
Zoya dan Ezra duduk berhadapan dengan dokter. . Mereka akan melakukan konsultasi dengan dokter tentang kehamilan Zoya.
"Seperti yang saya katakan tadi, Nona, Tuan. Kehamilan nona Zoya masih rentan, jadi saya harap anda berdua bisa lebih menjaga kondisi kandungan nona Zoya. Tidak ada pantangan untuk makan apapun selama bisa diterima ibu hamil yang tidak mengalami morning sickness. Perbanyak makan makanan yang mengandung protein, sayur dan buah agar seimbang, Juga susu untuk ibu hamil."
Ezra dan Zoya mendengarkan secara seksama apa yang disampaikan oleh dokter.
"Dokter, Saya mau bertanya." Zoya ingin mengajukan pertanyaan kepada dokter.
"Silahkan nona... "
"Saya dan saudara saya adalah saudara kembar, tapi kenapa saya tidak bisa memiliki anak kembar? Sedangkan kakak saya yang tidak memiliki saudara kembar, langsung menghasilkan tiga bayi di perut istrinya"
Dokter tersenyum mendengar pertanyaan dari pasiennya ini, yang tak lain anak pemilik rumah sakit tempat ia bekerja. Seperti ada nada protes disetiap kalimatnya. Murad yang masih berada satu ruangan dengan adiknya langsung terbatuk, tak menyangka Zoya akan bertanya seperti itu.
"Memiliki gen kembar belum tentu langsung memiliki anak kembar nona. Mungkin saja nanti di kehamilan ke dua atau ke tiga dan seterusnya, anda baru bisa memiliki anak kembar. Sedangkan Untuk kakak anda yang tidak memiliki saudara kembar, tapi bisa langsung memiliki anak kembar. Itu semua karena gen yang diturunkan oleh orang tua sangat kuat kepada kakak anda, saya rasa begitu." Dokter memberikan penjelasan sesuai apa yang ia ketahui.
"Baiklah dokter, kami mengerti." Ezra segera menyela ucapan Dokter sebelum Zoya bertanya hal yang tidak-tidak lagi.
"Kalau begitu kami permisi dokter. " Murad segera mendorong kursi roda istrinya keluar dari ruangan dokter setelah melihat Ezra yang merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Zoya.
Di luar ruangan dokter, Ezra dan Murad berhenti mendorong kursi roda istri mereka saat sampai di sebuah taman rumah sakit. Murad menepuk bahu Faza meminta izin bicara dengan adiknya, dan Faza menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Murad duduk berjongkok di hadapan adiknya itu, walau sedikit kesusahan karena kaki nya yang baru sembuh. Melihat hal itu Zoya merasa tidak nyaman, dia langsung menyuruh kakanya berdiri.
"Kakak, jangan lakukan hal itu. Berdirilah.. " kata Zoya sambil memalingkan wajahnya karena merasa bersalah.
"Baiklah, kakak akan duduk di kursi ini. "
Murad menunjuk kursi yang berada di pinggir taman tak jauh dari tempat mereka berada. Ezra kemudian mendorong kursi roda istrinya mendekati Murad, Kemudian bergantian mendorong kursi roda Faza agar mendekati suaminya.
Murad langsung menggenggam tangan Zoya dan mulai bicara kepadanya.
"Zo... apa kau merasa iri kepada kakak dan Faza, karena bayi? "
Zoya menggeleng sambil memalingkan wajahnya, dan itu artinya adiknya itu sedang berbohong. Reaksi tubuhnya tidak sesuai apa yang ada di hatinya.
"Kakak dan Faza memiliki tiga janin langsung di rahim Faza itu bukan karena keinginan kakak, Zo. Tapi ini sudah rezeki yang diberikan Tuhan kepada kakak dan Faza. Dan kau memiliki satu bayi, itu karena Tuhan memberikan mu rezeki satu. Jangan pernah iri kepada kakak dan Faza, kakak tidak ingin hubungan saudara kita bisa terpecah hanya karena masalah bayi. "
__ADS_1
Zoya menunduk mendengarkan setiap ucapan dari kakaknya.
"Zo, memiliki bayi satu atau kembar itu harus kita syukuri. Dari pada kita kesulitan memiliki keturunan. "
Deg....
Zoya merasa tertampar mendengarkan ucapan kakaknya tentang hal ini. Dia lalu mengangkat wajahnya menatap sang kakak dengan sendu dan rasa bersalah.
"Boleh kakak mengatakan sebuah rahasia Rayyan dan Zahra?"
Zoya mengernyit tak mengerti dengan ucapan kakaknya. Tapi dia masih terdiam.
"Ini juga perlu kau dengar Ezra dan Faza. Semalam saat aku dan daddy mau masuk ke ruangan rawat kalian, Kami mendengarkan percakapan Rayyan dan Zahra yang menyayat hati orang yang mendengarnya. " Murad menghembuskan nafasnya sebelum melanjutkan ceritanya.
"Zahra iri kepada kalian berdua, karena kalian berdua sudah hamil sedangkan dia belum. Padahal jarak pernikahan Zoya dan Ezra hanya selisih satu hari. "
Mendengar cerita kakaknyaa lagi-lagi membuat Zoya merasa tertampar. Kenapa dia tidak memikirkan hal itu? Kenapa dia sangat egois?
"Rayyan berhasil membujuk Zahra agar tidak bersedih lagi, dan mau bersabar menunggu. Karena semua butuh usaha dan doa, kapan Tuhan akan memberikan kepercayaan kepada mereka berdua untuk memiliki momongan. Jadi, Zoya... " Murad akan mengatakan apa yang ingin dia sampaikan namun segera di sela oleh Zoya.
Murad mengusap lembut kepala adiknya itu, dan tersenyum.
"Ingatlah, kelak jika anakku sudah lahir, dia juga akan menjadi anakmu dan juga Zahra. Begitu juga dengan anak-anak mu Zo atau anak Zahra, akan menjadi anakku juga kelak. Kita ini keluarga, jangan biarkan rasa iri merusak kekeluargaan kita. Kalau Mommy dan Daddy dengar, mereka akan sedih. "
Zoya mengangguk dan meminta kakaknya untuk memeluknya.
"Maafkan aku kak. Maafkan aku yang bersikap kekanakan."
"Iya, dan aku meminta kepada kalian bertiga. Jika bersama Zahra jangan pernah mempertanyaka masalah bayi kepada Zahra. Karena mungkin saja pertanyaan itu akan menyakitinya. " Murad memperingatkan kepada istri dan adiknya tentang hal ini, sebelum kejadian yang tidak diinginkan terjadi.
Dan ucapan Murad tadi langsung diangguki oleh Mereka semua.
Di Mansion.
Suasana Mansion terasa sepi pagi ini, karena semua orang berada di rumah sakit. Mommy dan Alima pagi-pagi sekali sudah berangkat ke mansion. Hanya tertinggal daddy Erhan yang sedang duduk santai diruang keluarga sambil menonton televisi dan meminum secangkir teh.
Rayyan dan Zahra yang baru saja turun, juga merasakan suasan sepi di mansion.
__ADS_1
"Dad, kemana mommy, dan tante Alima juga om Kemal. "
"Kemal tadi mengantarkan Mommy kalian dan Alima ke rumah sakit, mungkin langsung pulang kerumahnya. "
"Daddy tidak ikut kesana? "
"Tidak, sudah ada suami mereka yang menjaga dan mommy mereka. Lagi pula baru saja mommy menghubungi daddy kalau Zoya dan Faza boleh pulang hari ini. Daddy sudah menyuruh sopir untuk menjemput mereka. "
"Syukurlah kalau begitu. Dad kami mau berangkat dulu, " Pamit Rayyan yang mencium tangan daddy nya diikuti Zahra.
"Kalian tidak sarapan dulu? "
"Aku akan sarapan di restoran Zahra dad. Mumpung tidak ada orang di rumah. "
"Ya sudah kalau begitu. Hati-hati dijalan. Ray, jaga istrimu baik-baik. "
"Tentu dad. "
Rayyan dan Zahra segera meninggalakan Mansion. Dan langsung menuju restoran Zahra, karena ini yang diinginkan Rayyan sejak dulu, sarapan berdua di restoran Zahra.
"Apa kau sudah tidak merasa sedih lagi? " tanya Rayyan dengan satu tangan menggenggam tangan Zahra dan satu tangan lagi memegang kemudi.
"Tidak, kau benar. Anak adalah rejeki. Aku akan menunggu sedikasihnya saja sama Tuhan. Lagi pula nanti anak kak Murad ada tiga, mungkin mereka akan kerepotan merawatnya, jadi aku akan membantu merawat salah satu dari mereka. " kata Zahra dengan senyuman yang sudah kembali.
"Kau benar, kita juga belum tahu berapa anak Zoya, apakah kembar juga. " Rayyan jadi memikirkan kalau memiliki keponakan banyak.
"Ray, kau akan bersabar menunggu kan? sampai kita diberi momongan. Kau tidak akan meninggalkan aku kan? atau kau akan menikah lagi jika kita tidak segera diberi momongan. "
Mendengar pertanyaan Zahra, Rayyan langsung menepikan mobilnya dan memandang lekat kearah istrinya yang kembali sendu setelah mengatakan hal itu. Tangan Rayyan segera menggenggam kedua tangan Zahra.
"Aku berjanji padamu, aku tidak akan meninggalkanmu Zahra. Apapun yang terjadi. "
"Promise."
"Promise."
Rayyan lalu memeluk Zahra dan memberikan ciuman hangat sebelum mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka.
__ADS_1