
Zoya pulang saat rumah dalam keadaan sepi, dia mengira kalau semua orang pasti sudah masuk ke kamarnya masing-masing. Dia langsung menuju dapur untuk mengambil air minum didalam lemari es. Namun saat dia sedang menutup lari es, dia dikejutkan dengan kehadiran Rayyan yang berdiri di sampingnya.
"Ray, kau membuatku kaget. " pekik Zoya sambil mengelus dadanya dan langsung meminum air mineral yang dibawanya.
"Ada apa? ku kira kau sudah tidur. " Zoya meneguk satu tegukan lagi sambil duduk di kursi meja makan
"Bagaimana pertemuanmu dengan Evan. " Tanya Rayyan dingin.
"Baik, emang kenapa? "
"Zo, aku sudah memperingatkan padamu. Jangan dekat-dekat dengan dokter Evan. "
"Kamu ini kenapa sih, Ray. Kok kayaknya nggak suka banget sama Evan. "
Rayyan mendengus kesal saat Zoya mempertanyakan ketidaksukaannya kepada dokter Evan.
"Aku nggak tau, aku pokoknya nggak suka kamu deket dengan dokter Evan. "
Zoya menghembuskan nafasnya kasar, "lalu bagaimana dengan kak Murad. Dia kan juga yang akan merawat kak Murad, apa kau juga akan mencurigai nya? " ketus Zoya yang sangat tidak suka dengan pandangan Rayyan kepada dokter Evan.
"Sekarang aku tanya padamu, apa kau menyukai dokter Evan? " tanya Rayyan penasaran.
"Tentu saja, dokter evan sangat baik dan perhatian. Aku nyaman dengannya, emang kenapa? "
"apa kau hanya menyukainya atau kau sudah mencintainya? "
Zoya menggeleng, aku tidak tau akan hal itu, yang aku tau, aku nyaman dengannya. "
"Oke, sudah cukup pertanyaan ku. "
Rayyan lalu pergi meninggalkan Zoya di meja makan. Ada yang harus dia lakukan sekarang.
"Segera tidur Zo. " ucapnya sebelum meninggalkan Zoya.
"Iya cerewet. Kenapa kamu cerewet sekali sih sekarang Ray. " Zoya menggerutu, lalu mengikuti Rayyan naik ke lantai atas sambil membawa air minum yang tersisa.
Keesokan harinya, Murad yang sudah selesai mandi dan rapi meminta Faza mengantarkannya ke kamar Rayyan. Karena ada yang harus ia bicarakan dengan saudaranya itu.
tok.. tok.. tok...
Rayyan membuka pintu, dan dilihat Murad yang didorong oleh Faza.
"Ada apa kak. " tanya Rayyan kepada Murad.
"Boleh aku masuk? "
"Tentu saja. "
"Sayang, kamu boleh kembali ke kamar. Aku ada perlu dengan Rayyan. "
"Baiklah. Kak Rayyan aku titip suamiku yah. " Faza lalu meninggalkan Murad di kamar Rayyan.
Rayyan hanya menggelengkan kepalanya melihat pasangan pengantin baru itu.
__ADS_1
"Ada apa kak? " tanya Rayyan saat mereka sudah berada di dalam kamar.
"Kunci pintunya. "
Rayyan mengernyit heran atas permintaan kakaknya, namun dia menuruti apa yang dimintanya.
Setelah mengunci pintu, Rayyan lalu duduk di sofa yang ada dikamarnya berhadapan dengan kakaknya.
"Ada apa kak? " tanyanya lagi.
"Mengenai Zoya. "
Rayyan menghembuskan nafasnya jika mendengar nama Zoya di sebut.
"Apa kau menyayangi Zoya. " tanya Murad.
"Tentu saja, aku menyayanginya. Karena dia saudara kembarku. Kami lahir di waktu yang sama. "
Murad mengangguk mengerti.
"Lalu kenapa kamu tidak suka jika dia dekat dengan dokter Evan? " Murad berusaha mengorek informasi dari Rayyan.
"Entahlah, aku sejak awal tidak suka dengan dokter Evan. Bahkan saat dia ditunjuk sebagai dokter untuk merawatmu, sebenarnya aku keberatan. Tapi karena dokter Ahmed yang merekomendasikan dia sebagai doktermu. aku bisa apa? " jelas Rayyan panjang lebar.
"Baiklah aku mengerti sekarang. " ujar Murad dengan suara dingin, dan itu membuat Rayyan bingung. Tak biasanya kakaknya itu bersikap seperti ini.
Keadaan berubah hening dan dingin saat wajah Murad berubah ekspresi.
"Ray... aku berikan tugas kepadamu untuk mencari tau siapa dokter Evan itu, cari tau asal usul dokter Evan di Jerman dan kenapa dia sampai bekerja di Turki. Padahal dia adalah salah satu dokter terbaik kata dokter Ahmed. " ujar Murad memberikan perintah.
"Tapi kak,kenapa? "
"Kalau kau merasa ada yang salah dengan dokter Evan aku akan percaya. Bagaimanapun kau dan Zoya lahir dengan darah yang sama. Pasti perasaan kalian terpaut. Jika kau merasakan sesuatu yang bahaya mengincar Zoya maka aku akan percaya. " ungkap Murad memberitahukan alasannya.
Rayyan tercengang mendengar penuturan kakanya itu, Jadi hanya karena dia merasa Zoya tidak aman sampai memerintahkannya semua ini.
"Baiklah, aku akan menyuruh Ezra... "
"Jangan.... " Murad menggelengkan kepalanya memotong ucapan Rayyan.
"Jangan menyuruh Ezra dalam urusan Zoya, bahkan jika itu untuk menyelidiki dokter Evan. "
"Kenapa? " tanya Rayyan penasaran.
"Karena aku takut Ezra emosi dan akan membunuh Evan jika memang benar dia sosok yang tidak baik untuk Zoya. "
Rayyan tertegun mendengar ucapan Murad.
"Kenapa harus membunuhnya? Apa hubungannya dengan Ezra. " tanya Rayyan tak mengerti.
"Karena Ezra, mencintai Zoya. " jawab Murad dengan dingin.
"Apa? " pekik Rayyan tak percaya, lalu langsung menutup mulutnya.
__ADS_1
"Be... benarkah itu kak? " tanya Rayyan tak percaya.
Murad hanya mengangguk sebagai jawaban.
Rayyan menyandarkan tubuhnya lemas di sandaran sofa.
"Aku tidak menyangka... ternyata candaanku selama ini beneran jadi kenyataan. ' Rayyan menggeleng tak percaya.
"Dari mana kakak tau, kalau Ezra mencintai Zoya?"
tanya Rayyan yang penasaran.
Murad lalu menceritakan apa yang ia ketahui tentang perasaan Ezra dari Faza. Dan dia membuktikannya kemarin saat Zoya berpamitan ingin bertemu dokter Evan. Tampak wajah kecewa bercampur emosi yang tertahan di wajah Ezra.
Rayyan mengangguk mengerti.
"Jadi, siapa yang harus aku utus pergi menyelidiki dokter Rayyan, kak? " tanya Rayyan yang sekarang bingung harus mengutus siapa untuk pergi menjalankan perintah kakaknya.
"Max... " satu kata yang disebut Murad membuat Rayyan membelalakkan matanya.
"M... Max..? " beo Rayyan dengan tergagap, karena dia tau pasti siapa Max.
Max adalah Pria yang tak kalah datarnya dengan Ezra, bahkan lebih mengerikan dari Ezra. Dia adalah orang kepercayaan daddy selama ini untuk menjalankan perintah rahasia menyelidiki lawan bisnisnya dengan senyap, dan melenyapkan jika memang berani bermain-main dengan keluarganya.
"Ke... kenapa harus Max, kak? "
"Karena jika benar dokter Evan mau bermain-main dengan keluarga kita, terutama bermain-main dengan adik perempuanku. Maka aku tidak akan melepaskannya begitu saja. "
Glek...
Susah payah Rayyan menelan salivanya, mendengar suara datar dan dingin kakaknya. Begitu juga dengan wajahnya yang mengerikan. Membuat Rayyan bergidik ngeri. Dia tidak pernah tau, kakaknya yang penyayang memiliki sikap mengerikan seperti itu. Sepertinya, Rayyan harus berfikir ulang jika berurusan dengan kakaknya.
"Baiklah, aku akan menemui Max... "
"Secepatnya." potong Murad yang melihat keraguan di mata adik lelakinya itu.
"B... baik. Kak. " Rayyan pasrah dengan tugas yang diberikan Murad. Pasalnya dia sangat takut jika berhadapan dengan Max dari dulu. Dan sekarang dia harus bertemu empat mata dengan nya dan memberikan perintah langsung kepadanya.
Huft...
"Antarkan aku ke kamar Zoya. Aku juga ingin bicara empat mata dengannya. " ujar Murad meminta tolong adiknya.
Tanpa kata lagi, Rayyan langsung mendorong kursi roda kakaknya keluar kamar dan menuju kamar Zoya.
"Kakak kapan memeriksakan kaki kakak. " tanyanya basa basi.
"Mungkin besok atau lusa. "
"Apa kakak hanya akan pergi dengan Faza saja ke rumah sakit? " tanyanya lagi.
"Siapkan seorang bodyguard untuk mengawalku dan istriku nanti. Dan kau selipkan seorang perawat saat pengobatan ku dan mengawasi gerak gerik dokter Evan. " perintah Murad yang mengerti maksud adiknya dan langsung bisa membaca keinginan adiknya.
Mendengar itu, Rayyan tersenyum senang. Karena ternyata kakaknya bisa peka dengan maksud dari pertanyaannya.
__ADS_1
Bersambung.