
Semua orang kini sedang berkumpul di meja makan untuk sarapan. Hanya menunggu pasangan pengantin baru yang belum datang. Mereka semua sedang ngobrol hangat mengitari meja makan, hingga mereka melihat Faza yang keluar dari Lift dengan mendorong Murad yang terlihat segar.
Nisa langsung menyambut mereka dan memberikan ciuman hangat di kening Murad.
"Harum sekali anak mommy, apa Istrimu memandikanmu dengan baik? "
Murad tersenyum senang, sedangkan Faza menundukkan kepala karena malu.
"Tentu saja, mom. Dia memang yang terbaik. "
Jawaban Murad sontak membuat semua orang tersenyum senang.
Murad duduk di samping Faza dengan Faza yang melayani Murad mengambilkan makanannya terlebih dahulu.
"Kakak makan sendiri atau aku suapi? " tawar Faza.
"Aku makan sendiri saja Faza, kamu makanlah. "
Melihat perhatian Faza kepada Murad membuat Nisa dan Mama Aylin merasa terharu. Tidak salah jik menikahkan mereka berdua. Mereka benar-benar saling menyayangi dan mencintai.
"Faza, apakah setelah menikah kau akan tetap melanjutkan kuliah? " tanya Erhan sambil mengunyah makanan nya.
"Iya, dad. Kami sudah membicarakannya sebelum menikah. " jawab Faza Sambil melirik ke arah Murad.
"Tapi.... " lanjutnya dengan ragu.
Semua orang menunggu ucapan Faza yang terpotong.
"Tapi apa, sayang? " tanya Nisa yang melihat keraguan diwajah Faza.
"Tapi aku akan mengajukan kuliah online selama kakak belum sembuh. Karena aku takut kalau aku ambil kuliah biasa nanti tidak ada yang menjaga kakak si rumah dan memenuhi kebutuhannya. Tapi nanti setelah kakak sembuh, aku akan masuk kuliah seperti biasa. Itupun jika kakak mengijinkan " ucapnya dengan ragu.
Mendengar itu, Nisa memeluk Faza. "Terima kasih Faza, kamu memang baik. Sampai memikirkan kenyamanan Murad."
"Sudah tugasku, mom. "
"Pilihanku memang tepat kan, mom. " Murad bertanya sang mommy.
"Iya tepat... tepat sekali. " jawab Nisa dengan bahagia.
"Mom, aku berangkat dulu ya. Aku ada jumpa dengan klien di butik pukul sembilan nanti. " pamit Zoya kepada semua orang.
Setelah berpamitan Zoya langsung pergi ke butik. Dalam perjalanan Zoya mendapat panggilan telpon dari Evan.
"Hallo, selamat pagi Zoya. " sapa Evan dari seberang telpon.
"Iya, selamat pagi, Evan. Ada apa? "
"Apa kau sibuk hari ini? "
"Pagi ini aku sibuk karena harus bertemu klien, dan nanti ada janji lagi setelah makan siang. Apa ada yang bisa aku bantu? "
"Ahh, jadwalmu padat ternyata. "
"Iya, memang ada apa sih? "
"Aku ingin mengajakmu hangout. Tapi mungkin sepertinya kamu sibuk. "
Zoya mengangguk-angukkan kepalanya. "Kalau pagi sampai sore aku memang sibuk, tapi kalau sore sampai malam aku kosong. Memangnya mau kemana? " tanya Zoya yang penasaran dengan ajakan Evan
"Kemana saja, boleh. "
"Aku tidak biasa nongkrong, bagai mana kalau kita makan malam saja. kamu tentukan tempatnya." putus Zoya pada akhirnya.
"Baiklah, makan malam juga boleh. Bagaimana kalau makanan Jepang. "
"Boleh. Baiklah kita bertemu di restoran jepang kau kirimkan lokasinya nanti. " kata Zoya dan langsung menutup telponnya setelah mendapat persetujuan dari Evan.
__ADS_1
Zoya tersenyum-senyun sendiri selama perjalanan, karena dia merasa bahagia hari ini bisa makan malam dengan Evan.
********
Dimansion,
Faza sedang duduk santai di sebuah gazebo kecil di luar kamarnya bersama Murad, ia mendudukkan Murad dan memijit kaki Murad secara perlahan.
"Apa sakit, kak. " tanya Faza sambil terus memijit kaki Murad
" Sedikit, tapi terasa nyaman. " Murad menikmati pijatan Faza di kakinya sambil memejamkan mata.
"Kak, apa kakak tidak ke perusahaan? "
"Tidak, setelah keadaan kakiku lebih baik, aku baru akan ke perusahaan. Sebenarnya aku juga kasihan kepada daddy yang harus menggantikanku. "
"Kenapa bukan kak Rayyan saja? "
"Rayyan memang handal dalam bisnis, tapi dia masih diragukan oleh dewan direksi. Jadi, dia akan sulit menggantikanku. "
"Apa kak Rayyan tidak merasa cemburu kepada kakak? "
Murad tersenyum mendengar setiap pertanyaan yang Faza ajukan.
"Kenapa kau bertanya seperti ini Faza? apa yang kau khawatirkan? "
"Tidak, aku hanya bertanya saja. "
"Aku dan Rayyan adalah saudara, siapapun yang memimpin perusahaan sama saja. Kami akan saling menjaga satu sama lain. Kamu tenang saja."
Faza mengangguk mengerti sekarang.
"Kak.... aku ingin mengatakan sesuatyi kepadamu." kata Faza dengan ragu.
"Apa katakanlah. "
"Kenapa Ezra? " Murad membuka matanya saat membahas tentang kakak Faza yang sekaligus asisten pribadinya.
"Sepertinya, kak Ezra mencintai kak Zoya. " kata Faza kemudian.
Mata Murad membola saat mendengar ucapan Faza.
"Hahahahah....Tidak mungkin, darimana kau tau Ezra menyukai Zoya? " Murad tertawa dan bertanya tak percaya kepada Faza.
Faza mengehela nafasnya karena dia sudah menduga hal ini pasti terjadi. Tidak ada yang percaya kalau Kakaknya mencintai Zoya.
"Aku pernah meminjam ponsel kakak, saat akan mengambil foto. Dan saat aku iseng membuka galeri fotonya , disana banyak sekali foto kak Zoya yang sepertinya di ambil secara sembunyi-sembunyi. " Faza menjelaskan fakta yang dia ketahui tentang kakaknya.
"Tidak mungkin Faza. Murad yang dingin itu, menyukai Zoya yang cerewet. " Murad masih tidak percaya dengan ucapan Faza.
"Terserah kakak kalau kakak tidak percaya. Aku hanya ingin mengatakan hal itu saja. Perhatikan saja reaksi kak Ezra saat bertemu dengan Kak Zoya. " kata Faza sambil mencebikkan bibirnya.
"Baiklah, aku akan menyelidikinya sayang. Sudah dong, jangan cemberut lagi. Okey. Sekarang ayo, tersenyum lagi seperti tadi. " goda Murad kepada istrinya yang sedang merajuk.
Faza jadi tersipu mendengar Murad merayunya. Mereka masih asik bercengkrama di tempat pribadi Murad.
************
Di Perusahaan.
Erhan meminta Rayyan untuk menemui seorang klien, yang akan bekerja sama dengan perusahaan mereka. Perusahaan yang mengajukan kerjasama dengan mereka adalah perusahaan besar yang hampir bangkrut. Entah kenapa, bisa sampai begitu. Erhan yang seharusnya bertemu dengan mereka harus mewakilkan kepada Rayyan karena dia harus mengadakan rapat dengan klien dari Dubai.
Dengan terpaksa, Rayyan dengan didampingi Ezra pergi ke tempat pertemuan yang sudah disepakati. Mereka datang sedikit terlambat karena kemacetan di jam kerja.
Seorang pria paruh baya dengan seorang wanita muda berambut panjang dan bergelombang yang memandang kearah lain, terlihat sudah menunggu mereka.
"Maaf terlambat, tuan Simon. " ucap Rayyan yang merasa sungkan, karena membuat pria paruh baya itu menunggu.
__ADS_1
"aah, tidak apa-apa tuan Rayyan. Anda pasti sangat sibuk " jawab Simon memaklumi
Mendengar suara berat menyapa telinga nya, wanita itu segera berbalik dan menatap siapa yang datang.
Rayyan terpaku sejenak melihat kecantikan wanita di depannya, begitu juga dengan wanita itu, yang terpesona dengan ketampanan Rayyan. Mereka langsung melepaskan pandangan matanya, dan wanita itu segera menghadap papanya.
"Jadi dia yang kita tunggu dari tadi, pa? " tanya wanita itu dengan ketus.
"Diam Zahra. " Simon memperingatkan anaknya agar tidak bicara sembarangan.
"Maaf tuan, nona, telah membuat anda menunggu, tadi kami terjebak kemaceyta. Maklumlah jam kerja seperti ini pasti akan sangat macet. " Rayyan yang terkenal sopan dan humble pun menunjukkan pesonanya.
Simon mengangguk mengerti atas penjelasan Rayyan. Tapi tidak dengan Zahra, dia memalingkan wajahnya lagi dengan ketus.
"Dan maaf, daddy saya tidak bisa menemui anda karena kedatangan tamu dari Dubai, jadi beliau mewakilkan kepada saya. " jelas Rayyan.
"Bagaimana dengan tuan Murad? " tanya Simon dengan penasaran, karena sebenarnya dia ingin bertemu dengan Murad dan mengenalkannya dengan anaknya Zahra. Mungkin saja Murad bisa tertarik dengan Zahra, dan itu akan menguntungkan perusahaannya.
"Maaf tuan, tuan Murad baru saja menikah. Jadi mungkin dia sedang menyiapkan bulan madunya." Kini Ezra yang sejak tadi terdiam angkat bicara. Dia menangkap maksud buruk dari Simon dan sesekali melirik Zahra yang cuek.
"Apa? tuan Murad sudah menikah? Kenapa kami tidak mendengarnya? "
"Karena kakakku ingin sebuah privasi." Rayyan juga ikut menjelaskan.
Simon sedikit kecewa mendengar Murad sudah menikah, Dia tidak bisa berharap lebih sekarang.
Akhirnya mereka membicarakan kerjasama yang akan mereka sepakati.
"Baiklah tuan, kami akan mempelajari lebih lanjut." ujar Rayyan saat mereka mengakhiri pertemuan hari ini.
"Terimakasih tuan, untuk proyek ini saya menyerahkan semuanya kepada anak saya, Zahra. Namanya Zahra, dia yang akan mengurusi semuanya, tuan. Karena kesehatanku tidak terlalu baik. "
Rayyan memandang ke arah Zahra yang cuek, seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi. "
"Baiklah, tuan saya akan menghubungi nona Zahra jika semua ini di setujui oleh daddy ku. "
"Terimakasih Tuan. " Simon merasa bahagia mendengar hal itu.
"Ini nona, " Rayyan memberikan kartu namanya kepada kepada Zahra.
Zahra menerima kartu nama itu dengan malas. "Ini kartu namaku. "
Setelah bertukar kartu nama, mereka pun berpisah menuju mobil masing-masing.
"Bagaimana Ezra. "
"Apanya."
"Gadis itu. bukankah dia sangat menarik. "
"Gadis ketus itu maksudmu? "
Rayyan mengangguk,
"Cih, wanita menyebalkan seperti dia dari mana menariknya. "
Rayyan mencebik, seolah berkata, 'kenapa kau tidak berkaca Ezra'
"Kau tidak tau, aku terbiasa digilai wanita, tapi baru kali ini seorang wanita mengacuhkanku. Bukankah itu sangat menarik. " kata Rayyan sambil merentangkan tangannya dikursi belakang.
"Dasar gila. "
Rayyan tidak peduli mendengar umpatan Ezra, dia hanya menendang kursi Ezra dari belakang.
"Ezra, aku perintahkan kepadamu, selidiki semua bisnis Simon, dan siapa Zahra itu. Lalu laporkan padaku, jangan berikan laporan iti kepada daddy atau papamu. "
Bersambung.
__ADS_1