
Faza sudah berada di ruangan suaminya. Ini adalah kali pertama dia berada di ruangan orang nomor satu di perusahaan yang tak lain adalah suaminya sendiri. Dia begitu terkagum-kagum melihat interior ruangan yang sangat mewah dan luar biasa.
"Aku tidak menyangka ruangan suamiku sangat mewah. " ucap Faza setelah mengamati seluruh ruangan kerja suaminya.
"Setelah ini aku mau melihat ruang kerja Kak Ezra dan kak Rayyan. "
Faza lalu duduk di samping suaminya, ada Ezra juga disana.
"Kamu bawa apa saja ini, sayang. Kenapa banyak sekali? " tanya Murad yang melihat ada tiga paperbag yang dibawa masuk oleh Ezra.
"Oh, iya aku lupa. Tadi aku membawa ini. Terima kasih ya kak Ezra karena sudah membawakan ini." kata Faza dengan wajah tanpa dosanya.
Dia lalu membuka satu persatu paperbag yang berisi bekal makanan untuk ketiga orang pria dalam keluarga Khan.
"Ini spesial untuk kak Murad. " Faza meminggirkan bekal untuk suaminya.
"Ini untuk Kak Ezra dan kak Rayyan. "
"Kenapa milik kak Murad spesial? " tanyaa Ezra seolah tidak terima. Dia sampai memanggil Murad dengan panggilan kakak seperti adiknya.
"Iya dong... karena porsi kak Murad itu lebih banyak, dia harus menyuapiku juga. Kalau kak Ezra dan kak Rayyan kan makan sendiri, jadi porsinya hanya untuk satu orang. Makanya istrinya suruh mengantarkan makanan untuk suaminya, sama seperti aku ini yang perhatian. Iya kan, kak Murad sayang. " kata Faza sambil mengecup pipi suaminya.
"Kau... " Ezra langsung menyambar dua paperbag miliknya dan Rayyan dan segera keluar dari ruangan Murad. Karena dia merasa kesal dengan perbuatan adiknya, yang sudah memanas-manasinya.
Setelah kepergian Ezra, Faza langsung tertawa lepas. Karena berhasil membuat kakaknya kesal.
"kamu sama sekali tidak takut kepada Ezra , Bukankah dia kalau kesal sangat menakutkan ?" Tanya Murad kepada istrinya itu.
"Itu di mata orang Kak , tapi di mataku Jika Kak Ezra kesal itu sangat menggemaskan , dan sangat lucu . Dia tidak mungkin marah atau menyakitiku . Karena aku adalah adik kesayangannya ." kata Faza dengan senyuman penuh dibibirnya.
"Dan kau adalah istri kesayanganku , jadi tidak akan ada yang berani menyakitimu. " Murad langsung membawa Faza duduk di pangkuannya, lalu dia mencium lembut bibir Faza.
"Ow... ow... ow... Aku tidak melihat. "
Rayyan masuk ke ruangan Murad tanpa mengetuk pintu pun harus disuguhkan dengan perbuatan mesum kakaknya dengan istrinya.. namun setelah melihat itu dia juga tidak langsung keluar dari ruangan kakaknya, tapi malah duduk di sofa bergabung dengan kedua pasangan mesum itu.
__ADS_1
"Ada apa? kau mengganggu saja, Rayyan. " ketus Murad.
"Cih... Ceo kami yang terhormat berilah contoh yang baik kepada kami para bawahanmu. " kata Rayyan yang menyindir kakaknya.
"Bilang saja kak Rayyan juga ingin seperti kami."
Faza lalu dengan sengaja menciumi seluruh wajah Murad, sehingga membuat Murad merasa kegelian. Tapi tidak dengan Rayyan yang membulatkan matanya melihat tingkah kakak ipar kecilnya itu, yang sangat absurd.
"Kau... ternyata benar, kata Ezra. Kalian berdua membuatku pusing. Kak, segera tanda tangani berkas ini. Kalau sudah selesai segera panggil aku. " Kata Rayyan yang langsung meletakkan berkas di meja kerja kakak nya, lalu segera pergi dari sana dengan wajah kesal.
"Faza, kanapa kau iseng sekali kepada mereka berdua. " Murad menggelengkan kepalanya melihat keisengan istrinya kepada Ezra dan Rayyan.
Faza terkekeh dengan sikapnya sendiri sambil membuka kotak bekal makan siangnya.
Melihat isi didalamnya, Murad membulatkan matanya, tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
”Faza kenapa banyak sekali? Apa kau yakin ini porsi untukku dan untukmu? " tanya Murad yang merasa tidak percaya.
Faza mengangguk. "Aku ingin makan banyak, karena tadi pagi aku tidak selera makan kak, jadi aku cuma makan sedikit sekali. Sekarang aku mau makan banyak. " ucapnya dengan mata berbinar .
"Kita buktikan saja kakak, kalau hanya di lihat saja tidak akan habis makanan ini. " Faza langsung menyuapkan makanan itu ke dalam mulut Murad dan mulutnya secara bergantian.
Dan benar saja, makanan sebanyak itu habis, masuk ke dalam perut Faza. Murad benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat, tapi itu benar-benar nyata di depan matanya. Istri kecilnya makan dengan lahap padahal dia sudah menghentikan suapan nya sejak tadi.
"Apa kau baik-baik saja, sayang? Apa perutmu tidak sakit ?" Tanya Murad yang merasa khawatir dengan keadaan Faza.
"Aku baik-baik saja, kak. Memangnya kenapa? " tanya Faza tak mengerti.
"Kamu makan sebanyak itu sayang , Aku jadi khawatir dengan keadaanmu. Karena tidak biasanya kamu makan sebanyak itu." kata Murad.
"Aku tidak apa-apa." Faza lalu menepuk-nepuk perutnya.
Mendengar Faza yang meyakinkan dirinya kalau dia baik-baik saja , Murad mulai merasa tenang. Dia Lalu mengajak Faza ke sebuah ruangan yang ada di dalam kantornya. Lagi-lagi mata Faza berbinar saat melihat penampakan ruang istirahat Murad yang sangat mewah . Tidak menyangka saja , kalau di dalam ruangan ada ruangan lainnya .
"Siapa saja wanita yang pernah kakak ajak ke dalam ruangan ini?" tanya Faza memicingkan matanya merasa curiga dengan ini semua.
__ADS_1
Murad yang mendengar pertanyaan dari Faza mengerutkan keningnya tidak mengerti .
"Maksud kamu apa sayang , apa kau mencurigaiku ." Kata Murad yang melihat perubahan sikap Faza .
"Aku hanya bertanya Kak ? Apakah kakak pernah membawa seorang wanita ke dalam ruangan ini ?" Faza lalu menelusuri setiap ruangan. Mungkin saja dia bisa mendapatkan jejak kehadiran seorang wanita di ruangan ini.
Murad membuka dasi dan kancing kemeja atasnya, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk, untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
"Tidak ada Faza sayang , bahkan tidak ada seorang wanita pun yang pernah memasuki ruangan kantorku . Hanya kamulah satu-satunya wanita yang masuk ke dalam ruanganku ." Ujar Murad sambil menepuk-nepuk Sisi kosong di sampingnya .
Mendengar itu , Faza langsung menoleh ke arah suaminya . Dan Melihat posisi Murad yang sangat menggoda di matanya . Ada gelenyar aneh yang Faza rasakan saat itu . Entahlah kenapa mood-nya hari ini naik turun Tidak seperti biasanya .
Dengan senyum Jahilnya Faza lalu membuka hijab yang menempel di kepalanya, dia juga membuka satu persatu pakaiannya, persis seperti seorang penggoda. Namun yang dia goda adalah suaminya sendiri. Murad membulatkan matanya saat melihat tingkah Faza hari ini yang benar-benar di luar dugaan.
Faza merangkak naik di atas tubuh suaminya, dan berhenti di atas perut nya. Dia lalu membuka semua kancing kemeja suaminya, dan menggambar sesuatu yang abstrak di bagian dada suaminya. Dan itu membuat Murad tidak tahan lagi, dan membalikkan keadaan. Mengungkung Faza dibawahnya.
"Katakan padaku Faza apa yang terjadi padamu?" tanya Murad sambil mengabsen setiap jengkal tubuh Faza.
"Aku tidak tau...ah " jawab Faza sambil mengeluarkan suara aneh dari mulutnya.
"Kau berbeda Faza... Siapa kau sebenarnya... " Murad terus saja mencumbui Faza sampai dia kewalahan.
"Aku Faza, istrimu... " Ucap Faza dengan nafas tersengal karena Murad sedang bermain-main di bawah sana.
Murad lalu melepaskan seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya, lalu dia menatap istrinya lekat-lekat. Faza langsung menyambar bibir Murad lalu membisikkan sesuatu di telinga suaminya.
"I want you. "
" As you wish. "
Mereka melakukan penyatuan , di hari yang panas itu . Panasnya cuaca di luar , tidak memadamkan panasnya pergulatan mereka di dalam ruang istirahat Murad . Kali ini tidak hanya Murad yang memimpin , tapi Faza juga ikut mendominasi permainan . Entahlah apa yang terjadi pada tubuhnya saat ini , karena dia sangat menginginkan suaminya .
Hingga lenguhan panjang itu terdengar , dari mulut kedua insan manusia yang baru saja mengejar kepuasan satu sama lain . Faza langsung tergeletak tak berdaya ,dan memejamkan matanya . Tak lama , dengkuran halus itupun terdengar dari bibir mungil Faza .
Murad yang mendengar itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal , karena benar-benar merasa aneh dengan sikap dan tingkah Faza hari ini . Dia tidak tahu , kalau istri kecilnya itu bisa berubah sikap hanya dalam hitungan detik . Murad langsung menutupi tubuh polos Faza dengan selimut . Sedangkan dia beranjak dari tempat tidurnya , dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri . Karena bagaimanapun ini adalah jam kerjanya . Jadi dia harus menyelesaikan semua pekerjaannya . Selama Faza tertidur, sebelum istri kecilnya itu bangun dan merecokinya lagi .
__ADS_1