kedua bersaudara itu terlelap, setelah puas membicarakan Ezra dan Faza. Saat kedua saudaranya tertidur, Murad membuka matanya, ia mencoba duduk tapi sangat sulit. Akhirnya ia hanya bisa terbaring lagi. Mencoba menggerakkan kaki nya tapi benar-benar tidak bisa, sakit sekali rasanya. Ingin menangis karena keadaan, tapi apalah daya ini semua sudah terjadi padanya.


Sekarang yang harus ia lakukan adalah menghadapi hari esok. Murad sudah berjanji kepada sang mommy kalau besok ia akan mulai membuka matanya. Dan akan menghadapi kenyataan hidupnya dengan keadaan yang tidak sempurna.


*********

__ADS_1


Dihotel.


Pasangan suami istri yang tak lagi muda itu, akhirnya telah menyelesaikan hasrat mereka setelah satu minggu berpuasa, karena harus menemani sang anak di rumah sakit. Setelah berbagi peluh, Nisa dan Erhan tidur dalam satu selimut yang sama masih dengan keadaan tanpa sehelai benangpun.


Erhan ingin memejamkan matanya, tapi suara Nisa membuyarkan keinginannya itu. Sepertinya ada hal yang ingin disampaikan sang istri.


"Mas, apa benar kau setuju kalau Faza jadi menantu kita. "


"Tentu saja, sayang memangnya kenapa? Kita sudah mengenalnya sejak kecil. Kita juga sudah tau keluarganya yang adalah sahabat kita sendiri. Jadi, tidak perlu dikhawatirkan lagi. Biarkan Faza mengejar cinta Murad setelah ini. "


"Syukurlah kalau kau benar-benar merestui Faza, aku jadi lega mendengarnya. Sekarang kau percaya kan kalau Faza benar-benar mencintai anak kita? "


"Iya aku percaya. Sekarang tidurlah. Aku sudah lelah sayang. " Erhan memeluk istrinya itu dengan sangat erat agar segera tidur di dekapannya.


Keesokan paginya di rumah sakit, Zoya dan Rayyan yang baru terbangun dari tidurnya, dikejutkan dengan Murad yang sudah membuka matanya dengan sempurna. Mereka terkejut sekaligus bahagia, melihat kakaknya yang sudah sadar. Rayyan langsung menghubungi daddynya, sedangkan Zoya segera memencet tombol panggil agar dokter segera datang dan memeriksa keadaan kakaknya.


"Dad, cepat datang ke rumah sakit, kak Murad sudah membuka matanya. Dia sadar dad. " pekik Rayyan histeris, karena dia sangat senang kakaknya sudah sadar.


"Baiklah, mommy dan daddy akan segera kesana."


Sedangkan dokter yang di panggil Zoya pun segera datang untuk melihat keadaan pasien. Kebetulan dokter yang berjaga adalah dokter Evan. Mata dokter Evan bersibobrok dengan mata Murad, yang langsung mengedipkan matanya. Memberi isyarat kalau dia sudah tidak menyembunyikan kesadarannya lagi.


"Semuanya sudah normal dan stabil tuan, nona. Hanya tinggal kaki tuan Murad yang masih memerlukan waktu pemulihan."


Dokter Evan menjelaskan keadaan Murad secara mendetail kepada Rayyan dan Zoya, sesekali mata dokter Evam melirik ke arah Zoya yang terus menggenggam tangan kakaknya itu.


"Untuk makanan, apakah saja yang boleh dimakan dan tidak dokter. " tanya Zoya pada akhirnya, setelah dokter Evan memberikan penjelasannya.


"Untuk sementara, biarkan tuan Murad makan makanan dari rumah sakit dulu nona. kami akan memberikan makanan terbaik untuk memulihkan keadaan tuan Murad. "


"Baiklah, tolong. Berikan pelayanan terbaik untuk kakakku. " ujar Zoya kepada dokter Evan.


"Tentu saja, nona. "


Dokter Evan kemudian pamit undur diri, dan segera keluar dari kamar inap Murad.

__ADS_1


Setelah kepergian dokter Evan Zoya langsung memeluk kakak kesayangannya itu. Dia menangis sejadi-jadinya di pelukan Murad.


"Kakak... aku merindukanmu. Kakak terlalu lama tidur. Aku jadi tidak bisa bermanja dengan kakak. " rengek nya dipelukan Murad.


Murad tersenyum dan membelai kepala adiknya itu dengan lembut. Memang Zoya adalah adiknya yang paling manja kepadanya. Apapun yang terjadi padanya, dia pasti menceritakan kepada Kakaknya itu.


"Sakit Zoya jangan terlalu erat. " rintih Murad saat adiknya memeluknya dengan erat.


Zoya langsung melepaskan pelukannya. "Maafkan aku, kak. "


"Ray, bisa bantu aku duduk, punggung ku sakit sekali. " Murad meminta bantuan adik laki-laki nya untuk duduk.


Rayyan dengan cekatan langsung membantu kakaknya itu untuk duduk.


"Apa kaki kakak tidak bisa di gerakkan? " tanya Rayyan penasaran.


"Sakit sekali rasanya. " kata Murad sambil memejamkan matanya.


Rayyan langsung memeluk kakaknya itu. "Sabar kak. Kakak pasti sembuh. Kami semua akan membantu kakak dalam penyembuhan. "


"Terimakasih, Ray. " Murad menepuk-nepuk punggung adiknya itu.


Murad memang menyayangi semua adiknya, tidak hanya adik kembarnya. Tapi juga Ezra dan Faza yang sudah dia anggap adik sendiri.


Erhan yang baru datang langsung masuk kedalam ruangan, dan langsung memeluknya anaknya itu.


"Syukurlah kau sudah sadar, nak. Daddy bahagia sekali. " Erhan melepaskan pelukannya dan memberikan ruang kepada Nisa untuk melepaskan kerinduannya.


Tapi anehnya, Nisa hanya bersikap biasa saja sejak mendengar kabar Murad sadar. Hingga sekarang saat sudah di rumah sakit pun Nisa bersikap biasa saja. Tidak seheboh, saat dia mendnegar Murad kecelakaan, atu kemarin saat menceritakan kalau Murad tidak bisa berjalan.


Nisa mendekati Murad dan memeluknya, tanpa air mata tapi sebuah senyuman lebar.


"Terimakasih, mom. "


"Sama-sama sayang, mommy akan melakukan apapun untukmu. "

__ADS_1


Erhan, Rayyan dan Zoya saling berpandangan, tidak mengerti dengan keadaan yang mereka lihat.


Sebuah pertanyaan besar ada di benak mereka masing-masing saat ini.


__ADS_2