Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Makan Siang


__ADS_3

Semua orang sudah berangkat sesuai intruksi Nisa. Bahkan Alima tadi juga di antarkan Kemal ke mansion untuk pergi bersama Nisa. Yang tertinggal di rumah hanya Faza dan Murad juga beberapa pelayan di sana.


"Kakak mau apa? " tanya Faza saat mereka sedang nonton televisi di ruang keluarga.


"Aku bosan Faza, Bagaimana kalau kita jalan-jalan di sekitar mansion. Sudah lama aku tidak berkeliling mansion. "


"Baiklah."


Faza kemudian membantu Murad kembali ke kursi rodanya. Mereka lalu mulai berjalan mengelilingi mansion yang di tumbuhi berbagai tanaman dan bunga. Sampai di kolam ikan mereka berhenti. Faza mendudukkan dirinya di kursi taman sedangkan Murad di sebelahnya. Mereka tersenyum memperhatikan beberapa ikan koi yang sedang meliuk-liuk kan ekornya.


"Faza... "


"Hmmm... "


"Apa kau tidak menyesal menikah denganku? "


"Kenapa? "


"Karena aku tidak sempurna, kelak kau pasti akan kesusahan merawat ku. Membantuku berpindah dari kursi ke ranjang, dari ranjang ke kursi. Belum lagi membantuku mandi... "


"Stop kak... jangan diteruskan. " pipi Faza memerah saat mendengar kata memandikan.


"Kenapa? " tanya Murad tak mengerti.


"Haruskah aku memandikan kakak juga. "


"Tentu saja kau kan istriku, tentu kau harus memandikan ku. Apakah aku harus menyewa seorang perawat untuk memandikan ku? "


Mendengar kata sewa perawat, Faza langsung menggelengkan kepala. Dipikirannya seorang perawat yang akan di sewa Murad adalah perawat wanita. Kalau sampai perawat wanita itu melihat tubuh Murad....Ahh... Faza tidak bisa membayangkannya.


"Jangan, nggak usah sewa perawat. Baiklah, aku yang akan membantu kakak mandi kalau aku jadi istri kakak. Aku nggak mau tubuh kakak dilihat wanita lain. "


Murad menarik alisnya ke atas, dia jadi mengerti. Sepertinya gadis kecilnya itu sudah salah paham. Baiklah tidak apa-apa jika salah paham itu menguntungkan baginya. Murad pun tersenyum senang.


"Nah, kalau kamu mau membantuku mandi nanti, aku nggak perlu sewa perawat, sayang. Karena istriku sendiri nanti yang akan memandikanku. " ucap Murad dengan menggenggam tangan Faza.


Mendengar kata-kata sayang dari Murad, lagi-lagi pipi Faza memerah.


"Tadi kakak mandi dibantu siapa? " tanya Faza kemudian

__ADS_1


"Aku tidak mandi. Tadi mommy membantu membersihkan tubuhku hanya dengan menyeka saja. Rasanya kurang nyaman kalau tidak diguyur air dan memakai sabun. " keluh Murad.


"Besok, setelah kita menikah aku akan melayani, kakak dengan baik. " kata Faza yang sedang merapikan rambut Murad dengan jari tangannya.


Murad menatap wajah Faza dengan lekat. Tidak di sangka besok mereka berdua akan melangsungkan pernikahan walau hanya dihadiri dua keluarga inti. Bagi Murad itu sudah cukup, dia hanya ingin menghalalkan gadis yang berada di depannya saat ini.


"Kak, jika aku sudah menikah. Apa aku nanti masih harus kuliah? "


"Kamu maunya gimana? Kakak tidak akan menghalangimu untuk kuliah Faza. "


"Tapi kalau aku nanti kuliah, siapa yang akan menjaga kakak di rumah? mengantarkan kakak ke dokter. "


"Nanti kan kita bisa bergantian, sayang. Ada daddy, mommy, Zoya dan Rayyan yang akan mengantarkanku ke dokter. " ucap Murad.


"Itu pasti merepotkan semua orang. Dimana peranku sebagai istrimu. " keluh Faza sambil menunduk.


"Kenapa? jika aku akan menjadi penghalangmu untuk mengejar ilmu... "


"Aku akan kuliah di rumah saja. Aku bisa melakukannya dengan online, sampai kak Murad sembuh dan bisa berjalan lagi. Setelah itu aku akan melanjutkan kuliahku dengan normal seperti biasa. Bagaimana? " putus Faza akhirnya. Mendengar keputusan Faza, Murad pasrah. Dia akan menghargai semua keputusan Faza


"Baiklah, terserah kamu saja. Asalkan pernikahan kita nanti tidak mengganggu dan menghalangi kuliahmu. ' ujar Murad.


" Faza, bisakah antarkan aku ke kamar. Sepertinya kakiku ingin diluruskan. Dan aku ingin berbaring. " pintanya pada calon istrinya itu.


*


Di butik, Zoya tak henti-hentinya melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia tidak sabar menunggu jam makan siang tiba. Konsentrasinya benar-benar terpecah, antara pekerjaan dan pertemuan makan siang dengan dokter Evan.


Jika di ingat secara seksama, Zoya sangat mirip dengan sang mommy. Diusianya yang menyentuh angka dua puluh lima ia masih tidak memikirkan untuk menikah, bahkan teman pria pun dia tidak punya. Hanya Ezra teman prianya,itupun sudah Zoya anggap sebagai saudara sendiri seperti Rayyan. Karena itu, sejak kenal pria asing seperti dokter Evan dan mendapat perhatian-perhatian kecil darinya Faza merasa sangat bahagia. Persis sang mommy saat bertemu dan berkenalan dengan daddynya dulu.


Tapi setelah mendapat ceramah singkat dari saudara kembarnya tadi pagi Zoya jadi berfikir ulang. Apa yang dikatakan saudaranya ada benarnya, Tapi yang di katakan kata hatinya pun menolak karena dia merasakan bahagia saat berkomunikasi dengan dokter Evan, meski itu hanya sekedar chat dan beberapa kali telpon saja.


Waktu sudah menunjukan pukul 11.30. Zoya segera meninggalkan ruangannya. Ia berpesan kepada asistennya untuk tetap berada di butik, karena dia akan keluar dan setelah keluar nanti dia akan langsung pulang, tidak kembali lagi ke butik. Dan untuk besok juga dia tidak akan datang ke butik. Karena ada acara keluarga.


Saat ini Zoya sudah berada di Naftalin cafe tempat yang sudah disepakati mereka berdua untuk bertemu. Sekitar sepuluh menit Zoya menunggu sambil memainkan ponselnya, Hingga suara yang sangat dikenalnya itu terdengar di indera pendengarannya.


"Hai. Maaf lama menunggu ya. " Sapa Evan, lalu mendudukkan dirinya di depan Zoya.


"Ah enggak juga, baru sepuluh menitan. "

__ADS_1


"Wah, aku jadi nggak enak nih. Maaf ya, karena sudah membuatmu menunggu. Tadi jalannya sedikit macet karena ada kecelakaan. "


"It's Oke dokter... "


"Evan... panggil Evan saja nggak usah ada embel-embel dokternya. "


"Baiklah."


Zoya akhirnya memesan beberapa makanan sesuai kesukaan mereka berdua.


"Maaf karena baru punya waktu untuk menagih janji. Dan itupun di makan siang, kalau malam aku selalu di mintai berjaga malam, dengan alasan karena masih single katanya. " kelakar Evan.


"Tidak apa-apa. Jika tidak diingat kan pun, mungkin aku akan lupa dengan hutangku padamu, Evan. Terimakasih karena sudah mengingatkan akan hutang janjiku padamu. "


Evan merasa terkesima mendengar penuturan dari Zoya. Baru kali ini dia bertemu dengan gadis yang menarik seperti Zoya. Mulai dari penampilan, tutur kata dan sopan santun nya.


Makan siang yang mereka pesan pun akhirnya datang. Zoya dan Evan memakan makanannya dengan tenang tanpa bersuara hingga makanan itu tandas. Suasana masih sunyi setelah mereka menyelesaikan makan siangnya, belum ada yang bersuara. Mereka masih asik dengan pikirannya masing-masing sambil mendengarkan lagu yang di putar pihak kafe.


"Zo... " panggil Evan dengan sedikit grogi.


"Iya... " Zoya mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Evan setelah asik bermain ponsel.


Pandangan mereka bertemu, dan saling mengunci. Hingga Zoya memutuskan pandangan itu.


"Maaf Evan. " kata Zoya salah tingkah.


"Aku yang seharusnya minta maaf padamu Zo. "


"Apa ada yang ingin kamu katakan tadi, Evan? " tanya Zoya setelah bisa mengatasi kecanggungan nya


Evan mengangguk, "Aku ingin mengatakan sesuatu. " Evan ingin meraih tangan Zoya, namun Zoya segera menarik tangannya.


"Maaf Evan, Aku tidak bisa berpegangan dengan sembarang pria selain daddy ku, saudara lelakiku dan suamiku kelak. " ujar Zoya dengan tertunduk.


Lagi, Evan merasa takjub dengan wanita yang ada di depannya saat ini.


"Maaf Zo, Aku tidak tau. " kata Evan merasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Jika kau belum tahu, maka aku yang memberitahu mu. " jawab Zoya dengan tersenyum membuang semua kecanggungan diantara mereka.

__ADS_1


"Aku ingin mengatakan, kalau aku menyukaimu Zo. Sejak pertama kali kita bertemu. Sepertinya aku jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama. " Evan mengutarakan isi hatinya kepada Zoya.


"Aku mencintaimu, Zoya. Apa kamu mau menjadi kekasihku? "


__ADS_2