
Setelah melakukan kegilaan di kamar mandi Murad dan Faza akhirnya mandi bersama membersihkan tubuh mereka dan saling menggosok satu sama lain. Kali ini mereka melakukannya tanpa rasa canggung dan malu. Faza berjanji akan melakukan apapun keinginan suaminya itu asalkan dia senang dan bahagia. Faza merasa kebahagiaan Murad adalah kebahagiaannya, karena dunia Faza hanya terisi oleh nama Murad. Entahlah, apa itu yang disebut cinta atau obsesi. Yang Faza tau, dia hanya mencintai Murad. Itu saja.
Setelah merasa bersih dan rapi mereka berdua turun untuk berkumpul bersama yang lain, sambil menunggu makan malam. Sudah ada mommy Nisa yang sedang memijit kepala daddy Erhan di ruang keluarga. Sungguh pasangan yang luar biasa kan mereka berdua?
"Kalian berdua sedang apa? " tanya Murad yang
didorong Faza mendekat ke arah mereka.
"Eh, kalian sudah datang?" ujar Nisa yang melihat anak dan menantunya mendekat kearahnya tanpa menghentikan pijatan nya di kepala suaminya
Faza hanya tersenyum melihat kelakuan mertuanya itu yang tetap romantis diusia yang tak lagi muda.
"Daddy kenapa? " tanya Murad yang melihat daddynya sepertinya sedang tidak enak badan, dan berbaring dipangkuan sang mommy.
"Daddy merasa sakit kepala sejak siang tadi. " kata Erhan yang masih membaringkan kepalanya dipangkuan istrinya tanpa merasa bersalah sedikitpun pada sepasang pengantin baru itu.
"Apa sudah diperiksakan ke dokter mom? " tanya Erhan lagi sekarang kepada mommynya. Karena dia tidak mau terjadi sesuatu pada sang daddy.
"Daddymu tidak mau, Sayang. Katanya dia hanya ingin dimanja sama mommy. " ujar Nisa sambil tersenyum mengejek kepada suaminya.
Sontak hal itu membuat Murad mencebikkan bibirnya. Sedangkan Faza hanya memperhatikan interaksi antara anak dan orang tuanya itu. Mereka berdua sama saja dengan mama dan papanya kalau di rumah. Mama... papa... Faza jadi merindukan mereka.
"Hei Murad kenapa respon mu seperti itu. Jika kau mau, kau bisa melakukannya dengan Faza. Iya kan Faza? " Erhan memberikan pertanyaan itu kepada menantunya yang sejak tadi hanya diam saja.
Faza yang ditanya seperti itu langsung gelagapan karena malu.
"Daaaddd.... "
"Iya... iya... daddy hanya bercanda. " Erhan lalu mendudukkan dirinya. "Bagaimana hasil pemeriksaanmu tadi? "
"Kata dokter Evan semuanya baik, dad. Kalau sudah memungkinkan satu minggu lagi aku bisa melakukan terapi. "
" Benarkah? Wah baguslah jika kamu bisa segera sembuh sayang. " ujar mommy Nisa dengan antusias.
"Yah, ini karena menantu mommy yang merawatku dengan baik. Dia selalu memijitku dengan lembut di waktu senggang kami. "
"Waaahhh.... terimakasih banyak Faza, sayang. Sudah merawat Murad dengan baik. "
"Sudah tugasku mom. " ujar Faza dengan tersipu.
Mereka berbincang hangat malam itu sambil membicarakan banyak hal, hingga Zoya datang dengan wajah kusutnya dan langsung berbaring di pangkuan sang mommy.
"Kenapa? " tanya mommy yang tau kalau sudah begini pasti anaknya ini sedang ada masalah.
__ADS_1
"Aku gagal makan malam dengan dokter Evan mom. " ujar Zoya dengan santai tanpa memperdulikan respon orang disekitarnya.
"Memang kenapa bisa gagal? "
Disini peran sang mommylah yang diperlukan saat anaknya sedang galau karena masalah pria. Maklumlah, Zoya memang mirip sang mommy yang sangat tertutup kepada pria walau banyak yang menyukainya. Namun tidak ada satupun yang menarik perhatiannya kala itu. Hingga Erhan datang mengetuk pintu hatinya dan ia mempersilahkannya masuk. Mungkin saja Zoya telah menemukan seseorang yang sudah mengetuk hatinya.
"Malam ini aku ada janji makan malam dengan dokter Evan di restoran, tapi tiba-tiba saja dia mengirimiku pesan kalau dia dihubungi pihak rumah sakit untuk melakukan operasi kepada salah satu Pasiennya. Mana aku udah dandan cantik banget gini. " ujar Zoya dengan bersungut-sungut.
"Sabar sayang, memang begitulah kalau kamu memiliki teman seorang dokter, atau aparat. Karena tugas mereka selalu mendadak. Dan harus cepat dilakukan untuk keamanan bersama. "
"Mommy bicara apasih. " ujar Murad yang merasa omongan sang mommy melantur.
"Eh, mommy salah ya?? Ah, sudahlah segera bersihkan dirimu, dan kita makan malam bersama. " Nisa segera beranjak menuju meja makan, disusul Faza yang sudah minta izin kepada Murad dan Murad menginjinkannya. Sedangkan Zoya melangkah naik ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Kini hanya tinggal Murad dan Erhan diruangan keluarga.
"Murad apapun yang akan kamu lakukan bersama Rayyan maka lakukanlah secepatnya. " kata Erhan setelah kepergian para wanita.
"Maksud daddy? "
"Tidak perlu terkejut seperti itu,daddy sudah tau apa yang kalian rencanakan bersama Rayyan. "
Murad menghembuskan nafasnya kasar, Ternyata mereka tidak bisa melakukan apapun tanpa sepengetahuan daddy nya. Pasti salah satu dari anak buahnya mengatakan atau melaporkan sesuatu kepada Erhan.
"Tentu saja, jika untuk kebaikan princess kita. "
"Itulah maksudku dad. Baiklah kalau daddy sudah setuju, kami akan segera melakukan rencana kami. "
Erhan mengangguk. " Lakukanlah. Gunakan semua orang-orang daddy jika diperlukan. "
"Terima Kasih dad. "
************
Rayyan saat ini sudah berada di kamar Murad, dia selalu iri, kenapa kamar ini diberikan kepada kakaknya bukan kepada, walaupun kini kamar Rayyan sama luasnya dengan kamar Murad. Tapi tetap saja kamar utama ini memiliki fasilitas yang luar biasa, mulai dari kolam renang pribadi dan taman.
Mereka kini berada di ruang kerja Murad. Murad mengambil berkas dokter Evan memberikannya keoada Rayyan. Berkas yang dibutuhkan untuk menyelidiki dokter Evan.
"Ini, segera selidiki dokter Evan. Agar kita segera tau siapa dia. Dan apa tujuannya mendekati Zoya, putri satu-satunya keluarga Erhan. "
Rayyan langsung membuka berkas-berkas itu, tidak ada yang aneh dengan semua berkasnya. Disana juga tercantum alamat dokter Evan di Jerman.
"Baiklah kak, besok aku akan menemui Max. Tapi tidak bisakah kak saja yang menemui Max, Aku sedikit merinding kalau bertemu dengan dia." ujar Rayyan yang bergidik membayangkan wajah Max.
__ADS_1
"Cih, badan aja yang di gedein tapi nyali kecil. " ejek Murad kepada adiknya itu,
"Bukan seperti itu kak. " elak Rayyan.
"Sudahlah, kerjakan tugasmu dengan baik. Kau yang mencurigai dokter Evan kan? jadi kamulah yang harus menyelesaikan nya sampai tuntas. "
"Baiklah, baiklah. " pasrah Rayyan pada akhirnya.
"Apa Max sudah sampai di sin? " tanya Murad
"Sudah sebenarnya kami ada janji ketemu tadi, tapi karena berkas dokter Evan belum kudapatkan maka aku batalkan janji kami. "
Murad mengangguk mengerti. Setelah melakukan percakapan beberapa saat, Rayyan keluar dari ruang kerja kakaknya dan berpapsan dengan Zoya yang sedang sibuk bertelponan tanpa memperhatiakan dirinya.
"Ah iya Evan, "
Itulah sekilas percakapan yang Rayyan dengar saat berpapasan dengan Zoya barusan. Rayyan menebak kalau Zoya sedang bertelponan dengan dokter Evan.
Di kamar, Zoya berbaring di tempat tidurnya sambil mengangkat telpon darii dokter Evan. Dokter Evan berusaha meminta maaf kepada Zoya, wanita cantik yang sudah ia kecewakan tadi karena gagal makan malam.
"Aku benar-benar minta maaf Zoya, bukannya aku tidak mau menepati janjiku, tapi karena keadaan..."
"Iya.. iya aku mengerti Evan, tak perlu kau jelaskam lagi, kau sudah meminta maaf padaku berapa kali? "
"Berapa kalipun aku meminta maaf padamu, tetap saja aku merasa bersalah padamu, Zo. " kata dokter Evan dengan segala perasaan bersalahnya, pasalnya tidak cuma sekali dua kali dia melakukannya, tapi sudah beberapa kali dia membatalkan janji makannya dengan Zoya karena harus mendapatkan telpon dari rumah sakit.
"Iya... iya.... aku sudah memafkanmu. " Zoya Merasa kesal karena terus mendengarkan permintaan maaf kepada Zoya.
"Sebagai permintaan maafku, bagaimana kalau hari minggu besok kita jalan-jalan ke tempat hiburan atau ke tempat rekreasi. "
" Jangan mengajakku jalan lagi kalau pada akhirnya kamu mengingkari nya. "
"Aku janji Zoya, kali ini aku akan meluangkan waktuku untuk mu di akhir pekan. "
"Janji... " ujar Zoya dengan mata berbinar.
"Janji.. " Evan memastikan
"Baiklah kalau begitu. Aku tunggu kabar baik darimu. Tapi kali ini, aku ingin kamu secara jantan menjemputku dan mengajakku untuk keluar kepada orang tuaku. "
"Baiklah, tentu saja tuan putri. "
Zoya tersenyum senang mendengar permintaan nya itu akan dipenuhi Evan. Zoya akan membuktikan kepada orang tua dan saudaranya kalau Evan pria baik yang akan berhubungan serius dengannya.
__ADS_1