
Murad lalu memperkenalkan Faza kepada beberapa kolega yang mendekat kepadanya, dan ingin bercengkrama dengan Murad.
"Siapa gerangan nona cantik yang berada di samping anda ini tuan Murad? " tanya salah satu kolega Murad.
"Oh, perkenalkan ini adalah istri saya tuan. Kami baru beberapa bulan menikah. " ujar Murad memperkenalkan istrinya.
"Wah, rupanya CEO muda kita sudah menikah, baru saja saya memikirkan untuk memperkenalkan anda dengan anak saya tuan. " ucap salah seorang kolega Murad. Dan disambut gelak tawa semua orang.
Faza yang sedikit sensitif karena hormon kehamilannya merasa tidak senang dengan ucapan kolega Murad. Murad yang mengerti akan hal itu langsung merangkul Faza.
"Maaf nona, saya hanya bercanda. " ujar orang itu yang melihat perubahan mata Faza di balik penutup wajahnya.
"Kenapa Anda tidak merayakan pernikahan anda tuan, Murad? " tanya yang lainnya.
"Belum tuan, karena ada suatu hal kami belum merayakannya. Nanti pasti akan kami rayakan. Benarkan sayang? "
Faza mengangguk dan tersenyum dibalik sapu tangan yang menutup wajahnya.
"Baiklah tuan, Kami menunggu undangan dari anda. "
"Tentu saja. "
Mereka terus berbincang membahas apapun tentang Bisnis, Dan Faza hanya menemani di samping suaminya. Faza menyusul Murad karena merasa mual, dan untuk meredam rasa mualnya itu dia mencari suaminya hanya untuk menghirup aroma tubuh Murad.
Tak jauh dari mereka, Monica melihat interaksi antara Murad dan gadis di sampingnya. Memangnya siapa dia?
Monica menemui salah seorang pelayan disana dan menanyakan siapa wanita yang berada di samping Murad.
"Maaf, boleh saya bertanya. " tanya Monica kepada seorang pelayan yang menyuguhkan minuman kepadanya.
"Ada apa nona? "
"Siapa wanita di samping tuan Murad itu? "
"Oh, beliau adalah nyonya Murad. Kami tidak tau siapa namanya, karena kami hanya memanggil beliau nyonya Murad atau nyonya muda."
"Kalau tuan Rayyan, apakah dia sudah menikah? " tanya Monica penasaran.
__ADS_1
"Sejauh ini yang kami tau hanya tuan Murad yang sudah menikah, itupun baru beberapa hari ini. Semenjak nyonya muda datang ke perusahaan. "
"Baiklah, terimakasih atas informasinya. "
Monica tersenyum sinis melihat ke arah Murad.
"Ternyata kau sudah menikah tuan muda. Karena itu kau tidak tertarik sama sekali kepadaku. Baiklah... ini akan memudahkan jalanku untuk menghancurkanmu. " Monica meminum winenya dengan menatap tajam ke arah Murad.
Ezra yang selalu mengikuti gerak gerik Monica menjadi was-was melihat tatapan tajam Monica ke arah adiknya. Sepertinya tidak hanya Zoya yang harus dia lindungi, tapi juga adiknya Faza .
Setelah menghabiskan wine-nya , Monica lalu berjalan mendekati Rayyan , dia mencoba berbincang dengan Rayyan. Monica merasa Rayyan lebih mudah di dekati karena memiliki sifat yang bersahaja daripada Murad yang dingin dan acuh. Mungkin karena sudah memiliki istri, jadi Murad bersikap menjaga jarak dengan wanita lain.
"Tuan Rayyan, bagaimana kalau besok kita makan malam bersama. " ajak Monica setelah dirasa cukup berbasa basi dengan Rayyan.
"Wah, Kita lihat saja besok nona Monica. Aku tidak tau besok ada acara apa tidak. " Rayyan mencoba menolak secara halus permintaan Monica yang mengajaknya makan malam.
"Oh. Maaf kalau begitu saya lupa kalau anda sangat sibuk tuan Rayyan. " Kata Monica tersenyum kecil dan merasa sungkan.
"Tidak apa-apa nona. "
"Kalau begitu, bolehkah kita bertukar nomor ponsel? "
Akhirnya Acara makan siang dan ramah tamah pun selesai. Para perwakilan dari beberapa perusahaan pun sudah meninggalkan perusahaan K. Murad, Rayyan dan Ezra juga Faza sudah berkumpul di ruangan Murad. Ezra yang sangat kesal kepada Faza langsung memarahinya.
"Faza kenapa sih, tadi kamu keluar dari ruangan ini. Dan menemui kak Murad. " Sentak Ezra sudah tidak dapat menahan kemarahannya kepada adiknya itu.
Faza yang melihat kakaknya marahpun langsung beringsut dan bersembunyi di belakang tubuh suaminya.
"Kakak.. " rengek nya.
"Sudahlah Ezra... " Murad menghentikan amarah Ezra kepada istrinya.
"Tapi kak, tadi itu benar-benar tidak aman. Monica terus menatap ke arah Faza dengan tatapan tajam. Aku takut dia merencanakan sesuatu kepada Faza. " Ucap Ezra penuh kekhawatiran.
Mendengar hal itu, Faza semakin mengeratkan pelukannya di lengan suami.
"Memangnya apa yang kau lakukan. Kenapa kau menemui kak Murad segala. " Ezra bertanya lagi dengan emosi yang tertahan.
__ADS_1
Faza menunduk dan mulai bicara. "Tadi aku merasa mual. Aku mencari kak Murad karena aku ingin menghirup aroma tubuhnya, kakak. Bukan bermaksud apa-apa. Dengan mencium aroma tubuh kak Murad aku merasakan tenang dan mualku hilang. " cerita Faza tentang keadaannya tadi.
Para pria menghela nafas mereka. Kalau sudah berurusan dengan wanita hamil, para pria pun tidak bisa melawan. Karena apa yang dilakukan ibu hamil selalu benar.
Setelah itu tidak bisa menjawab Faza , Ezra beralih pandang kepada Rayyan. Dia penasaran apa yang dikatakan oleh monica kepadanya tadi.
"Lalu kau Rayyan , apa yang dikatakan Monica kepadamu . Karena tadi kulihat kalian berdua berbincang dengan akrab ." tanya Ezra yang penasaran.
Mendengar ucapan dari Ezra , Murad langsung menatap Rayyan dengan tajam .
"Apa yang kau bicarakan dengan Monica Rayyan?" tanya Murad yang juga penasaran dengan apa yang Rayyan dan monica bicarakan.
"aku tidak membicarakan apapun kakak , kami hanya berbasa-basi . Dan aku terpaksa melayaninya , agar tidak timbul kecurigaan karena kita sudah tahu siapa dia ." jelas Rayyan
"Lalu apa lagi ?"
"Dia mengajakku makan malam besok , karena aku tidak memberinya kepastian , akhirnya dia meminta kartu namaku . Dan kami saling bertukar kartu nama ." Rayan menghirup nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan .
"Sungguh aku tidak bermaksud demikian . Tapi semua ini kulakukan , hanya agar dia tidak curiga kepada kita ."
"Baiklah aku percaya kepadamu, saudaraku . Kau pasti melakukan ini , karena memikirkan kita semua ."
Ucapan Murad itu , langsung diangguki oleh Rayyan.
°
°
Di Jerman.
Erhan yang sudah mengetahui keadaan yang terjadi di rumah Shofie dan Rumah sakit, akhirnya memutuskan segera pergi ke rumah sakit terlebih dahulu untuk menyelamatkan nyawa anak Evan yang tidak berdaya.
Dengan beberapa pengawalnya Erhan segera pergi ke rumah sakit. Dia langsung menemui Direktur rumah sakit untuk segera melakukan tindakan kepada putra Evan.
Erhan di sambut baik oleh Direktur rumah sakit tempat Abe di rawat.
"Ada apa gerangan tuan Erhan yang terhormat datang ke rumah sakit kami? " Direktur rumah sakit mencoba basa basi saat mereka duduk berhadapan.
__ADS_1
"Langsung saja, Tuan. Saya kemari untuk seorang pasien anak yang bernama Abelard Joseph. Putra dari dokter Evander Joseph. Yang sudah beberapa bulan terakhir di rawat di sini. "