Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Dejavu


__ADS_3

Pagi harinya, Faza bangun dari tidurnya dan menggeliat kan tubuhnya untuk melemaskan otot tubuhnya, tapi tiba-tiba dia terpekik saat merasakan nyeri dibagian bawah. Sepertinya dia lupa dengan apa yang telah terjadi semalam.


Murad yang merasa terganggu tidurnya karena gerakan dan teriakan Faza mulai membuka matanya.


"Kenapa sayang? " tanya Murad dengan suara khas bangun tidur. Dia mencoba menduduk dirinya dan melihat apa yang terjadi pada istri kecilnya itu.


"Kenapa? " tanyanya lagi saat tidak mendapat jawaban dari sang istri.


"Sakit.... " rengek Faza dengan manja


"Kemarilah biar aku lihat. "


Faza menggeleng. "Malu... "


"Ayolah Faza, aku suamimu, dan aku sudah melihat semuanya. Bahkan semalam kita sudah melakukannya. Apa lagi yang membuatmu malu. " kata Murad yang sedikit kesal karena Faza selalu saja bilang malu.


"Tapi kak? "


"Sudah diamlah, biar aku lihat. "


Murad dengan gerakan yang terbatas langsung melihat keadaan bawah istrinya, dan dia langsung meringis saat melihatnya.


"Apakah sakit? " pertanyaan konyol yang ditanyakan Murada kepada istrinya, sama seperti sang daddy kala itu saat dia selesai buka puasa.


Faza langsung mengangguk. "Punya kakak sangat besar. Jadi, apakah punyaku robek? " tanya Faza dengan polosnya.


Murad hanya menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan polos sang istri.


"Tidak, tidak apa-apa Faza. Mungkin karena posisi semalam. Karena aku yang tidak bisa diatas, dan kita terlalu memaksakan nya. " ujar Murad dengan rasa bersalah.


Melihat wajah suaminya yang merasa bersalah, Faza langsung menangkup wajahnya dan langsung memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah suaminya.


"Aku tidak apa-apa. Ayo kita mandi. Sebelum waktu subuhnya habis. " Faza dengan tertatih segera bangun dari tempat tidur dan memakai bathrobenya.


Dan dengan menahan sakitnya, Faza bersikap biasa saja agar Murad tidak merasa khawatir.


Faza segera membantu membopong tubuh suaminya yang polos itu ke kursi roda. Dan segera mendorongnya ke kamar mandi.


"Faza, maafkan aku ya. Aku tau kamu sedang menahan rasa sakit. " ujar Murad saat mereka sudah berada di dalam kamar mandi.


"Tidak apa-apa kak, aku baik-baik saja. " kata Faza sambil menggosok tubuh suaminya.


Setelah suaminya bersih dan sudah memakaikan bathrobe kini giliran Faza yang membersihkan tubuhnya. Murad melihat istrinya yang sedang mandi itu dengan tatapan yang entahlah.... Dia merasa bahagia dan bangga bisa menikahi gadis kecilnya. Karena dia bisa melayaninya dan merawatnya dengan baik sampai saat ini. Bahkan dia menahan rasa sakitnya hanya untuk membuatnya tidak khawatir.


Murad menyuruh Faza untuk istirahat saja hari ini, agar dia merasa nyaman. Sedangkan Murad turun ke bawah sendiri dengan menggunakan kursi roda elektriknya.


Mendengar pintu lift terbuka, semua orang melihat ke arah lift. Dan Murad keluar sendiri, tanpa Faza yang biasa mendorongnya.


"Sayang, kenapa kamu turun sendiri. Dimana Faza? " tanya Nisa yang langsung menyambut kedatangan anaknya itu.


"Faza sedang tidak enak badan, mom. Aku mau minta sarapan kami di antar ke kamar. "


"Sakit apa, Faza? kenapa mendadak. Semalam dia baik-baik saja. " tanya Rayyan yang memang sempat bertemu Faza saat keluar dari kamar kakaknya.


"Hanya sedikit demam, dan aku menyuruhnya istirahat. " kata Murad dengan menyembunyikan kegugupannya. Dan sikap Murad tadi bisa di tangkap sang mommy.


"Aku kembali, ke kamar dulu. Maaf hari ini kami tidak ikut sarapan bersama. " ujar Murad yang merasa tak enak kepada semuanya.


"Tidak apa-apa Murad. Jagalah istrimu. " kata Erhan yang sejak tadi hanya menyimak saja.


Murad lalu menuju dapur untuk meminta pelayan mengantar makanan ke kamarnya. Nisa mengikuti anaknya, karena merasa khawatir pada anak dan menantunya itu. Dia langsung mendorong kursi roda Murad, Murad yang merasa terkejut ingin protes. Tapi setelah tau kalau sang Mommy yang mendorongnya Murad langsung terdiam.


"Ada apa sayang? Apa yang terjadi dengan Faza. " bisik Nisa di telinga Murad.

__ADS_1


Tepat sekali mommynya pasti langsung peka dengan keadaannya.


"Mom, bisakah nanti setelah semua orang berangkat, mommy datang ke kamarku. Dan bawa seorang dokter wanita juga. "


"Apakah serius? " Nisa menjadi khawatir saat Murad menyuruhnya membawa seorang dokter


"tidak mom. Aku hanya ingin memastikan istriku baik-baik saja. Dan tolong rahasiakan ini dari semua orang. "


"Baiklah kalau begitu. Apa kamu bisa naik sendiri? Karena mommy akan mendampingi daddymu sarapan."


"Tentu mom. "


Murad kembali memasuki lift untuk naik ke kamarnya.


Sedangkan semua orang bertanya apa yang terjadi, dan Nisa yang sudah berjanji pada anaknya tidak akan mengatakan apapun kepada mereka walau dia sendiri tidak tau apa yang terjadi pada Faza sebenarnya. Hanya mengatakan kalau Faza sedikit demam karena telalu lama berendam.


Di kamar Faza yang masih menutup matanya karena tidur lagi setelah sholat subuh tadi, mulai membuka matanya saat Murad membuka pintu dan menuju kearahnya.


"Apakah sudah lebih baik? " tanya Murad untuk memastikan keadaan istrinya.


Faza mengangguk. "Maaf aku tidak bisa mengantar kakak ke bawah. "


"Tidak apa-apa Faza. Asal kau baik-baik saja sekarang. "


Tak lama, terdengar pintu di ketuk. Dan? Murad langsung menyuruhnya masuk karena dia tau kalau yang masuk pasti pelayan yang akan mengantarkan makanan.


"Ayo makan, " Murad mulai menyuapi istrinya itu agar cepat memakan makanannya.


"Tapi kak, aku masih bisa sendiri. " ujar Faza yang merasa tak enak karena Murad ingin menyuapinya.


"Menurutlah sayang, tidak hanya kau yang merawatku. Aku juga harus merawatmu saat kamu sakit. Jadi sekarang ayo buka mulutmu. Jangan membantah perintah suami. " ancam Murad saat melihat Faza ingin membantahnya.


Akhirnya dengan terpaksa Faza membuka mulutnya dan mereka sarapan bersama dengan diiringi candaan.


"Apa yang terjadi sayang? " tanyanya langsung mendekat saat melihat Faza duduk di atas tempat tidur.


"Mom apa semua orang sudah berangkat? " tanya Murad, dia tidak ingin mereka atau adik-adiknya tau kalau sakit Faza karena ulahnya semalam.


"Sudah sekarang katakan pada mommy, apa yang terjadi. "


"Dokter? "


"Muraaaaaddddd???? dokter sebentar lagi datang dia masih di perjalanan. Sekarang katakan pada mommy, apa yang terjadi. " kesal Nisa pada anaknya itu


Faza tertunduk malu, karena tidak mungkin dia mengatakan hal memalukan ini kepada ibu mertuanya.


Melihat Faza yang tertunduk, pandangan Nisa beralih ke anaknya...


"Murad katakan. " Tanyanya dengan kesal, karena sejak tadi, dia tidak mendapat jawaban baik dari Murad atau Faza.


"Semalam kami melakukan malam pertama kami mom. " Akhirnya Murad mengatakan apa yang terjadi.


Mendengar itu mata Nisa membulat.


"Bagaimana bisa, bukankah kakimu masih sakit? Atau selama ini kamu berpura-pura sakit. " Nisa merasa geram karena merasa dibohongi oleh anaknya.


"Tidak mom, kak Murad memang masih sakit. " bela Faza yang tidak ingin suaminya di marahi.


"Lalu bagaimana kalian melakukannya? " tanya Nisa dengan sedikit frustasi.


"Atau jangan-jangan? " Nisa menutup mulutnya saat dia mengingat satu gerakan yang bisa dilakukan sepasang suami istri walau keadaan pria sedang tertidur.


"Seperti yang mommy pikirkan. " kata Murad dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


Lantas Nisa menghujani Murad dengan pukulan bertubi-tubi. Karena itu pasti sangat menyakitkan untuk Faza, apalagi ini yang pertama baginya.


"Apa kau baik-baik saja sayang? " tanya Nisa kepada menantunya itu dengan khawatir.


"Aku baik-baik saja mom. Tidak apa-apa. Lagipula ini adalah tugasku sebagai seorang istri untuk melayani kakak. " kata Faza dengan tersipu.


"Kau memang gadis baik Faza. Tak salah kami memilihmu. " ujar Nisa dan langsung memeluk menantunya itu.


Tak lama seorang pelayan mengantarkan seorang dokter wanita kekamar Murad. Siapa lagi kalau bukan dokter Flo. Dokter Flo sudah menjadi dokter keluarga Erhan untuk para wanita yang sakit dikeluarga itu.


"Selamat pagi Nyonya Nisa, tuan muda dan nona kecil. " sapa dokter Flo pada semua orang yang ada di ruangan itu.


"dokter walau kecil begitu, dia adalah istriku. " ketus Murad yang tidak terima istrinya di panggil nona kecil.


Nisa dan dokter Flo hanya menggeleng mendengar ucapan Murad.


"Siapa yang harus saya periksa? " tanya dokter Flo pada akhirnya tanpa mau berdebat dengan Murad.


"Dokter, tolong priksa menantuku sepertinya dia mengalami kejadian yang terjadi padaku duapuluh tujuh tahun yang lalu. " ujar Nisa mengingatkan kejadian berpuluh tahun lalu kepada dokter Flo.


Dan itu sukses membuat dokter Flo, Murad dan Faza melongo tak percaya.


Terutama dokter Flo, seperti dejavu dia mencoba mengingat apa yang trrjafi duapuluh tujuh tahun lalu.. Dia jadi berfikir, "rupanya gen ganas dari ayahnya bisa menular ke anaknya padahal dia sedang duduk dikursi roda. " batin dokter Flo sambil bergidik membayangkan yang terjadi pada wanita di keluarga ini.


"dokter, jangan menatapku aneh seperti itu. aku hanya melakukan sekali dengan istriku. " jelas Murad yang memandangnya dengan tak percaya.


Dokter Flo menghembuskan nafasnya dia, lalu melakukan tugasnya. Faza yang malu-malu akhirnya membuka kakinya lebar-lebar.


"Apakah ini yang pertama kalinya? " tanya dokter Flo pada Faza.


"Tentu saja, kami baru melakukannya semalam. " kata Murad tanpa tau malu.


"Murad diam. " Bentak Nisa.


Doktee Flo mendesah kasar.


"Tuan muda, nona Muda. Maaf, saya sepertinya harus memberikan pelajaran singkat kepada kalian. Saya tau keadaan tuan Murad masih belum sembuh sempurna. Tapi saya sarankan kepada kalian untuk mengontrol gairah kalian. Jika memang kalian menginginkan nya, kalian bisa melakukan dengan pelan dan jangan terburu-buru. Jika tidak ingin melukai nona Faza. "


"Apa aku melukaimu sayang? " pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Murad. dan dibalas Faza dengan gelengan.


Dokter Flo dan Nisa hanya berdecak kesal melihat tingkah tuan muda itu.


"Baiklah-baiklah, aku tidak akan melanjutkan pelajarannya. ini resep salep yang harus anda oleskan di bagian yang lecet. Karena sepertinya seekor ular itu memaksa masuk dengan kasar, sehingga membuat sarangnya jadi sedikit terluka." Sindir dokter Flo tapi tidak dihiraukan Murad.


Dokter Flo berpamitan kepada Nisa dan mengatakan kalau dia akan pensiun. Nisa sangat berterima kasih kepada dokter Flo karena sudah mau menjadi dokter pribadi mereka selama bertahun-tahun. Dan meminta maaf jika keluarga mereka punya banyak salah kepada dokter


Flo.


Setelah kepergian dokter Flo Nisa kembali ke kamar Murad untuk memastikan keadaan Faza.


"Mom, bisa bicara sebentar. " kata Murad sebelum mommy pergi.


Mereka berdua bicara di depan kamar, agar Faza tidak mendengar.


"Ada apa Murad? "


"Bisakah mommy mengundang papa Kemal dan mama Alima makan malam? "


"Kenapa? "


"Faza merindukan orang tuanya kata nya mom. "


"Baiklah, nanti malam kita makan malam bersama. Pastikan istrimu baik- baik saja. "

__ADS_1


__ADS_2