
Waktu beranjak sore , pekerjaan Murad pun sudah selesai Ia kerjakan . Tapi tidak ada tanda-tanda Faza bangun dari tidurnya . Murad segera menutup berkas-berkasnya , dia Lalu masuk ke dalam ruangan di mana Faza sedang tidur . Dilihatnya Faza masih meringkuk di dalam selimut . Murad lalu mendekat dan mengecek keadaan Faza , Kenapa dia tidak bangun dari tadi .
Suhu tubuhnya normal dan tidak ada yang aneh pada diri Faza. Murad lalu mencoba membangunkan istri kecilnya itu .
"Sayang ayo bangun , ini sudah sore . Sudah waktunya kita pulang ."
Faza hanya menggeliatkan tubuhnya kemudian tidur kembali , tanpa membuka matanya sama sekali .
Melihat itu Murad menggelengkan kepalanya, karena tidak biasanya Faza bandel dan nakal seperti ini. Dia langsung menciumi seluruh wajah Faza , sehingga membuat Faza membuka matanya .
"Kakak, aku masih ngantuk.. Biarkan aku tidur sebentar lagi, ya. Nanti malam aku akan melayanimu lagi, sekarang biarkan aku tidur. " pinta Faza sambil bergumam kepada suaminya dan ingin menutup matanya lagi.
"Faza sayang... coba kamu lihat sekarang jam berapa? " Murad langsung menunjukkan ponselnya di depan Faza. Faza hanya melirik, lalu memejamkan matanya lagi.
"Jam lima sore. " ucapnya sambil meneruskan tidurnya.
Tak lama...
"Apa? jam lima sore. " Faza langsung merebut ponsel suaminya dan melihat waktu yang tertera di sana.
"Ya Tuhan, kakak. Kenapa tidak membangunkanku? Aku belum berkeliling perusahaan ini aku belum melihat ruangan kak Ezra dan kak Rayyan..... " terus saja Faza mengomel, sambil menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Murad hanya memutar bola matanya malas mendengar ocehan istrinya itu, Dia langsung membersihkan tempat tidurnya yang terdapat bekas percintaan merek siang ini.
"Sepertinya harus di cuci. " gumamnya." Dan aku harus menyiapkan stok bedcover lebih banyak mulai sekarang, karena istriku sepertinya tidak akan betah di rumah. " Murad tersenyum sambil membayangkan hari-harinya diperusahaan dengan ditemani istri kecilnya.
Tak berapa lama , Faza keluar dengan rambut basahnya . Murad menyuruhnya duduk di sofa dan membantu istrinya mengeringkan rambutnya .
"Sayang , Aku mau bertanya kepadamu ."
"Tanya apa Kak ?"
"Kenapa hari ini kamu bersikap aneh , Tidak seperti biasanya ."
"Maksud kakak ?"
Murad mulai menceritakan , keanehan yang ia rasakan pada diri Faza mulai makan dalam porsi banyak , hingga mencurigainya dan berakhir di ranjang . Dengan Faza yang lebih agresif. Dan saat bangun , Faza Tidak segan untuk mengomelinya. Karena selama ini Faza adalah seorang istri yang patuh dan segan kepada suaminya .
Mendengar cerita dari Murad Fajar langsung menundukkan kepalanya , dan tiba-tiba dia terisak .
__ADS_1
"Tuh kan ? Apalagi ini ?" Gumam Murad dalam hati
"Hei, kenapa kamu menangis, sayang ? Apa ada ucapanku yang salah ?" tanya Murad yang semakin tidak mengerti dengan keadaan Faza.
Faza manggeleng . "Aku tidak tahu , apa yang terjadi padaku . Kenapa aku tiba-tiba berubah begitu cepat dan aku tidak bisa mengendalikannya , aku hanya ingin melakukan apa yang ingin aku lakukan . Maafkan Aku , kak. Karena sudah berani mengomeli kakak ." Kata Faza sambil tertunduk.
Murad langsung mengangkat dagu Faza, dan menghapus jejak air mata di pipinya.
"Kamu kenapa? " Tanya Murad dengan lembut.
"Aku tidak tau, kak. " Faza langsung berhambur ke dalam pelukan Murad, dan menangis terisak di sana.
Ezra yang sudah masuk ke dalam ruangan Murad dan bermaksud mengajak Murad pulang, jadi terheran saat mendengar suara tangisan Faza dari ruangan pribadi Murad. Dia langsung melihat apa yang terjadi di sana. Dilihatnya Faza tengah menangis di pelukan suaminya.
Ezra lalu bertanya melalui isyarat bibir. "Kenapa? "
Murad menggeleng dan menyuruhnya diam.
Faza lalu melepaskan pelukannya, dan Murad lalu mengusap air mata Faza dengan ibu jarinya.
"Apa kau sudah merasa lebih baik? " tanya Murad kemudian setelah melihat istrinya tenang.
" Ya sudah kalau begitu, Sebaiknya kita pulang, kakakmu sudah menunggu kita dari tadi. " ujar Murad menunjuk kearah Ezra yang berdiri tegak bersandar di daun pintu.
"Aku tidak mau pulang dengan Kak Ezra , Aku muak melihat wajah meyebalkan kak Ezra. Sebaiknya Kakak pergi dari sini . " Usir Faza dengan teganya kepada sang kakak .
Mendengarkan hal itu membuat Murad dan Ezra terbelalak tak percaya . Kenapa bisa , Faza tidak mau melihat wajah kakaknya . Padahal tadi dia bilang Kalau kakaknya itu sangat menggemaskan? Murad jadi semakin merasa aneh dengan perubahan-perubahan sikap Faza.
"Tapi sayang , Aku kan belum berani naik mobil sendiri . Karena Sudah lama aku tidak mengendarai mobil sendiri setelah kecelakaan mobil itu , dan lagi pula aku juga baru sembuh . Jadi bagaimana dong ." Ujar Murad , yang sedikit kesal dengan kelakuan istrinya.
Mendengar hal itu , Faza juga baru teringat kalau suaminya baru sembuh paska kecelakaan .
Kalau sudah begini , Faza tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan .
"Terus gimana dong Kak , Aku tidak mau melihat wajah Kak Ezra . Aku mual rasanya melihat wajah Kak Ezra .?"
"Bagaimana kalau Ezra menutup wajahnya dengan masker dan topi , jadi kamu tidak akan merasa kalau itu adalah Ezra. Melainkan seorang penculik yang sedang menculik kita berdua ." ucap Murad dengan bersemangat
Mendengar ucapan Murad, Ezra langsung terbatuk . Tak percaya dengan kelakuan kedua pasangan aneh di depannya . Memangnya salah dia apa ? Yang wanita tidak ingin bertemu dengannya karena melihat wajahnya , sedangkan suaminya mengatakan Dia seorang penculik .
__ADS_1
"Wah, Wah kalian berdua benar-benar keterlaluan ." gerutu Ezra kepada adiknya dan iparnya itu. Dia langsung beranjak dari sana.
"Kamu bersiaplah dulu, aku akan mengatakan sesuatu kepada Ezra. "
Faza mengangguk , dan segera bersiap sesuai permintaan suaminya . Sedangkan Murad , langsung berlari mengajar Ezra . Ezra yang akan keluar dari ruangannya pun berhenti saat Murad memanggilnya .
"Ezra tunggu. " Panggil Murad.
"Ada apa? " ucap Ezra ketus.
Murad langsung mengajak Ezra keluar dari ruangannya , untuk berbicara empat mata agar Ezra mengerti .
Murad Lalu menceritakan apa yang terjadi hari ini pada Faza. Ezra yang mendengarkan cerita Murad pun merasa tak percaya , dengan apa yang Faza lakukan.
"Benarkah seperti itu ? Aku tidak percaya ."
"Kalau kau tidak percaya , kau bahkan sudah membuktikannya . Padahal tadi dia bilang wajahmu itu menggemaskan saat kesal , tapi kenapa baru saja dia bilang kalau dia enggam melihat wajahmu . Sekarang Katakan padaku . Apa kau masih tidak percaya ?"
Mendengar ucapan Murad , mau tak mau Ezra menganggukkan kepalanya .
"Kau benar , Sebenarnya apa yang terjadi pada adikku itu . Kenapa dia bisa berubah , menjadi sangat menyebalkan seperti Rayyan ." gumam Ezra yang didengar seseorang.
"Ada apa kau membawa-bawa namaku ." Tanya Rayyan saat dia tak sengaja mendengarkan namanya disebut oleh Ezra .
"Tidak apa-apa. " Elak Ezra.
Faza terlihat keluar dari ruangan Murad dengan pakaian yang sudah rapi. Dia lalu menggandeng suaminya dan tidak memperdulikan Ezra dan Rayyan yang sedang berbicara dengan Murad.
"Ayo kak. Kita pulang. " rengek Faza.
Murad lalu menganggukkan kepalanya kepada Ezra dan Ezra mengerti isyarat itu. Dia langsung pergi meninggalkan Murad dan Faza juga Rayyan.
"Dia kenapa kak? "
"Entahlah, ayo kita pulang. Apa kau menjemput istrimu dulu? "
"Iya, seperti biasa. "
Faza tidak memperdulikan obrolan mereka berdua. Dia hanya bergelayut manja di lengan suaminya, dan menghirup aroma tubuh suaminya yang bisa menenangkan setiap syaraf di dalam tubuhnya.
__ADS_1