Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Mengintip Kamar Pengantin


__ADS_3

Jika di kamar pengantin Ezra dan Zoya , terjadi drama buka puasa Ezra malam ini dengan kegiatan panas mereka bedua. Lalu bagaimana di kamar Rayyan dan Zahra. Kita intip yuk...


Rayyan langsung mengusir para Mua yang akan membantu Zahra melepaskan semua aksesoris dan gaun yang melekat di tubuh Zahra.


"Kalian keluar lah. Aku akan membantu istriku sendiri membuka semua ini. " usir Rayyan waktu itu.


Zahra sampai tak enak hati mendengar pengusiran Rayyan kepada para Mua nya. Zahra lalu menganggukkan kepala mengijinkan mereka pergi. Setelah mendapatkan persetujuan dari Zahra mereka semua langsung meninggalkan kamar pengantin itu.


Rayyan langsung mengunci kamarnya dan mendekati Zahra. Setelah sampai dihadapan Zahra , Rayyan langsung mendudukkan Zahra diatas ranjang. Lalu mulai membuka satu persatu aksesoris yang menempel di kepala nya mulai dari mahkota, yang menghiasi dan sebagai nya.


"Katakan padaku, kenapa kau memakai ini. " tanya Rayyan sambil menunjuk hijab yang menutupi kepala Zahra.


Zahra menunduk dan tersenyum. "Karena aku sudah memutuskan. "


"Memutuskan? memutuskan apa? "


"Aku akan benar-benar menjadi bagian dari wanita keluarga Khan yang menutup seluruh tubuhnya.


Mata Rayyan membulat mendengarkannya pernyataan dari Zahra.


"Benarkah? Apa kau sudah benar-benar siap? " tanya Rayyan meyakinkan.


Zahra mengangguk dan menatap Rayyan penuh keyakinan.


Rayyan langsung menarik tubuh Zahra masuk kedalam pelukannya. Dalam hati Rayyan benar-benar bersyukur kalau istrinya sudah mau menutup auratnya. Dia lalu melepaskan pelukannya dan memandang Zahra yang semakin terlihat sangat cantik dengan balutan hijab dikepalanya.


Perlahan Rayyan mendekatkan wajahnya di wajah Zahra dan menempelakan bibirnya di bibir Zahra dan menyesap nya perlahan. Zahra membalas ciuman Rayyan. Rayyan semakin memperdalam ciumannya dengan menekan tengkuk leher Zahra, hingga mereka kehabisan nafas lalu melepaskan tautan bibir mereka. Dan mereka tersenyum bersama.


"Ray, bantu aku melepaskan gaun ini berat sekali rasanya. " keluh Zahra pada akhirnya.


Rayyan bangkit dan melepaskan satu persatu pakaiannya terlebih dulu, dan membuat Zahra ingin protes.


"Ray... "


"Iya sebentar Zahra, aku juga gerah ini. " ucap Rayyan tanpa rasa berdosa sama sekali.


Kini Rayyan hanya berbalut kaos dalam dan celana boxer saja Dia lalu mendekati Zahra membantunya melepaskan pakaiannya yang sangat merepotkan itu. Setelah semua terlepas Zahra segera pergi kekamar mandi utnuk membersihkan tubuhnya. Dia sangat lelah, karena seharian harus berdiri dengan menggunakan pakaian yang berat sekali.


Rayyan yang melihat itu hanya menggeleng kan kepalanya, lalu merapikan gaun Zahra dan meletakkan nya diatas sofa. Dia lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang sambil memainkan ponselnya menunggu Zahra selesai mandi. Tak lama pintu kamar mandi terbuka terlihat Zahra yang sudah terlihat segar dan hanya menggunakan bathrobe dengan handuk yang melilit di kepalanya.


Mandilah Ray. Agar sedikit penatmu hilang. " ucap Zahra lalu dia menuju meja rias, ingin mengeringkan rambutnya.

__ADS_1


Rayyan mendekati istrinya itu dan mencium pipinya sekilas, lalu dia masuk ke dalam kamar mandi.


Zahra kini sudah mengeringkan rambutnya dan mengganti pakaiannya dengan piyama tidur, lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Tubuhnya benar-benar lelah hari ini. Saat Zahra ingin memejamkan matanya, Rayyan terdengar keluar dari kamar mandi.


"Apa kau sudah mau tidur. " Tanya Rayyan saat melihat istrinya sudah terbaring.


"Hampir, aku ngantuk sekali. " Zahra memaksakan dirinya untuk duduk.


Rayyan yang melihat wajah lelah istrinya sebenarnya tidak tega untuk mengganggunya malam ini. Tapi apa artinya malam pengantin tanpa ada kegiatan panasnya. Batin Rayyan saat itu.


Rayyan segera berbaring disamping Zahra dan memandang wajah lelah istrinya. Sebelum dia terlelap, sebaiknya satu ronde saja sudah cukup.


Rayyan langsung mengungkung tubuh Istrinya itu. Dia lalu memberikan ciuman panas kepadanya. Ciuman yang membuat Zahra tidak bisa berkutik dan memaksanya membuka mata.


"Ray... "


"Satu kali saja ya, aku mohon. "


"Apa kau tidak lelah? "


"Lelah, tapi aku ingin sesuatu yang panas dimalam pengantin kita. " ucap Rayyan sambil membuat tanda cinta di leher Zahra.


"Ray..."


"Ray... " pekik Zahra saat Rayyan bermain-main dibawah sana.


Rayyan seolah tidak memperdulikan teriakan istrinya yang kegelian diatas sana. Dia hanya ingin Zahra benar-benar membuka matanya agar dia bisa bermain malam ini. Rayyan terus memainkan kli**ris milik Zahra. Hingga akhirnya Zahra menggelinjang dengan dada membusung ke atas, dan cairan hangat keluar dibawah sana.


Tubuh Zahra langsung terasa lemas dengan nafas terengah. Belum lagi nafasnya normal Rayyan langsung memasukkan miliknya kedalam milik Zahra dan mulai memompanya.


"Ray... kau tidak membiarkanku istirahat, Ray... "


"Nikmati saja, sayang. " ucap Rayyan sambil terus menikmati tubuh Zahra.


Hingga lenguhan panjang Rayyan terdengar dan mengakhiri kegiatan panas mereka. Rayyan ambruk diatas tubuh Zahra dan berbisik ditelinga istrinya.


"Terima kasih, sayang. Kau yang terbaik. "


Rayyan menggigit gemas telinga Zahra lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Zahra, lalu menutupi tubuh mereka dengan selimut. Mereka terlelap karena rasa lelah yang mendera.


°

__ADS_1


°


Jika dikamar Zoya dan Rayyan ada kegiatan panas sepasang suami istri malam ini, maka berbeda dengan yang terjadi di kamar Murad.


Murad sedang memijat kaki Faza yang mengeluh sakit sejak berada diatas pelaminan.


"Apa masih sakit? " tanya Murad yang melihat wajah Faza yang sedikit memucat.


Faza menggeleng.


"Aku panggil kan mommy ya? barangkali mommy tau solusinya agar kakimu tidak sakit. "


"Tidak usah, kak. Aku ingin berendam saja. Mungkin dengan berendam otot-otot kakiku bisa relaks. "


"Baiklah akan aku siapkan air hangat dulu ya. "


Faza mengangguk dan Murad segera menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk istrinya.


Setelah selesai mengisi bathup Murad segera membantu Faza membuka pakaiannya lalu membantu nya masuk ke dalam bathup. Faza merasakan relaks di seluruh tubuhnya setelah berendam di air hangat. Namun keningnya mengernyit saat melihat suaminya mulai membuka satu persatu pakaiannya.


"Kakak mau apa? " tanya Faza yang takut mendapatkan serangan dari suaminya. Karena keadaannya benar-benar tidak baik-baik saja malam ini.


"Aku juga ingin berendam denganmu, sayang. "


"Tapi, kak aku sangat lelah? "


"Memang apa hubungannya berendam dengan lelahmu?" tanya Murad tak mengerti.


"Nanti kakak minta iya-iya. "


Mendengar itu, Murad mengulas senyumnya. mengerti apa maksud istrinya itu.


"Enggak aku nggak akan ngapa-ngapain. Cuma berendam aja, janji. Aku juga akan menggosok punggunggmu. " kata Murad dengan yakin.


Faza percaya dan memperbolehkan suaminya masuk ke dalam bathup. Murad duduk di belakang Faza dengan tangan yang mengusap perut Faza yang sudah besar, dan terkadang salah satu anaknya itu bergerak sehingga Murad bisa merasakan pergerakan anaknya.


"Dia bergerak. " bisik Murad di telinga istrinya.


"iya, terkadang kalau sering bergerak membuat perutku sakit. "


"Sabar ya, tinggal beberapa bulan lagi. Mereka akan keluar. "

__ADS_1


"Iya kak. "


Faza memejamkan matanya bersandar di dada bidang suaminya. Begitu juga dengan Murad yang menikmati air panas dengan aroma terapi yang menenangkan. Benar-benar tidak ada adegan panas dikamar mandi, karena Murad tidak ingin menambah lelah ditubuh Faza. Jadi Murad dan Faza hanya berendam menikmati kebersamaan mereka berdua.


__ADS_2