
"Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu Zo. "
kata Evan dengan gugup, ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan menghembuskan nafasnya secara perlahan. Dirasa sudah hilang rasa gugupnya dia lalu menatap Zoya dengan seksama.
"Aku menyukaimu, Zo. Sejak pertama kali bertemu di rumah sakit, Ada perasaan aneh yang menelusup di hatiku. Jantungku berdetak kencang ketika mata kita bersitatap saat itu. Aku tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. " Ujar Evan dengan menautkan jari-jari tangannya di atas meja.
Sedangkan Zoya terperangah mendengar setiap kalimat yang Evan ucapkan.
"Sepertinya ini yang disebut getaran cinta. Jika memang benar, Mungkinkah aku sudah jatuh cinta padamu? Jatuh cinta pada pandangan pertama. " Evan mengatakan apapun yang sudah mengganggu pikirannya selama beberapa minggu ini.
"Aku mencintaimu, Zoya. " ungkap Evan pada akhirnya, dengan memandang lekat wajah Zoya yang tiba-tiba memerah seperti kepiting rebus.
"Zo... apa kau mau menjadi kekasihku? "
Kalimat terakhir dari Evan sontak membuat Zoya menggelengkan kepalanya dengan keras. Yang membuat Evan salah paham.
"Ahhh... maaf Zo... kalau ini terlalu cepat. " ujar Evan.
Zoya lagi-lagi menggeleng, "bukan begitu... aku benar-benar tidak percaya, baru kali ini ada pria yang mengungkapkan perasaan nya padaku. "
Evan mengernyit heran dan tak mengerti maksud Zoya.
"Maksudmu? "
"Ini yang pertama bagiku, mendapat pernyataan cinta dari seorang pria. " katanya dengan tersipu malu.
Sekarang Evan mengerti arti gelengan kepala Zoya.
"Lalu, apakah kau menerima pernyataan cintaku ini? dan mau menjadi kekasihku? "
Zoya masih menggeleng, tapi dengan gelengan yang lemah.
"Maaf Evan aku tidak bisa menjalin hubungan dengan seorang pria. Karena orangtuaku dan kakakku melarang. " ujar Zoya.
"Lalu? " Evan menggeleng tak mengerti, kenapa di jaman modern seperti ini masih ada orang kolot seperti mereka.
"Kita berteman. Jika kau dan aku sudah yakin dengan perasaan kita, Kau bisa langsung melamarku kepada kedua orang tuaku. "
Kata-kata Zoya benar-benar membuat Evan terperangah. Baru kali ini dia bertemu wanita unik seperti Zoya. Setelah itu dia tertawa lebar dengan semua apa yang dia dengar.
"Kenapa tertawa seperti itu? " kata Zoya sambil mencebikkan bibirnya.
Evan langsung menghentikan tawanya, dan menaham senyumnya.
"Maafkan aku, Zo. Aku kelepasan. "
"Jadi kita hanya berteman? " tanya Evan memastikan.
Zoya mengangguk.
"Baiklah, untuk saat ini kita berteman dulu. " kata Evan pasrah, karena sepertinya tidak mungkin dia memaksakan kehendaknya kepada gadis polos seperti Zoya. Mungkin usianya saja yang dewasa, namun sifatnya masih seperti bocah.
Zoya tersenyum senang mendengar ucapan Evan, karena mungkin untuk pertama kalinya dia akan memiliki seorang teman pria.
**************
Rayyan sudah menjemput grandma dari bandara. Dia tidak mengatakan apapun yang terjadi selama kepergian grandma kesayangannya itu. Biarlah, nanti mommy dan daddy yang menjelaskan semuanya kepada grandma.
__ADS_1
Sebuah panggilan masuk Rayyan terima dari sang mommy.
"aku diperjalanan pulang, mom. "
"Baiklah kalau begitu. "
Grandma mengernyit mendengarkan cucunya itu bertelponan dengan mommynya.
"Ada apa, Ray? " tanyanya untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Mommy menanyakan kita berada di mana, grandma. Sepertinya semua orang akan berkumpul menyambut ibu suri. " ledek Rayyan kepada neneknya itu. Seketika ia langsung mendapat cubitan di paha dari sang grandma.
Mobil yang dikendarai Rayyan sudah sampai di halaman mansion. Disana juga sudah ada mobil, daddy dan Zoya yang sudah terparkir rapi. Rayyan membantu grandma membawakan barang-barangnya, dibantu penjaga karena terlalu banyak barang bawaan ibu suri itu.
Assalamu'alaikum.
Salam dari mama Aylin menggema di semua ruangan, semua orang yang berkumpul disana mengalihkan pandangan pada kedatangan dari sang nyonya besar.
Erhan dan Nisa langsung menyalami tangan sang mama. Begitu juga Kemal dan Alima
"Kemal Alima kamu ada disini juga. Ada acara apa kok tumben sekali berkumpul. " tanya mama Aylin kepada siapapun yang mau menjawabnya.
"Tidak ada apa-apa ma, kami hanya ingin menyambut mama. " ujar Nisa yang membawa mamanya itu agar segera duduk.
"Dimana Zoya dan Murad? kenapa mereka tidak menyambut ku? " Tanya mama Aylin dengan wajah di buat kesal.
"Zoya baru sampai ma, mungkin masih mandi. Murad sebentar lagi juga turun...."
Sebelum Nisa menyelesaikan kalimatnya, terdengar bunyi pintu lift terbuka, dan keluarlah Murad yang didorong Faza di atas kursi roda. Melihat itu mata mama Aylin melotot tak percaya. Dia langsung berjalan cepat menghampiri cucu kesayangan nya itu.
"Murad... cucuku, apa yang terjadi padamu. " tanyanya dengan suara panik.
"Tenang bagaimana? kamu sampai duduk di kursi roda, berarti ada yang tidak baik-baik saja. Katakan padaku apa yang terjadi. " Bentak mama Aylin akhirnya kepada semua orang. Karena tidak ada yang memberitahunya sama sekali tentang apa yang terjadi pada cucunya.
Semua orang terdiam, mendengar amarah dari mama, Aylin.
"Grandma.... "
"Diam Murad aku ingin tanya kepada mommy daddymu. " sentak mama Aylin kepada cucunya juga.
"Duduklah ma... biar kami jelaskan." Erhan ingin menyentuh tangan mamanya tapi langsung ditepis.
Mama Aylin lalu duduk dengan Erhan untuk mendengarkan penjelasan dari anaknya itu.
"Katakan."
Erhan lalu menceritakan kepada mamanya apa yang terjadi dengan Murad tepat dihari keberangkatannya. Mama Aylin menangis sejadi-jadinya mendengar cerita dari Erhan, dia langsung memeluk cucu kesayangannya itu.
"Maafkan grandma sayang, grandma tidak ada disampingmu disaat tersulitmu. " Mama Aylin menangis sambil memeluk cucunya itu.
"Tidak apa-apa grandma, aku sudah baik-baik saja. " kata Murad membalas pelukan sang grandma.
Setelah mama Aylin bisa mengontrol emosinya, dia lalu duduk bersama dengan semua orang.
"Ma, kami juga ada kabar bahagia yang akan kami sampaikan kepada mama. " ujar Nisa sambil memegang tangan mama mertuanya.
"katakanlah " tanya mama Aylin penasaran.
__ADS_1
"Besok, Murad akan menikah dengan Faza. "
"Apa? " Mama Aylin terkejut mendengar kabar yang baru saja dia dengar.
"Bagaimana mungkin? Faza? putri Kemal dan Alima? " tanya mama Aylin tak percaya.
Semua orang mengangguk, kecuali Faza dan Murad yang tersipu.
"Bagaimana bisa? "
"Ternyata selama ini mereka saling mencintai dalam diam, ma? " jelas Nisa.
"Benarkah? "lagi, mama Aylin tidak percaya.
"Benar, sebenarnya aku dari dulu sangat mencintai Faza, grand ma. Dan ternyata Faza juga mencintaiku. Dia merasa cemburu dan sakit hati saat aku bertunangan dengan Diandra. " kata Murad sambil menatap Faza yang ada di sampingnya.
Faza yang berada di samping Murad hanya tertunduk malu mendengar ucapan Murad.
Mama Aylin segera mendekati Faza dan langsung memeluknya. Faza yang mendapat pelukan dari grandma Aylin hanya bisa tertegun. Pasalnya selama ini di mansion ini, orang yang paling Faza takuti adalah grandma Aylin. Karena dia merasa grandma adalah orang yang sangat cerewet dan Perfectionis.
"Apa benar kau mencintai cucuku Murad, Faza? "
Faza hanya bisa mengangguk.. bibirnya terasa kelu saat berhadapan dengan sang grandma.
"Terimakasih sayang. Grandma harap setelah menikah nanti kamu bisa menjaga cucuku dengan baik, menyayanginya dan melayani nya dengan baik. Seperti mamamu yang melayani papamu dan mommy Nisa yang melayani daddy Erhan dengan baik. Semua itu demi menciptakan keluarga yang harmonis. " Grandma memberikan harapannya kepada cucu menantu nya itu.
"I... iya grandma. " ucap Gaza dengan tergagap.
Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga, Zoya datang dan berlari berhambur ke arah grandmanya.
"Grandma... aku kangen... " manjanya.
"Sudah besar, Zo. " celetuk Rayyan yang melihat tingkah saudaranya yang berlebihan.
"Biarin... wleekk. " katanya mengejek Rayyan.
"Sudah... sudah kalian berdua kenapa selalu bertengkar sih. " grandma melerai cucu kembarnya itu yang tiap kali bertemu selalu bertengkar.
"Jadi kapan pernikahan Murad dan Faza akan diadakan? " tanya mama Aylin kepada Nisa ataupun Erhan.
"Besok sore ma. Aku dan Alima sudah menyiapkannya. Dan mungkin nanti malam orang dari WO akan datang untuk menghias taman. " kata Nisa memberikan keterangan kepada semua orang.
"Kami hanya menikah secara hukum dan agama, grandma. Resepsinya nanti kalau aku sudah sembuh total. "
"Iya, tentu saja. Tidak apa-apa nak. Grandma merestui kalian berdua. Bahkan grandma sangat bahagia. "
Mama Aylin kemudian berjalan menuju Kemal dan langsung memeluknya.
"Akhirnya, kamu benar-benar menjadi bagian dari keluarga kami Kemal. " katanya ditelinga kemal dengan lelehan airmata.
"Iya ma. " Kemal membalas pelukan Mama Aylin. Wanita yang sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri.
Mama Aylin kemudian beralih ke Alima dan memeluknya.
"Terimakasih telah melahirkan anak secantik Faza, Alima. "
Alima hanya mengangguk di dalam pelukan mama Aylin.
__ADS_1
Sore itu suasana mansion Erhan terlihat penuh haru dan kebahagiaan yang dirasakan semua orang.
Bersambung.