
Acara penyambutan kedatangan Murad kembali diteruskan dengan makan malam bersama, setelah terjadi drama cinta antara Murad dan Faza. Kini mereka semua tengah berkumpul di meja makan, dengan Faza yang duduk di samping Murad. Mereka saling menggenggam tangan di bawah meja. Senyum terukir indah di bibir sepasang kekasih yang baru saja saling mengungkapkan perasaan mereka. Lega mereka rasakan saat cinta bersambut dengan baik.
Faza mulai mengambilkan nasi untuk kekasihnya itu, dengan menanyakan lauk apa yang di inginkannya. Murad menyebut satu per satu makanan yang ia inginkan.
"Kemal, sebaiknya kita segera membicarakan tentang pernikaan anak-anak kita. " kata Erhan kepada sahabatnya itu.
"Kenapa? "
"Lihatlah mereka berdua. Aku tidak ingin mereka terlalu jauh melangkah sebelum menikah. "
Kemal memperhatikan anaknya yang dengan telaten menyiapkan makan malam untuk Murad.
"Kau benar. Sebaiknya segera kita bicarakan. Bagaimana kalau minggu depan saja. " kata Kemal dengan santai.
Semua orang yang mendengar ucapan Kemal tersedak makanan yang mereka makan. Termasuk Faza dan Murad. Faza yang melihat Murad tersedak pun segera mengambilkan minuman untuknya.
"Minumlah kak. "
Murad segera meneguk minumannya sampai habis dan tenggorokannya terasa nyaman.
"Kenapa kamu mengusulkan minggu depan? " tanya Erhan yang juga terkejut dengan kata-kata Kemal tadi.
"Bukankah kamu ingin anak kita segera menikah, ya minggu depan aja. Lebih cepat lebih baik. Aku tidak ingin anakku terjebak dengan cintanya nanti." ujar Kemal menjelaskan alasannya.
"Tapi keadaan Murad... " Nisa tidak meneruskan kalimatnya.
"Tenanglah Nisa. Kami tidak ingin membebani kalian dengan keadaan Murad saat ini. Yang kami inginkan, biarkan mereka menikah secara agama dan negara dulu. Agar Faza bisa mengurus Murad sebagai suaminya, dengan status yang jelas. Sehingga tidak ada kecanggungan diantara mereka nantinya. Benarkan Faza? " tanya Kemal kepada Faza yang tertunduk malu setelah mendengarkan alasan papanya.
Faza hanya diam. Namun dibawah sana, tangan Murad Sudah menggenggam tangan Faza dengan erat.
"Untuk masalah resepsi atau pesta pernikahan, itu bisa dilakukan kapanpun. Setelah Murad sembuh dan biss berjalan lagi. Benarkan Murad? " kini Kemal bertanya kepada Murad tentang pendapatnya.
"Iya Om. Setelah aku sembuh, kami akan mengadakan pesta resepsi nya. Untuk pernikahan aku siap kapanpun itu. Bahkan jika kalian ingin menikahkan kami besok aku sudah siap." Kata Murad dengan yakin.
Semua orang dibuat melongo dengan ucapan Murad yang sungguh diluar ekspektasi mereka.
"Tuh, kalian dengar sendiri, bahkan Murad siap menikah besok. Katanya. Jadi kita pilih yang mana, besok atau.... " kata-kata Kemal terpotong oleh orang wanita di depannya.
"Minggu depan, titik. " ujar Alima dan Nisa bersamaan.
"Kita harus menunggu kedatangan mama dan menyiapkan semua nya. " ujar Nisa yang meminta waktu kepada suami sahabatnya sekaligus calon besannya itu.
"Kalian berdua apa sudah dengar? " tanya Erhan kepada kedua calon mempelai.
Murad dan Faza saling bertatapan lalu mereka mengangguk dan tersenyum bersama.
"Cih, seneng banget yang mau jadi pengantin. " kata Zoya dengan wajah ditekuk.
"Kamu kenapa, Zo. Kayak nggak terima gitu kalau
__ADS_1
mereka mau menikah. " tanya Rayyan kepada saudara kembarnya itu.
"Kalau kakak nikah nanti, apa kakak akan tetap menyayangiku? " kata Zoya dengan mencebikkan bibirnya.
"Tentu saja kamu akan menjadi adik kesayanganku, Zo. " ujar Murad yang Menepuk punggung Zoya yang duduk di sampingnya.
"Kak Zoya jangan khawatir. Kita akan bersama-sama menjaga kak Murad. " kata Faza yang merasa tidak enak dengan Zoya.
"Baiklah, aku hanya bercanda kok Faza. Aku senang kalau kakak kesayanganku ini menikah denganmu. Aku minta padamu jaga kakakku baik-baik. " Zoya tersenyum kepada Faza.
"Tentu saja. "
Setelah membicarakan rencana pernikahan Murad dan Faza mereka melanjutkan makan malamnya dengan tenang hanya denting suara sendok dan garpu yang terdengar.
Zoya segera menyelesaikan makan malamnya setelah mendengar panggilan telpon masuk dan segera pergi dari ruang makan. Semua orang tak mempedulikannya karena itu sudah biasa bagi mereka. Tapi tidak dengan Ezra, yang memandang Zoya tadi. Dia melihat perubahan Zoya yang terlihat Bahagia saat menerima panggilan itu.
Ezra jadi penasaran siapa seseorang yang sudah membuat Zoya tersenyum sebahagia itu.
Di kamar.
Zoya menerima panggilan telpon di balkon kamarnya, dari seseorang yang akhir-akhir ini selalu berkomunikasi dengannya dan memberikan perhatian-perhatian kecil kepadanya.
"Hallo Evan, apa kabar? "
"Kabar aku baik, kamu sendiri? "
"Aku baik. Tumben telpon. Ada apa? "
"Hutang? hutang apa? "
"Makan malam atau makan siang? " Evan mengingatkan.
"Oh, itu. Baiklah, Kapan? "
"Bagaimana Kalau besok, makan siang di Naftalin Cafe. "
"Baiklah.Kita Bertemu di sana. "
Mereka masih mengobrol panjang hingga lupa waktu. Tanpa Zoya sadari ada sosok pria di bawah sana yang sedang memperhatikannya.
Ezra yang hendak keluar, melihat Zoya yang masih menerima panggilan telpon di balkon kamarnya. Tanpa memperhatikan sekitarnya, ia tak sungkan tertawa lepas di sana.
Seulas senyum terukir di bibir Ezra melihat Zoya yang tersenyum bahagia seperti itu.
"Aku senang jika melihatmu bahagia, Zoya. " Batinnya sambil terus memperhatikan wajah Zoya yang tertimpa sinar bulan.
Zoya yang tanpa sengaja melihat kearah Ezra pun melambaikan tangannya. Dan Ezra membalas lambaian tangan Zoya, setelah itu dia memasuki mobilnya dan segera keluar dari mansion. Zoya sendiri masih asik berkomunikasi dengam Evan.
*
__ADS_1
Kemal dan Alima berpamitan pulang karena waktu sudah larut malam. Namun sepertinya Faza enggan meninggalkan Murad.
"Ayo Faza, kita pulang. " ajak Alima kepada anak gadisnya itu.
"Aku ingin mengantar kakak ke kamar dulu boleh? Aku ingin memastikan kakak tidur dengan baik. " kata Faza yang sepertinya enggan pergi.
"Pergilah, antarkan Murad ke kamarnya. " Nisa mengijinkan permintaan Faza.
Dengan senang hati Faza mengantarkan Murad ke kamarnya. Dia segera mendorong kursi roda Murad, menuju lift.
"Kau lihat, sepertinya Faza sudah tidak bisa dipisahkan dengan Murad. " kata Erhan dan di angguki semua orang.
"Iya.. sebaiknya kita percepat pernikahan mereka. Aku juga tidak tega melihatnya. " ujar Alima.
"Setidaknya jika ada Faza di sisi Murad, kalau malam Murad ingin buang air kecil atau minta sesuatu, dia bisa meminta tolong kepada Faza. " Kemal ikut menimpali, karena dia lebih kasihan kepada Murad yang terlihat kesusahan dalam bergerak.
"Baiklah, dua hari lagi. Kita persiapkan acara akad untuk mereka berdua. Karena menurut jadwal, besok mama sudah pulang. Biarkan Rayyan dan Zoya yang menjemput mama. Aku dan Alima akan mempersiapkan pernikahan kedua anak kita. Suamiku dan Kemal akan mengurus perusahaan, sedangkan Ezra akan mengurus dokumen pernikahan. " Akhirnya sang ibu negara yang memutuskan.
"Oke deal. Dua hari lagi. " kata mereka sepakat.
Kesepakatan rencana pernikahan mereka pun telah disetujui kedua belah pihak keluarga. Hanya tinggal mempersiapkan beberapa hal saja. Toh ini hanya acara akad dan pengesahan pernikahan. Jadi tidak terlalu ribet.
Di kamar Murad.
Zoya membantu memindahkan Murad ke ranjangnya. Walau sedikit susah payah, akhirnya ia berhasil memindahkan Murad.
"Terimakasih, Faza. "
Faza hanya mengangguk.
"Air minumnya sudah aku siapin di sini kak. " Faza menunjuk di meja samping ranjang Murad yang sudah berisi botol minuman.
"Terima kasih. Sekarang kamu boleh pulang, kakak akan istirahat. "
Faza tak bergeming, ia lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Dan merebahkan kepalanya di dada Murad dan memeluknya. Menikmati sensasi menenangkan yang Murad miliki.
"Kak, aku ingin seperti ini terus. Aku tidak ingin berpisah dengan kakak. "
"Bersabarlah. Kita pasti menikah, tinggal satu minggu lagi. " Murad membelai kepala Faza yang berbalut hijab itu.
Faza masih bermanja di dada Murad. Tanpa menghiraukan kegelisahan pada diri Murad.
"Faza, sudah ya? papa dan mamamu pasti sudah menunggu. Aku sudah baik-baik saja, kami tidak perlu khawatir. " kata Murad yang sudah menahan hasratnya mati-matian sejak tadi.
"Kenapa? kakak nggak suka ya aku didekat kakak." Faza mencebikkan bibirnya.
"Jangan seperti itu Faza, kamu tidak tau apa. Aku menahan semua ini mati-matian. Tolong mengertilah. Kamu belum halal aku sentuh sepenuhnya. "
Faza melotot mendengar ucapan Murad. Wajah putihnya berubah memerah saat mendengar ucapan Murad.
__ADS_1
"Kak. Aku pulang dulu. Assalamu'alaikum. "
Bersambung