
Murad dan Rayyan masih berada dikamar Rayyan, mereka masih terdiam setelah mendengarkan rekaman yang dikirim Max.
"Apa yang harus kita lakukan, kak? "
"Kita tunggu kabar berikutnya dari Max. "
"Tapi bagaimana dengan Zoya. "
"Suruh beberapa orang untuk mengawasi Zoya. Jangan sampai kita lengah. "
"Baiklah, kak. Tapi... " Rayyan tidak meneruskan kalimatnya.
"Tapi apa, Ray. " tanya Murad yang penasaran dengan kalimat adiknya yang terpotong.
"Kak, sepertinya Zoya dan Ezra semakin dekat. "
"Maksudmu? "
"Semalam aku melihat Ezra mencium tangan Zoya, dan mengusap rambutnya."
Murad mengernyit, karena yang dia tau kemarin Zoya pergi bersama Evan.
"Bukankah kemarin Zoya pergi bersama Evan, dan kenapa Evan berada di Jerman dan Zoya, Ezra.. " Banyak pertanyaan di benak Murad yang masih belum ia mengerti.
Akhirnya Rayyan menceritakan kejadian yang terjadi kemarin sesuai laporan dari orang yang mengikuti Zoya dan Evan.
"Oh, jadi Zoya pulang bareng Ezra karena Ezra mengikuti Zoya dan Evan kencan. Dasar anak itu. " Murad tak habis pikir dengan apa yang ada di pikiran Ezra.
"Entahlah kak, semalam aku melihat sikap Manusia es itu manis sekali kepada adik kita. "
Rayyan dan Murad saling menghembuskan nafasnya dengan kasar. Mendengar dan melihat fakta tentang Ezra dan Zoya.
"Ray, coba kau bicara pada Ezra untuk lebih mendekati Zoya. Agar dia bisa menjaganya. Jangan sampai Zoya jatuh cinta kepada Evan, karena akibatnya akan sangat fatal bagi Zoya dan keluarga kita. Katakan padanya kalau aku dan kamu akan mendukung usahanya untuk mendekati Zoya. " Murad mengusulkan hal ini, karena lebih suka melihat Ezra bersama adiknya dari pada bersama pria asing yang berbahaya. Apalagi Evan sudah memiliki istri dan anak.
"Kakak setuju, kalau Ezra jadian sama Zoya. " tanya Rayyan sambil mengernyitkan keningnya.
Murad mengangguk, "Bukan kah Ezra pria baik. Kita mengenalnya sejak kecil, seperti aku yang mengenal Faza. Dari keturunan siapa seorang Ezra kita juga sudah tau, dan aku yakin jika daddy dan mommy tau hubungan mereka, mom dan dad pasti setuju. Karena kita semua sudah tau sepak terjang Ezra. "
__ADS_1
Rayyan setuju dengan pendapat kakaknya. "Sebenarnya aku juga lebih suka Zoya dengan Ezra kak, karena sejak awal firasatku kepada dokter Evan tidak baik, dan semua terbukti. "
Rayyan menghembuskan nafasnya. " baiklah, nanti aku akan bicara secara pribadi dengan Ezra." Rayyan ingin beranjak tapi dia melupakan sesuatu.
"Sebaiknya dokter kakak ganti saja, jangan dokter Evan karena kita akan mengambil resiko berbahaya jika Evan yang menangani kakak. " Rayyan mengingatkan kakaknya itu.
"Baiklah aku mengerti, aku kembali dulu, mungkin Faza sudah menungguku. " Murad mendorong kursi rodanya keluar dari kamar Rayyan dan benar istrinya itu sudah menunggu di balkon lantai atas.
"Apa yang kau lakukan, sayang. " tanya Murad kepada istrinya yang sedang melamun.
"Kakak bikin kaget aja. Apa sudah selesai urusannya? " tanya Faza.
"Sudah, ayo kita turun. "
Faza lalu mendorong kursi roda suaminya itu dan membawanya ke lantai bawah. Tanpa bertanya apapun lagi kepada suaminya.
"Sayang ponselku mana, aku harus menghubungi dokter Ahmed. "
"Untuk apa? "
"Aku menginginkan dokter lain yang menanganiku."
"Tidak apa-apa. Mana ponselku. "
Faza lalu memberikan ponsel suaminya itu. Dan Murad mulai menghubungi dokter Ahmed. Setelah membicarakan tentang keinginannya, dokter Ahmed tidak bisa menentang keinginan pemilik rumah sakit kalau dia tidak ingin di pecat. Akhirnya dia merekomendasikan dokter lain untuk menangani Murad.
Sarapan pun di mulai, Murad yang penasaran pun segera menanyakan kejadian yang terjadi kemarin pada adiknya itu.
"Zo kemarin kamu sampai rumah jam berapa? Mommy dan daddy menunggumu. " ujar Murad yang mulai mngorek informasi.
"Aku pulang jam sepuluhan kak, bersama Ezra. " kata Zoya dengan senyumam yang tak lekang dari bibirnya.
"Bahagia sekali, apa kau baru dapat undian. " celetuk Rayyan.
Mendengar celetukan Rayyan membuat Zoya langsung mengerucutkan bibirnya.
"Kemarin kamu perginya sama Evan, kenapa pulangnya sama sama Ezra? tanya Murad dengan wajah dibuat penasaran.
__ADS_1
" Oh, karena Evan mendapat telpon dari ayahnya kalau ibunya masuk rumah sakit, dan dia langsung pergi ke Jerman. Saat dia ingin mengantarku aku tidak mau, dan meminta Ezra menjemput ku. " Cerita Zoya dengan sedikit kebohongan tentang meminta Ezra yang mengantarnya pulang. Padahal mereka telah bertemu di sana lebih dulu.
Murad melirik Rayyan, Rayyan yang mendapat tatapan dari kakaknya pun mengerti.
"Kenapa harus Ezra, bukankakah aku juga bisa menjemputmu Zo. " kini giliran Rayyan yang memancingnya.
"Entahlah, saat itu yang aku pikirkan hanya Ezra. " Zoya masih keukeuh dengan pendiriannya.
"Baiklah, terserah kau saja." ketus Rayyan dengan wajah dibuat kesaln
"Wah itu artinya dokter Evan hari ini tidak kerja dong kalau dia berada di Jerman. Pantas saja kak Murad menghubungi dokter Ahmed untuk menggantikan dokter yang meriksa kakak hari ini. " celetukan dari Faza membuat semua orang bingung.
Apaakah Murad tau kalau dokter Evan tidak kerja hari ini. Murad yang tau akan tatapan semua orang akhirnya angkat bicara.
"Aku tidak tau kalau dokter Evan tidak masuk hari ini. Karena aku ingin mengganti dokterku dengan dokter lain yang lebih bagus dari dokter Evan. Aku ingin lekas sembuh dan segera berjalan lagi. lalu memenuhi permintaan istri kecilku yaitu menggendongnya. " kata Murad memberi alasan kepada semua orang atas tatapan curiga dari mereka semua. Dan memberikan kedipan mematikan kepada Faza.
**********
Siang itu di University Hospital Munich.
Seorang wanita muda masuk keruangan rawat Abe. Disana ada Alice dan Evan yang sedang menjaga Abe yang masih tertidur.
"Selamat siang, kakakku sayang. " sapa wanita itu kepada Evan dan Alice.
"Kau, mau apa kau kesini? " tanya Evan yang merasa tidak suka dengan kedatangan adiknya itu.
Alice segera mendekati Abe dan memeluknya dengan erat. Sedangkan Evan sudah pasang badan untuk melindungj anak dan istrinya dari wanita psikopat di hadapannya ini.
"Tentu saja aku ingin menjenguk Keponakanku dan melihat kakakku yang baru datang dari Turki. Apa tidak boleh, kenapa kalian ketakutan seperti itu? " tanya wanita itu kepada Evan.
Wanita itu langsung duduk di sofa yang tersedia di sana. Dan mengacuhkan ketakutan sepasang suami istri itu.
"Apa kau sudah melakukan tugasmu, kak? " tanya wanita itu dengan menatap tajam kearah Evan.
"Aku sudah melakukannya, dan sudah mendekatinya tinggal sedikit lagi, dia akan jatuh kepelukan ku. " ujar Evan dengan Ragu.
"Baguslah, setelah wanita itu hancur, giliranku yang akan datang menghancurkan sang pewaris." Ujar wanita itu dengan penuh percaya diri. "Dan aku akan menguasai harta mereka," ujar wanita muda itu dengan tawa yang menakutkan.
__ADS_1
" Jangan mimpi Monica "