
"Maaf tuan jika aku mengganggumu. Karena kau adalah orang pertama yang aku temui di negara ini. Perkenalkan Namaku Monica. "
Mendengar sebuah nama dari wanita asing itu, Murad sangat terkejut, tapi dia langsung menyembunyikan rasa terkejutnya agar wanita itu tidak curiga. Murad langsung mengeratkan tubuh Faza dalam lindungannya dan segera menutupi wajah istri kecilnya itu, dengan jas yang dia kenakan.
"Apa kau tidak terluka nona atau kau hanya pura-pura terluka. Kenapa kau banya bicara sekali." Murad tidak basa basi lagi dia bicara dengan sangat ketus kepada wanita yang bernama Monica itu.
Monica langsung gelagapan mendengarkan ucapan ketus dari Murad.
"Maafkan saya tuan, jika anda merasa tidak nyaman. " Monica langsung menghadap ke arah jalanan dia menyunggingkan senyuman tipis yang tidak bisa dilihat oleh Siapapun.
Ponsel Murad bergetar. Alisnya terangkat saat dia melihat sebuah pesan masuk dari dokter Evan.
"Maaf tuan, Ada kabar buruk. Monica baru mendarat di Turki. " Pesan dari dokter Evan disertai foto seorang wanita yang memakai pakaian yang sama dengan wanita yang ada di hadapannya.
"Aku tau, dia ada di hadapnku sekarang, sedang menumpang di mobilku. "
"Kau datanglah ke kantor bersama daddy sekarang. Karena ini sangat mendesak. "
Mendapatkan balasan pesan dari Murad membuat dokter Evan tak percaya. Ternyata Monica sudah bergerak cepat. Dia langsung menemui Erhan di mansion. Untuk menyampaikan pesan dari Murad.
"Tuan... " Evan memanggil Erhan yang sedang bersama istrinya dengan tergopoh-gopoh.
"Ada apa Evan. "
"Ada pesan dari tuan Murad. " Evan langsung menunjukkan pesan dari Murad kepada Erhan.
Erhan menerima ponsel milik Evan dan langsung membacanya. Matanya membulat saat membaca pesan itu.
"Jadi wanita itu sudah ada disini? " tanya Erhan dengan wajah tak biasa.
Evan mengangguk. "Aku baru menerima pesan darinya satu jam yang lalu. Tapi aku terlambat mengetahuinya tuan, karena saat itu aku sedang berolah raga. Maafkan aku. "
"Sudahlah, tak perlu minta maaf. Sekarang ayo kita ke perusahaan. "
"Sebenarnya ada apa ini? " tanya Nisa yang dari tadi hanya menyimak pembicaraan kedua pria di hadapannya.
Monica, wanita ular itu sudah ada di sini, dan saat ini dia bersama dengan Murad. " Erhan menjelaskan
"Apa? Bagiamana bisa, dia bersama dengan Murad. Ya, Tuhan... bagaimana ini. Bagaimana dengan Faza? Baru saja kita mendengar berita bahagia dari Faza, sekarang sudah ada pengganggu. " Nisa terlihat sangat panik mendengar kabar kedatangan Monica.
"Tenanglah sayang... semua akan baik-baik saja. Sekarang kau tetap di mansion jangan kemana-mana. Aku akan ke kantor bersama Evan. Karena Murad memintaku untuk
datang ke sana. "
__ADS_1
"Baiklah, ajak Kemal. Dan suruh Alima kemari, biar dia menemaniku disini. " pinta Nisa kepada suaminya.
"Baiklah, jangan panik. Kamu bersiaplah Evan kita akan berangkat sebentar lagi. "
Erhan langsung mengubungi Kemal dan meminta Kemal membawa Alima ke mansion untuk menemani istrinya. Setelah itu dia dan dokter Evan segera ke perusahaan.
Di mobil Murad.
Murad telah sampai di sebuah rumah sakit, dan meminta sopir untuk mengantarkan Monica ke dalam untuk berobat dan memberikannya sejumlah uang untuk ganti rugi.
"Terima kasih karena sudah mau menolongku, tuan. Maaf karena kecerobohan ku anda jadi terlambat datang ke kantor. "
"Iya, sudah pergilah. " kata Murad ketus.
Monica segera keluar dari mobil Murad, dengar menyunggingkan senyuman smirk nya.
"Menarik... pria yang tidak mudah untuk ditaklukkan. " gumamnya dalam hati
Murad meletakkan kepala istrinya di kursi mobil yang sudah dia beri alas bantal. Dia lalu berpindah kursi di samping kursi sopir. LLaluMurad mulai mencari sesuatu di setiap sudut mobil. Hingga tangganya menemukan sesuatu di bawah dashboard. Sebuah alat perekam.
"Dasar bodoh, Kau pikir aku tidak tau apa rencamu. Aku akan menggunakan ini untuk balik menjebakmu dasar wanita ular. "
Murad lalu kembali duduk ditempatnya, sebenarnya sejak tadi Murad memperhatikan gerak gerik Monica yang sangat mencurigakan, sejak masuk ke dalam mobil. Pada dasarnya Murad yang tidak mudah percaya pada siapapun, akan mencurigai seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Seperti tadi, Murad tau sopirnya berjalan dengan normal sesuai keinginannya, tapi tiba-tiba ada seseorang yang menabrakkan diri di depan mobilnya, itu membuatnya semakin merasa curiga. Ditambah setelah mengetahui siapa nama wanita itu. Semakin membuat kecurigaan nya terbukti.
"Datanglah ke kantor. Ada sesuatu yang penting yang harus kita bicarakan."
"Tidak ada bantahan. Sekarang. "
Tak lama sopirnya kembali masuk ke dalam mobil. Murad membisikkan sesuatu kepada sopirnya.
"Periksa seluruh kantong baju dan celanamu. "
Sopir itu mengernyit tak mengerti, tapi dia segera melakukan apa yang diperintahkan atasannya. Setelah memeriksa semuanya, sopir itupun menggeleng.
"Ayo kita segera pergi. "
Mobil yang mereka kendarai pun pergi meninggalkan rumah sakit. Tanpa mereka sadari, Monica menatap kepergian mobil Murad dengan senyuman yang sulit untuk diartikan.
"Sebentar lagi, kalian akan membayar apa yang telah kalian lakukan kepada mamaku. Seharusnya aku yang berada di posisimu saat ini Murad, bukan kau. " Gumam Monica dengan tangan yang sudah terkepal kuat dengan mata yang memerah.
Akhirnya mobil yang di tumpangi Murad sudah sampai di depan perusahaan, dia langsung membangunkan Faza yang tengah terelalap.
"Faza... bangun sayang. Kita sudah sampai. "
__ADS_1
Faza mengerjap-ngerjapkan matanya, setelah merasakan tepukan lembut di pipinya.
"Apa kita sudah sampai? "
"Sudah, ayo kita turun. "
Mereka berdua turun dan segera menuju ruangan Murad. Sesampainya di dalam ruangannya, Murad langsung melepaskan jasnya. Dan duduk di atas sofa.
"Apa terjadi sesuatu, kak? kenapa kakak terlihat tegang sekali? " tanya Faza yang melihat wajah tak biasa Murad sejak tadi.
"Kemarilah." Murad meminta Faza untuk duduk di pangkuannya.
Faza menurut dan langsung duduk dipangkuan suaminya. Suaminya itu langsung mengusap perut Faza yang masih datar.
"Sebentar lagi, akan ada rapat keluarga disini. Apa kau mau ikut mendengarkan? atau kau mau istirahat saja di ruanganku. " ujar Murad.
"Rapat keluarga? Siapa saja? ' Tanya Faza yang ingin tau.
"Semua kecuali mommy Nisa, mama Alima dan Zahra. "
"Berarti ada kak Zoya juga? " tanya Faza lagi.
"Iya... karena ini sangat berhubungan erat dengannya. "
"Baiklah kalau begitu aku ikut, mendengarkan. "
"Apa kau yakin, karena ini nanti juga berhubungan dengan kita. Terutama aku. "
Faza mengangguk. "Aku mau ikut, karena aku penasaran. "
"Baiklah, kita hanya tinggal menunggu kedatangan Daddy dan Zoya. "
Faza bangkit dari pangkuan Murad dan duduk di sampingnya. dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Sedangkan Murad segera menghubungi Ezra da Rayyan untuk datang ke ruangannya.
"Kak sebenarnya kita mau membahas apa sih? " tanya Faza sudah sangat penasaran.
"Apa kau ingat wanita yabg ditabrak sopir kita tadi? "
"Iya aku ingat, tapi aku tidak melihat wajahnya karena aku shock dan akhirnya mrngantuk."
"Wanita itulah yang akan kita bahas, Sayang. "
"Kenapa kita membahas wanita asing itu? "
__ADS_1
"Karena wanita asing itu adalah Monica. "