Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)

Cinta Kasih Sang Pewaris (Our Love Story)
Kegalauan Hati Zahra


__ADS_3

Erhan dan Murad kembali ke rumah sakit , Sedangkan Kemal dan Ezra ikut ke kantor Polisi bersama dengan beberapa orang pengacara yang sudah disiapkan oleh Erhan, untuk memberikan keterangan. Ezra akan memberikan keterangan tentang semua keadaan yang telah terjadi di sini , sedangkan Kemal akan memberikan keterangan yang terjadi di Jerman . Karena semuanya berkaitan erat. Ibu dan anak ini bekerja sama untuk menghancurkan keluarga Khan.


Di rumah sakit.


Waktu menunjukkan pukul 20.00. Terdengar lenguhan dari bibir Faza yang meminta air. Alima langsung mendekat dan memberikan segelas minuman kepada Faza.


"Mama... dimana kak Murad? " tanya Faza sambil mencoba duduk.


"Tidur saja Faza. Jangan keras kepala. Kamu butuh istirahat. " Alima langsung membaringkan Faza lagi, agar dia kembali ke posisi tidur.


"Kak Murad ke mana? " tanya nya lagi.


"Murad sedang mengurus orang yang menabrak kalian. "


Mendengar kata tabrak , Faza langsung panik dan memegangi perutnya .


"Ma, Bagaimana dengan anakku? apa mereka baik-baik saja? "Tanya Faza dengan segala kepanikannya .


"Alhamdulillah semuanya baik-baik saja sayang . Kamu tidak perlu khawatir . Anak-anakmu semua kuat, mereka masih bertahan didalam rahimmu. Begitu juga dengan Zoya.


Mendengar hal itu , Faza bernafas lega dan merasa tenang.


" Kak Zoya, bagaimana keadaan kak Zoya ma apa dia juga baik-baik saja? " tanya Faza kembali panik saat mengingat Zoya.


"Tenang Faza , Zoya juga baik-baik saja . Itu dia ada di sana kalian berdua di rawat dalam satu ruangan . Agar kami bisa menjaga kalian dengan baik . Sekarang Beristirahatlah ."


Tak lama setelah berbincang , Nisa, Rayyan dan Zahra masuk ke ruangan rawat Zoya dan Faza . Dilihatnya Faza yang sudah siuman, Nisa langsung mendekat dan memeluk menantunya itu


"Alhamdulillah Kamu sudah sadar sayang , bagaimana keadaanmu ?"


"Aku baik mom , berkat doa dari kalian semua ."


"Syukurlah kalau begitu ,kita hanya menunggu kedatangan Murad dan Ezra . "


Alima, Nisa berbincang hangat di samping Faza untuk menghiburnya. Zahra yang melihat itu, manarik lengan Rayyan dan mengajaknya keluar. Mereka duduk di kursi tunggu yang berada di luar.


Rayyan yang melihat wajah dan sikap tak biasa dari istrinya itu mulai membuka pembicaraan.


"Kenapa ? Apa yang sedang kau pikirkan ?" Tanya Rayyan kepada istrinya itu .


Bukannya menjawab , Zahra malah merebahkan kepalanya di bahu Rayyan.

__ADS_1


"Ray bukankah kita menikah sehari setelah pernikahan kak Ezra dan kak Zoya ."


" Iya memangnya kenapa?"


"Dan kita juga melakukan hubungan suami istri , tak lama setelah kita menikah, walaupun belum ada cinta di antara kita. Tapi kenapa aku belum hamil juga ya . Padahal usia pernikahan kita sama dengan Kak Zoya ." ujar Zahra yang mencurahkan kegundahan hatinya .


Rayyan langsung menoleh ke arah Zahra yang sedang berbaring di bahunya.


"Apa kau juga ingin memiliki anak dariku, Zahra?


Zahra langsung duduk dengan tegap dan menatap Rayyan dengan tajam. "Tentu saja aku ingin memiliki anak darimu Rayyan , karena kau adalah suamiku . Memangnya dengan siapa lagi , aku harus memiliki anak. " ketus Zahra kepada suaminya.


Rayan menjadi gelagapan ,setelah mendengar jawaban dari Zahra . Rupanya dia salah pertanyaan .


"Maafkan aku Zahra , bukan maksudku ..."


"Sudahlah Ray , Kenapa di saat seperti ini kau membuatku kesal." Ketus Zahra lagi sambil melipat kedua tangannya di bawah dada.


Melihat istrinya yang sudah kesal , Rayan langsung memeluk Zara dengan erat meskipun dia tidak mendapatkan balasan .


"Bukan begitu maksudku Zahra , aku tadi salah pertanyaan . Maafkan aku. "


Mendengar permintaan maaf dari Rayan , Zahra langsung membalas pelukan Rayan . Dan mulai sesenggukan .


"Tenanglah , jangan terlalu kau pikirkan tentang hal itu, Zahra. Mungkin Tuhan ingin kita lebih dekat dulu, dan memperdalam cinta kita. "


"Tapi, Ray..."


"Ssttt...Aku ingin bercerita kepadamu tentang sesuatu dimansion kami yang belum kamu ketahui sama sekali." Rayyan mencoba mengibur istrinya itu.


"Apa? "


"Kau tau, seberapa besar dan lama cinta kak Murad kepada Faza,dan cinta Faza kepada kak Murad?"


Zahra menggeleng.


"Kak Murad sudah menyukai Faza sejak Faza bayi. Sejak Faza di lahirkan, kak Murad mengklaim kalau Faza adalah miliknya. Sedangkan Faza mengungkapkan kalau dia mencintai kak Murad sejak dia mengenal sosok pria tampan. Dan pria tampan itu adalah kak Murad. Mereka berdua sudah saling mencintai dalam diam sejak lama Zahra."


"Benarkah? "


"Iya, untuk apa aku berbohong. Kau bisa tanyakan hal ini kepada siapapun di mansion. Dan satu lagi."

__ADS_1


"Apa? "


"Kau tau seberapa lama Ezra mencintai Zoya? "


Zahra menggeleng masih di dalam dekapan suaminya. Dia merasa nyaman berada di sana.


"Ezra mencintai Zoya sejak dia masih kecil. Ezra selalu yang pertama membantu Zoya saat dia kesulitan atau di ganggu seseorang, dari pada kami saudaranya. Ezra mencintai Zoya dalam diam, dan selalu menjadi bayangan Zoya saat dia kesulitan. Dan akhirnya cinta Ezra terbalaskan. "


"Sedangkan kita.... "


Rayyan menjeda kalimatnya, dan itu membuat Zahra mengurai pelukannya dan menatap Rayyan dengan intens.


"Sedangkan kita.... ? " Beo Zahra.


"Kau tau sendiri, kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya, kita hanya dua orang asing yang tidak saling mengenal dan tidak pernah jatuh cinta satu sama lain, dan terpaksa di satukan oleh sebuah pernikahan yang didasari sebuah kesepakatan. " Rayyan menghela nafasnya.


"Mungkin karena itu Tuhan belum mempercayakan seorang buah hati kepada kita. Tuhan ingin mendekatkan kita terlebih dahulu, menumbuhkan rasa saling mencintai dan menyayangi satu sama lain. Saling mengenal lebih dekat, hingga dua insan yang berbeda seperti kita bisa benar-benar menyatu. Dua raga dalam satu cinta. " Kata Rayyan panjang lebar agar Zahra tidak berkecil hati.


"Mungkin jika kita sudah benar-benar dalam satu hati, Tuhan akan mempercayakan seorang buah hati kepada kita. Percayalah, dan berdoalah sepanjang waktu. Tidak ada do'a yang sia-sia, hanya waktu mengabulkannya saja yang perlu kita tunggu. Entah dalam waktu dekat atau lama, itu semua tergantung kesungguhan kita."


"Dan selain berdoa, jangan lupa berusaha sepanjang waktu. Karena doa tanpa usaha juga tidak mungkin terwujud. " goda Rayyan sambil menaik turunkan alisnya.


"Rayyan.. iiiih.... " Zahra memukul-mukul dada Rayyan karena malu sudah di goda.


Rayyan langsung menangkap tangan Zahra dan melingkarkannya di pinggangnya, Lalu memeluknya dengan erat.


"Apa kau sudah mencintaiku Zahra? "


"Entahlah apa aku sudah jatuh cinta padamu atau belum aku tidak tau. Tapi sejak malam itu aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan menyerahkan hidupku kepadamu. Dan saat ini, yang aku rasakan adalah sebuah kenyamanan saat bersama denganmu. Merindukanmu jika sehari tak bertemu dan juga merasa khawatir jika kau tak memberiku kabar." Zahra mengungkapkan perasaannya panjang lebar.


"Apa itu sudah bisa di sebut cinta? Kalau memang cinta itu seperti ini, aku bisa meyakinkan diriku sekarang, kalau aku sudah mencintaimu, Ray. " ungkap Zahra sambil tersenyum di dalam pelukan Rayyan. Namun tak berlangsung lama Zahra kembali mengendurkan pelukannya.


"Lalu bagaimana perasaanmu padaku? Apa kau juga mencintaiku Ray? atau cintaku ini bertepuk sebelah tangan? " Zahra mulai mempertanyakan perasaan Rayyan kepadanya.


Rayyan menggenggam erat kedua tangan Zahra. "Jika kau tanya apakah aku sudah mencintaimu? Jawabannya sudah, Zahra tak perlu kau tanyakan lagi itu. Jika kau tanya sejak kapan kau mencintaiku, jawabnya aku tidak tau. "


Zahra mengernyitkan keningnya mendengar pernyataan Rayyan.


"Maksudnya? "


"Aku tidak tau sejak kapan aku mencintaimu. Tapi yang aku tau, sejak kapan aku menyukaimu. "

__ADS_1


"Sejak kapan? "


"Sejak pertama kali bertemu, dan aku melihat sosok cantik, angkuh dan keras kepala di hadapan ku. Dengan rambut bergelombang indah. "


__ADS_2