Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Keputusan Zoya


__ADS_3

Di sisi lain, Evan sudah berada di apartemennya. Dia menyiapakan beberapa baju dan pasport nya untuk segera ke bandara. Dia juga sudah menghubungi pihak rumah sakit kalau dia harus kembali ke Jerman dalam waktu beberapa hari kedepan, masih dengan alasan ibunya sakit keras sehingga membuatnya harus kembali secepatnya. Setelah menyiapkan semua keperluannya Evan segera menuju bandara.


Mobil yang mengikuti Evan masih siap siaga mengikuti kemana dia pergi, dan mobil itu ternyata berhenti di bandara, utusan itupun segera melaporkan yang tejadi kepada Max, kalau Evan saat ini berada di bandara.


"Pastikan dia mau ke negara mana. Biar anak buahku disini yang akan menunggunya. Kita akan estafet mengawasinya. " ujar Max di seberang telepon.


"Baik, tuan. "


Setelah panggilan ditutup orang itu segera mengikuti kemana Evan pergi. Namun dia masih mengawasinya dalam jarak aman. Hingga saat membeli tiket, orang itu mendekat untuk mendengarkan kemana tujuan Evan.


Setelah mendengarkan tujuan Evan, Orang itu segera menjauh. Dan menghubungi Max.


"Munchen tuan. "


"Baiklah, karena sepertinya alamatnya memang berada di Munchen. Jadi dia pasti kembali ke Munchen. Kerjamu bagus, dan tetap awasi dia, jangan sampai lengah. Hingga pesawatnya lepas landas.


"Baik tuan. "


Utusan Max masih mengikuti kemana Evan pergi sesuai perintah Max. Mereka memang orang-orang terlatih untuk mengerjakan pekerjaan seperti ini, mengawasi dsn memata-matai. Mereka orang-orang yang bisa dipercaya, karena mereka sudah mengambil sumpah setia.


**********


Taman Nasional Turki (Buyuk Menderes)


Dua orang anak manusia yang sedang berpelukan itupun akhirnya melepaskan pelukan mereka. Lalu tersenyum bersama. Semburat merah muncul di wajah cantik Zoya saat Ezra memandangnya dengan lekat.


"Maafkan Aku Zo... " Kalimat pertama yang Ezra ucapkan setelah beberapa saat mereka terdiam. Tangannya mengusap wajah Zoya yang merona itu.


Zoya hanya menggeleng, sebagai jawaban.


Tangan Ezra lalu mengggamit tangan Zoya lalu dipegangnya erat. Zoya memandang tangannya yang berada di genggaman tangan Ezra, dia tidak menolaknya, tapi kenapa saat dengan Evan dia bahkan tidak ingin disentuh. Tapi saat dengan Ezra, jangankan bergandengan tangan bahkan mereka melakukan lebih dari itu hari ini. "Ya Tuhan semoga engkau mengampuni dosaku hari ini." batin Zoya.


"Ayo aku antar pulang. " ajak Ezra masih menggandeng tangan Zoya.


Kini Zoya yang seperti kerbau yang cucuk hidungnya. Dia menurut kemana Ezra membawanya pergi.


Di dalam mobil, tidak ada satupun dari mereka yang buka suara. Mereka terdiam dalam pikiran mereka masing-masing menikmati perjalanan mereka.


"Ezra... "


"Zo... "


Panggil mereka bersamaan. Lalu mereka tersenyum bersama.


"Kamu duluan... " kata Ezra yang meminta Zoya mengatakan apa yang ingin dia katakan.


"Maafkan aku, karena aku tidak bisa membalas perasaanmu dalam waktu dekat. Karena aku harus memastikan perasaanku dulu. " ujar Zoya pada akhirnya, semua kata itu tertahan sejak tadi karena dia tidak ingin melukai Ezra.


"Apa kau masih mengharapkan dokter Evan? " Tanya Ezra dengan sedikit rasa sakit di hatinya.


Zoya menggeleng. "Entahlah, aku tidak tau bagaimana perasaanku pada Evan. Aku hanya merasa nyaman saat ngobrol bersamanya. Tapi aku juga ragu, karena perbedaan kita. "


Ezra mengangguk mengerti.


"Baiklah, putuskanlah jika kau sudah memastikan perasaan mu. Aku akan menunggumu, tapi selama aku menunggu bolehkah aku meminta sesuatu padamu. Aku juga ingin berjuang untuk mendapatkan cinta darimu Zo. "

__ADS_1


Zoya menunduk malu saat gunung es disebelahnya ini berubah sangat manis.


"Apa? katakanlah. "


"Angkat telponku kalau aku menghubungimu, balas pesanku jika aku mengrimkan pesan kepadamu. Dan pergi bersamaku saat aku mengajak mu keluar. Apa kau bisa? "


"Kenapa kau banyak maunya Ezra. Dan semakin cerewet " kata Zoya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Aku sedang berjuang untuk merebut hatimu, Zoya. Jika Evan kau beri kesempatan, maka beri aku juga kesempatan. Aku akan berjuang yang terbaik untukmu. "


Zoya mengangguk mengerti.


"Baiklah. Aku akan memberi kesempatan padamu." putus Zoya pada akhirnya


Ezra lalu menggenggam tangan Zoya lalu menciumnya. "Terimakasih, Zo. "


Mendapat perlakuan seperti itu dari Ezra, Sungguh membuat Zoya meleleh. Karena ini adalah pertama kali bagi dirinya mendapat perlakuan seperti ini dari lawan jenisnya. Melakukan kontak fisik lebih dengan lawan jenis, yang membuat jantung dan hatinya berjalan bagai Roller coaster. Sungguh berdekatan dengan Ezra membuat kinerja jantung tidak Baik-baik saja.


Bagaimana bisa pria kulkas ini bisa bersikap begitu manis kepada nya. Sangat manis sehingga membuatnya overdosis hingga membuatnya terkena diabetes. Zoya tak habis pikir dengan apa yang terjadi hari ini. Dia yang merasa kecewa karena ditinggal begitu saja oleh Evan, Kini begitu banyak mendapat kebahagiaan yang didapat dari Ezra. Pria itu sudah membuat perasaannya naik turun dalam sehari ini. Sungguh luar biasa Ezra.


"Zo... apa kau mau makan dulu? " ujar Ezra yang menawarkan makan kepada Zoya.


"Boleh, karena aku juga sudah lapar. "


"Apa kau tidak menghubungi orang tuamu dulu? "


"Tidak perlu, asal aku pulang denganmu mereka tidak akan khawatir. " kata Zoya yang sekarang bergelayut manja pada lengan Ezra.


Ezra yang mendapati Zoyanya manja kepadanya merasa sangat bahagia.


"Zo, nanti saat kita bertemu di depan orang banyak, biarkan aku bersikap seperti biasa ya? Karena hubungan kita belum diketahui banyak orang, dan aku juga masih menunggu jawaban darimu. "


"Iya, aku mengerti. " jawab Zoya singkat.


Sebelum mereka memasuki masion Ezra menghentikan mobilnya dengan jarak sedikit jauh dari mansion.


"Kenapa berhenti? "


"Zo... "


"Hmmm... "


"Boleh aku memelukmu, sebelum kita berpisah nanti. "


"Kenapa kau banyak maunya sekarang, Ezra. " walau dengan mengomel tapi Zoya masuk juga ke dalam pelukan Ezra, menghirup aroma menenangkan darinya walau belum mandi sore ini.


Begitu juga Ezra yang juga mencium aroma Zoya. Setelah beberapa lama akhirnya pelukan mereka terlepas.


" Apa sudah cukup? "


Celetukan dari Zoya menerbitkan senyuman dibibir Ezra. Lalu dengan cepat dia mencuri kecupan singkat di bibir manis itu.


"Ezra... "


Zoya merasa terkejut dengan apa yang dilakukan Ezra kepadanya. Dan Ezra membalasnya dengan senyuman manisnya, Senyuman yang sangat di sukai Zoya.

__ADS_1


Mereka akhirnya sampai di mansion, disana hanya ada Erhan dan Nisa yang sedang menunggu kedatangan Zoya. Sedangkan Rayyan dan Murad sudah masuk ke dalam kamar mereka.


Pintu mansion terbuka, dan masuklah Zoya dan Ezra dibelakangnya.


"Mom, dad. Kalian belum tidur? " tanya Zoya ketika melihat kedua orang tuanya masih terjaga.


"Bagaimana kami bisa tidur jika anak perempuan kami masih diluar? " Kata mom Nisa. Kemudian ia mengernyitkan keningnya ketika melihat Zoya ternyata pulang dengan Ezra bukan dengan dokter Evan.


"Lho kok pulang sama Ezra, dimana Dokter Evan. " tanya Nisa.


Erhan yang mendengar itupun langsung menoleh dan benar ternyata Anaknya pulang bersama Ezra bukan dokter Evan.


"Mana dokter Evan. " tanya Erhan juga dengan sedikit emosi.


"Maaf dad, tadi waktu kami sedang bersenang-senang dokter Evan tiba-tiba mendapat telpon dari ayahnya di Jerman, katanya ibunya mendadak sakit. Jadi dia langsung pergi, tadi dia juga ingin mengantarku pulang terlebih dulu. Tapi aku tidak mau, dan meminta Ezra untuk menjemputku. " kata Zoya menjelaskan.


"Benar itu, Ezra. " tanya Erhan memastikan.


Dan Ezra membalasnya dengan anggukan. Sungguh Ezra melakukan apa yang dikatakannya tadi. Dia kembali bermuka datar dan dingin.


"Karena Zoya sudah sampai, saya permisi dulu dad. " ujar Ezra yang akan undur diri.


"Iya, segeralah pulang. ini sudah malam. Terimakasih Ezra, karena sudah mengantarkan Zoya dengan selamat. " Nisa yang membalas.


"Sudah tugasku mom. Kalau begitu, aku pulang dulu. Assalamu'alaikum. "


"Wa'alaikum salam. "


"Aku antar. " Zoya tanpa sungkan didepan orang tuanya langsung melingkar kan tangannya di lengan Ezra. Membuat mommy dan daddynya geleng-geleng kepala melihat sikap anaknya yang manja pada Ezra.


"Aku pulang dulu, istirahatlah. " kata Ezra sambil mengusap kepala Zoya. Kini sikapnya berubah manis lagi saat berdua dengan Zoya.


"Iya hati-hati di jalan. "


Ezra lalu menggenggam tangan Zoya, lalu menciumnya sekali lagi.


"Have a nice dream babe. "


Sungguh perlakuan Ezra membuat zoya meleleh.


Pemandangan manis itu tak luput dari pandangan Rayyan yang sedang berada di balkon kamarnya.


"Cih... dasar. " Rayyan merasa kesal, tapi juga tersenyum melihat mereka berdua yang sepertinya lebih dekat.


"Begini lebih baik. "


**********


Di negara bagian lain, Evan tengah berlari menuju sebuah kamar VIP di sebuah rumah sakit, dan langsung membuka pintu ruangan.


"Vati...." panggil seorang anak kepada Evan.


"Mein Sohn. " balas Evan kepada anak laki-laki itu dan langsung memeluknya.


Moment itu tak luput dari orang-orang Max Yang mengikuti Evan sejak berada di bandara.

__ADS_1


"Kena kau. "


__ADS_2