Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Hari Pertama Sebagai Istri.


__ADS_3

Setelah saling menyesap kenikmatan satu sama lain mereka saling melempar senyum. Faza langsung memeluk Murad dan menelusup kan wajahnya di ceruk leher sang suami.


"Kenapa? " tanya Murad sambil membelai rambut Faza yang basah.


"Aku malu kak. "


"Kenapa harus malu? Aku kan suamimu? "


"Aku belum terbiasa. "


Murad tersenyum mendengar ucapan Faza. Lalu melepaskan pelukan Faza agar bisa menatap wajah istrinya itu.


"Aku kedinginan, bisakah mengambilkan handuk untukku? " bisik Murad ditelinga istrinya.


Mendengar itu Faza langsung bangkit dan segera mengambil handuk untuk suaminya. Selama kepergian Faza mengambil handuk, Murad menatap bagian bawahnya. Dan dia bisa tersenyum puas.


"Syukurlah ternyata tidak ada masalah. Dan kau masih berfungsi dengan baik adik kecil. " gumam Murad dengan suara lirih agar tidak di dengar Faza.


Faza segera kembali dengan handuk dan bathrobe . Dia langsung membasuh tubuh Murad yang basah tanpa menghiraukan sesuatu yang telah tertidur, dan langsung memakaikan Bathrobe pada Murad agar tidak kedinginan. Setelah itu memindahkannya ke kursi roda.


"Kakak keluar dulu ya, aku mau mandi sebentar, " Faza mendorong Murad sampai di depan pintu kamar mandi dan segera menutup pintu kamar mandinya.


Murad berjalan ke sisi ranjang, mencoba berpindah sendiri dan menapakkan kakinya di lantai. Manahan sedikit badannya, tapi memang tidak bisa. Kakinya terlalu sakit untuk menopang berat badannya. Akhirnya dia memutuskan menunggu istrinya saja.


Di kamar mandi, Faza masih mengguyur tubuhnya yang terasa panas. Bagaimana tidak, ini adalah pertama kalinya dia dan Murad berciuman. Dan dapat pula ia rasakan sesuatu yang tiba-tiba menusuk bokongnya dibawah sana saat itu. Tapi tak ia hiraukan. Takut Murad makin menggodanya.


Mengingat semua itu, wajah Faza memanas. Dia harus segera menyelesaikan mandinya, karena mungkin Murad masih menunggunya. Faza segera keluar dengan memakai bathrobe dan handuk di kepala. Dia menuju walk in closet untuk berganti baju dan mengambilkan piyama baru untuk Murad.


Dengan sedikit ragu dia mengambil pakaian dalam suaminya. "Benar-benar memalukan. " batin Faza. karena baru pertama kalinya dia mengambil pakaian dalam milik pria.


Faza segera mamakaikan piyama baru kepada Murad.


"Kakak, apa kakak bisa memakai ini. " tanya Faza sambil menunjukkan pakaian dalamnya.


"Bantu aku ke ranjang. "


Faza membantu menopang tubuh Murad ke atas ranjang. Lalu Murad segera memakai pakaian dalamnya. Setelah semua terpakai semua, Murad menyuruh Faza untuk segera naik ke ranjang dan tidur disamping nya.

__ADS_1


"Sayang, kemarilah. " panggil Murad kepada istrinya yang sedang mengeringkan rambut.


Mendapat panggilan sayang dari Murad, membuat wajah Faza memerah. Dia langsung naik ke ranjang dan tidur di samping Murad.


Murad langsung menghadap ke arah Faza, dan memandang wajah cantik istrinya itu.


"Faza, maafkan aku, kalau diawal pernikahan kita ini mungkin aku akan sangat menyusahkanmu karena sakitku ini. Tapi aku janji, setelah aku sembuh, aku akan membahagiakan mu. " Murad memeluk perut rata Faza dan mengungkapkan perasaannya kepada Faza istrinya


"Kakak ngomong apa sih, sudah aku bilang di awalkan. Kalau aku tidak apa-apa. kakak sama sekali tidak menyusahkan aku. Aku sangat bahagia bisa menikah dengan kakak. " Faza membalas pelukan Murad dan menenggelamkan wajahnya di dada Murad.


Akhirnya pengantin baru itu tidur dengan berpelukan, tanpa ritual suami istri yang biasa dilakukan pengantin baru di malam pertama.


********


Pagi ini, adalah hari pertama Faza di rumah suami nya. Walau ia sudah sering keluar masuk mansion besar ini, tapi ini adalah hari pertama dia sebagai salah satu anggota keluarga disini.


Faza bangun pagi-pagi sekali, dan segera membersihkan tubuhnya, dilihatnya Murad masih tertidur. Dia langsung turun ke bawah untuk membantu menyiapkan sarapan, sesuai wejangan dari mamanya,agar mau membantu di dapur saat pagi dan jangan mempermalukan keluarganya. Tapi langkahnya terhenti, mendengar panggilan dari ibu mertua nya.


"Kamu mau kemana? " tanya Nisa kepada menantunya itu.


"Mau ke dapur ma membantu menyiapkan sarapan." jawab Faza sedikit ragu.


"Tapi, ma.... "


"Sudah jangan hiraukan ucapan mamamu. Mommy tau, pasti mamamu yang menyuruhmu untuk menjadi menantu yang baik kan? " tanya Nisa menggoda Faza.


Faza mengangguk dan tertunduk malu.


"Kamu sudah menjadi menantu yang baik jika kamu bisa menjadi istri yang baik untuk Murad, sayang. Okey... Sekarang kembalilah ke kamar. Murad pasti sangat membutuhkan mu.Selama ini dia tidak mau disentuh siapapun untuk mengurusnya kecuali mommy. Dan mungkin sekarang, kamulah yang bisa menyentuh tubuhnya dam menggantikan mommy mengurus anak itu. "


Faza tertunduk dengan wajah yang memanas, karena ucapan fulgar dari ibu mertuanya.


"Sudah, kembalilah sana. " Nisa kemudian meninggalkan Faza menuju dapur dan melihat apakah sarapan sudan siap.


Faza kembali naik ke kamarnya, saat masuk dia sudah melihat Murad duduk dengan menatap tajam kearahnya.


"Dari mana? " tanyanya dengan nada suara dingin.

__ADS_1


Faza bergidik mendengarkan suara dan tatapan Murad yang tak biasanya.


"A.... aku dari bawah, A.. aku ingin membantu menyiapkan sarapan, tapi dilarang oleh mommy. " jawabnya ragu dan takut-takut sambil mendekati suaminya.


Murad menarik tangan Faza hingga dia terduduk di ranjang. Lalu menarik tengkuk lehernya mendekat ke arahnya. Dan...


"Cup... "


Sebuah kecupan dan l*****n kecil ia berikan di bibir manis Faza.


"Morning kiss. " kata Murad setelah melepaskan ciumannya.


Faza hanya mengerjap-ngerjapkan matanya mendapat serangan dadakan dari suaminya.


"Lainkali, besok dan seterusnya, kamu jangan keluar kamar sebelum aku terbangun. Tak perlu ke dapur, karena tugasmu bukan disana. Tapi disini, mengurus ku dan melayaniku. Semua urusan dapur dan rumah sudah dilakukan pelayan. Jadi kamu tidak perlu memikirkan apapun. Cukup pikirkan aku saja. " Murad menjelaskan panjang lebar tentang tugas Faza di rumah ini.


"Apa kau faham, Faza? "


Faza mengangguk mengerti, apa yang dikatakan Suaminya dan yang dikatakan Mommy Nisa intinya sama. Tugasnya hanya mengurus dan melayani Murad saja. bukan lainnya.


"Sekarang bantu aku mandi. "


"Ba... baik... "


Faza selalu merasa gugup saat Murad memintanya membantu mandi. Tapi mau tidak mau dia harus melakukannya karena itu sudah menjadi tugasnya.


Seperti semalam, Faza melakukan semuanya dengan gugup dan ragu.


Murad memegang tangan Faza, dan mendudukkan nya di pangkuannya,dan membawa tangan itu untuk menyentuh dadanya yang polos tanpa sehelai benangpun. "Faza... jangan gugup, aku ini suamimu. Semua yang ada pada tubuhku sudah halal kau lihat dan kau sentuh bahkan kau miliki." kata Murad meyakinkan istri kecilnya itu.


"Ta... tapi aku belum terbiasa kakak. " kata Faza dengan wajah yang sudah memerah seperti kepiting rebus.


"Biasakan mulai sekarang kau biasakan, sayang. "


Blush...


Lagi... Kata-kata Murad mebuat Faza salah tingkah, dan hanya bisa menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Cup..


Sekarang ayo mandikan aku.


__ADS_2