
Siang ini Rayyan akan ada janji temu dengan Max. Dia sudah menyiapkan semua berkas-berkas milik dokter Evan yang akan di berikan kepada Max.
Saat menunjukkan makan siang Rayyan yang akan keluar ruangan dihadang Ezra yang mau masuk.
"Kau mau kenana? " tanya Ezra yang melihat Rayyan buru-buru
"Aku mau keluar sebentar. Kau handle semua pekerjaan ku, oke. Karena aku ada janji penting. Ujar Rayyan kepada Ezra.
"Baiklah, sampai waktu makan siang berakhir. " Ezra memperingatkan.
"Tentu saja. aku pergi dulu. "
Rayyan dengan berlari kecil menuju lift dan segera ke tempat pertemuannya dengan Max. Dia tidak ingin Max menunggunya dan akan marah padanya. Karena Rayyan sangat takut dengan sosok Max yang menurut nya sangat mengerikan.
Rayyan bertemu dengan Max di salah satu restoran Jepang dengan ruang VIP yang tersedia, agar privasi mereka terjaga. Saat berhadapan denga Max, Rayyan merasa sangat gugup, dan langsung memberikan berkas yang ia bawa kepada Max.
"Paman Max tolong, selidiki pria itu baik di sini atau di Jerman. Cari tahu alasan dia mendekati keluarga kami, dengan mendekati adikku Zoya sebagai jembatan.
"Baik, tuan muda. Saya akan mencari tau semua tentang dirinya sampai ke akar-akarnya. "
"Tentu saja paman, Max. Selidiki dia dengan seksama. Siapa ibunya keluarganya dan lainnya. Jangan sampai ada yang terlewat.
" Baik tuan muda, saya akan melakukan yang terbaik untuk keluarga tuan Erhan. " kata Max masih dengan memperhatikan secara seksama wajah targetnya.
'Baguslah. " Rayyan bisa tenang kali ini karena tugas dari sang kakak akan segera selesai.
Ternyata Max orangnya baik. Walaupun tatapannya tajam dan dingin. lebih mengerikan dari Ezra.
"Paman Max aku harap kamu menyelesaikan tugas ini secepatnya. Agar kami bisa segera mengambil tindakan jika memang Evan memiliki niat Terselubung. Dan adikku tidak terjebak suatu hubungan dengan orang yang salah. " ujar Rayyan setelah mereka lama terdiam.
"Baik tuan muda akan saya lakukan secepatnya. Besok saya akan berangkat kesana. Saya harus menyiapkan beberapa orang untuk mengawasi dan menyelidikinya disini. Setelah itu kami akan bekerja sesuai perintah anda. "
"Terima masih paman Max. Kalau begitu,ayo kita makan. "
"Terima kasih tuan muda. "
__ADS_1
Mereka berdua akhirnya makan siang bersama, dengan saling berbincang untuk mengakrabkan diri. Sebenarnya baik Rayyan maupun Max baru pertama kali bertemu. Dulu Rayyan tidak pernah mau jika diajak bertemu dengan Max, karena dia takut dengan sosok Max yang terlihat kaku dan galak. Sehingga yang sering bertemu dengannya hanya daddy dan kakaknya Murad. Tapi hari ini setelah bertemu, dan berbincang dengan Max, Rayyan bisa merasakan kalau Max adalah orang baik dan berbanding terbalik dengan ekspektasinya selamanya ini.
Maka dari itu, "dont judge a book by it's cover. "
Setelah menyelesaikan makanannya, Max segera berpamitan untuk pergi terlebih dahulu dari restoran itu. Dan setelah lima menit Rayyan menyusulnya keluar. Namun, saat keluar dari ruang privat, mata Rayyan menyipit melihat sosok seseorang yang sangat ia kenal walau baru pertama kali bertemu. Rayyan langsung mengeluarkan senyum lebarnya saat melihat sosok wanita cantik itu, dan berjalan mendekati nya.
"Selamat siang nona... " sapa Rayyan pada wanita itu,dan tanpa dipersilahkan duduk dia langsung duduk di kursi kosong di meja itu. Yah, wanita itu adalah Zahra. Wanita yang sempat membuat Rayyan terpukau pada pandangan pertama.
Zahra langsung menoleh ke asal suara, dan mendapati sosok Rayyan disana. Sosok yang Zahra cap tidak bisa tepat waktu dan tengil pada pertemuan pertama mereka.
"Anda, bagaimana anda bisa berada disini? " sebuah pertanyaan bodoh yang keluar dari wanita secerdas Zahra.
"Tentu saja siapapun akan kemari untuk makan siang atau sekedar makan di sini nona. Memangnya saya ngapain lagi ke tempat ini, berenang? "
Jawaban dari Rayyan tentu saja membuat Zahra kesal. Dan dia juga merutuki dirinya kenapa harus bertanya pertanyaan bodoh itu pada pria menyebalkan di hadapannya.
Sebelum, Zahra menjawab ucapan Rayyan, dia keburu didahului oleh pelayan yang mengantarkan makanan ke mejanya. Dengan mata berbinar dia melihat semua makanan yang terhidang didepan matanya. Dan itu tak luput dari perhatian Rayyan. Dari disini Rayyan bisa menyimpulkan kalau Zahra menyukai masakan Jepang.
Tapi tunggu dulu. Rayyan mengingat kembali berkas yang ia baca beberapa hari lalu kalau Zahra adalah seorang chef... Chef apa? atau masakan apa?
"Tuan, apa anda belum makan? Sehingga harus mencicipi makananku? "
Rayyan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa salah tingkah dengan pertanyaan yang Zahra tanyakan.
"Sudah sih tapi kelihatannya makananmu lebih enak. " kata Rayyan dengan cengiran bodohnya.
"Ck... pergilah tuan Rayyan kau sangat menggangguku. " ketus Zahra, lalu memasukkan sushi kemulut nya.
Melihat Zahra yang makan dengan lahapnya, membuat Rayyan menelan salivanya dengan susah payah. Sedangkan Zahra tidak memperdulikan sosok tidak tau malu itu didepannya, dan tetap memakan makanannya dengan lahap.
"Nona, melihatmu makan aku jadi ingin makan lagi. Bolehkah aku mencobanya satu suapan saja." kata Rayyan masih dengan tidak tau malunya.
Zahra yang mendengar itu langsung menaruh sumpitnya dan menatap tajam kearah Rayyan.
"Tuan, Rayyan. Anda masih di sini? Aku kira sudah pergi. Kau sangat mengganggu makan siangku. " kata Zahra dengan perasaan kesalnya.
__ADS_1
"Dan apa katamu tadi, Kau ingin mencicipi makananku? Apa tidak salah tuan Rayyan yang terhormat, ingin mencicipi makananku? Apa anda sudah jatuh miskin sampai tidak bisa membeli makanan sendiri? " ketus Zahra sambil mengambil sumpitnya kembali dan memasukkan sushi ke mulutnya lagi dengan menatap tajam ke arah Rayyan.
glek...
"Tatapannya mengerikan. " gumam Rayyan dalam hati.
Zahra masih menatap tajam ke arah Rayyan sambil terus mengunyah makanannya.
"Wanita ini benar-benar unik. Aku jadi penasaran bagaimana kalau dia sampai jatuh cinta pada seorang pria, apakah akan tetap sadis seperti ini atau berubah menjadi kucing manis?" gumam Rayyan sambil terkekeh karena penasaran dengan Zahra ketika jatuh cinta.
Rayyan merasa tertantang untuk mendapatkan wanita angkuh di hadapannya ini. Biasanya wanita manapun akan tertarik padanya, dan akan dengan suka rela melemparkan tubuhnya ke dalam pelukan Rayyan. Tapi wanita ini benar-benar berbeda dengan kebanyakan wanita yang ia kenal.
"Baiklah-baiklah nona Zahra, aku tidak akan mengganggumu lagi. Tapi bolehkan aku mengajukan satu permintaan. "
"apa katakan secepatnya, aku sudah muak melihat wajah bodohmu itu. " kata Zahra tanpa memperdulikan perasaan pria dihadapnnya.
"Hei nona, jangan hanya karena kau cantik, kau bisa bicara seenaknya ya. Aku sudah bersikap cukup baik kepadamu. " ujar Rayyan dengan wajah yang mulai memerah. karena dia tidak suka dikatakan bodoh oleh seorang wanita.
"Ck.. aku tidak bicara seenaknya. Tapi aku bicara sesuai fakta. Mana ada orang melihat orang lain makan, lalu meminta mencicipi nya. padahal kau punya uang banyak. Bahkan untuk membeli restoran ini saja kau mampu. Tapi kenapa kau ingin mencicipi makananku. Dasar bedebah. " Zahra membalik semua kata-kata Rayyan dengan tepat sasaran
Dan itu sukses membuat Rayyan menjadi bingung karena apa yang dikatakan Zahra ada benarnya juga.
"Nona Zahra, Awal nya aku ingin berteman denganmu, karena aku tertarik padamu. Tapi karena kau sudah menghina ku dan sudah sangat keterlaluan, maka aku akan memutuskan kerja sama kita. Aku tidak perlu memeriksa ulang kerja sama dengan papamu. Karena hanya dengan melihatmu saja aku bisa mengambil kesimpulan kalau kau wanita yang sombong dan angkuh. Sebuahbpoin minus dimataku. Satu lagi, kau tidak patut diperjuangkan. Semoga kita tidak bertemu lagi. Dan jika suatu saat kita bertemu, kupastikan kau akan bertekuk lutut di hadapan ku. Selamat siang, dan maaf sudah mengganggu makan siangmu. " ujar Rayyan lalu segera pergi meninggalkan Zahra yang masih mematung karena tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Hei, aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi, atau bertekuk lutut kepadamu. . "
Mendengar teriakan Zahra, Rayyan menghentikan langkahnya. Dan tanpa menoleh dia berkata.
"Simpan saja semua ocehanmu itu nonaa. Karena aku takut semua ocehanmu akan berbalik padamu. "
Rayyan kemudian melanjutkan langkahnya menuju mobil yang terparkir didepan restoran.
Zahra yang mendengar suara dingin dari Rayyan merasa tak percaya. Padahal sejak dia bertemu pertama kali dan bicara tadi, ucapan Rayyan biasa saja, tidak ada nada dingin dan intimidasi disetiap kata yang ia ucapkan
"Pria benar-benar berbeda... kenapa dia bisa berubah dalam waktu singkat? " pikir Zahra.
__ADS_1