Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Akhirnya


__ADS_3

Setelah Rayyan keluar dari kamarnya, Faza lalu masuk ke kamarnya. Dia tidak ingin mencuri dengar apapun yang sedang dibicarakan oleh suami dan adik iparnya. Dia akan menanyakan langsung apa yang terjadi, kepada suaminya. Jika Suaminya mau menceritakan apa yang terjadi, maka Faza akan dengan senang hati mendengarkan. Tapi jika, suaminya tidak mau menceritakan itu artinya dia tidak perlu tau.


"Kau sudah datang? " tanya Murad saat melihat istrinya masuk ke dalam kamar.


"Iya, aku melihat kak Rayyan keluar kamar tadi, jadi aku langsung masuk. " kata Faza dan langsung mengunci pintunya kamarnya seperti biasa.


Murad mengangguk mengerti. Dia lalu menuju tempat tidurnya dan berusaha turun sendiri dari kursi rodanya untuk berpindah ke tempat tidur.


Dengan susah payah dan menahan sakit di lututnya dia berusaha sekuat tenaga. Awalnya Faza hanya menonton, tapi karena tidak tega melihat perjuangan suaminya akhirnya Faza mendekat dan berusaha membantu suaminya itu.


"Apa masih sakit, kak? " tany Faza saat sudah berhasil memeluk tubuh Murad.


"Iya, sepertinya aku harus berusaha lebih keras lagi. Lututku padahal sudah dioperasi tapi kenapa masih sakit sekali? " keluhnya pada Faza saat ia berhasil didudukkan di tempat tidur.


"Sabar kak, semua butuh proses. Aku yakin nanti kakak pasti akan bisa berjalan lagi. " kata Faza sambil membuka baju suaminya dan memakaikan piyama tidurnya.


"Kalau aku sudah bisa berjalan, apa yang kau inginkan dariku? " tanya Murad saat Faza sudah berhasil Mengancingkan semua kancing piyama suaminya.


Faza yang akan membuka celana Murad terhenti, setelah mendengar pertanyaan suaminya.


"Apa ya? " kata Faza sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di pipi seolah sedang berfikir.


"Aku ingin kakak menggendongku. " katanya kemudian, saat menemukan apa yang dia inginkan.


"Apakah hanya itu? " tanya Murad sambil mengernyitkan keningnya.


Faza menggeleng.


"Lalu apa lagi, aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk istri terbaik ku ini. " kata Murad dengan menggenggam tangan istrinya.


"Kalau aku mau seorang bayi apakah kakak akan memberikannya? " tanya Faza dengan sedikit ragu dan itu membuatnya menggigit bibir bawahnya.


Murad menarik alisnya ke atas. Apa ini sebuah kode kalau Faza menginginkan nya saat ini? Apakah kegiatan gila mereka sore tadi membuatnya seperti ini. Banyak pikiran-pikirsn aneh yang hinggap di otak cerdas Murad.


Faza yang tidak mendapat jawaban dari suaminya pun, merasa sedikit kecewa. Dan ia kembali melakukan tugasnya yaitu membuka celana pendek Murad dan menggantinya dengan celana piyama yang sesuai dengan baju nya.


Faza sedikit menelan salivanya saat ular yang tertidur itu tiba-tiba bangun. Dia memalingkan wajahnya agar tidak melihat ular itu bertransformasi menjadi ular phyiton. Murad mencekal tangan Faza saat ia mau memakaikan celana piyamanya, dan menyuruhnya mendekat.


"Apa kak?" tanya Faza yang merasa tak enak hati.


"Apa kau menginginkannya? "

__ADS_1


"Menginginkan apa maksud kakak? "


"Malam pertama kita. " bisik Murad ditelinga Faza dan dengan suara yang sudah di penuhi gairah.


Faza menggeleng, "tidak kak aku tidak mau kok. Kakak kan belum sembuh. Nunggu nanti saja kalau kakak sudah sembuh." kata Faza yang menolak permintaan Murad, tapi gerakan tubuhnya tak bisa dibohongi, jika dia menginginkannya.


Murad yang mengerti akan hal itu pun mulai merayu istrinya. Percayalah jika wanita mengatakan tidak, itu artinya 'Ya'.


Murad mencium Faza dengan sangat rakus sambil membaringkan istrinya di sampingnya dan tangan satunya membuka satu persatu kancing piyama Faza hingga terbuka semua.. Murad melakukan pemanasan seperti yang ia lakukan sore tadi kepada istrinya, sampai Istrinya terasa basah dan menggelinjang hebat saat melakukan pelepasan pertamanya. Murad tidur setengah duduk sambil menunggu istrinya itu menormalkan nafasnya.


"Apa kau suka?" tanya Murad saat melihat Faza sudah bangkit dari tidurnya. Dan hendak membuka kain yang menutupi anak piton itu yang sudah terlihat tidak sempurna menutupinya.. Karena terlihat kepala botak yang menyembul di sana. Faza yang sudah merasa dipuaskan pun kini dengan sukarela ingin memuaskan ganti suaminya. Tapi bukan itu lagi yang diinginkan Murad, melainkan hal lainnya.


"Faza naiklah di atasku. " pinta murad pada istri kecilnya itu.


"Tapi kaka, aku berat. " jawab Faza dengan polosnya.


"Sudahlah aku baik-baik saja, ayo naiklah. " paksa Murad pada akhirnya. Dan Faza yang polos itu pun menuruti keinginan suaminya. Dia tidak sadar kalau sebuah bahaya sedang mengincarnya


Murad kembali menyerang Faza dengan cumbuannya, hingga Faza terlena dan menginginkan hal lebih. Dan di saat itulah mereka melakukan penyatuan dengan jeritan tangis Faza yang merasakan sakit dan perih dibawah sana, apalagi saat ini posisi mereka adalah woman on top. Wah pasti sangat menyiksa Faza.


Setelah relaks dan menyesuaikan keadaan, akhirnya Murad membantu Faza untuk bergerak walau masih terasa kaku bagi Faza. Tapi tidak apa-apa mereka akan saling belajar kali ini. Sampai pada Akhirnya Faza yang bergerak sendiri untuk mencapai kepuasan nya. Dan disaat yang sama mereka pun mencapai pu cak bersama. Dan akhirnya Faza ambruk di atas tubuh Murad.


"Kau hebat, sayang. " puji Murad pada istrinya itu.


"Sakit, kak. "


"Awalnya saja yang sakit. Nanti kalau sudah terbiasa ya nggak akan sakit. " ujar Murad menjelaskan yang ia tau agar istrinya itu tidak takut


"Oh, jadi begitu ya. " kata Faza sambil mengangguk mengerti


Murad menatap gadis kecilnya itu penuh arti. Mungki nanti, saat dia sembuh dia akan kewalahan menghadapi istrinya itu. Ini adalah insting seorang pria yang selalu tepat.


Dan Mungkin setelah malam ini, otak Faza yang polos akan terkontaminasi oleh otak Murad yang mesum. Sungguh dia menunjukkan kemesuman nya itu hanya kepada istrinya saja.


"Kak.... "


" Hmmm...."


"Aku mau tanya, soal tadi. Soal berkas dokter Evan."


"Oh, tidak apa-apa sayang,. Itu hanya prosedur yang kami lakukan agar kami bisa melihat siapa saja orang-orang yang masuk kerumah sakitku. " kini Faza mengangguk mengerti dan tidak ingin bertanya lebih jauh lagi. Baginya itu sudah cukup saat ini.

__ADS_1


"Kak.... "


"Hmmm... apalagi sayang. Kaga murad sambil memejamkan matanya.


" Aku rindu papa dan mama. "


Mendemgar isakan Faza sontak membuat Murad membuka matanya.


"Apa kamu merindu kan papa dan mama?


Faza mengangguk.


" Baiklah kita pikirkan besok, malam ini ayo kita segera tidur Faza, aku ngantuk sekali.


Faza tak bersuara lagi, dan mulai memejamkan matanya menyusul suaminya ke alam mimpi.


*************


Keesokan harinya,


Rayyan sedang bertemu Maxx di sebuah rumah makan Jepang dengan bergaya klasik dan bersifat Privat. Mereka tidak banyak basa basi, Rayyan segera memberikan berkas-berkas dan foto-foto dokter Evan


"Selidiki dia dengan seksama. siapa ibunya, dan keluarga lainnya.


" Baik tuan, aku akan melakukan yang terbaik untuk keluarga tuan Erhan. " kata Max


"Bagus lah. " kata Rayyan dengan tenang pada akhirnya karena tugasnya sepertinya sudah selesai.


Ternyata Max adalah orang yang baik. Walau tatapannya tajam dan dingin.


"Max, aku harap kamu menyelesaikam tugas ini secepatnya. Agar kami bisa segera mengambil tindakan. "


"Baik tuan muda. Saya akan berusaha. Besok saya akan berangkat dan segera berkerja sesuai perintah ."


"Terima kasih Max, Kalau begitu makanlah makanannya. "


Mereka berdua bertemu di waktu makan siang, sebenarnya baik Rayyan ataupun Max Sama-sama baru saling bertemu dan menyapa. Ternyata Max orang yang baik, berbanding terbaik dengan ekspektasinya.


Maka dari itu,


'dont judge a bokk by its cover. '

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2