Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Nasehat Seorang Kakak


__ADS_3

Tok.. tok.. tok..


Pintu kamar Zoya diketuk Rayyan. Dan tak lama, Zoya membuka pintu kamar nya. Dia terkejut saat melihat ada Rayyan yang mendorong kursi roda kakaknya Murad.


"Tumben, ada apa? " tanya Faza yang masih bingung, karena tumben sekali kakaknya itu datang ke kamarnya.


"Zo, ini kak Murad ingin ngomong sama kamu. Aku mau ke toilet. " ujar Rayyan sambil berlari ke kamarnya.


"Dia kenapa? " tanya Zoya


Murad hanya menggedikkan bahunya. "Bawa aku masuk ke kamarmu, ada yang ingin kakak bicarakan padamu. "


Mendengar itu Zoya langsung membawa kakaknya masuk kedalam kamar, dia lalu duduk di sofa di samping kakaknya.


"Ada apa kak? tumben kakak ke kamarku? " Tanya Zoya yang masih belum mengerti maksud kedatangan kakaknya di kamarnya.


"Ada yang ingin kakak bicarakan denganmu, Zo. "


Zoya mengernyitkan keningnya. "Tentang? "


"Evan."


Sebuah nama yang disebutkan sang kakak membuatnya ketar ketir. Pasti ada sesuatu yang serius yang akan kakaknya katakan.


"Kenapa dengan dokter Evan kak. " tanya Zoya pura-puta tak mengerti


"Kakak ingin tau, Sejauh mana hubunganmu dengan dokter Evan? " Tanya Murad dengan lembut, sambil menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga Zoya.


"Mmmm.... seperti yang aku katakan kemarin, aku dan dokter Evan hanya berteman. Kami hanya say hay di telpon dan cuma pernah makan satu kali, itupun karena aku harus membayar hutang padanya? " jelas Zoya kepada kakak nya itu.


Murad mengernyitkan keningnya mendengar kata hutang. "Hutang... hutang apa? "


Murad merasa tak percaya kalau sampai adiknya itu berhutang, karena dia tau berapa dolar uang yang masuk ke rekeningnya tiap bulan hasil dari butik nya. belum lagi uang transferan dari perusahaan. Karena Zoya juga memiliki beberapa saham di perusahaan.


"Hutang balas budi kak. Karena waktu itu Rayyan meninggalkanku. "


Zoya lalu menceritakan kepada kakaknya asal usul dia memiliki hutang dengan Evan dan akhirnya hubungan mereka bisa dekat seperti sekarang.


"Jadi secara tidak langsung Rayyanlah yang sudah membuatku dekat dengan dokter Evan. " kata Zoya dengan wajah di tekuk.


"Baiklah, sekarang kakak mengerti. Dan Sekarang katakan pada kakak. Bagimana perasaanmu kepada dokter Evan? " tanya Murad yang mulai mengorek informasi tentang perasaan adiknya itu.


Zoya jadi salah tingkah ditanya seperti itu oleh kakaknya. Sebelumnya sang kakak tidak pernah bertanya seperti ini kepadanya.


"A... aku.. aku... " Zoya merasa gugup menjawab pertanyaan kakaknya.


"Katakan saja Zo, tak perlu gugup. Aku adalah kakakmu, aku harus tau dengan siapa adikku sedang dekat saat ini. Agar kakak bisa melindungimu jika sesuatu terjadi padamu. " ujar Murad dengan lembut karena dia melihat kegugupan di mata Zoya.

__ADS_1


"Awalnya cuma biasa saja kak, tapi sekarang aku merasa nyaman dengan ya. " kata Zoya pada akhirnya.


Murad menghembuskan nafasnya. Ternyata level yang sudah di rasakan oleh adiknya adalah level nyaman.


"Baiklah, kakak hanya ingin berpesan kepadamu, jika kamu sudah merasa nyaman dengan seseorang, kamu harus bisa menjaga diri. Jangan sampai kamu dibohongi atau dimanfaatkan sehingga bisa membuatmu terluka. Kamu tau kan siapa kita? Siapa keluarga kita. Kakak tidak ingin melihat adik perempuan kakak yang cantik ini terluka hanya karena seorang pria. " Murad memberikan nasehat yang panjang untuk adik perempuan nya itu.


Zoya langsung memeluk Kakaknya itu dengan erat.


"Tentu kak aku akan menjaga diriku dengan baik. Aku akan mengenal Evan terlebih dahulu sebelum menjatuhkan hatiku padanya. " ujar Zoya masih dipelukan Kakaknya.


"Baiklah kalau begitu, antarkan kakak ke kamar. Mungkin Faza sudah menunggu kakak. Dan ingat Zo, Kalau ada apa-apa di manapun kamu berada. kamu harus segera menghubungi ku ataupun Rayyan. "


"Iya kak."


Zoya lalu mendororng kursi roda Murad keluar dari kamarnya dan menuju kamar kakaknya. Dilihatnya Faza yang baru keluar dari kamarnya, dan langsung menerima kursi roda suaminya.


"Apa sudah selesai kak? "


" Sudah. Sekarang Ayo kita sarapan. Perutku sudah lapar. " Murad seperti anak kecil yang merengek manja pada ibunya.


"Baiklah, ayo. " Faza langsung mendorong kursi roda suaminya untuk turun.


Dibawah, Daddy Erhan sedang berkutat dengan laptopnya pagi-pagi begini. Sedangkan mommy sibuk menyiapkan sarapan dimeja makan. Walau bukan dia yang memasaknya.


"Sayang, aku ingin dengan daddy, kamu bisa bantu mommy menyiapkan sarapan dulu. "


Erhan menggeleng kan kepalanya melihat tingkah menantunya itu.


"Sedang mengerjakan apa, Dad? " tanya Murad menyapa daddy nya.


"Oh, kamu sudah turun. Daddy sedang memeriksa dokumen kerja sama dengan perusahaan tuan Simon. " kata Erhan sambil membetulkan kaca matanya.


"Perusahaan Simon yang hampir bangkrut itu? "


"Iya." Jawab Erhan singkat


"Untuk apa kita bekerjasama dengan perusahaan itu? "


"Tidak apa-apa nak, itung-itung membantu mereka. Bagaimanapun perusahaan mereka dulu yang selalu mendukung perusahaan kita. "


Murad mendesah pasrah, dia sudah tidak bisa bicara lagi kalau menyangkut balas budi.


"Terserah daddy, deh. Asalkan tidak merugikan kita nantinya. " ujar Murad pada akhirnya.


Terdengar suara langkah kaki turun dari lantai atas, Ternyata Zoya dan Rayyan datang bersamaan.


"Dad,"

__ADS_1


sapa Rayyan yang ikut bergabung dengan daddy dan kakaknya. Sedangkan Zoya menuju dapur membantu mommy dan faza menyiapkan makanan.


"Bagaimana proyek dengan tuan Simon dad, apa kah daddy menyetujui nya? " tanya Rayyan dengan semangat.


Melihat adiknya yang semangat membuat Murad menarik keningnya ke atas. "Tumben sekali dia bersikap seperti itu. " pikir Murad.


"Kenapa? apa ada yang menarik dengan proyek ini? " tanya Erhan yang juga menangkap gelagat aneh anak kembarnya itu.


Rayyan hanya nyengir kuda mendapat tatapan aneh dari daddy dan kakaknya.


"Apa kalau aku jujur daddy bakal menyetujui proyek itu? "


"Ya dilihat dulu dong, Ray. Nggak boleh asal memutuskan. " ujar Murad kesal dengan tingkah adiknya itu.


Lagi-lagi, Rayyan hanya tersenyum menyebalkan.


"Ini tentang anaknya tuan Simon. "


"Apa? " pekik Murad dan Erhan bersamaan.


Membuat para wanita yang ada di meja makan langsung mengalihkan pandangannya kepada ketiga pria yang sedang berdisku itu.


Rayyan langsung memberikan kode agar kakak dan Ayahnya jangan berisik.


"Memang kenapa anak Simon? "


"Beuhh... apa daddy tidak pernah tau seperti apa wajah anaknya Tuan Simon? " Tanya Rayyan yang pura-pura tak tau.


"Ray.... " Murad memberi peringatan kepada adiknya itu agar cepat mengatakan semuanya,dan jangan mempermainkan daddynya.


Rayyan tertunduk dan tersenyum, lalu dia tertawa lebar karena berhasil mengerjai kakak dan daddynya


"Ray... " Murad menatap tajam Adiknya itu agar tidak bermain-main dengan orang tua.


"Baiklah-baiklah... Dad, anak tuan Simon sangat cantik. Aku sampai terpesona saat pertama kali melihatnya kemarin. Dia sangat cantik dan aku tidak menyangka tuan Simon memiliki anak cantik seperti bidadari." ujar Rayyan sambil membayangkan wajah Zahra.


Murad dan Erhan saling berpandangan mendengarkan apa yang dikatakan Rayyan dan melihat tingkah konyolnya dari tadi.


"Dan jika daddy mau menyetujui proyek itu. Maka yang akan menangani adalah anaknya, jadi aku bisa bertemu dengannya setiap hari. "


"Cih, modus. " cibir Murad.


"Kakak.." lagi-lagi Rayyan mengerucutkan bibirnya mendengar decakan menyebalkan dari sang kakak.


"Apa monyong-monyong gitu, udah buruan gosok gigimu. "


"Kakak...... "

__ADS_1


__ADS_2