
" Saya terima nikah dan kawinnya Faeza Akbar binti Kemal Akbar dengan mas kawin tersebut, tunai. " Murad mengucapkan ikrar Ijab Qabul itu dengan satu kali tarikan nafas dan suaranya yang lantang.
Dan mendapat sahutan kata "SAH" dari semua keluarga yang hadir.
Lantunan do'a pun dibacakan untuk mendoakan kedua mempelai yang sedang berbahagia saat ini.
Murad menyematkan cincin di jari manis Faza dan begitu juga sebaliknya, Faza sedikit membungkuk untuk mencium tangan Murad yang duduk di kursi roda, lalu Murad membalasnya dengan ciuman lama di kening Faza. Tersemat sebuah doa dan harapan di sana untuk istrinya.
Tak lupa Nisa telah mengabadikan momen bersejarah ini melalui ahlinya, untuk di tayangkan nanti saat acara resepsi mereka digelar. Nisa memang sangat teliti seperti mama Aylin, karena mama Aylin memang menularkan ketelitian nya itu kepada menantu kesayangannya.
"Selamat sayang, mulai hari ini kamu adalah bagian dari keluarga kami. " ujar Nisa sambil memeluk menantunya itu, begitu juga mama Aylin dan Erhan yang memeluk Faza bergantian.
"Kakak, selamat. Aku harap kau tetap menyayangi ku walau sudah menikah. " ujar Zoya yang memeluk manja kepada kakaknya, membuat Rayyan memutar bola matanya malas. Karena menurutnya Zoya terlalu berlebihan.
"Sudah minggir gantian, aku juga mau memeluk kakakku. "
Rayyan mendorong tubuh Zoya agar melepaskan pelukannya dari Murad, hingga membuatnya hampir jatuh. Untung saja sebuah tangan kokoh menangkap tubuh Zoya.
"Apa kau tak apa-apa, Zo? " tanya Ezra dengan khawatir. Tanpa ia sadari jantungnya pun berdetak dengan kencang, saat bertatapan mata dengan wanita yang ia cintai itu.
"Terimakasih Ezra. Untung ada kamu, jika tidak mungkin ini akan menjadi hari yang memalukan bagiku. " kata Zoya sambil menggerutu kesal kepada Rayyan yang membuatnya hampir terjatuh. "Dasar saudara tidak ada akhlak. "
Ezra tersenyum mendengar gerutuan dari Zoya, ternyata gadis ini masih saja suka menggerutu dan ngomel tak jelas.
Murad dan Faza mengambil beberapa foto pernikahan bersama keluarganya sebagai kenang-kenangan. Dan mungkin akan menambah daftar foto yang akan dipajang di ruang keluarga.
Setelah acara selesai, mereka semua menyantap makan malam yang disiapkan diacara akad Murad dan Faza. Tak banyak orang yang datang karena ini adalah acara privasi keluarga Erhan dan Kemal. Dan hanya di hadiri dua keluarga inti saja.
"Mulai hari ini, kamu harus melayani suamimu dengan baik, sayang. Kamu harus bersabar dengan keadaan Murad yang seperti itu. " ujar Alima saat mereka hendak pulang ke rumahnya.
"Mama tenang saja, Aku tidak apa-apa. Aku bahagia dan akan melayani kak Murad dengan ikhlas. Karena ini adalah keinginanku. Mama jangan khawatir. " kata Faza menenangkan sang mama.
"Apa kau begitu mencintainya, nak? "
"Kalau masalah itu, mama jangan tanyakan lagi. Aku sangat mencintai kak Murad lebih dari yang kalian tau. " ungkap Faza dengan tersenyum.
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik disini. Ingat, sekarang kamu adalah seorang istri dan menantu dirumah ini. Jaga sikap dan perilakumu, nak. "
"Tentu saja ma. "
Mereka berdua kemudian berpelukan.
"Nis, aku titip anakku ya. " ujar Alima saat memeluk sahabatnya itu.
"Kamu ini seperti sama siapa aja. Faza juga anakku sekarang. Jadi aku pasti akan menjaganya. "
"Baiklah kalau begitu, kami pulang dulu. "
Akhirnya Kemal, Alima dan Ezra kembali ke rumahnya. Yang tertinggal hanya Faza disana, yang sudah menjadi istri Murad.
__ADS_1
"Faza, bawa Murad ke kamarnya. Dia pasti lelah karena seharian duduk di kursi roda. Dan kamu juga istirahat lah. "
"Baik mom, kami permisi. "
Setelah berpamitan kepada semua orang, Faza mendorong kursi roda Murad ke kamarnya. Nisa memandang mereka berdua dengan tatapan haru.
"Aku tidak menyangka kalau anak kita sudah menikah, dengan keadaan seperti ini. " Ujar Nisa yang memeluk suaminya saat melihat Murad dan Faza.
"Itu artinya Murad kita sudah dewasa sayang, jangan memperlakukan nya seperti anak kecil. Dia sudah ada yang mengurus sekarang." kata Erhan membalas pelukan istrinya.
"Kau benar, Faza. Gadis kecil itu, aku tidak menyangka kalau dia akan menjadi menantu kita." Ucap Nisa sambil terkekeh.
"Kita tidak tahu jalan takdir Tuhan, sayang. Ayo kita tidur. Aku sudah merindukanmu." bisik Erhan kepada istrinya itu.
Nisa mencubit perut suaminya, "Kamu nggak mau kalah sama pengantin baru mas.. Mereka saja belum tentu melakukannya malam ini. " gerutu Nisa kesal.
Yang Dibalas Erhan dengan cengiran dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Dikamar Murad.
Faza yang sudah sampai di kamar Murad pun segera memindahkan Murad ke atas ranjang dengan sedikit susah payah. Karena memang kaki Murad yang belum bisa di gerakkan, itu membatasi gerakannya.
"Ambilkan piyama ku Faza. " pinta Murad kepada istrinya itu.
Dengan cekatan Faza segera mengambil piyama Murad.
"Apa kakak bisa ganti baju sendiri? "
Sontak semburat merah muncul di pipi Faza.
"Kenapa? apa kau malu? " tanya Murad sambil melepaskan bajunya.
Wajah Faza semakin memerah melihat tonjolan otot-otot ditubuh Murad. Meskipun beberapa minggu ini dia tidak berolahraga.
Faza menggeleng kan kepalanya, lalu dia memakaikan piyama yang sudah disiapkan untuk Murad. Perlahan tapi pasti, Faza mengancingkan satu persatu kancing piyama suaminya itu dengan susah payah, dan matanya mengerjap-ngerjap lucu saat melihat tubuh berotot suaminya.
Murad hanya bisa menahan senyumnya melihat tingkah lucu Faza yang menggemaskan.
"Setelah ini celanaku juga, Faza. Tapi sebelumnya aku ingin buang air kecil, apa kau bisa membantuku. "
Tubuh Faza seketika menegang mendengar kata buang air kecil otaknya yang suci sudah traveling kemana-mana.
"Bi... bisa kak. "
Dengan tubuh gemetar Faza memindahkan Murad ke kursi rodanya lagi, dan segera membawanya ke kamar mandi.
"A... apa yang harus aku lakukan. " tanya Faza dengan tergagap.
"Bisa pindahkan aku ke sana? " tunjuk Murad ke toilet duduk.
__ADS_1
Faza menurut dan dengan sedikit gugup dia memindahkan suaminya itu duduk di toilet. Faza langsung membalikkan tubunya saat Murad hendak membuka celananya.
"Aaakkhh.. "
Sebuah teriakan membuat Faza menoleh. Matanya terbelalak melihat Murad membuka celananya hanya sampai paha.
"Ka... kakak kenapa. " tanya Faza dengan gugup, dengan wajah semerah tomat setelah melihat apa yang seharusnya tidak dia lihat.
"Kakiku sakit, aku tidak bisa mengangkat kakiku terlalu tinggi. " kata Murad dengan wajah meringis kesakitan.
Mendengar itu, Faza dengan sigap langsung membuka celana Murad tanpa peduli sesuatu yang menyembul disana. Setelah berhasil terlepas, Faza lalu sedikit menjauh dan membalikkan tubuhnya.
Terdengar suara air mancur yang mengalir, mungkin Murad sedang buang Air. Tapi tiba- tiba sebuah piyama terlempar kedepannya. Melihat itu Faza terbelalak.
"Bukankah itu piyama yang dipakai kakak tadi. " batinnya.
Faza memberanikan diri membalikkan tubuhnya, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Murad dalam keadaan naked, sedang membasahi tubuhnya dengan shower.
"Kakak, apa yang sedang kakak lakukan. " tanya Faza yang susah menelan salivanya melihat Murad dalam keadaan polos,dia tak mengerti kenapa Murad harus mandi malam malam begini.
Murad mematikan shower, "Apa kau bisa membantuku memakaikan sabun? Aku ingin mandi. Sudah hampir dua minggu tubuhku tidak dibersihkan dengan sabun. " Murad balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Faza.
Faza yang kebingungan dengan ulah Murad pun segera menuruti apa yang diinginkan suaminyaa itu. Dia segera membantu Murad membersihkan diri, walau dengan susah payah dia melakukannya.
Murad yang iseng dia lalu menyalakan showernya hingga membuat Faza ikut basah terkena cipratan shower.
"Kakak, iseng banget sih. " kesal Faza karena kini bajunya juga ikut basah.
Murad hanya tersenyum karena berhasil menjahili nya. Ia lalu menarik Faza duduk dipangkuan nya, dan itu membuat Faza terkejut. Karena takut melukai kaki Murad yang sakit.
"Kakak, nanti kaki kakak sakit. " Faza khawatir dengan keadaan suaminya, dengan jantung yang berdetak kencang.
Murad menggeleng, " kakiku yang sakit mulai lutut ke bawah, Faza. "
Ia lantas menarik tengkuk Faza, agar mendekat ke wajahnya.
"Kakak... " Jantung Faza semakin berdetak tak beraturan.
"Sssttt."
Tanpa aba lagi Murad langsung mengecup bibir Faza. Bibir yang pernah mencuri ciuman darinya kala itu. Faza langsung memejamkan matanya, merasa pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu. Toh sudah halal juga. batin Faza bergejolak.
Melihat istrinya yang sudah pasrah. Murad lalu memperdalam ciumannya, menyesapnya atas bawah. Murad benar benar menikmati bibir manis itu. Me****tnya tanpa ampun. Mereka sama-sama belajar, karena ini adalah yang pertama bagi mereka berdua.
Dibawah kucuran shower, sepasang pengantin baru itu sedang menikmati makanan pembukaan, sebelum melahap makanan utama yang entah kapan akan mereka makan.
Bersambung.
Curcol :
__ADS_1
Hai readers, cuma mo nyapa aja. Kenapa ya, makin kesini jempolnya makin dikit π€. Apa banyak yang nggak suka dengan cerita ini π₯Ή. Kalau ada kekurangan, boleh kasih saran dan ide buat kelanjutan kisah ini biar lebih menarik. Pasti othor tampung, seperti salah satu readers yang selalu ngasih othor masukan walau secara nggak langsung.
Jempol kalian, komentar, vote dan bintang dari kalian adalah penyemangat buat othor tetap berkaryaππΌππΌππΌπππ