Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Ketahuan


__ADS_3

"Kak Zoya? " Sapa suara seorang wanita muda yang Zoya kenal.


Zoya dan Ezra lalu mendongak melihat siapa yang menyapanya.


"Zahra? " pekik Zoya saat melihat teman kecilnya itu. Mereka berdua lalu bercipika cipiki melepas rindu.


Sedangkan Ezra menegang saat mengetahui siapa yang Zoya sapa.


"Kamu apa kabar? " tanya Zoya


"Aku baik. Kakak sendiri. "


"Aku juga baik. "


"Apa kamu mau bergabung dengan kami? sudah lama kita tidak bertemu Zahra. "


"Ah, tidak usah kak. Nanti aku mengganggu kalian." ucap Zahra sambil melirik ke arah Ezra. Matanya memicing karena merasa pernah bertemu dengan pria yang bersama Zoya.


"Apa dia kekasih, kakak? " bisik Zahra di telinga Zoya.


Namun Zoya hanya membalasnya dengan senyuman.


"Aku akan ke tempat lain dulu, karena aku ingin menikmati makananku. " ujar Zahra pada akhirnya.


"Kau pasti sedang dalam masalah. " tebak Zoya yang seratus persen benar.


Zahra hanya mengangguk sebagai jawaban.


Zoya lalu mengambil kartu namanya, dan memberikannya kepada kepada Zahra.


"Jika kau ada waktu datanglah ke butikku, mungkin kau tertarik membeli baju di butikku atau hanya sekedar curhat. Aku akan menjadi teman yang baik untuk mendengarkan curhatanmu. " ujar Zoya yang mengerti akan keadaan Zahra.


Zahra selalu memakan makanan kesukaannya itu dengan porsi banyak saat sedang menghadapi masalah. Dan saat itu tidak ada yang bisa menghentikannya.


"Baiklah kakak. Aku akan ke tempatmu jika ada waktu. " Zahra juga memberikan kartu namanya kepada Zoya.


"Aku pergi dulu. " pamit Zahra kepada Zoya tanpa berpamitan kepada Ezra.


Zoya kembali duduk berhadapan dengan Ezra


"Siapa dia? " tanya Ezra pura-pura tidak mengenal Zahra


"Oh, dia orang yang aku bicarakan tadi. Seseorang yang mengajariku menyukai Makanan Jepang ini, sejak saat itu kami dekat dan menjadi seorang teman. Dan dia seorang chef makanan western. Lihatlah kartu nama ini, keren kan? " Zoya menunjukkan kartu nama Zahra kepada Ezra.


Dan Ezra hanya mengangguk menanggapinya.


"Kamu akan terkejut jika tau saudaramu sedang mengincar temanmu itu, Zo. " batin Ezra.


"Sudah malam, ayo aku antar pulang. " Ezra mengajak Zoya pulang karena dia tidak ingin orang tuanya khawatir.


"Lalu mobil ku? " tanya Zoya yang bingung karena memikirkan mobilnya.


"Bilang saja ke mom dan daddy kalau mobilmu kamu tinggal di butik, dan kamu pulang di antar teman yang mengajakmu makan malam. Bukankah statusku saat ini masih menjadi temanmu? "

__ADS_1


Zoya mengangguk dan tersenyum, dia lalu berdiri dan segera melingkarkan tangannya di lengan Ezra. Mereka lalu keluar bersama.


Tanpa mereka sedari tadi, Zahra memperhatikan kedua anak manusia yang sedang di mabuk cinta itu.


"Bukankah dia asisten Rayyan kalau aku tidak salah lihat. Aku tadi tidak melihatnya di perusahaan. Jadi, apakah kak Zoya sedang manjalin hubungan dengan pria es itu? Unik juga selera kak Zoya. " pikir Zahra, dia terus memperhatikan kepergian dua sejoli hingga mereka tak terlihat lagi.


Kini Zahra tengah menikmati makanannya sendiri, dengan terus mengumpati Rayyan yang sudah mengerjai nya habis-habisan. Dia tidak habis pikir kenapa dia harus dihadapkan pada pilihan sulit.


Zahra sudah bicara dengan Mark tadi sore setelah dari perusahaan Khan. Memang perusahaan papanya berada diambang kehancuran jika tidak mendapatkan proyek ini, dan mungkin akan kembali pulih jika mendapatkan sejumlah suntikan dana dalam jumlah besar.


Zahra ingin membantu tapi dengan cara apa? menjual restonya saja tidak akan cukup untuk menutupi kekurangan dana pada perusahaan.


"Haruskan aku diam saja melihat kebangkrutan daddy? Atau aku harus membantunya dengan cara menikah dengan Rayyan? "


"aarrrggg... "


Zahra semakin pusing dan langsung memasukkan beberapa makanan itu kedalam mulutnya. Dia tidak peduli orang melihatnya seperti apa. Yang dia tau hanyalah, dia ingin menumpahkan semua kekesalannya dengan makanan yang ada di hadapannya.


"Kenapa harus orang menyebalkan itu sih. " gumam Zahra ditengah makannya.


*********


Erhan, Murad dan Rayyan saat ini berada di ruang kerja Erhan. Tadi Murad dan Rayyan mengatakan kalau mereka ingin mengatakan hal yang serius kepada daddynya itu.


"Ada apa? " tanya Erhan saat kedua anaknya tidak segera bicara.


"Kami ingin menunjukkan ini dad. " ujar Rayyan pada akhirnya. Dia menunjukkan ponselnya yang berisi foto dan video serta percakapan kiriman Max kepada Erhan.


"Kasihan dokter Evan. " kata Erhan setelah melihat video itu.


"Dia dan keluarganya menjadi korban keegoisan seseorang yang tidak bertanggung jawab. Dia dijauhkan dari keluarganya untuk menghancurkan keluarga kita, apalagi saat ini anaknya sakit. Dan daddy rasa sakit pada anak dokter evan bukan sakit yang hanya bisa sembuh karena obat dokter. " ujar Erhan menggambarkan apa yang dia tangkap dari video itu.


Dan semua yang dikatakan Erhan disetujui Murad dan Rayyan.


"Suruh Max menyelidiki sakit apa yang diderita putra dari dokter Evan. " baik dad.


"Dan aku sudah tau, pasti Max sudah mencari tahu dan menyelidiki siapa Monica dan ibunya... " ujar Erhan yang dibenarkan Murad dan Rayyan.


"Kalau Max sudah mendapatkan informasi, segera beritahu aku. Aku takut orang-orang itu adalah orang-orang dari masa lalu daddy, yang merasa tidak puas dengan apa yang daddy lakukan kepada mereka. "


"Memangnya apa? Siapa? " tanya Rayyan yang sikap keponya keluar.


"Daddy belum bisa memastikan jika belum tau orang yang berada di balik ini semua. " ujar Daddy Erhan pada akhirnya.


"Lalu apa yang harus kita lakukan pada dokter Evan, dad. Karena incarannya adalah Zoya. " tanya Murad.


"Kalau dia sudah mendarat disini tangkap dia dan bawa ke markas. Kita akan bicara baik-baik dengannya. Karena dia juga korban disini. " ujar Erhan dengan tegas.


Murad dan Rayyan mengangguk mengerti.


***********


Faza sudah masuk ke kamarnya saat Murad menyuruhnya ke kamar terlebih dulu. Karena mungkin ada sesuatu yang serius yang harus dibahas bersama daddy, karena Rayyan juga ikut bergabung dengan mereka. Saat ini Faza berada di balkon untuk menghirup udara malam.

__ADS_1


Begitu pula dengan Nisa, Nisa mengikuti Faza ke atas, tapi tidak ikut masuk ke kamar Faza. Dia pergi ke balkon lantai dua, karena ingin menghirup udara segar di lantai atas. Lantai yang sudah jarang ia injak. Dia sedang menikmati hembusan angin malam yang menerpa kulit dan wajahnya.


Hingga sebuah mobil masuk ke halaman mansion mereka. (Nisa dan Faza)


"Bukan kah itu mobil Ezra? " gumam Nisa.


"Bukankah itu mobil kak Ezra? mau apa kakak kemari malam-malam? " cicit Faza.


Lalu Ezra keluar, dan berlari ke pintu samping dan membukakan pintu sebelahnya. Dan keluarlah Zoya dari sana.


"Zoya, kenapa bisa keluar dari mobil Ezra. Bukankah katanya dia sedang pergi makan malam dengan temannya? " pikir Nisa.


"Zo, aku punya sesuatu untukmu. " kata Ezra sebelum mereka berpisah malam ini.


"Apa? " tanya Zoya


Ezra mendekat dan mengambil sesuatu di saku celananya.


"Bukalah." Ezra memberikan kotak kecil kepada Zoya.


Dan dengan senang hati Zoya menerimanya lalu membukanya.


"Jangan, dilihat harganya, Zo. Tapi maknanya. " ucap Ezra saat melihat Zoya membuka kotak hadiahnya.


Zoya langsung menutup mulutnya saat melihat sebuah kalung dengan liontin berbentuk angsa yang sangat cantik.


"Ini sangat cantik, Ezra. "


"Apa kau menyukainya? "


Zoya langsung mengangguk.


"Apa bisa kupakaikan? " pinta Ezra.


Dan Zoya menjawabnya dengan anggukan.


Ezra langsung memakaikan kalung itu di leher Zoya. Dan wajah Zoya langsung memerah saat wajah mereka berdekatan.


"Cantik sekali? Pakailah dan jangan pernah melepaskannya, kumohon." Ezra mengatakannya dengan mata berbinar.


"Terimaksih Ezra. Aku kaan memakainya dan tidak akan melepaskannya. " janji Zoya.


Ezra lalu menggenggam tangan Zoya lalu mengecupnya seperti kemarin.


"Tidurlah, Have a nice dream. " Dan sebagai perpisahan Ezra memberikan kecupan singkat di kening Zoya.


Kejadian beberapa waktu lalu disaksikan oleh Nisa dan Faza dari lantai atas dan Erhan dari kaca jendela ruang kerjanya. Tanpa diketahui Murad dan Rayyan karena mereka sedang melihat laporan di laptop daddy nya.


"Ya ampun Ezra... Zoya. " pekik Nisa tertahan karena shock.


"Kakak.. kak Zoya. " lirih Faza dengan menutup mulutnya.


Sedangkan Erhan hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2