
Mark yang baru saja sampai di perusahaan Erhan segera berlari ke lobby saat melihat Erhan baru saja berjalan masuk ke dalam perusahaan bersama dengan asistennya Kemal.
"Tuan Erhan... " panggil Mark dengan nafas memburu.
Erhan dan Kemal yang mendengar panggilan itu langsung menoleh ke belakang . Dan dilihatnya Mark asisten Simon , Tengah mengatur nafasnya yang tak beraturan karena berlari mengejarnya .
"Siapa dia ?" Tanya Erhan kepada Kemal
"Sepertinya asisten Tuan Simon ." kata Kemal sambil memicingkan matanya memperhatikan seseorang yang sudah memanggil Erhan.
"Ada apa dari kemari? bukankah urusan Altan sudah aku serahkan kepada Rayyan. " Tanya Erhan lagi.
"Entahlah Apa perlu kita menemuinya ? "
"Ya sudah bahwa dia ke ruanganku . Sepertinya ada hal penting yang ingin dia sampaikan. "
"Baiklah ."
Kemal lalu menemui Mark yang sedang mengatur nafasnya yang tersengal . Dia lalu berdiri tegak saat Kemal mendekatinya.
"Ada apa asisten Mark? " tanya Kemal dengan suara dingin.
"Aku ingin bertemu dengan tuan Erhan, tuan. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Ini tentang tuan Simon. " kata Mark menjelaskan kedatangannya.
"Ayo, tuan Erhan, menunggu kita di ruangannya. " ajak Kemal kepada Mark.
Mark lalu mengikuti Kemal, yang berjalan di depannya.
Sesampainya diruangan Erhan, Erhan sudah menunggu mereka dengan memainkan ponsel. Dia sedang duduk di sofa kantornya.
"Selamat siang tuan Erhan, " sapa Mark yang sudah berada di hadapannya."
Erhan langsung menyimpan ponselnya dan memperhatikan Mark yang sepertinya sedang panik.
"Ada apa kau ingin bertemu denganku? " tanya Erhan kepada Mark.
__ADS_1
"Maafkan saya tuan, atas kelancangan saya menemui anda tanpa membuat janji terlebih dahulu. "
"Ya, sudah apa yang ingin kau katakan atau sampaikan kepada ku. " Kata Erhan dengan suara datar.
"Ini tentang tuan Simon. Saat ini dia sedang berada di rumah sakit, karena mengalami serangan jantung. " Mark mulai buka suara.
"Lalu, apa yang kau inginkan dariku? "
"Tuan Simon ingin bertemu dengan anda, Tuan. " kata Mark kemudian.
Erhan dan Kemal saling berpandangan, kemudian menggedikkan bahu mereka bersama.
"Ingin bertemu dengan ku? apa hubungannya denganku? " tanya Erhan yang tidak mengerti dengan keinginan Simon itu.
"Saya tidak tau tuan. Tapi, tuan Simon meminta anda dan Tuan Rayyan untuk datang menemuinya di rumah sakit. Karena sepertinya dia tidak memiliki waktu lama. " kata Mark dengan melebih-lebihkan cerita tentang keadaan Simon.
Erhan dan Kemal kembali saling berpandangan mereka benar-benar tidak mengerti apa yang Simon inginkan.
"Saya mohon tuan. Temui tuan Simon sekali saja bersama tuan Rayyan. " kata Mark memohon.
Erhan kembali melihat kepada Kemal , dia ingin meminta pendapat asistennya itu . Apakah dia harus menemui Simon atau tidak .
"Dad, Dokter Evan sudah datang , Apa yang harus kita lakukan ." Kata Rayan dengan segala kepanikannya .
"Suruh orang-orang kita menangkapnya , dan bawa dia ke tempat biasa . Kita akan segera ke sana Setelah ini . " Kata Erhan tanpa memikirkan hal lain .
"Baiklah, dad. " Rayyan keluar dengan tergesa-gesa ,karena dia harus segera bersiap .
"Maaf Mark , sepertinya aku tunda dulu pertemuan dengan Simon . Mungkin setelah aku bertemu dengan dokter Evan aku akan ke sana untuk menemui Simon bersama Rayyan. Putus Erham pada akhirnya ."
"Baiklah Tuhan, terimakasih. Sepertinya hal ini lebih penting ." kata yang menyadari kepanikan semua orang setelah mendengar kabar dari Rayyan
"Tentu saja karena ini menyangkut keluargaku dan anak-anakku . Aku harus segera menyelesaikan masalahku terlebih dahulu ." kata Erhan dengan tegas.
"Baik Tuan , akan saya sampaikan kepada tuan Simon ." Mark kemudian undur diri dari ruangan Erhan untuk menyampaikan pesan dari Erhan.
__ADS_1
Erhan, Rayyan dan Kemal pergi menggunakan satu mobil yang sama ke tempat orang-orang mereka menyekap dokter Evan. Mereka tidak sabar lagi menanyakan siapa dalang di balik semua ini. Walaupun mereka sudah memiliki pandangan yang sama yaitu satu nama, Siapa lagi kalau buka Shofi.
Tapi akan lebih lega jika mereka tau yang sebenarnya tanpa harus menerka-nerka. Karena Max sendiri masih kesulitan mencari otak dibalik ini semua. Datanya benar-benar tidak ada. Dan tidak pernah ada sosok lain yang keluar dari rumah itu. Selain Monica. Apakah Orang itu berada di tempat lain? bukan rumah yang sama tempat Monica berada? Entahlah semua masih misteri. Hanya dokter Evan yang memiliki jawaban atas semua pertanyaan ini.
Satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai disebuah rumah sederhana di pinggir kota. Erhan, Rayyan dan Kemal segera masuk ke dalam rumah itu, mereka langsung masuk ke dalam ruangan yang sudah di tunjukkan oleh orang-orang Erhan.
Disana mereka melihat Dokter Evan yang sudah terikat di sebuah kursi. Dengan posisi mata tertutup dan mulut yang juga di lakban. Rayyan mendekat dan membuka penutup mata mulut dokter Evan. Saat matanya terbuka, dokter Evan masih mengatur pencahayaan yang masuk ke dalam indera penglihatannya. Dan sedikit demi sedikit dia bisa melihat semuanya dengan jelas.
Matanya langsung membulat saat melihat siapa yang ada di depannya.
"Hallo dokter Evan, apa kabar? " tanya Erhan kepada Evan yang tengah terkejut melihat dirinya.
"Tu... tuan... Erhan. " kata Evan tergagap.
"Ya, ini aku. Ayah dari seorang putri yang sedang kau incar dan ingin kau sakiti. " kata Erhan dengan rahang yang sudah mengeras saat mengingat kalau Evan mengincar anaknya.
Deg...
Walaupun Evan sudah tahu , kalau dia sedang diikuti selama ini . Tapi dia tidak pernah tahu , kalau rencananya yang ingin mendekati Zoya hanyalah sebuah sandiwara untuk menghancurkannya . Mungkin dia harus bertepuk tangan dengan keras , Karena dia sudah salah memilih lawan . Bukan dia , tapi Monica . Karena dia hanyalah bonekanya , yang digunakan untuk misi balas dendam Monica kepada keluarga Khan.
"Katakan padaku Sejujurnya , Siapa dalang Di balik semua ini . Aku hanya ingin tahu itu . Siapa Monica dan ibunya ." Tanya Erhan secara langsung tanpa basa-basi .
Glek....
Ternyata semua sudah diketahui oleh Erhan dan keluarganya , tidak ada kesempatan baginya untuk berkelit lagi .
Evan langsung menunduk , penuh penyesalan dan rasa bersalah . Walaupun Zoya belum sempat ia dapatkan , tapi dia sudah mencoba untuk mendekatinya dengan alasan yang tidak baik .
"Maafkan aku Tuan , bukan maksudku untuk melakukan ini semua . Ini memang perintah seseorang yaitu Monica . Aku tidak tahu kenapa dia sangat membencimu dan keluargamu . Sehingga dia ingin menghancurkan keluargamu , melalui Zoya . Dan akulah yang akan menjadi perantaranya . Maafkan Aku , sungguh Maafkan Aku . " kata Evan penuh penyesalan
"Aku sudah tahu semuanya , kamu melakukannya karena di bawah tekanan mereka . Sekarang Katakan padaku Siapa mereka . Jika kau mau mengatakannya , maka aku akan membantumu dan keluargamu lepas dari jeratan Monica dan ibunya . Aku berjanji padamu , ini adalah janji seorang lelaki ." Kata Erhan meyakinkan Evan .
Evan menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Dia lalu mendongak menatap Erhan yang tinggi menjulang di hadapannya.
"Dia adalah ibu tiriku yang datang dengan seorang anak perempuan yang bernama Monica. Dia mendekati ayahku dan berhasil mengambil hatinya . Sehingga ayahku mau menikahinya . Awalnya sikapnya memang baik , tapi lambat laun sifat aslinya keluar juga . Dia sangat jahat, sangat-sangat jahat . " Evan mulai ceritanya.
__ADS_1
"Katakan kepada kami , siapa wanita itu . Kini Rayyan yang bertanya karena dia tidak sabar mengetahui dalang dibalik semua kejadian ini .
Wanita itu bernama Shofie .